
Para reader tercinta maafkan saya jika update tertunda. saya sedang berduka. jadi mohon pengertiannya🙏.
...................❤...................
Para malaikat kecil duduk santai, berbagi cerita di atas ranjang besar rumah sakit. Sedang Amel dan Azka duduk di sofa, Amel memerhatikan wajah Azka yang sudah memucat, terpampan jelas bahwa Azka berusaha menahan sesuatu yang tidak diketahui oleh Amel.
"Nah, taru di meja saja makanannya! Maaf merepotkan Pak Dokter,"ucap Amel. Amel tidak enak hati melihat Darren kewalahan membawa makanan.
"Tidak apa-apa Kakak ipar, sudah menjadi tugas adik ipar untuk melayani calon kakak ipar." Darren tersenyum ramah dan langsung menaruh barang bawaannya di meja.
"Haha, iya. Eh itu pak Arya sama Ayu kemana, ya? Apa mereka tidak bersama kalian?"tanya Amel, dia mencoba merubah topik agar Darren tidak terus-terusan mengodanya.
"Tidak Kak. Tadi, aku yang mengajak kak Darren keluar. Biasa Kak, anu. Hehe." Kali ini Sonya yang menjawab ucapan Amel. Sonya seakan memberi isyarat pada Amel.
"Oh, melancarkan rencana besar rupanya,"ucap Amel karena sudah tahu apa yang Sonya maksudkan.
"Haha, 'kan Kak Amel tahu sendiri." Sonya tersenyum penuh arti.
"Baiklah, semoga rencanamu kali ini berhasil,"ucap Amel.
Percakapan antara Amel dan Sonya membuat Azka dan Darren penasaran, sebenarnya apa yang dibahas oleh mereka? Kenapa penuh dengan teka-teki segala? Apa yang direncanakan? Namun mereka hanya diam saja. Ayu langsung masuk begitu saja ke dalam tanpa mengetuk pintu dahulu.
Kri-et ...
"Berhasil apa, Kak? tanya Ayu yang sempat mendengar ucapan Amel.
Amel menoleh ke asal suara. "Eh, Ayu. Kalian dari mana saja?"tanya Amel. Matanya bergantian menatap Ayu dan Arya yang sedang berdiri di belakangnya.
"Cari angin,"jawab Arya singkat.
"Cari angin?"
"Iya Kak. Kami keluar cari angin, juga sempat bertemu dengan seekor rubah betina,"terang Ayu.
Ada yang aneh antara Ayu dan pak Arya. Keknya rencana Sonya kali ini berjalan dengan lancar. Karena tumben-tumbennya mereka jadi akur. Batin Amel, matanya meneliti setiap ekspresi mereka.
"Rubah betina? Mana ada rubah di sini, Kak?"tanya Sonya yang tidak paham arti dari perkataan Ayu.
"Haha. Kakak bercanda kok." Ayu segera menyangkal karena merasa hawa dingin sedang mengintai di belakangnya.
"Oh, kirain apaan."
Ayu berjalan dan duduk di sofa. "Kak! Bara sudah sadar? Kenapa tidak memberi kabar?"tanya Ayu, manik matanya menangkap bocah-bocah kecil yang sedang duduk santai di atas ranjang.
"Barusan sadarnya. Tidak apa-apa, toh yang penting sekarang kalian sudah tahu,"ucap Amel.
"Syukurlah. Kondisinya baik-baik saja? Tidak ada lecet atau semacamnya, kan?" Mata Ayu masih memerhatikan Bara.
"Kamu tenang saja Yu, anak gembul itu baik-baik saja."
"Syukurlah, Kak. Aku bisa tenang sekarang."
"Sekali lagi maafkan aku Kak. Aku tidak menjaga mereka dengan baik,"ucap Sonya sedih dia masih merasa bersalah karena keteledorannya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Musibah tidak ada yang tahu, intinya sekarang semuanya baik-baik saja. Jadi kamu tidak usah merasa bersalah lagi."
"Terima kasih, Kak."
"Sama-sama. Eh iya. Apa kalian semua sudah makan?"tanya Amel.
"Belum,"ucap mereka serempak.
"Kami belum sempat makan, Kak,"ucap Ayu.
"Aku sama Kak Darren juga belum sempat makan tadi. Kami sengaja membeli makanan lebih agar semuanya kebagian."
Dia mengingatku? Anya, kakak makin klepek-klepek padamu. Hihihi. Batin Darren tertawa cekikikan.
"Baguslah. Kita bisa makan bersama. Makan ramai-ramai itu jauh lebih baik."
"Wah, kedengarannya menyenangkan,"ucap Darren sumrigah.
"Ayu, Sonya! Siapkan makanan untuk calon kalian. Eh salah maksud kakak, siapkan makanan untuk pak Arya dan juga pak Dokter." Amel tersenyum, dia ingin melihat adik-adiknya bahagia.
"Ah, Kak Amel bikin tegang saja,"ucap Ayu legah.
"Tidak apa-apa, Kak. Aku setuju sama kak Amel, ya tentunya aku setuju kalau kak Ayu menjadi kakak iparku,"timpal Sonya.
"Huuu ... emang kamu juga setuju, kalau calonmu itu Pak Dokter?"tanya Ayu. Darren memasang telinga, menantikan apa yang akan Sonya ucapkan.
"Ya, setuju-setuju aja, Kak. Kalau memang kak Darren itu jodohku."
"Tuh, 'kan. Kakak semakin hari semakin mirip dengan kak Arya."
"Ekhem! Ini sebenarnya mau makan atau tidak?" Arya berdehem cukup keras.
Terselamatkan. Makasih Om. Haha. Batin Ayu.
"Kak Amel juga harus melayani Kak Azka makan?"tanya Ayu.
"Ya iya. Dia 'kan ayah dari anak-anakku. Sudah pasti kakak harus melayaninya makan, kan? Makanya, kalian berdua cepat cari suami agar lahirkan anak yang lucu biar si kembar ada temannya."
"Kalau Sonya masih kecil, kak. Jadi, sekarang giliran kak Ayu duluan Kak. Calonnya kan sudah ada."
"Mulai lagi, deh! Ayo, kita makan dulu, aku sudah lapar nih!"ucap Ayu mengelus perut ratanya.
"Baiklah."
Amel memberikan dua kotak makanan ke Ayu dan juga Sonya agar mereka memberikannya kepada Arya dan Darren. Sebelum Amel menyajikan makanan pada Azka, dia memberikan roti dahulu pada anak kembarnya.
Yang lainnya sudah mencari tempat duduk untuk menyantap makanan masing-masing. Amel menyodorkan sekotak makanan pada Azka, namun Azka belum bergeming dari tempatnya.
Apa dia tidak menyukai makanan yang dibungkus seperti ini? Batin Amel.
"Ada apa? Kamu tidak suka?"
"Tidak apa-apa. Aku suka kok, apalagi kamu yang melayaniku seperti ini."
__ADS_1
"Mulai gombal."
"Beneran, itu bukan sekedar gombalan."
"Ya sudah. Makan dulu saja."
"Hmm."
Sehabis makan barulah mereka istirahat sebentar, merehatkan tubuh yang lelah dengan kejadian hari ini.
Ketika semuanya beristirahat mereka tidak tahu kalau Azka sudah tertidur dan itu bukan sekedar tidur biasa, namun dia sudah tidak dapat menahannya dan pingsan begitu saja di sofa.
Mungkin dia lelah, tapi kenapa wajahnya semakin pucat dan berkeringat? Dia juga diam waktu kami berdebat. Apa terjadi sesuatu padanya? Batin Amel heran, karena Azka tidak seperti biasanya.
"Azka! Hei, bangun! Azka! Bongkahan Es! Bangun!" Amel menepuk-nepuk pelan pipi Azka, namun Azka tidak membuka matanya dan malah meracau dalam tidurnya.
"J--Jangan tinggalkan Azka, Bu. Azka takut sendiri,"ucap Azka.
"Bahkan dia mengingau sama pada waktu itu." Amel mengingat kejadian waktu Azka sakit.
Amel yang khawatir langsung keluar ruangan mencari bantuan. Mata Amel tertuju pada mereka yang duduk di kursi tunggu. Di sana hanya ada Ayu, Arya dan Sonya saja.
"Arya, di mana pak Dokter?"tanya Amel tiba-tiba.
"Ada apa Nona? Kenapa panik? Apa terjadi sesuatu lagi pada Bara?" Arya balik bertanya karena takut terjadi apa-apa lagi pada Bara.
"T--Tidak, bukan Bara. Tolong panggil pak Dokter dan lihatlah kondisi Azka segera!" jawab Amel khawatir.
"Baik Nona."
Pasti penyakitnya kambuh lagi. Batin Arya.
Arya segera pergi mencari Darren di ruangannya. Ayu dan Sonya menemani Amel melihat kondisi Azka, posisi Azka saat ini tidur meringkuk memeluk lututnya.
Apa sebenarnya yang kamu alami?
"Kenapa pak Arya lama sekali?" Amel semakin khawatir, keringat di wajah Azka bukan berhenti malah makin banyak yang keluar.
"Sabar, Kak." Ayu berusaha menenangkan Amel.
"Permisi, kakak ipar. Karena kondisi Bara saat ini sudah membaik, maka aku sarankan kita pulang saja dulu."
"Lalu bagaimana dengan Azka?"
"Ya, dia harus segera di rawat di rumah."
"Baiklah. Sonya bantuin Ayu beresin barang-barang, ya. Kakak bangunin anak-anak dulu."
"Iya Kak."
Mereka semua bergegas, Darren dibantu oleh Arya memapah tubuh Azka ke parkiran dan membaringkannya di jok belakang mobil.
Bersambung❣
__ADS_1