
Para preman yang masih tersisa tidak puas melihat rekan mereka dikalahkan begitu saja, oleh seorang wanita kecil yang ada dihadapan mereka.
"Semuanya serang dia!!!" teriak salah satu dari mereka.
Preman yang masih tersisa mendekat ke arah Ayu, baru juga Arya ingin turun tangan dan membantu kekasihnya, namun tak di sangka Ayu malah berlari ke arah tembok, para preman itu juga berlari mengincarnya.
Ayu melihat para preman menggunakan ekor matanya, kemudian tersenyum jahat dan langsung mengambil kursi lipat yang ada di sisi dinding, Ayu pun berbalik dan langsung melayangkan kursi lipat ke arah wajah preman-preman itu.
Pluk ...
Pluk ...
Pluk ...
Pluk ...
Pluk ...
Pluk ...
Pluk ...
Pukulannya enak didengar bahkan tidak ada yang melesat sedikitpun. Ayu benar-benar menikmati aksinya. Ketujuh preman itu sekarang sedang menahan rasa sakit yang luar biasa pada pipi kanan mereka, gigi mereka juga hampir terlepas dari tempat persembunyiannya.
Ketika mereka semuanya lengah karena masih fokus pada pipi masing-masing, barulah Ayu melancarkan tendangan demi tendangan bertubi-tubi ke arah mereka semua.
Bukan berhenti disitu saja, Ayu juga melancarkan serangan lain berupa pukulan dan gamparan keras pada wajah ketujuh preman itu, hingga membuat mereka tak berdaya kekurangan tenaga untuk membalas serangan darinya.
'Sudah lama tidak berolahraga. Jadinya pengen nambah. Seru juga nampar orang kek gini. Wkwkwkw tidak ada yang melarang.'
Ayu masih asik bermain-main dengan para preman-preman itu. Tiba-tiba salah satu preman yang sudah terkapar duluan di lantai tadi, mengambil pistol dari saku celananya. Preman itu mengarahkan ujung pistol kepada Ayu. Namun sebelum pistol itu berhasil ditembakan, Arya datang dan langsung menginjak pergelangan tangan preman itu dengan keras.
Krik ...
Krik ...
__ADS_1
Krik ...
"Aaaarrrrrgggghh! Tanganku!!!" teriak sang preman.
Arya pun segera melayangkan tendangan mautnya pada wajah si preman. Preman itu langsung pingsan di tempatnya, kemudian Arya sedikit berlari menghampiri Ayu.
"Apa kamu baik-baik saja, Honey?" tanya Arya. Kedua tangannya memegang pipi wanita yang sudah nampak acak-acakkan itu.
"Iya Bee. Lihatlah!" Jawab Ayu meminta Arya melihatnya lebih jelas.
Arya tersenyum dan segera memeluk Ayu tanpa mempedulikan sekitar. "Ternyata kamu juga bisa bela diri," ucap Arya sedikit bangga.
"Ya. Bahkan kak Amel juga tidak tahu. Mungkin sekarang dia sedang binggung, karena aku tidak pernah menceritakan tentang rahasiaku ini," bisik Ayu.
"Kamu memang nakal. Kejutan yang kau berikan sangat luar biasa, Honey. Aku dibuat terkejut sampai hilang kata. Tapi, lain kali, jika kamu berada di posisi berbahaya, kamu tidak usah meladeni mereka. Semuanya serahkan saja padaku," ungkap Arya. Walau bagaimana pun dia sangat mengkhawatirkan Ayu. Arya melepas pelukannya.
"Iya Bee," patuh Ayu. Dia tahu bahwa Arya sangat mencemaskan keselamatannya itu membuatnya sangat bahagia dan sangat menghargai perhatian Arya yang diberikan padanya.
Sonya berlari dan langsung memeluk Ayu. "Wah ... kak Ayu hebat sekali," ucap Sonya dengan mata berseri-seri.
"Hehe." Ayu hanya tertawa kecil menanggapi pujian calon adik iparnya.
Para tamu undangan pun berbondong-bondong keluar ruangan, sebagian besar sudah berada di depan gedung dan sabagiannya lagi masih berada di dalam aula.
Laksmi buru-buru mengirim pesan singkat pada orang-orangnya. Gerak-gerik Laksmi yang tampak mencurigakan tidak terlepas dari pandangan mata elang milik Azka.
Azka pun segera memberi isyarat pada Arya dan Darren untuk tetap waspada. Azka langsung memasang alat pendengar di telinganya, sesuai dengan rencana yang sudah mereka susun, begitu pun juga Darren dan Arya. Alat pendengar yang mereka pakai, saling terhubung satu sama lain, dan tentunya saling terhubung juga, dengan para kaki tangan mereka.
"Bersiaplah. Sebentar lagi rencana besar itu akan segera dimulai," ucap Azka sedikit berbisik.
"Baik Pak."
Jonathan dan Monica segera menghampiri Darren. Amel juga berjalan perlahan menghampiri Ayu. Begitu Amel sampai di depannya, Ayu segera meminta maaf pada Amel karena telah merahasiakan sesuatu darinya. Namun Ayu tidak ada maksud untuk berbohong atau membohonggi kakaknya.
Mendengar pemintaan maaf yang tulus dari mulut Ayu, Amel sama sekali tidak marah dan malah memeluk Ayu dengan erat.
__ADS_1
"Yang penting kamu baik-baik saja," lirih Amel.
"Terima kasih Kak Amel. Kakak memang yang terbaik sejagat raya, deh. Ayu makin cinta nih sama Kakak," ucap Ayu manja.
"Eh, jangan dong. 'Kan cintamu hanya milik si ehem," ucap Amel bercanda.
"Hahahaha." Tawa ketiga wanita itu pecah sedang Arya hanya cengar-cengir sendiri.
Dor! Dor! Dor!
"Jangan ada yang bergerak!!!" teriak seseorang yang memakai pakaian serba hitam.
Orang-orang dengan seragam yang sama sudah memenuhi seisi ruangan aula, pintu-pintu juga sudah di tutup oleh mereka, entah dari mana mereka datang. Para tamu undangan yang masih berada di sana pun gemetar ketakutan.
"Hari ini hidupku benar-benar sial," umpat salah satu tamu undangan.
"Pertunjukan apalagi ini?" Yang lain ikut menimpali.
"Sialan!!!"
"Jika tahu akan terjadi seperti ini, sudah pasti aku akan memilih berdiam diri di rumah."
Tidak banyak orang yang mengumpat atas insiden yang terjadi pada pernikahan Azka.
Suasana menjadi tegang, Sonya nampak ketakutan, Amel pun juga sama. Sedang seorang wanita tomboy dan ketiga lelaki itu hanya tampak biasa-biasa saja melihat bahwa mereka semua telah di kepung.
Laksmi tertawa senang dalam hati, demi menghilangkan kecurigaan orang-orang pada dirinya, Laksmi tidak lari dari situasi itu. Dia sengaja berada di sana agar tetap berpura-pura tidak tahu apa yang telah terjadi bahkan wajahnya ikut dibuat-buat takut. Azka dan Arya yang melihat ekspresi wajah Laksmi merasa mual dan pengen muntah.
'Cih ... dasar munafik!'
Daniel diam-diam melirik istrinya. 'Laksmi kau sama sekali tidak pernah berubah dan masih sama seperti dulu. Selama ini aku selalu diam bahkan mengikuti apa yang kamu katakan. Walaupun kau hanya memanfaatkanku sebagai suamimu. Entah rencana busuk apalagi yang ingin kau lakukan pada putra sulungku. Kali ini, aku tidak akan membiarkanmu melakukan hal yang dapat menyakiti putraku lagi.'
Rasa bersalah Daniel terhadap mediam istrinya sangat membekas diingatan. Pandangan mata Daniel menerawang jauh ke masa lalu.
Sejak kematian sang istri, Daniel terus mencari tahu penyebab kecelakaan itu, semua bukti mengarah ke Laksmi, namun dirinya tidak dapat berbuat apa-apa karena sudah terlanjur menikahi Laksmi dan bahkan Laksmi sedang mengandung anaknya.
__ADS_1
Daniel yang sempat mencurigai Laksmi, terbukti saat melakukan malam pertama bersama Laksmi, sebab dari awal Laksmi sama sekali tidak kehilangan kesuciannya.
Bersambung❣