Father Of My Children

Father Of My Children
FOMC 68


__ADS_3

"Kak Arya hanya memperlihatkan senyumannya pada kami keluarganya saja. Namun, aku belum pernah melihatnya tertawa. Jadi, secara tidak sadar kak Arya telah menyimpan nama kak Ayu di dalam hatinya,"terang Sonya serius.


"Sonya,Sonya. Sudah ah, jangan bahas Kakakmu lagi! Terus bagaimana denganmu? Waktu di rumah sakit kamu sengaja, kan meninggalkanku bersama Kakakmu itu?"tanya Ayu. Padahal dia sendiri yang mengatakan tidak usah membahas tentang Arya.


"Iya kak. Maaf, ya." Pendengaran Sonya hanya fokus pada ucapan terakhir Ayu.


"Jika kamu ingin mendapat maaf dariku, maka ceritakan tentangmu dan juga pak Dokter itu." Ayu pura-pura merajuk.


"Yah ... seperti biasa, Kak."


"Tidak mungkin."


"Kalau boleh jujur, aku sempat berdebar-debar saat berdekatan dengannya. Tapi, aku takut Kak, dia tidak menyukaiku,"terang Sonya. Sonya meletakan piring yang sudah di keringkan pada rak di sampingnya.


"Ya ampun. Kamu tidak lihat apa, pak dokter itu sangat-sangat menyukaimu. Namun,kamu tidak menyadarinya,"ucap Ayu sambil membilas piriang yang sudah di cuci oleh Amel.


"Aku merasa minder, Kak. Di rumah sakit tempatnya bekerja banyak perawat dan bahkan dokter wanita mendambakan untuk mendapatkan hatinya, mereka semua sangat-sangat cantik,"ucapan Sonya sedikit merendah.


"Tidak usah memikirkan tentang itu, yang penting pak Dokter tidak tertarik dengan mereka." Ayu berusaha menyakinkan Sonya bahwa pilihannya tidak mungkin salah.


"Apa kak Arya juga akan merestui kami?"tanya Sonya.


"Sudah pasti, mereka 'kan sahabatan,"ucap Ayu tersenyum.


Mana mungkin dia tidak merestui kalian. Yang kuingat sejak pembicaraan kami waktu itu di dalam mobil, sifatnya pada Darren sedikit berubah serasa sudah melonggarkan kebebasam untuk Sonya dalam memilih pasangan. Batin Ayu.


"Ya, semoga saja."


Mereka bertiga membilas tangan dan mengeringkannya.


"Apapun yang ditentukan oleh takdir, kita harus bisa dan mampu untuk menerimanya. Semoga kelak mereka berdua menjadi jodoh kalian. Dan ingat satu hal, jangan pernah mengharapkan sesuatu yang belum tentu pasti! Nanti yang sakit itu diri kita sendiri. Kalian paham?" Amel memberi sedikit nasihat pada keduanya.


Ayu dan Sonya memeluk Amel. "Paham, Kak,"ucap Ayu dan Sonya serempak. Amel membalas pelukan mereka dan mengusap pucak kepala keduanya satu persatu.


"Terima kasih, Kak."


"Terima kasih, Kak Amel."

__ADS_1


Di waktu yang bersamaan. Ruang tamu.


Azka memutarkan flim animasi untuk putra dan putri di ruang TV sedangkan dia dan dua pria lainnya duduk bersantai di sofa ruang tamu.


"Apa kau tidak akan memberitahukan kebenaran pada kakak Ipar? Kulihat dia benar-benar khawatir dan ingin sekali mengetahui tentang masa lalumu." Darren membuka pembicaraan.


"Benar Az, aku kasihan pada Amel. Kenapa kau tidak memberitahukan saja padanya?"timpal Arya.


"Belum saatnya dia mengetahui tentang masa laluku,"jelas Azka.


"Apa yang membuatmu menunda untuk memberitahukan pada kakak Ipar?"tanya Darren penasaran.


"Kita belum mengetahui dalang di balik kecelakaan itu,"ungkap Azka.


"Tapi 'kan, kakak Ipar wajib tahu tentang masalahmu. Mau sampai kapan kau menutupi ini semua darinya?"tanya Darren lagi.


"Apa yang dikatakan Darren itu benar, kamu tidak boleh terus-terusan menutupi masalah ini dari Amel. Jangan sampai kau menyesal, Azka!" Arya setuju dengan apa yang Darren ucapkan, dia tidak mau Azka menyesal di kemudian hari nanti.


"Kalian berdua tenanglah, di waktu yang tepat, aku akan mengatakan sendiri semua tentangku padanya,"ucap Azka santai.


"Kuharap juga begitu dan tidak akan menimbulkan masalah untukmu,"ucap Arya penuh harap.


"Baiklah, terserah kamu saja." Arya juga tidak berhak mencampuri urusan Azka karena apa yang Azka lakukan pasti sudah difikirkannya matang-matang.


"Aku tidak habis fikir dengan kalian berdua. Apa kalian sudah ada kemajuan dalam hal percintaan?" Kini giliran Azka yang ingin menginterogasi mereka berdua.


"Aku masih tetap sama. Mengejarnya. Namun, aku tidak yakin kalau Arya merestui hubunganku dengan Sonya, kau juga tahu itu, kan?"tanya Darren, nada bicaranya sedikit merendah.


"Perjuangin saja terus, jangan pantang menyerah!"ucap Azka.


"Siapa bilang aku akan menyerah? Sudah pasti Aku tidak akan penah menyerah begitu saja, akan kubuktikan pada Arya bahwa aku layak menjadi pendamping hidup Sonya." Darren menjadi semakin berkobar-kobar. Semangat untuk mendapatkan sang pujaan hati sangat besar.


Ternyata yang dikatakan gadis itu memang benar. Darren mungkin orang yang tepat untuk adikku.


"Nah, itu baru disebut lelaki. Dan bagaimana dengan kau Arya? Apa kau telah jatuh cinta pada gadis yang membuatmu kesal?"tanya Azka penasaran.


Waktu di meja makan Azka sempat melihat ekspresi wajah Arya saat menatap Ayu sangat berbeda dari biasanya. Ada kemungkinan besar Arya sudah sedikit terpikat dengan pesona Ayu tapi dia tidak menyadarinya.

__ADS_1


"Jika difikirkan dia memang seorang gadis yang lucu. Orangnya suka berterus terang,"ungkap Arya. Memikirkan Ayu membuatnya melukiskan sedikit senyum di bibirnya.


"Tuh, kan. Pada akhirnya kamu juga akan menjilat ulang ludahmu sendiri. Sudah kukatakan padamu kalau kalian itu berjodoh. Mungkin dia jodoh yang Tuhan kirimkan untukmu."


"Entahlah. Aku belum bisa melupakan rasa sakit hatiku. Apalagi di rumah sakit waktu itu aku kembali bertemu dengannya lagi, untung saja ada gadis itu di sana. Dia sedikit kumanfaatkan agar membuat mantan pacarku tidak mengangguku lagi. Aku bahkan berbohong mengatakan kalau gadis itu istriku dan kita sedang memeriksa kandungan di rumah sakit,"terang Arya panjang lebar.


"Apa? Arya kamu benar-benar sudah gila! Bisa-bisanya kau membuat Ayu terseret dalam masalahmu,"bentak Azka.


"Maafkan aku, waktu itu aku tidak bisa berfikiran dengan jernih." Saat itu Arya memang fikirannya hanya ingin membuat mantan kekasihnya kesal, dia sampai tidak berfikir sebab dan akibat yang akan terjadi pada Ayu nanti.


"Kamu harus tetap bersama Ayu dan melindunginya. Kamu sudah pasti tahu 'kan kalau mantan pacarmu itu orangnya bisa melakukan hal-hal nekat untuk mencelakai orang?"ucap Darren.


"Ya."


Arya menerawang jauh ke masa lalunya, saat Aulia mantan kekasihnya melihat Arya dekat dengan wanita lain, Aulia tidak sengan-sengan menyuruh bawahannya untuk melakukan sesuatu pada gadis tidak bersalah itu, hingga membuat gadis itu menerima trauma yang amat dahsyat.


Dari kejadian itulah Arya mengetahui kalau Aulia orangnya posesif dan bisa melakukan apa saja yang dia inginkan, mendapat dukungan dari ayahnya membuat Aulia menjadi gadis yang manja namun Arya tidak menyangka Aulia tega mengkhianatinya padahal dirinya sendiri yang melarang Arya dekat dengan wanita lain.


Ya, aku tidak akan membiarkan Aulia menyakiti gadis itu. Batin Arya.


"Apa yang dikatakan Darren itu benar, kamu harus menjaga dan melindungi Ayu." Azka ikut menimpali.


"Baiklah. Aku mengerti,"ucap Arya serius.


"Darren, ada sesuatu hal yang ingin kubicarakan empat mata padamu,"ucap Arya lagi.


"Emang Azka tidak boleh tahu?"tanya Darren heran dan penasaran. Kenapa hal penting itu tidak boleh diketahui oleh Azka padahal selama ini Arya tidak pernah menutupi sesuatu darinya.


"Ini masalah cukup penting dan bersifat pribadi,"terang Arya.


"Baiklah. Kalian selesaikan masalah kalian dulu." Azka mengerti, kalau Arya bersikap seperti ini pasti ada hal yang sangat penting yang tidak boleh diketahui olehnya.


"Ayo ikut aku! Kita bicara di luar,"pinta Arya pada Darren. Arya berjalan perlahan menuju pintu dahulu.


"Kami pamit keluar dulu, ya." Darren tersenyum.


"Ya." Setelah Azka mengiyakan barulah Darren menyusul Arya.

__ADS_1


Bersambung❣


__ADS_2