
Di kamar.
Anak-anak sudah terbangun dari tidurnya. Dia kemudian menyuruh mereka untuk turun dan makan agar di perjalanan nanti tidak kelaparan. Selesai makan barulah Amel memandikan anak-anak di bantu oleh Ayu.
Hati Amel benar-benar tak tenang. Dia terus memikirkan apa yang dia katakan pada Azka. Bagaimana sampai Azka mencari wanita lain. Memikirkan konsenkuensi dari ucapannya lebih memilih memanggil Azka ke kamar untuk membicarakan kembali ucapannya di dapur waktu itu.
Amel menyuruh anak-anak mengikuti Ayu ke lantai bawah lebih dulu, karena dia masih ada urusan penting bersama Azka di atas. Barang-barang mereka biarlah dia dan Azka yang akan menurunkannya ke bawah.
Azka merasa menang sekarang, tidak biasanya Amel seperti itu padanya, membawanya ke kamar untuk berbicara berdua membuatnya sedikit lebih tenang jika Amel harus pergi hari ini, menginap selama sebulan di rumah Arya.
Azka masih berpura-pura acuh tak acuh pada Amel, sedang Amel menjadi gusar perkataan dalam hati yang sudah ia susun rapi hilang seketika tidak tahu harus berbicara apa pada Azka.
Mata elang itu terus menatapnya, mereka sudah terdiam beberapa menit lamanya.
"Apa kau tidak akan pergi?"tanya Azka memecah keheningan itu.
"B--Bukan itu yang ingin kusampaikan padamu." Amel menautkan kedua tangannya dan meremas jari jemarinya dengan pelan.
"Lalu?"tanya Azka. Azka berharap Amel memanggilnya ke kamar untuk memberi hadiah berupah ciuman padanya.
"I--Itu. W--Waktu di dapur,"ucap Amel gugup.
"Iya aku sudah mengingatnya dengan jelas. Kamu menyuruhku untuk mencari wanita yang bersedia menciumku, kan?"tanya Azka mengingatkan kembali apa yang Amel ucapkan padanya.
Amel melotot. "Terus apa kamu juga mau di cium oleh wanita lain?"tanya Amel serius.
"Menurutmu bagaimana?"tanya Azka.
"Mel, kita memang sudah mempunyai empat anak. Tapi, apa salah jika aku memintamu untuk sekedar memberi ciuman?"sambung Azka lagi.
Amel menundukkan kepalanya menatap lantai yang tidak ada apa-apa di sana. "Seharusnya kau juga harus bisa mengerti,"ucap Amel.
'Setidaknya berikan aku sebuah ciuman perpisahan selama sebulan, Mel. Namun nyatanya kau masih kekeuh dengan pendirianmu. Jadinya aku yang terkesan memaksa. Baiklah aku akan mengalah dan bersabar dulu. Tapi, setelah kita menikah walau kau menolak sekali pun aku akan tetap melahap bibir-mu,'batin Azka.
"Baiklah. Aku sudah mengerti. Kau ke sini hanya mau mengatakan hal itu, kan? Jika apa yang kau ingin sampaikan padaku sudah selesai, sebaiknya kita ke bawah. Jangan biarkan Ayu dan anak-anak menunggu di sana! Ayo!"ucap Azka. Dia berjalan mendahului Amel hendak membuka handle pintu.
Azka tidak ingin memaksa Amel, dia juga tidak mau membuat Amel tak nyaman saat berada di dekatnya. Namun, belum sempat di meraih ganggang pintu, Amel sudah menarik tangannya. Pergerakan Azka terhenti dan segera berbalik badan melihat Amel yang sedang menunduk.
__ADS_1
"Ada apa? Apa ada hal lain lagi yang ingin kau sampaikan padaku?"tanya Azka.
Azka juga ikut menundukkan kepalanya ingin melihat wajah Amel dengan jelas. Seketika Amel mendongak ke atas, menatap lekat manik mata Azka kemudian menarik kerak leher kameja milik Azka agar wajah mereka sejajar lalu setelah itu Amel menempelkan bibirnya pada bibir Azka hingga membuat mata Azka membulat sempurna.
'D--Dia menciumku?'batin Azka terpaku.
Perlahan tapi pasti Azka sedikit mengigit bibir milik Amel, setelah Amel membuka mulutnya barulah Azka menelusuri bibir itu dengan lihai. Amel menggalungkan tangan ke leher Azka, mereka terus menikmati penyatuan antara benda kenyal itu setelah Azka rasa sudah cukup barulah dia melepaskan pagutan mereka.
Azka mengusap bibir Amel dengan lembut, menghapus sisa-sisa air ludahnya yang masih menempel di sana.
Azka menyatukan keningnya dengan kening Amel. "Terima kasih sayang,"lirih Azka.
"Tidak merajuk lagi?"tanya Amel.
Azka menjauhkan wajahnya. "Sudah hilang terbawa suasana tadi,"ucapnya tersenyum manis.
"Hm, i--itu ... apa ..." Amel gugup.
"Kau takut dengan ucapanmu sendiri? Kau tenang saja, kesetiaanku tidak perlu diragukan lagi sayang. Kamu kan tahu sendiri, mana mungkin aku tega menyuruh wanita lain untuk menciumku yang sebentar lagi akan menjadi suamimu?"tanya Azka penuh penekanan dia berusaha menyakinkan Amel bahwa dia tidak seperti orang yang pernah hadir di masa lalu.
Amel terharu dan memeluk Azka dengan erat, Azka membalas pelukan Amel tidak kalah erat.
"Kamu bilang apa?"tanya Azka ingin mendengar pernyataan itu lagi.
"Sayang,"lirih Amel malu-malu.
Azka melonggarkan pelukannya, lalu menatap wajah Amel, pandangan mata keduanya bertemu.
"Apa aku tidak salah dengar? Coba ulangi sekali lagi." Azka masih tak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Sayang sayang sayang,"ucap Amel lantang dengan satu tarikan nafas.
"Hahaha. Kenapa kau imut sekali. Aku jadi tak rela 'kan untuk membiarkanmu pergi." Tawa Azka pecah, Azka benar-benar merasa Amel sangat mempesona.
"Hanya sebulan bukan seabad sayang!"ucap Amel mulai berani.
Azka mencubit pelan pipi tembem milik Amel. "Iya. Aku akan setia menantikan kehadiranmu di sini, tuk masuk ke dalam kehidupanku menjalin bahtera rumah tangga hingga menua bersama,"ucap Azka tersenyum.
__ADS_1
"Ya ampun, Ayu dan anak-anak pasti sudah menunggu lama di lantai bawah,"pekik Amel.
"M--Maaf ini kesalahanku,"ungkap Azka.
"Tidak ada yang perlu di salahkan dan tidak ada yang perlu meminta maaf." Amel juga sadar diri, semua yang terjadi bukan sepenuhnya salah Azka.
"Ayo, kita pergi!"ucap Amel lagi.
"Heemm." Azka berdehem kecil menanggapi ucapan Amel.
Azka dan Amel mengambil dan membawa barang-barang yang di tinggalkan oleh Ayu, barang yang sudah di kemas sebelumnya. Ayu sengaja tidak membawa barang itu sekaligus, barang-barang itu membuatnya sedikit kesusahan karena dia juga harus menuntun anak-anak.
Sesampainya di lantai bawah khususnya ruang tamu.
"Lama amat, Kak. Lagi ehem, ya?"tanya Ayu dengan tatapan menggoda. Dia sudah menunggu Amel dan Azka cukup lama, maka dari itu dia sengaja menggoda Amel.
"Sstt!" Amel melotot memberi isyarat agar Ayu menuntup mulutnya itu.
"Hemhem tu pa Ante?"tanya Rasti penasaran.
"Oh itu, sesuatu permainan yang hanya boleh dimainkan oleh orang dewasa." Ayu dengan hati-hati menjelaskan maksud dari perkataannya.
"Tenapa anat tetil idak isa aing?"tanya Bunga juga ikut penasaran. Permainan apa yang dimainkan oleh orang tuanya sehingga membuat mereka sebagai anak kecil tidak boleh ikut main.
"Ya, karena anak kecil itu masih kecil, harus tunggu besar dan menjadi orang dewasa dulu." Ayu mencoba menjelaskan pada para bocah kecil itu yang sedang menyimak.
"Oh, betitu. Anti alau tu dah betal, Unga aing itu uga,"ucap Bunga polos.
"Iya. Tapi, tunggu besar dulu, ya?" Ayu mengusap puncak kepala Bunga.
"Asti Ante."
"Ekhem! Sebaiknya kita pergi sekarang, nanti keburu malam." Azka segera mengakhiri percakapan antara anaknya dan juga Ayu.
"Ayo anak-anak!"pinta Amel mengajak anaknya untuk segera berdiri dan mengikutinya berjalan menuju pintu keluar.
"Aik Mama,"ucap mereka serempak.
__ADS_1
Bersambung❣