Father Of My Children

Father Of My Children
FOMC 74


__ADS_3

Azka kembali ke kantor untuk membantu Arya menyelesaikan sisa pekerjaan yang belum sempat Arya selesaikan. Setelah sampai ke kantor Arya tidak berada di ruangan kerjanya.


"Mungkin masih di tempat wawancara,"fikir Azka. Azka kemudian pergi ke ruangannya untuk mengurus pekerjaannya.


Sementara di kediaman Abraham, Laksmi nampak sangat kesal pasalnya dia telah menghasut Daniel namun Daniel tidak termakan dengan hasutannya.


...~Flashback~...


Setelah menelepon Kirana, Laksmi segera menghampiri suaminya yang kebetulan tidak bekerja karena sakit.


"Pah!"panggil Laksmi pada suaminya yang sedang duduk menyederkan tubuhnya di kepala ranjang.


"Ada apa, Mah?"tanya Daniel dengan suara lembut.


"Waktu di acara ulang tahun, kamu berbicara apa pada Azka?"tanya Laksmi. Daniel menatap Laksmi dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Oh, waktu itu. Papa mengatakan pada Azka bahwa Papa setuju dengan keputusannya dalam memilih pasangan,"ungkap Daniel jujur.


"Itu malah bagus, Pah. Tapi, apa Papa sudah tahu ...." Laksmi menjeda kalimatnya.


"Tentang apa?"tanya Daniel pura-pura peduli.


"Setelah Mama menyelidiki tentang wanita itu, ternyata dia sudah mempunyai anak bersama pria lain,"jelas Laksmi memprovokasi calon istri Azka agar Daniel membencinya.


"Terus?"tanya Daniel sedikit acuh pada ucapan Laksmi.


'Apa Daniel sama sekali tak peduli?'batin Laksmi.


"Apa Papa masih mau punya menantu yang kotor seperti dia? Apa Papa tidak takut kalau dia hanya ingin memeras Azka saja dan menggerogoti uang Azka?"tanya Laksmi lagi.


"Benar juga apa yang Mama katakan,"ucap Daniel penuh arti.


'Daniel pasti sangat jijik dengan wanita itu,'batin Laksmi senang.


"Oh iya, Pah. Mungkin sedikit lagi Azka akan datang menemuimu,"jelas Laksmi.


"Baiklah, kalau begitu ayo bersiap dan kita tunggu dia di ruang tamu."


"Baik, Pah."


Daniel bersiap-siap untuk menemui putra sulungnya. Dia sedikit berdandan agar wajahnya tidak terlihat pucat di depan anaknya. Daniel tidak mau membuat Azka khawatir, karena Daniel tahu walaupun Azka sangat dingin padanya namun dalam hati kecil Azka dia adalah sesosok orang yang hangat.


...----------------...


Azka tiba-tiba teringat sesuatu, ia merasa ada kejanggalan pada waktu dia menemui ayahnya di rumah, namun dia tidak tahu apa yang membuatnya resah.


Azka membuang jauh-jauh fikiran buruknya dan melanjutkan mengerjakan pekerjaan yang sempat tertunda. Tidak lama kemudian Arya masuk menemui dirinya di dalam ruangan miliknya.


"Apa semua sudah beres?"tanya Azka.


"Kamu tidak perlu meragukanku dalam menyelesaikan pekerjaan,"ucap Arya.


"Bagus! Ayo bantu aku menyelesaikan pekerjaan yang belum sempat di selesaikan ini! Aku ingin cepat-cepat pulang ke rumah,"titah Azka.


"Ingat Az, kau harus menahan diri dulu. Kalian belum menikah!"ucap Arya penuh penekanan, ada maksud tersirat dalam ucapannya itu.


"Sebentar lagi juga pasti akan menikah!"ucap Azka santai.

__ADS_1


"Kau yakin? Apa tidak akan terjadi masalah, kau sudah tentu mengenal ibu tirimu, bukan?"tanya Arya.


"Yah, aku mengerti. Percayalah, dia tidak bisa macam-macam!"ucap Azka yakin.


"Baiklah. Aku selalu siap siaga membantumu."


"Aku ingin menanyakan sesuatu hal padamu." Azka tidak menghiraukan perkataan Arya.


"Tentang apa?"tanya Arya penasaran.


"Kemarin malam waktu aku dan Amel berada di balkon kamar. Aku sempat melihat bayangan. Apa itu kamu dan juga Darren?"tanya Azka, dia menopang dagunya dengan tangan lalu menatap manik mata Arya yang berada di depannya.


"Jadi waktu di meja makan tadi, kamu sengaja menggoda Amel di depan kami?" Arya balik bertanya. Pasalnya pertanyaan yang di lontarkan oleh Azka membuatnya sampai terbatuk-batuk.


"Bukan sengaja, tapi itu memang kebenarannya,"ucap Azka serius.


"Dasar bucin!"ucap Arya sedikit mengejek Azka.


"Dan sudah jelas dengan pernyataan yang kau katakan padaku, bahwa aku harus menahan diri dulu sebelum menikah dengan Amel, kan?"tanya Azka.


"Aku hanya melihat sedikit saja,"ucap Arya serius.


"Jangan bohong!"


"Jadi kemarin malam itu ...." Arya masuk ke dalam ceritanya.


Setelah mereka bertiga berbincang di ruang tamu, Arya dan Darren langsung pergi ke kamar sebelah kanan dari kamar yang di tempati oleh Azka dan juga Amel.


Darren masih bertanya-tanya pada Arya perihal restunya yang diberikan padanya untuk menjaga Sonya. Darren merasa ini terlalu mendadak untuk dirinya.


"Kenapa? Kamu tidak bersedia? Baiklah!"


"Bukan begitu, aku tidak menduga bahwa kamu akan secepat ini merestuiku. Kamu yang keras kepala dapat memberiku kepercayaan sebesar ini rasanya seperti mimpi saja,"terang Darren.


"Ada seseorang yang telah menyadarkanku." Arya mengingat Ayu waktu itu.


"Siapa? Orang itu pasti sangat spesial untukmu, kan?"tanya Darren mengedipkan sebelah matanya.


"Hmm. Aku juga tidak tahu,"ucap Arya. Perasaannya sulit untuk dijelaskan.


"Maka dari itu kamu harus mencari tahu lebih detail tentang perasaanmu sendiri." Darren memberi saran pada Arya.


"Untuk saranmu kali ini, mungkin aku belum bisa melakukannya."


"Ah, dasar payah! Jangan-jangan kau belum bisa move-on dari mantan pacarmu itu?"tanya Darren serius.


"Jangan bicara sembarangan!"


"Oke-oke. Aku percaya, aku percaya. Hehe. Tapi, sekali lagi terima kasih atas kepercayaan besarmu yang kau berikan padaku,"ungkap Darren tulus.


"Ya. Tapi kamu harus janji tidak akan memaksa Sonya."


"Iya, kau tenang saja." Darren tersenyum.


Cukup lama mereka mengobrol, mereka juga menceritakan tentang Azka. Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh.


Prank ...

__ADS_1


"Suara apa itu?"tanya Darren.


"Mana kutahu!"balas Arya.


"Lihat, yuk!"ajak Darren penasaran.


"Kamu saja deh!" Arya malas berurusan dengan asal suara itu.


"Oke!"


Darren bergegas ke luar balkon untuk mengecek apa yang sebenarnya terjadi dan benda apa yang jatuh itu, namun pandangan matanya menangkap dua sojoli yang sedang memadu kasih, seketika matanya melotot bahkan tenggorokannya tercekat.


Arya yang melihat Darren hanya diam membatu di tempat seperti sedang melihat hantu, langsung seketika berjalan menghampirinya.


"Apa yang sedang kau li ... astaga!"


Ucapan Arya terhenti seketika dan reflkes dengan gerakan secepat kilat menarik Darren masuk ke dalam kamar.


"Kenapa kau menarikku, sih?"tanya Darren tak puas.


"Sebaiknya kau tidur sana!"titah Arya pura-pura merasa tenang.


"Huu. Padahal aku pengen lihat apa yang terjadi selanjutnya." Darren memayunkan bibirnya.


"Oke. Kalau itu maumu. Silahkan saja, kali ini aku tidak akan melarangmu. Tapi, jangan salahkan aku dan membawa namaku, jika Azka mengetahui kau mengintip mereka dan mencungkil bola matamu itu." Arya menakut-nakuti Darren.


Nyali Darren seketika menciut dan tidak melanjutkan menonton adegan romantis itu lagi.


'Mentang-mentang seorang dokter adegan begituan dianggap hal biasa,'batin Arya mengelengkan kepalanya.


...----------------...


"Tapi, apa yang kau dan Darren fikirkan sama sekali tidak terjadi. Aku begitu frustasi. Aku juga ingin secepatnya menikahinya, agar tidak ada penghalang lagi,"ungkap Azka merasa sedikit kesal.


"Ada masanya juga kau sefrustasi ini."


"Jangan menertawaiku! Kau juga pasti akan merasakan hal yang sama sepertiku. Ibarat sudah haus berat namun tidak boleh minum sembarangan."


"Kejadian yang kau alami, kurasa itu masih lama terjadi padaku."


"Sebaiknya kau membantuku menyelesaikan semua pekerjaan ini. Aku pusing!"ungkap Azka.


"Baiklah!"


'Pusing mikirin Amel, kan? Dulu waktu Amel belum sepenuhnya hadir di kehidupanmu, kau tidak pernah mengalami pusing dalam bekerja seperti ini. Kau juga sangat fokus menyelesaikan masalah pekerjaan. Kekuatan cinta sangat berpengaruh, membuat orang-orang berubah dengan drastis,'batin Arya.


"Kenapa kau masih berdiri di situ? Cepatlah!"pinta Azka.


"Eh, iya-iya." Arya tersadar dari lamunannya.


Arya segera membantu Azka untuk menyelesaikan semua pekerjaan yang tertunda. Mereka bekerja hingga sore hari tiba.


"Akhirnya selesai juga. Terima kasih atas kerja kerasmu hari ini. Kamu tenang saja aku akan menaikan gajimu bulan ini dan pada bulan-bulan berikutnya jika performa kerjamu bagus,"ucap Azka merenggangkan otot-ototnya. Azka merasa legah karena pekerjaannya telah selesai.


'Perubahan yang terjadi pada dirinya sangatlah banyak dan ini semua berkat Amel. Dia bahkan berterima kasih padaku. Dan pada bulan-bulan sebelumnya juga performa kerjaku sangat bagus kok, namun tetap saja tidak mendapat pujian seperti ini. Pekerjaan ini juga terbilang mudah untuk diselesaikan. Dianya saja yang terus kepikiran Amel. Jika masalah percintaan ini juga terjadi padaku apa aku juga akan seperti Azka?'batin Arya sedikit bergidik ngeri membayangkan jika dirinya juga sama seperti Azka.


Bersambung❣

__ADS_1


__ADS_2