Father Of My Children

Father Of My Children
FOMC 92


__ADS_3

Di rumah Arya.


Setelah mengantar anak-anak ke kamar, Arya dan Darren pun duduk beristirahat di ruang tamu. Sonya sudah pergi duluan ke kamarnya, hingga Ayu yang baru dari dapur segera juga masuk ke kamar untuk sekedar membersihkan diri. Rasanya sudah penggap dan gerah yang kini tengah menyelimutinya. Sesampainya di dalam kamar milik Sonya dilihatnya Sonya sudah rapi dengan pakaian yang berbeda.


"Apa kamu tidak mandi?"tanya Ayu heran.


"Tidak Kak. Lagian aku tidak terlalu bau-bau keringat amat, Kok. Kalau kak Ayu mau mandi, mandi aja Kak."


"Awalnya sih pengen mandi karena sudah gerah. Tapi, saat melihatmu Kakak berubah fikiran dan Kakak memutuskan untuk membasuh wajah dan berganti pakaian saja."


"Haha. Kenapa kak Ayu selalu saja membuatku tertawa. Ya udah deh Kak, cepat sana! Aku tungguin nih. Ada sesuatu juga yang harus aku omongin sama kak Ayu. Penting!"terang Sonya manja.


"Oke. Tunggu bentar, ya." Pinta Ayu, dia kemudian melangkah perlahan menuju lemari untuk mengambil pakaian ganti.


"Siap, Kak." Sonya tersenyum. Dilihatnya Ayu yang sudah mengambil baju ganti berlalu ke dalam kamar mandi.


Setelah beberapa menit berada di dalam kamar mandi, akhirnya Ayu pun keluar juga dari sana.


"Kok lama, Kak. Katanya hanya membasuh wajah doang,"ucap Sonya mengerucutkan bibirnya.


"Ya Maaf. Habisnya kakak tadi lagi BeOl dulu,"terang Ayu cenggegesan.


"Pantes aja lama, ternyata lagi berjuang toh di dalam. Haha."


"Iya berjuang untuk mendapatkan kelegaan yang hakiki,"ucap Ayu bercanda.


"Hahaha. Kak Ayu, Kak Ayu. Oke, ayo duduk sini, Kak!"pinta Sonya menepuk ranjang sebelah kanannya.


Ayu berjalan dan duduk di samping Sonya. "Kau pasti ingin menceritakan tentang pak Dokter, kan?"tanya Ayu menebak dan tebakannya itu tepat sasaran.


"Kok, Kak Ayu bisa tahu?"tanya Sonya menatap Ayu.


Ayu pun tersenyum. "Ya bisalah. Di matamu sudah tergambar jelas bahwa kau ingin menyampaikan hal itu."


"Hehe. Sebelumnya Sonya ucapkan terima kasih banyak pada Kak Ayu. Berkat saran dari Kakak, sekarang aku bukan di pacari oleh kak Darren, melainkan di lamar langsung oleh dirinya,"terang Sonya, matanya berbinar-binar.


"Whaat? Seberhasil itu?"tanya Ayu tak percaya jika rencana mereka berhasil dan bahkan hasilnya sangat memuaskan.


"Iya Kak. Aku jadi malu."


"Wah ... Selamat ya sayang. Ya ampuun kak Ayu benar-benar tak menyangka loh, Son. OMG! Berarti hanya Kakak saja nih, yang masih menyandang status single!"

__ADS_1


"Makanya Kak, pepet Kak Arya terus, agar kakak dapat merebut hatinya. Biar Kak Ayu tak sendiri lagi."


"Mana mungkin kakak bisa lakukan hal itu? Kakak kan cewek, nggak pantas ngejar-ngejar cowok. Ntar kakakmu malah ilfiel lagi sama kakak. Dan sepertinya Kakakmu juga masih tenggelam dengan trauma masa lalunya."


Ayu mengingat kembali ekspresi yang ditunjukkan Arya saat bertemu dengan mantan kekasihnya. Arya nampak tak peduli namun terlihat jelas di mata Ayu, ada semburat rasa kecewa di mata Arya. Ayu yakin luka yang ada di dalam hati Arya tidak semudah itu untuk sembuh dan butuh proses yang cukup panjang.


"Oleh karena itu, Kak. Kak Ayu harus bisa menjadi penyelam agar dapat menolong kak Arya yang sudah tenggelam." Sonya pun mengeluarkan kata-kata bijaknya dia ingin kakaknya bersatu dengan wanita pilihannya yang terkesan lucu dan baik.


"Kamu tambah pintar saja. Apa kamu tahu, Son? Sudah kedua kalinya kami tak sengaja bertemu dengan mantan kekasihnya,"terang Ayu.


"Maksud Kakak, Kakak pernah bertemu sama kak Aulia?"tanya Sonya serius. Dia yang sudah mengetahui sifat Aulia pun menjadi khawatir jika Ayu sudah bertemu dengan mantan kakaknya itu.


"Hu'um. Waktu di Rumah Sakit dan waktu di Mall tadi,"jawab Ayu.


"Terus Kak Ayu tidak di apa-apain 'kan sama dia?"tanya Sonya khawatir.


"Tidak kok, Kakak baik-baik saja."


"Kakak harus berhati-hati sama kak Aulia."


"Emang kenapa?"


"Orangnya bisa melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia mau."


'Mau macam-macam padaku? Mimpi sana, kecil-kecil gini juga pernah lulus sabuk hitam saat di kampung, ya walau pun tidak terkenal sih tapi lumayanlah boleh di coba,'batin Ayu sinis.


Dia juga dapat merasakan saat Aulia menatapnya walaupun Aulia tersenyum manis namun dia dapat melihat dengan jelas bahwa wanita itu sangat membencinya. Makanya saat Arya menariknya dalam sandiwara dia tak mengkhawatirkan konsenkuensinya.


Dia sudah belajar bela diri sejak ayahnya masih hidup, setelah kematian ayahnya barulah Ayu dan ibunya pergi merantau ke kota demi mencari sesuap nasi, motor butut milik Ayu adalah hadiah pemberian dari ibunya.


Ibunya mengumpulkan sedikit demi sedikit uang demi membeli motor untuk sang anak tunggalnya. Dan Ayu sangat menghargai pemberian dari ibunya.


Sebelum bertemu dengan Amel, setiap Ayu narik motor ia selalu mensempatkan waktu untuk lebih mengembangkan ilmu bela dirinya di suatu tempat pelatihan gratis yang ada di kota M.


Dan sampai sekarang, orang lain tak tahu kalau Ayu jago bela diri bahkan Amel pun juga tak tahu Ayu menyembunyikan kelebihannya itu. Mereka mengganggap Ayu cewek tomboy yang pandai melucu saja. Mereka juga tak mencurigainya.


"Iya, Kak. Andai kakak bisa bersama dengan kak Arya. Pasti kak Arya akan melindungi Kak Ayu dari kak Aulia jika dia macam-macam nanti. Asal kakak tahu aja, kak Arya pernah juara loh dalam lomba bela diri."


'Waduh ... keknya aku nggak boleh macem-macem lagi nih pada Om, ntar aku di tonjok, bagaimana?'batin Ayu.


"Keknya mantan kekasihnya masih menyukai dia,"ucap Ayu.

__ADS_1


"Percaya deh sama aku. Kakak pasti tidak akan lagi mau balikan sama dia. Orang dia duluan yang mengkhianati Kakak kok."


"Sudahlah! Kamu tidak usah memikirkan hal itu, kamu fokus saja membangun hubungan barumu dengan pak Dokter." Ayu tidak ingin membuat Sonya terus memikirkannya, dia juga mau Sonya hidup tenang tanpa memikirkan apapun.


"Kakak membuatku malu. Oh iya, Kak. Aku pengen banget menanyakan suatu hal padamu."


"Katakanlah! Jangan buat kakak penasaran!"


"Kakak pernah dekat nggak sama cowok?"tanya Sonya serius.


"Dulu sih nggak pernah. Tapi, semejak kakak narik ojek lagi, Kakak nggak sengaja bertemu dengan seorang pria. Waktu itu dia sedang mengalami kecelakaan, terus Kakak nolongin deh. Ternyata, profesinya juga sama, sama tukang ojek seperti Kakak dan tentunya masih single. Orangnya juga baik dan ramah, suka tersenyum pula ples ganteng. Dia juga sering-sering nanyain kabar kakak lewat pesan dan bahkan sampai ngechat Kakak lewat sosial media. Dan seperti yang kau lihat sekarang, Kakak juga lagi dekat dengan kakakmu. Kira-kira hanya itu saja."


Ayu menceritakan kisahnya panjang kali lebar. Sedang Sonya mendengarkan penuh penghayatan.


"Waah ... bahaya,"celetuk Sonya.


"Apanya yang dalam bahaya?"tanya Ayu heran.


"Kak Arya bakalan kalah saing sama tu orang,"jelas Sonya, pupil matanya membesar.


Ayu menyapu wajah Sonya dengan tangannya. "Kamu ada-ada saja,"ucap Ayu terkikik.


"Kenapa wajahmu begitu serius?"tanya Ayu lagi.


"Aku takut, Kak,"ucap Sonya sendu.


"Apa yang kau takutkan lagi, hm?"tanya Ayu.


"Aku takut kak Ayu di ambil sama orang lain selain abangku,"ucap Sonya memelas.


Menepuk punggung Sonya pelan. "Enak aja, emangnya kau kira kak Ayu barang apa?"tanya Ayu memonyongkan bibirnya.


"Becanda Kak, hehe. Tapi, tak apa Kak, jika seseorang dapat membuat kakak bahagia, maka aku ikhlas melepas kak Ayu,"ucap Sonya tulus. Dia juga tidak akan memaksa Ayu untuk menyukai kakak datarnya itu.


"Kau seperti seorang pria saja,"ucap Ayu terkekeh.


"Aku serius, Kak."


"Iya deh, iya. Sini peyuk dulu!"


"Hmmm, Kak Ayuuu ... "

__ADS_1


Mereka berdua pun berpelukkan layaknya seorang kakak dan adik kandung.


Bersambung❣


__ADS_2