
🌞Siang hari.
Azka yang sudah menyelesaikan pekerjaannya, keluar dari ruangan dan pergi keruangan Amel. Tanpa pengetuk pintu Azka langsung menerobos masuk begitu saja.
Amel yang bisa dibilang pekerjaannya begitu mudah, sedang tertidur bertumpuk dengan sebelah tangannya di atas meja. Komputernya masih menyala begitu saja.
Apa yang sedang dia lihat! Sampai membuatnya tertidur seperti itu? batin Azka berjalan pelan.
Azka melihat dibalik layar komputer, ternyata flim drama yang sedang di tonton oleh Amel. Azka sedikit menonton, dia tidak sengaja melihat adegan ciuman di flim itu, bahkan wanita yang lebih mendominasi. Wanita yang berada di layar komputer itu, mencium seorang pria bisa ditebak bahwa pria itu adalah kekasihnya, wanita itu menciumnya dengan brutal.
Kelinci kecil ternyata menyukai flim yang seperti ini, batin Azka.
Azka mematikan komputer yang masih menyala. Azka mengelus wajah Amel dengan lembut membuat Amel sedikit terusik dari tidurnya.
"Raka," lirih Amel, merasa terganggu dengan sentuhan lembut dari Azka.
Raka? Siapa pria itu? Pacarnya atau suaminya? batin Azka menerka-nerka.
Azka tidak terima Amel menyebut nama pria lain di dalam tidur. Dengan kesal Azka mengelus wajah Amel dengan kasar, sehingga membuat Amel terbangun dari tidur cantiknya.
"Siapa sih!"
"Ehem!" Amel langsung tersadar dari tidurnya.
Siapa lagi yang bisa menganggu tidur nyeyakku. Dunia nyata bahkan dalam mimpi pun kamu selalu hadir, batin Amel. Menatap Azka dengan kesal.
"Ternyata kamu suka nonton flim yang ada adegan panasnya, ya?"
"Hah?"
"Kamu pasti belum makan, kan?"
"Hu'um," ucap Amel mengangguk.
"Ayo!"
"Kita mau ke mana, Pak?"
"Ikut saja! Jangan banyak tanya!"
Amel mengekori Azka dari belakang, bahkan sesekali dia masih saja menguap. Mereka naik mobil Azka yang berada di parkiran kantor, Azka lalu melajukan mobilnya.
"Kita mau ke mana, Pak?" tanyanya lagi.
"Makan!"
"Di mana?"
"Restoran!"
"Restoran?" Amel tercengang.
"Ya."
Ada apa dengannya? Aneh? Apa aku salah bicara lagi? Jika difikir-fikir aku sama sekali tidak melakukan kesalahan, fikir Amel. Amel heran dengan tingkah Azka saat ini.
Sebenarnya Raka itu siapa? kok bisa Amel menyebut namanya saat dia tidur. Aku harus menanyakannya. batin Azka.
Aku coba mencairkan suasana saja deh! Dari pada diam begini. Canggung sekali, batin Amel.
"Tidak ke pedangang kaki lima lagi?"
"Kamu mau buat saya mati?"
Kok bisa dia berfikir seperti itu sih? batin Amel kesal.
Amel memilih untuk diam melihat ke arah luar jendela. Azka melirik Amel sekilas. "Siapa Raka?" tanya Azka datar.
__ADS_1
Berbalik dengan terkejut. "Apa?!"
"Siapa Raka? Apa dia pacarmu?" Tanya Azka serius, matanya masih fokus ke depan.
"Bukan! Saya tidak punya pacar!"
"Jadi ... dia suamimu?"
Apaan sih! Setelah mengandung anakmu, bagaimana mungkin orang lain dapat menerima wanita bekas sepertiku! batin Amel mencibir.
"Bukan juga!" jawab Amel ketus.
Kalau bukan pacar dan suaminya, terus Raka itu siapanya Amel? batin Azka penasaran.
"Lalu?"
"Dia orang yang mirip denganmu, bahkan sangat-sangat mirip," ucap Amel girang, membayangkan anak manisnya. Tanpa sadar Amel berbicara santai pada Azka. Azka tidak mengerti maksud dari perkataan Amel.
Hah? Orang yang mirip denganku? Jangan-jangan orang itu menyamar menjadi diriku dan sengaja mendekati Amel. Tidak tidak tidak. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi, batin Azka.
"Apa dia tampan?"
"Iya, sangat tampan!"
"Apa dia baik?" Azka bertanya lagi.
"Baik!"
"Apa dia ju--"
"Sudah kukatakan dia itu mirip denganmu!" bentak Amel kesal.
"Kalau saya dan dia mana yang lebih tampan?"
"Dua-duanya!"
"Tidak adil, harus pilih satu!" Azka menuntut kepastian dari Amel.
"Itu tandanya kam---"
"Ssst, diam! Dan fokuslah menyetir!" Dengan kesal Amel hanya menatap ke luar jendela.
Kenapa dia marah? Harusnya aku yang marah! Huh, wanita sangat sulit ditebak, batin Azka merasa geram.
Mau mengungkapkan semuanya jadi susah, karena dia tidak peka bikin kesal saja, batin Amel.
Sepanjang perjalanan terjadi keheningan panjang diantara mereka, bahkan sudah tiba di Restoran barat mewah yang berada di kota ini pun, mereka masih saja diam.
Setelah duduk di ruangan VIP Restoran. Seorang pelayan wanita menghampiri tempat duduk mereka.
"Selamat malam Pak, Bu." Pelayan wanita itu memberi salam dan tersenyum genit ke arah Azka.
"Malam!" jawab Azka ketus.
"Permisi Pak, Bu. Ini menu pesanan di Restoran kami."
Pelayan di Restoran menatap Azka, lalu menyodorkan menu pada Azka. Azka langsung mengambil menu tanpa membalas senyum yang diberikan oleh pelayan itu. Pelayan itu mundur sedikit ke belakang dengan mimik wajah yang sulit diartikan.
"Mau makan apa?" tanya Azka pada Amel.
"Terserah Bapak saja."
"Minumnya apa?"
"Terserah!"
"Baiklah."
__ADS_1
Jangan salahkan aku! batin Azka.
"Hidangkan semua makanan terbaik di Restoran ini!" Tegas Azka, dengan suara yang agak tinggi.
Apaan sih! Kau kira aku rakus apa!? batin Amel kesal.
"Sini Pak, menunya!" Azka yang melihat tatapan kesal dari Amel membuat dirinya menciut, dan segera menyodorkan buku menu ke Amel.
Amel mengambil dan melihat menu itu, Amel tercengang melihat harga yang tercantum di benda segi empat yang ada di tangannya.
Hah!? Harga makanan yang ada di sini, sudah bisa membeli susu selama berbulan-bulan, fikir Amel.
Matanya berkeliling membuat Azka dan pelayan yang sedari tadi memperhatikannya menjadi heran.
Aku sampai tidak sadar kalau aku sedang berada di ruangan yang sangat mewah. Ini semua gara-gara Si Bongkahan Es, aku jadi tidak fokus. Mau menolak juga sudah terlambat, batin Amel kesal.
Amel membolak-balik daftar menu dan mencari makanan yang harganya di bawah rata-rata. Setelah dirasanya sudah mantap barulah ia memanggil pelayan.
"Pelayan!" Pelayan wanita itu menghampiri Amel.
"Kami pesan, steak sama minumannya milk tea. Oh iya, sama tiramisu juga. Masing-masing dua, ya!" ucap Amel tersenyum ramah.
Kayaknya itu tidak terlalu berlebihan deh, batin Amel.
Wanita ini benar-benar beruntung, di kasih hati maunya jantung. Pura-pura menolak lagi. Cih, trikmu ini sudah bisa kubaca. Lagian siapa sih wanita ini? Kok bisa dia datang bersama pelanggan VIP Restoran kami. Pria ini sudah lama kuincar, bisa-bisanya wanita ini mengambil barang incaranku, batin pelayan wanita itu dengan kesal, karena biasanya dia melayani Azka dengan Arya saja dan bukan dengan seorang wanita.
"Silahkan menunggu!" Pelayan itu menahan kekesalannya dan pergi keluar dari ruangan.
"Kenapa hanya pesan itu saja?" tanya Azka tiba-tiba.
"Biar tidak boros Pak. Kalau tidak dihabiskan nanti mubazir."
"Oke, ikut maumu saja."
Dasar orang kaya! batin Amel.
Pesanan mereka sudah tertata rapi di atas meja. Amel dan Azka menikmati makanan mereka dalam diam.
Kenapa suasananya menjadi hening begini sih! Jadinya tidak nyaman banget, batin Amel, yang sedang mengunyah makanannya.
Apa yang sedang dia fikirkan? Pasti dia sedang memikirkan pria yang bernama Raka itu, batin Azka kesal.
Kenapa dia menatapku seperti itu? Membuat aku tidak nafsu makan saja, batin Amel yang melihat Azka sedang memperhatikannya.
"Pak, aku sudah kenyang," ucap Amel kemudian.
"Oh, Oke. Baiklah."
Amel tidak menghabiskan makanannya, padahal makanan yang berada di atas meja itu mahal dan enak. Tapi, karena suasana yang mencekam, rasa yang enak pun menjadi hambar.
Mereka kembali ke kantor, masih saja diam-diaman, terlarut dengan fikirannya masing-masing. Amel yang kesal dengan Azka tidak menegur bahkan berbicara dengan Azka. Sedangkan Azka yang memikirkan pria yang disebut-sebut oleh Amel, membuat dirinya begitu frustasi dan cemburu.
Arya yang melihat dua sejoli itu pun menjadi heran. Ada apa dengan mereka? batin Arya.
Arya yang melihat Azka dan Amel masuk ke ruangan mereka tanpa bicara atau menyapanya. Sepulang kerja juga mereka masih tidak bertegur sapa. Bahkan Amel pulang duluan menghampiri Arya untuk pamit.
"Pak Arya, saya pamit duluan, ya?"
"Tidak pamit pada pak Azka?"
"Tidak."
"Baiklah!"
"Saya duluan ya, Pak!"
"Iya."
__ADS_1
Tumben banget. Sebenarnya apa yang sudah terjadi? batin Arya semakin heran.
Bersambung❣