Father Of My Children

Father Of My Children
FOMC 40


__ADS_3

Amel berjalan mengikuti pramuniaga wanita itu dari belakang. Pramuniaga wanita itu memanggil temannya untuk membantunya mengambil dress terbaik di butik mereka. Amel hanya melihat berbagai butik sudah terkumpul di tangan mereka.


Amel di tuntun agar mencoba dress edisi terbatas ke ruang ganti. Azka sudah duduk di sofa depan ruang ganti.


Amel masuk ke ruang ganti membawa beberapa dress yang di pilih oleh pramuniaga wanita, salah satu pramuniaga mengikuti Amel ke dalam ruang ganti untuk membantunya memakai dress-dress itu.


Amel mulai mencoba memakai salah satu gaun di ruang ganti. Setelah mencoba salah satu dress dia keluar memperlihatkannya pada Azka.


"Pak." Amel memanggil Azka untuk melihatnya.


Azka yang sedang membaca majalah segera menghadap Amel. Azka meneliti setiap inci tubuh Amel. Dress yang di pakai Amel terlalu terbuka di bagian dada. Dress yang di pakai Amel berwarna merah marron menjuntai ke lantai tanpa lengan dengan belahan dada rendah, membuat Azka menelan salivanya. Azka berusaha menetralkan fikirannya yang tengah berkelana kemana-mana.


"Gaunnya terlalu terbuka, ganti!"


Bisa-bisanya dia memakai baju terbuka seperti itu. Tidak akan kubiarkan mata liar menatapnya penuh hasrat, batin Azka.


"Terlalu pendek, ganti!"


"Terlalu ketat, ganti!"


"Warnanya terlalu silau, ganti!"


"Tidak bagus, ganti!"


"Itu juga tidak bagus, ganti!"


"Ganti!"


"Ganti!"


"Ganti!"


Berbagai macam alasan, Azka lontarkan pada pakaian yang Amel kenakkan. Menurutnya pakaian yang kekurangan bahan itu cocok untuk diperlihatkan pada dirinya saja dan tidak boleh diperlihatkan pada orang lain.


Amel menjadi geram dengan tingkah Azka. Sudah berkali-kali dia mondar mandir di ruang ganti, tapi belum ada pakaian yang cocok juga untuk dirinya menurut pandangan Azka.


Amel mencoba tetap tenang. Dengan sabar Amel kembali mencoba memakai dress berwarna putih, berlengan pendek, menutupi dada sampai ke leher, dan panjangnya di bawah lutut, membuatnya terlihat anggun dan menawan.


Amel keluar dari ruang ganti, dengan malas Amel memanggil Azka. "Pak." Azka tertegun melihat penampilan Amel.


Tidak terbuka, tidak pendek,tidak ketat. Warna putih juga cocok untuknya, tidak mencolok. Perfect! batin Azka meneliti penampilan Amel.


Apa dia akan menyuruhku ganti lagi? Bikin emosi saja! batin Amel kesal.


"Cantik," lirih Azka.


"Hah?!"


"Maksud saya gaunnya cantik. Pilih yang itu saja, cocok dengan dirimu."


Bilang saja ingin membeli baju yang tertutup, kenapa harus mencoba semuanya sih, buang-buang waktu saja, batin Amel ketus.


Pramuniaga itu keluar. "Mata Bapak memang sempurna. Gaun ini sangat cocok untuk istri Bapak. Cantik dan menawan, ini adalah gaun desainer terkenal dari negara Y dan hanya ada satu-satunya di sini."


Bahkan pelayan ini juga tidak buta. Amel memang sangat cocok menjadi wanitaku. Biar kukasih hadiah untuk butik ini saja. Pelayanannya sangatlah bagus. Batin Azka.


"Carikan istri saya tas dan sepatu terbaik juga di sini." Nada bicara Azka mulai melembut sedikit tidak seperti saat baru datang ke butik.


Hei, aku bukanlah istrimu. Kenapa dia mengakuinya? Malah tidak menolak pula. Dan ... dan ada apa dengan suaranya itu. Carikan istri saya tas dan sepatu terbaik juga di sini. batin Amel meniru gaya bicara Azka.


"Baiklah Pak. Mari ikut saya. Di sebelah sana."


Amel dan Azka di tuntun ke ruang khusus sepatu dan tas. Pelayan itu memperkenalkan tas dan sepatu edisi terbatas di butiknya.


Bagi Amel sudah cukup membeli satu pakaian saja. Amel tidak memikirkan untuk membeli tas dan sepatu mahal lagi. Penolakkan Amel tidak diterima oleh Azka. Akhirnya Amel pun setuju dan memilih sepatu dan tas yang harganya di bawah rata-rata saja.


"Wah, pilihan istri anda sangat tepat. Sepatu ini walau terlihat sederhana tapi terkesan mewah cocok dengan kulit istri anda. Juga sangat cocok sekali dengan tas yang ada di sana. Butik kami menjamin walau desainnya sederhana tapi kesannya mewah."


"Bapak tunggu saja di sini. Saya akan mengambil tas itu untuk istri anda."


"Baiklah," ucap Azka.

__ADS_1


Azka sengaja mengalah agar Amel merasa senang. Tapi, bukan Azka namanya kalau sedikit tidak membuat Amel kesal. Tas dan sepatu sudah di beli, Azka menuju kasir untuk membayar barang belanjaan.


"Bungkus semua baju yang telah di pakainya tadi," perintah Azka.


"Apa?! Eh. I--Iya. Baiklah dengan senang hati Pak."


Kenapa dia malah membeli semua baju yang sudah kucoba? Maunya apa sih! Padahal aku sudah menolak membeli tas dan sepatu mahal. Hais ... pengen kutonjok wajahnya. batin Amel kesal.


Di perjalanan pulang. Azka menyetir mobilnya dengan santai.


"Untuk apa semua baju-baju ini?" Tanya Amel tiba-tiba.


"Pakai!"


"Oleh siapa?"


"Kamu!"


Busyet ... boros amat. Baju-baju ini kalau di jual ulang, lumayan nih buat bayar hutang ke dia. Haha. batin Amel menyerigai.


Kenapa dia tersenyum? batin Azka.


"Apa ada yang lucu?"


"Tidak ada."


"Pakailah baju yang cantik tadi ke acara ulang tahun perusahaan."


"Iya. Saya sudah tahu, yang lainnya boleh di jual ulang, kan?" tanya Amel asal.


"Terserah, itu sudah jadi milik kamu sekarang."


Terserah? Itu tandanya semua dia serahkan padaku. Baiklah rejeki mah jangan ditolak. batin Amel.


"Baiklah dengan senang hati. Tapi, Bapak tidak ada maksud lain, kan?" Tanya Amel, Azka menatapnya heran.


"Seperti maksud jahat gitu," sambung Amel lagi.


"Tidak. Tapi, kalau kamu yang menginginkannya, saya tidak dapat menolaknya." Mendengar ucapan Azka, Amel bergidik ngeri.


"Sudahlah. Jangan berfikir sembarangan! Rumah kamu di mana? Biar saya antar kamu pulang." Azka kembali fokus menyetir.


"Eh. Rumah saya jauh Pak. Nanti saya naik ojek online saja dari kantor. Jadi, bapak turunin saya di kantor saja."


Walaupun kamu sudah membelikanku semua barang-barang mahal ini. Aku belum melupakan sifat kekanakkanmu itu. batin Amel.


Ikuti dia saja. Aku tidak mau memaksanya lagi. batin Azka mengalah.


"Oke."


Sesuai permintaan Amel, Azka menurunkannya di depan perusahaan. Amel segera memesan ojek online di ponselnya. Azka yang masih memarkirkan mobilnya di depan gedung besar itu pun bertanya pada Amel yang berada di luar.


"Sebentar. Apa tadi kamu ingin memesan ojek online?"


"Iya Pak."


"Batalkan!"


"Saya sudah terlanjur pesan Pak. Tidak bisa di batalkan lagi. Kenapa harus dibatalkan?" tanya Amel bingung.


Bagaimana aku bisa mengatakan bahwa aku tidak mau melihat kamu boncengan sama laki-laki lain. batin Azka.


Tidak begitu lama ojek online pesanan Amel tiba di perusahaan. Tukang ojek itu segera menghampiri Amel.


"Non yang memesan ojek online saya, kan?" tanya Si tukang ojek.


"Iya Pak."


"Dia tidak jadi memesan ojek online anda," tegas Azka cepat.


"Mana bisa begitu Pak." Si tukang ojek tidak terima.

__ADS_1


"Kalau saya bilang tidak jadi ya, tidak jadi." Azka membentak Tukang ojek itu.


"Tidak bisa begitu dong, Pak." Tukang ojek menjadi geram dengan tingkah Azka.


Azka lalu mengeluarkan dua lembar uang ratusan dari dompetnya. "Nih ambil uang ini dan pergi dari sini." Azka meyodorkan uang itu melalui jendela mobilnya.


Tukang ojek tampak berbinar melihat uang merah itu. Wajah yang tadinya kesal dan marah seketika berubah menjadi bahagia. Tukang ojek langsung mengambil uang yang diberikan oleh Azka padanya.


"Maaf Non. Sepertinya saya tidak bisa mengantar anda." ucapnya ramah pada Amel.


"Iya tidak apa-apa, Pak."


"Saya permisi Non."


"Iya Pak."


Setelah tukang ojek online pergi. "Bapak apa-apa sih?!" tanya Amel membentak Azka. Amel sudah kesal sedari tadi.


"Naik taksi saja," ucap Azka acuh tak acuh.


"Kenapa? Ojek online dan taksi online juga sama kok."


"Jangan membantah dan turuti saja."


"Ojek online lebih murah dan hemat. Kalau naik taksi mah ongkosnya dua kali lipat."


"Nanti saya yang bayar."


"Tapi, jangan seenaknya dong pak!"


"Turuti saja!"


"Dasar pemaksa!"


"Kamu mau berhenti bicara atau kucium kamu di sini?" Ancam Azka pada Amel. Azka sudah semakin gemas dengan tingkah Amel.


"Iya-iya. Bisanya mengancam doang." Wajah Amel tampak kesal.


"Segera pesan taksi online," perintah Azka.


"Baiklah pak Azka yang terhormat," ucap Amel penuh penekanan.


"Bagus."


Dengan kesal Amel memesan taksi online di ponselnya. "Sudah!"


Tidak begitu lama menunggu, taksi online pun tiba di perusahaan.


"Taksinya sudah datang Pak," ucap Amel yang melihat taksi yang baru saja parkir di sisi jalan.


"Naiklah."


"Ongkosnya mana?"


Jangan fikir aku tidak mengingatnya, ya? batin Amel.


"Nih." Azka menyodorkan ongkos taksi kepada Amel. Amel mengambilnya dan pamit.


"Oke. Aku pergi!"


"Hati-hati!"


Hati-hati? Tumben banget. Heh, hatiku tidak akan luluh padamu. batin Amel.


"Iya."


Wajah kesalnya tidak bisa ditutupi. Membuatku habis kata saja. batin Azka.


"Sampai bertemu nanti malam!"


"Iya."

__ADS_1


Singkat sekali, jawabnya. batin Azka.


Bersambung❣


__ADS_2