
Arya membuka pembicaraan lagi. "Ayah mereka ke mana?" tanya Arya asal.
"Tidak tahu Kak. Di rumah mereka hanya ada kak Ayu sama Kakaknya saja dan juga anak-anak mungil itu. Tentang Ayah mereka aku tidak ingin tahu. Kuyakin masa lalu seseorang pasti berat, jadi aku tidak ingin menanyakan hal pribadi orang lain Kak. Bagiku menjaga anak-anak mungil dan lucu seperti mereka membuatku sangat bahagia, dan ingin sekali tinggal lebih lama di sana," ungkap Sonya.
Dia sudah menjadi gadis dewasa. batin Arya menilai karakter adiknya.
"Ternyata adik Kakak, sudah besar," lirih Arya.
"Ka-kak!"
Selalu saja dianggap anak kecil olehnya, bikin kesal saja. batin Sonya.
"Kamu mau tinggal sementara waktu di sana?" tanya Arya. Arya juga tidak mau terus-terusan diteror oleh Darren, yang selalu saja menanyakan kabar adiknya.
"Emang boleh, Kak?" tanya Sonya senang. Sonya seakan tak percaya jika kakaknya akan membebaskannya.
"Boleh," jawab Arya singkat.
"Aku senang Kak. Makasih ya. Tapi ... kalau aku tinggal di sana. Siapa yang masak untuk Kakak?" tanya Sonya.
"Makan di luar saja."
Benar juga, selama aku di rumah nenek 'kan kak Arya biasa makan di luar. Jadi, aku tidak perlu mengkhawatirnya lagi. Batin Sonya.
"Oke. Baiklah kalau begitu Kak. Aku bisa legah dan senang. Senangnya bisa bareng mereka lagi."
...----------------...
šHari ulang tahun perusahaan telah tiba.
Ulang tahun perusaahaan di laksanakan pada malam hari, sesuai permintaan Azka, Arya sudah memeriksa daftar nama model dan artis, semua tidak ada kendala apapun. Hanya tinggal menunggu waktunya saja.
Hari ini belum masuk kerja, karena pada malamnya Amel akan menghadiri acara ulang tahun perusahaan. Dia sudah memberitahukan pada Ayu, untuk itu Ayu dan Sonya yang akan menjaga anak-anak nanti jika dia tidak ada di rumah.
Raka yang mendengar kabar itu membuatnya senang karena ibunya pasti selalu bertemu dengan ayah kandungnya, walau dirinya belum pernah melihat ayahnya dia yakin ayahnya adalah orang yang hebat.
Sonya sudah menginap di rumah Amel sejak dia diizinkan oleh Arya beberapa hari yang lalu. Mereka tampak bahagia karena ada Sonya di rumah. Ayu yang kocak dan Sonya yang ceria menambah kegaduan di rumah sederhana mereka, bahkan anak-anak juga tampak lebih ceria dari biasanya.
Amel, Ayu dan Sonya yang sedang bermain bersama anak-anak di ruang TV tertawa bahagia.
Drrtt! Drrtt! Drrtt!
Dering ponsel milik Amel.
"Kak, ponselmu bunyi tuh!" Ayu yang duduk tidak jauh dari ponsel Amel yang berada di meja, memberitahukan Amel.
"Dari siapa?" Tanya Amel, masih terus bermain bersama Rasti dan Bunga.
Ayu melihat layar ponsel. "Nomor tidak di kenal, Kak."
"Sudahlah, matikan saja," ucap Amel asal.
Sesuai permintaan Amel, Ayu segera menolak panggilan dari nomor tidak di kenal. Tidak berlangsung lama nomor itu meneleponnya lagi dan lagi. Membuat Amel terpaksa menjawabnya. Kini Amel sudah berada di teras rumah.
"Hallo, siapa ya?"
__ADS_1
"Berani sekali kamu menolak telepon dari saya." Suara itu seakan memekik gendang telinga Amel. Orang yang berada di balik telepon adalah Azka.
"Eh. A-Ada apa, Pak?"
"Ke kantor sekarang!"
"Maaf pak. Bukankah hari ini libur?"
"Tidak usah membantah! Cepat ke sini. Jika, dalam waktu 5 menit kamu belum ada di sini, maka saya akan memotong gaji kamu bulan ini." Azka mengancam Amel, membuat Amel kesal setengah mati.
"Mana bisa begi--" Belum sempat Amel berbicara Azka sudah memutuskan sambungan teleponnya.
Amel dan Azka sejak kejadian di Restoran mereka memang tidak saling tegur sapa. Entah angin dari mana Azka berinisiatif menelepon Amel sendiri.
"Bisanya mengancam doang.Dasar pelit!" Teriak Amel kesal.
Amel pergi ke dalam rumah meminta izin pada Ayu dan Sonya lalu bergegas bersiap dan pergi ke perusahaan.
"Kakak pergi dulu, ya?" Amel pamit pada Ayu dan Sonya.
"Iya Kak."
"Hati-hati Kak?" ucap Ayu dan Sonya serempak.
"Iya."
Amel langsung bergegas keluar rumah. Kini tinggallah Ayu dan Sonya di rumah. Ayu sengaja hari ini tidak kerja agar dapat berkumpul bersama Amel. Nyatanya Amel lebih sibuk dari yang dia bayangkan.
Amel sampai di perusahaan dengan nafas yang tidak beraturan. Semejak turun dari ojek online dia berlari sekuat tenaga menuju lobby dan menaiki lift.
Para karyawan itu sedang bekerja sama mendekorasi ruangan lobby. Melihat Amel berlari mata mereka tertuju padanya membuat mereka heran dengan sekertaris direktur itu.
Amel sampai di lantai atas, lalu lari ke arah ruangan Azka. Tanpa mengetuk pintu, Amel langsung masuk begitu saja.
Hoss ... Hoss ... Hoss
"Kamu terlambat 40 detik." Baru juga menghirup udara, Amel sudah disugihi dengan kenyataan pahit. Bahwa dia terlambat 40 detik.
Hoss ... Hoss ... Hoss ...
Amel berusaha menetralkan nafasnya.
Hanya terlambat 40 detik saja, juga dihitung oleh dirinya. Si Bongkahan Es ini lama-kelamaan semakin menyebalkan. batin Amel.
"Ayo ikut saya sekarang!"
Baru juga sampai. Sudah disuruh pergi aja. Sebaiknya aku bertanya langsung padanya saja. batin Amel.
"I--Itu apa gaji saya akan dipotong?"
"T--Tidak."
Apa aku salah dengar? batin Amel tak percaya.
"Beneran?"
__ADS_1
"Iya. Ayo ikut saya!"
"Bilang kek dari tadi," lirih Amel pelan.
"Apa?"
"Tidak apa-apa. Hehe. Baiklah-baiklah. Ayo kita pergi Pak!" Amel merasa legah, gajinya tidak jadi dipotong oleh Azka. Bahkan lelahnya seketika itu hilang.
Amel dan Azka pergi mengunakan lift pribadi milik Azka. Sesampainya di lobby mata para karyawan melihat mereka. Di situlah baru Amel tersadar jika tadi dia berlari tidak menghiraukan para karyawan yang begitu banyak di ruangan lobby.
Waduh ... tenyata banyak orang di sini. Ini semua gara-gara Si Bongkahan Es.
Dengan terpaksa Amel memasang wajah tersenyum canggung. "Selamat bekerja!" Tegur Amel pada para karyawan. Azka hanya berjalan acuh tak acuh.
"I--Iya Bu."
Bikin malu saja. batin Amel.
"Ayo cepat!" perintah Azka.
"Iya-Iya."
Bawel banget sih! batin Amel.
Amel mengekori Azka dari belakang sampai ke parkiran. Setelah naik ke dalam mobil, Azka mengemudikan mobilnya membelah jalan perkotaan. Hampir 1 jam perjalanan yang mereka tempuh. Mobil Azka berhenti di depan butik yang begitu mewah.
Kenapa dia membawaku ke sini? Batin Amel.
"Jangan melamun! Cepat turun!"
"Iya-Iya."
Mereka turun dan langsung masuk ke dalam butik. Pramuniaga yang bekerja di situ menyapa mereka dengan ramah.
"Selamat siang! Selamat datang di butik kami. Ada yang bisa saya bantu Pak, Bu?" Sapa seorang pramuniaga wanita dengan ramah.
"Carikan dress terbaik di butik anda."
"Kebetulan sekali Pak, Bu. Stok dress di butik kami baru masuk hari ini. Dan di buat oleh desainer terkenal dari berbagai negara. Edisinya terbatas loh. Ayo ikut saya, saya akan menunjukkannya pada anda berdua!"
Amel menatap Azka dengan tatapan heran.
Apa yang dia lakukan? batin Amel, masih menatap Azka.
"Kenapa kamu menatap saya seperti itu? Pergi! Ikuti pramuniaga itu!"
"T--Tapi?"
"Tidak ada tapi-tapian."
"I--Iya."
"Lewat sini, Bu."
Bersambungā£
__ADS_1