
"Katakan! Siapa yang menyuruh kalian," tanya Ayu dengan tatapan membunuh ke arah para preman itu.
Preman-preman itu kesusahan menelan air ludahnya. "K--Kami tidak begitu jelas melihat wanita itu," ucap salah satu preman.
"Bohong!!! Katakan dengan jujur! Kalau tidak, jangan salahkan aku jika aku menghabisi kalian di sini," hardik Ayu dengan ancaman yang tidak main-main.
"B--Benar. K--Kami tidak bohong," ungkap yang lain takut.
"Aku ingat dengan sangat jelas. Apa salah satu dari kalian pernah memata-mataiku di pantai?" tanya Ayu penuh selidik.
"T--Tidak. K--Kami hanya menjalankan tugas dari bos wanita itu saja. Oh iya, ada juga dua orang pria yang juga menemaninya," terang salah satu preman.
'Mungkin salah satu di antara kedua pria tersebut, yang sengaja memantau pergerakan kami di pantai waktu itu.'
Ayu memicingkan matanya. "Apa kau yakin?" tanyanya menatap preman yang baru saja selesai bicara.
"Ya, sangat yakin."
Preman itu mengingat kembali seorang wanita yang menemui dan menyuruh geng mereka untuk membunuh Ayu. Wanita itu juga mengatakan mereka boleh melakukan apa saja terhadap Ayu sebelum membunuhnya. Hingga membuat semuanya tergoda akan tawaran dari sang wanita yang ditemani oleh dua pengawal itu.
Yang para preman ketahui hanyalah seorang wanitalah yang menyuruh mereka, mereka tidak melihat jelas wajah wanita itu kerena di tutupi oleh masker dan kacamata.
'Sudahlah, mereka pasti tidak tahu siapa wanita itu. Sudah jelas bahwa wanita itu hanya mengincarku. Sebaiknya aku secepatnya keluar dari sini dan segera menghubungi kantor polisi.'
Tanpa menjawab Ayu pun langsung mendekati kelima preman itu. "Sebaiknya kalian diam di sini, sampai diriku sudah benar-benar pergi. Jika tidak, tamatlah riwayat kalian," ancamnya disertai pergerakan tangan meyayat leher dengan jari jempol miliknya.
'Aku tidak percaya gadis kecil seperti dirinya mampu merobohkan pertahanan kami.'
Salah satu preman bergidik ngeri, mereka semua masih menahan sakit di bawah sana. Tendangan yang Ayu berikan pada mereka hampir membuat mereka mandul, sungguh itu di luar nalar mereka. Mereka terpaksa mengikuti apa yang Ayu perintahkan.
Ayu berjalan perlahan menjauhi mereka sambil mengkretek jari-jari tangan kanan dan kirinya.
__ADS_1
"Huff ... akhirnya beres juga. Dah lama tidak membuka jurus, membuatku haus saja," lirih Ayu pelan. Kakinya menuruni satu persatu anak tangga di tempat itu.
Kini Ayu telah berada di jalan tempat semula ketika dirinya di hadang. Ia mengambil ponselnya dan segera menelepon polisi agar secepatnya datang ke area itu. Selesai menelepon barulah Ayu berjalan lurus menuju ujung gang.
Dari kejauhan seseorang berlari dengan langkah panjangnya, lari orang itu di percepat karena sudah melihat posisi Ayu berada. Orang itu semakin dekat dan dekat di mana Ayu masih berjalan dengan santai di sana.
Orang itu pun berhenti di belakang Ayu dengan nafas tersegal-segal. "Honey!!!" teriak Arya di saat berhasil menetralkan nafasnya.
Ayu menoleh ke belakang. "Eh, Bee. Kenapa kau ada di sini?" tanya Ayu.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Arya dengan raut wajah yang begitu cemas.
"Aku baik-baik saja, Bee. Coba kamu perhatikan diriku dan lihatlah sendiri," ucap Ayu menyakinkan Arya. Pose tubuhnya di miringkan ke kanan dan ke kiri, sekalian memutar tubuhnya agar Arya dapat melihat jelas bahwa dirinya baik-baik saja sekarang.
Arya membuang nafasnya. Legah itu yang ia rasakan, di kala melihat wanita yang ia cintai baik-baik saja tanpa lecet sedikit pun.
"Aku mengkhawatirkanmu. Aku lupa memberitahumu bahwa di sekitar sini, khususnya dalam gang ini sering terjadi pembegalan," ungkap Arya serius.
"Untung saja, tidak terjadi sesuatu padamu," sambungnya lagi.
Arya tak menyangka dan tak habis fikir, bahwa Ayu akan jalan kaki sendiri menuju tempat berbahaya seperti ini. Untung saja ia bertanya pada seorang wanita seumuran Ayu, dan kebetulan wanita itu juga mengetahui keberadaan sang kekasih, karena dia juga yang memberitahukan lokasi warung makan di dekat rumah sakit pada Ayu.
"Pembegalan dari mana? Orang baik-baik saja kok," ucap Ayu santai.
"Iya. Kamu memang baik-baik saja, tapi tetap saja aku khawatir. Lagian kenapa kamu tidak mau aku menemanimu ke sini?" tanya Arya curiga.
"Bukankah di rumah sakit aku sudah sangat jelas memberikan jawaban dari pertanyaanmu itu, Bee?" balas Ayu santai.
"Huh! Sebenarnya aku kesal padamu, kenapa kau malah terlihat perhatian pada Azka?" tanya Arya sedikit kesal.
"Ya ampun Bee. Jadi ceritanya kamu cemburu?" Ayu balik bertanya dengan tatapan menggoda. Matanya di kedip-kedip ke arah Arya.
__ADS_1
Ayu berjalan mendekati Arya yang masih berdiri beberapa langkah darinya, ia berdiri tepat di depan Arya, wajahnya di donggakan ke atas guna melihat manik mata Arya. Tanpa bicara Ayu mengangkat kedua tangannya dan segera memberikan cubitan kecil pada pipi Arya.
"Uuuggg ... gemas!" ucap Ayu.
Wajah Arya bersemu merah. "Ehem, tau ah. Ayo kita pergi beli makanan! Tuh, tempatnya sudah dekat," ucap Arya salah tingkah. Tangannya menunjuk warung makan yang sudah terlihat oleh pandangan mata mereka.
"Puff ... baiklah Bee." Ayu tertawa melihat tingkah lucu Arya. Bahkan Arya kini sudah berjalan mendahuluinya.
'Bee sangatlah tampan. Sebenarnya tadi, aku ingin sekali menciumnya. Tapi, ini tempat umum jadi terpaksa hanya bisa mencubit pipinya doang. Itu pun berhasil membuatku senang. Hehe, ekspresi Bee yang malu-malu meong sangat terlihat jelas di mataku. Imutnya ....'
Setelah selesai membeli makanan dan minuman serta dengan beberapa makanan ringan, barulah keduanya berjalan lagi memasuki gang itu.
Di dalam gang suasananya tampak ramai, banyak orang mulai berdatangan ke arah salah satu gedung yang ada di sana. Beberapa motor polisi sudah terparkir di depan gedung itu.
Arya dan Ayu berjalan mendekati kerumunan para warga dan polisi yang ada di sana. Ayu tersenyum di kala melihat kelima preman yang menghadangnya dan ketiga preman yang terbaring kaku di lantai sudah diborgol dan di amankan oleh polisi.
Terdengar para warga membuka suara. "Semoga kedepannya di daerah sini tidak ada pembegalan lagi."
"Iya. Semoga aja, ya. Untung saja polisi cepat membereskan para preman-preman itu."
"Benar itu. Saya berharap juga begitu."
Ayu senyam-senyum sendiri. "Bagus deh, akhirnya polisi datang juga," gumam Ayu pelan.
"Kamu bilang apa?" tanya Arya karena tidak mendengar jelas apa yang baru saja Ayu katakan.
"Tidak bilang apa-apa kok Bee," kilah Ayu. "Jalan cepat Bee! Mereka semua pasti sedang menunggu kita di rumah sakit," pinta Ayu. Ia mempercepat langkah kakinya.
'Perasaan, aku mendengar sesuatu deh. Apa yang sedang kau tutupi dariku, Honey?'
"Bee!! Jangan melamun!! Ayo cepat!!" teriak Ayu.
__ADS_1
"Eh, i--iya."
Bersambung❣