
Arya bergegas keluar dari ruangan Darren dan segera menghubunggi nomor kontak Amel, menggunakan ponsel milik Darren.
Setelah teleponnya Arya tersambung. "Halo Darren. Kalian di mana? Apa Azka sudah ditemukan? Apa dia baik-baik saja?" tanya Amel memberikan bertubi-tubi pertanyaan.
"Halo. Ini aku Arya," jawab Arya.
"H--Hayo Ar. Azka di mana?" tanya Amel gugup.
"Sekarang, kami berada di Rumah Sakit. Azka mengalami kecelakaan," jelas Arya.
"Apa?! Aku akan segera kesana sekarang," ucap Amel cemas. Ingin sekali dia menemui Azka segera. Jika dia mempunyai ilmu menghilang maka tidak perlu berlama-lama lagi di rumah.
"Tidak usah. Kalian pergi besok pagi saja," ucap Arya, ia sengaja melarang Amel karena ini sudah malam. Walaupun dirinya ingin mengatakan hal yang serius namun dia juga tidak mau mengambil resiko lain lagi.
"Tidak. Aku akan tetap kesana walau kau melarangku." Jika Amel sudah bertekad, maka tidak ada yang bisa menganggu gugat keputusannya.
"Baiklah." Arya memilih mengalah ketibang berdebat.
Amel segera memutuskan sambungan teleponnya. Arya menatap ponsel milik Darren, lalu senyum tipis membingkai di sudut bibirnya.
"Setidaknya ada Amel, sesosok wanita yang sangat mengkhawatirkan Azka. Azka semoga kau cepat siuman. Di sini masih banyak orang yang mecintaimu dan menyanyangimu dengan tulus," lirih Arya.
Beberapa menit yang lalu, mereka yang syok saat mendengar kabar tentang Azka segera membereskan meja makan, seakan tidak ada nafsu makan sama sekali. Lalu semuanya bergegas ke ruang tamu untuk menunggu kabar selanjutnya.
Sehabis menerima telepon dari Arya, Amel segera berlalu pergi ke kamarnya untuk segera bersiap-siap. Ayu dan Sonya belum membuka suara walau hanya sekedar menayakan kondisi Azka sekarang.
Melihat ke arah Amel yang sudah rapi. "Apa yang terjadi pada kak Azka?" Ayu memberanikan diri untuk bertanya.
"Dia mengalami kecelakaan mobil. Kakak titip anak-anak pada kalian, ya. Jika kalian lapar, kalian bisa panaskan makanan yang sudah dingin tadi," jelas Amel.
"Baiklah Kak." Ayu tidak ingin menanyakan kondisi Azka lagi. Dia takut membuat Amel tak nyaman dengan pertanyaannya, Ayu berharap Azka sekarang, baik-baik saja.
"Eits ... tunggu sebentar. Apa di rumah ini ada baju milik Arya?" tanya Amel ketika ia sedang mengingat sesuatu.
"Ada Kak. Ada banyak di lemari pakaiannya," ungkap Sonya.
"Baiklah, tolong ya Son, Kakak pinjam beberapa baju milik Arya dulu. Siapa tahu mereka di sana sedang membutuhkannya," terang Amel.
__ADS_1
"Oh iya. Ini 'kan lagi hujan. Tunggu sebentar Kak, biar aku ambilkan dulu di lemari pakaian kak Arya," pinta Sonya. Amel hanya mengangguk saja.
Sambil menunggu Sonya menyiapkan baju ganti, Amel memilih memesan taxi online di ponselnya.
Tidak mungkin juga ia kesana menggunakan ojek, karena sekarang hujannya masih belum redah. Sonya datang dan membawa tas gendong berisi beberapa pakaian milik Arya.
"Ini, Kak. Lengkap dengan semua asetnya," terang Sonya agar Amel tidak bertanya lagi.
"Baiklah. Terima kasih Son. Kalian jagain para bocah kecil baik-baik di rumah, ya. Bye. Kakak pamit dulu!"
"Iya Kak, sama-sama. Kakak juga hati-hati di jalan."
"Iya. Kalian di rumah bareng Tante Ayu dan Tante Sonya, ya. Kalau lapar minta pada Tante, Mama pergi menjengguk Papa di Rumah Sakit dulu," pinta Amel menggusap puncak kepala para malaikat kecilnya. Tidak lupa memberikan kecupan singkat di pipi mereka.
"Ingat! Jangan nakal di rumah dan patut sama Tante."
"Aik Mama," jawab mereka serempak. Semuanya patuh, bahkan rona ceria yang bisa mereka tunjukkan kini meredup di kala mendengar kabar buruk.
'Semoga tidak terjadi sesuatu pada Papa.'
'Semoga Papa baik-baik saja di sana.'
'Aku harap tidak terjadi sesuatu pada Papa.'
Keempat anak munggil itu hanya berdoa dalam hati, berharap agar ayah mereka dalam lindungan Tuhan.
Amel masih menunggu taxi online di teras depan rumah. Selang beberapa menit taxi online itu pun tiba juga.
Amel segera berlari kecil ke arah mobil yang sudah terparkir di luar lingkungan rumah Arya. Lalu menaiki mobil itu, perlahan-lahan supir taksi online segera melajukan kendaraannya membela hujan yang masih setia turun dari atas langit.
Sebelum kecelakaan terjadi, Daniel mempunyai firasat buruk bahkan dirinya sangat mengkhawatirkan sang anak yang pulang karena terburu-buru, apalagi hujan akan turun sebentar lagi.
Daniel yang merasa tidak tenang segera memerintahkan seseorang untuk mengikuti mobil anaknya. Namun karena lalai, orang suruhan Daniel kehilangan jejak mobil Azka. Tapi, dia sudah terlanjur melihat plat mobil yang dikendarai oleh Azka.
Dia juga melihat nomor plat mobil yang sama di lokasi kecelakaan. Dia pun juga telah melaporkan apa yang dia lihat pada Daniel.
Daniel yang tidak percaya kalau Azka mengalami kecelakaan, segera menghubunggi Arya untuk meminta kejelasan. Namun, ponsel milik Arya tidak bisa dihubunggi. Daniel tidak habis akal dan segera menelepon Darren, betapa senangnya ponsel Darren bisa di hubunggi.
__ADS_1
Arya yang ingin mengembalikan ponsel milik Darren, terkejut saat ponsel itu bergetar kembali. Dilihatnya nama yang tertera pada benda pipih itu.
"Om Daniel," lirihnya pelan.
"Ini Dar. Mungkin om Daniel ingin berbicara sesuatu padamu," ucap Arya. Menyodorkan ponsel pada Darren.
"Oke." Setelah ponselnya berada di tangannya, Darren pun segera mengangkat telepon dari Daniel.
"Halo Om, ada apa? Kenapa meneleponku malam-malam begini?" tanya Darren, bersikap tenang.
"Apa Azka mengalami kecelakaan?" Bukan menjawab pertanyaan, Daniel malah menayakan langsung ke intinya.
"Om tahu dari mana?" tanya Darren. Pertanyaan Darren barusan sama saja mengakui bahwa Azka memang benar-benar kecelakaan.
"Azka di rawat pada kamar No, berapa?" tanya Daniel to the point.
"Aaanu, Om." Melihat Darren gugup membuat Arya mengeryit.
"Cepat katakan, Darren!" Paksa Daniel.
"B--Baik Om. Dia berada di ruang IGD layanan VVIP, kamar No. 40, Om."
Tanpa menjawab Daniel segera memutuskan sambungan teleponnya. Sedang Darren menepuk jidatnya.
"Kali ini kita tidak bisa menghindar dari hantu tua itu lagi," ungkap Darren. Yang ia maksud dengan hantu tua adalah ibu tiri Azka, siapa lagi kalau bukan Laksmi.
"Ya, kita harus bisa menghadapinya bersama-sama."
Sekarang Daniel telah siap untuk pergi ke rumah sakit. Rencananya Daniel akan pergi sendiri. Namun Laksmi memaksakan diri untuk ikut juga kesana. Daniel menjadi sedikit cemas, tapi dirinya tidak bisa menolak permintaan sang istri.
Bagaimana Daniel bisa menolak, jika Laksmi menatap ke arahnya dengan wajah berpura-pura sedih. Sesunguhnya Laksmi sangat senang mendengar kabar bahwa Azka kecelakaan. Laksmi tidak akan melewatkan kesempatan baik ini tuk melihat kondisi Azka saat ini dengan mata kepalanya sendiri.
Laksmi berharap Azka secepatnya mati menyusul ibunya ke neraka. Sudah tentu Laksmi juga mengajak Kirana dan Riski untuk turut melihat Azka di rumah sakit.
'Ternyata Tuhan berada dipihakku sekarang. Mampus kau Azka. Hahaha, aku tidak capek-capek lagi menghilangkannya dari muka bumi ini.'
Bersambung❣
__ADS_1