
Jam sudah menunjukkan pukul 08:30 pagi. Arya telah menjemput semuanya untuk membawa mereka ke rumah sakit tempat dimana Azka di rawat. Kini semuanya sudah sampai di depan ruangan Azka. Tanpa mengetuk pintu Darren langsung masuk begitu saja.
Cek-lek!
"Kakak ip ..." Seketika suara Darren tertahan, matanya membulat sempurna. Lalu ia memutar kepalanya menatap semua orang yang masih berada di belakangnya. "Sssttt, jangan berisik!" bisik Darren, menaruh jari telunjuknya di bibirnya.
"Kenapa? Ada apa?" tanya Arya ikut berbisik.
"Kalian lihat saja sendiri," ucap Darren membuka pintu lebar-lebar.
Ayu dan juga Sonya dengan cepat menutup mata keempat bocah kecil yang ada di depan mereka.
"Tenapa Ante?" tanya Rasti.
"Tidak apa-apa. Kita tunggu di luar dulu, ya. Nanti baru kita masuk lagi. Ayo Son, bawah mereka menunggu di luar," ucap Ayu. Tanpa mendengar dia menuntun kedua bocah lelaki itu.
"B--Baiklah," jawab Sonya. Ia juga mengikuti apa yang Ayu lakukan. Mereka membawa keempat bocah kecil itu ke kursi tunggu yang ada di depan ruangan.
Arya menyenggol lengan Darren pelan, ia memberi isyarat bahwa hanya Darren yang bisa mengambil wewenang dalam membangunkan kedua orang dewasa yang tubuhnya masih pada posisi yang sama.
Darren berjalan perlahan ke arah ranjang, sedang Arya berjalan mundur ke belakang, Arya menutup pintu lalu menghampiri Sonya dan juga Ayu yang sedang duduk di kursi tunggu bersama anak-anak.
Darren mengendap-ngendap. "Kakak ipar," bisik Darren setelah berada di samping ranjang.
Berkali-kali Darren memanggil nama Amel namun Amel tidak bangun juga.
"Segitu nyamankah tidur dengan posisi seperti itu?" lirih Darren mengamati.
Darren dengan berani menepuk tangan Amel pelan. "Kakak ipar," Panggilnya lagi untuk yang kesekian kalinya.
Uuuggghh ... Amel melengguh, sedang Darren masih menepuk-nepuk tangan Amel. Amel mulai mengerjapkan matanya, ia merasakan ada sesuatu yang tengah melingkar di pinggangnya.
Amel mengucek matanya, lalu mengendarkan pandangannya ke arah orang yang tengah membangunkannya.
"Hm ... ada apa Darren?" tanya Amel. Tidak sadar dengan situasi yang ada.
'Puff ... Kakak ipar tidak sadar.'
"Bangun, Kak," ucap Darren lagi, mencoba menyadarkan Amel.
"Ini sudah bangun. Ada perlu apa?" tanya Amel membuka matanya lebar-lebar.
"Tapi, itu ..." tunjuk Darren canggung ke arah Azka yang masih berada di bawah Amel.
Amel menoleh ke bawah. "Oh Tuhan ...!" Amel terkejut dan segera melepaskan diri dari pelukkan Azka lalu bergegas turun dengan tergesa-gesa.
"Aauuug! Sakit!" Azka tiba-tiba tersadar dengan ulah Amel yang tanpa sadar menendang wajahnya.
"M--Maaf sayang. Ada Darren di sini," ucap Amel memberi sedikit isyarat mata.
__ADS_1
"Emangnya kenapa jika ada dia di sini?" tanya Azka santai. Azka merubah posisi tubuhnya bersadar di kepala ranjang.
Amel memukul lengan Azka dengan kuat." Kenapa kau malah memukulku?" tanya Azka, sedang Amel hanya diam saja, pipinya bersemu merah menahan malu.
'Malu-maluin banget. Azka juga tidak peka sama sekali. Apa dia sengaja? Sudah jelas dia sengaja. Dasar Bongkahan Es! Walau bagaimana pun aku tetap cinta, dan ... dan tentunya juga suka.'
"Tau ah. Eh iya, apa ada hal serius yang ingin kau katakan dengan Azka, Dar?" tanya Amel pada Darren, ia tidak menghiraukan ucapan Azka.
"Tidak ada kakak ipar, aku hanya ingin melihat kondisi Azka sekarang dan rupanya dia baik-baik saja bahkan sudah sadar juga. Aku juga bisa tenang, hal yang aku takutkan tidak terjadi, aku sudah yakin, Azka pasti bisa melewati semuanya apalagi ada dokter yang lebih hebat dariku di sini, sudah pasti dengan pelukkan hangat saja, Azka langsung tersadar dari pingsannya," ucap Darren panjang lebar, niatnya menggoda Azka.
"Yaiyalah. Amel sayangku 'kan dokter sekaligus obat terhebat yang pernah aku temui," ungkap Azka bangga. Sedang Amel tidak dapat berkata-kata.
"Iya iya, aku paham. Aku kesini bukan hanya akan memeriksa dirimu saja, tapi aku ke sini juga membawa anak-anak kalian, seekarang mereka masih berada di luar karena tidak mau menganggu kalian yang sedang bermesraan," terang Darren santai.
"A--Apa mereka juga ada di sini?" tanya Amel gugup.
"Iya. Mereka masih berada di luar, Kakak ipar."
"Oke, tunggu apa lagi. Panggil mereka semua ke sini, sekarang!" titah Azka acuh tak acuh.
"Baiklah."
'Dasar Azka tidak malu sama sekali, bahkan dia terlihat biasa-biasa saja.'
Darren berjalan perlahan-lahan menjauhi ranjang dan mendekati pintu kamar ruangan itu.
Cek-lek!
"Ayo masuk!" Seru Darren.
"Akhirnya berakhir juga," ucap Arya, berdiri dari duduknya.
Arya sudah cukup bosan menunggu di luar, karena dia diacuhkan terus oleh Ayu yang sedang bercerita dengan anak-anak saat menunggu Darren tadi. Sedang Sonya senyam-senyum melihat tingkah kakaknya yang sudag kelewat bucin.
"Iya. Di sini sangat bosan, karena diacuhkan terus," ucap Sonya menyindir kakaknya.
Ayu merasa tak enak hati telah menghiraukan Arya, ia hanya tidak mau kemesraan mereka atau ucapan Arya yang terlalu mencolok dapat mempengaruhi anak-anak, oleh sebab itu dirinya tidak menghiraukan Arya dan malah sibuk bercerita dengan anak-anak.
"Rupanya ada yang galau. Lupakanlah! Anak-anak, ayo masuk ayah kalian ingin bertemu," ucap Darren. Walaupun dia tahu bahwa Sonya sedang menyindir Arya namun dirinya tidak ingin menggoda Arya lagi. Arya bernafas legah setidaknya Darren mau menghentikan godaannya itu.
"Papa dah adar, Om?" tanya Rasti mewakili semuanya untuk bertanya.
"Iya sayang." Darren mengulas senyum indahnya pada bocah kecil.
"Holeee!" Teriak mereka girang.
"Ayo tita matut," Ajak Rasti.
Keempat bocah munggil itu pun berlalu dan masuk ke dalam ruangan Azka.
__ADS_1
"Papa!" teriak keempat bocah kecil itu senang. Raka juga ikut berteriak karena saking rindunya pada ayahnya.
"Sini!" panggil Azka. Mereka semua berlari mendekati ranjang tempat Azka berada.
Arya dan yang lainnya menyusul dari belakang. Kedua lelaki dewasa itu berjalan dengan langkah panjang, menghampiri keempat bocah kecil, untuk mengangkat mereka naik ke atas ranjang.
'Terima kasih Tuhan ... telah menjawab doa-doa kami.'
Raka langsung memeluk ayahnya, diikuti oleh ketiga saudaranya.
"Uhuk ... Mama jadi dicuekkin nih?" tanya Amel bercanda.
"Idak ong, Mama. Tami idak ungkin uekin Mama. Ami tenang, lau Papa aik-aik taja," jelas Raka.
"Ya, Mama hanya becanda saja sayang," terang Amel mengulas senyum indahnya.
"Maafkan Papa, ya."
"Ia, ang enting Papa teat-teat," timpal Rasti.
Arya, Darren, Ayu dan juga Sonya juga ikut tersenyum bahagia, seakan-akan juga merasakan apa yang keluarga kecil itu rasakan.
'Semoga kalian selalu bahagia.'
"Oh iya Kakak Ipar, apa kamu sudah memberitahukan pada Azka?" tanya Darren.
"Belum. Ya ampun, aku lupa," ucap Amel menepuk jidatnya.
"Emang apa yang ingin kau katakan padaku?" tanya Azka penasaran.
"Aku ingin kau secepatnya menyembuhkan penyakitmu," pinta Amel serius.
"Tapi--" Azka tentu saja ingin menolak namun ucapannya disergah oleh Amel.
"Tidak ada tapi-tapian," tegas Amel.
"Mama enal, Papa alus tembuh otal," ucap Raka seakan tahu kalau ayahnya sedang sakit serius.
'Mungkin, ini saatnya aku berobat. Dan ini semua demi keluarga kecilku.'
"Baiklah. Ini demi kalian, karena Papa sayang kalian," ucap Azka tersenyum.
Darren dan Arya yang tadinya was-was kini merasa legah, juga merasa senang, akhirnya Azka mau juga diajak berobat.
'Dulu aku dan Darren sudah membujuknya sampai tak terhitung jumlahnya, tapi tetap saja dirinya menolak ajakkan baik kami. Namun, saat diajak oleh Amel dan anak-anak, walau hanya sekali, dia langsung mau begitu saja tanpa banyak basa-basi lagi."
Bersambung❣
Maaf beribu-ribu maaf karena baru update say😁 ... author banyak aktivitas yang harus dilakukan didunia nyata, jadinya tidak ada waktu untuk masuk ke dunia halu dulu. Semoga kalian masih tetap setia menunggu walau menunggu itu sakit. Hehe🙏😁.
__ADS_1