Father Of My Children

Father Of My Children
FOMC part 29


__ADS_3

"Ante tenapa deleng tepala?" tanya Bunga, menatap Ayu.


"Tante tidak kenapa-napa sayang," terang Ayu tersenyum. Mereka melanjutkan menonton flim kartun lagi.


Di perusahaan Abraham group, Amel yang berada di ruangannya tidak fokus mengerjakan pekerjaannya, dia masih teringat kembali dengan perkataan Ayu kemarin malam.


"Apakah aku tanyakan saja ya, pada Si Bongkahan Es. Tapi ... kalau dia tidak menjawab pertanyaanku dan mencurigaiku bagaimana?" fikirnya bimbang.


"Apa dia sudah ada di ruangannya?" batin Amel memikirkan Azka. Amel melangkah keluar ruangan, menghampiri dan masuk ke ruangan milik Arya.


"Pagi Pak Arya, apakah Pak Azka sudah datang?"


"Iya Nona, Tuan datang bersama saya. Ada perlu apa? Ada yang bisa saya bantu?"


"T-Tidak ada, saya hanya ingin bertemu dengan pak Azka saja."


"Maaf Nona, Tuan sedang kedatangan tamu penting, jadi tidak boleh diganggu dulu."


"Tamu itu adalah orang yang menjebak Azka," batin Arya.


"Oh Baiklah Pak, kalau begitu saya permisi dulu Pak," ucap Amel melangkah keluar, sesampainya di luar matanya tertuju pada wanita yang baru saja keluar dari ruangan Azka.


Tubuh wanita itu sangat modis, wajahnya cantik nan anggun dengan balutan dress kekurangan bahan menambah kesan seksi pada wanita itu. Wanita itu berjalan berlenggak-lenggok melewati Amel yang sedang berjalan pelan menuju ruangannya, mata Amel terus menatap wanita itu dengan manik matanya.


"Apa loe lihat-lihat! Kenapa menatap gue seperti itu?"


"Eh, M-Maaf Bu." Amel sedikit gugup ditanya kasar oleh wanita itu.


"Apa yang loe katakan, hah? Ibu? Apa mata loe buta, ya?"


"Siapa wanita ini, apakah dia istrinya Azka? Tapi mana mungkin, Azka tinggal sendiri kok di Apartmentnya atau jangan-jangan dia tunangannya Azka, ya? Kalau memang iya, kenapa dia menerimaku bekerja tanpa interview di perusahaannya, apa dia sudah tahu rahasiaku dan ingin mengambil anak-anakku dariku, lalu hidup bersama dengan wanita ini? Tidak-tidak-tidak, aku tidak akan membiarkan dia merebut anakku dariku, untuk itu aku harus segera mengujinya," batin Amel.


"Woi, apa loe tuli? Gue sedang bicara, kalau gue nanya itu di jawab!"


"Eh, K-Kenapa?"


"Loe siapa di sini?"


"Saya sekretarisnya pak Azka, Bu."


"Sekretaris? Seorang wanita? Kok aku nggak tahu, ya? Tante juga tidak memberitahuku tentang wanita ini," batin wanita itu.


"Sudah di bilangin jangan panggil gue dengan sebutan Ibu, gue adalah calon Nyonya di sini, jadi loe harus memanggil gue dengan sebutan Nyonya, apa loe mengerti?"

__ADS_1


"Gue harus ngomong gitu, agar dia tahu di mana tempatnya berada," batin wanita itu lagi.


"Biasa aja kale, kok malah nyolot sih!" batin Amel ketus.


Amel sudah cukup bersabar, kali ini dia sudah tidak tahan lagi dengan sikap dari wanita itu. " Memangnya kenapa kalau aku memanggilmu dengan sebutan Ibu?" Nada bicara Amel seakan menantang wanita yang berada di depannya.


"Loe nantangin gue?"


"Aku tidak nantangin kamu, kamu saja yang terlalu nyolot."


"Loe berani sama gue, hah?!"


"Emangnya kenapa? Kamu manusia aku juga manusia, tidak ada kata manusia takut dengan manusia," tegas Amel.


"Dasar perempuan murahan! Lihat saja nanti, gue akan membuat loe membayar perbuatan loe ini!"


"It's okay, aku tunggu kabar baiknya." Amel tidak mempedulikan ancaman dari wanita itu.


"Dan satu lagi, jika Ibu lelah maka sebaiknya ibu istirahat yang baik saja di rumah. Jangan sampai penyakit gula darah Ibu naik dan mengakibatkan opname!" Amel sengaja mengucapkan kata-kata mengejek itu, karena melihat wanita yang berada di depannya tampak lelah.


"Loe---"


"Ibu harus ingat, aku bukan wanita murahan yang seperti ibu bayangkan, dan jika ibu mau tahu siapa yang murahan di sini? Maka bercerminlah dan lihatlah diri Ibu sendiri."


"Aku tidak pernah menyebut ibu sebagai wanita murahan, tetapi jika ibu sadar diri itu juga lebih baik," ucap Amel acuh tak acuh dengan ucapan wanita itu.


Arya yang mendengar suara ribut-ribut di luar pun keluar menghampiri orang yang membuat keributan. "Apa yang sedang kalian ributkan di sini?" tanya Arya datar.


"P-Pak Arya!" ucap Amel gugup.


"Apa aku akan dipecat! Ini kan tamu penting pak Azka, aku malah berani mencari masalah," batin Amel was-was.


"Arya, segera panggil Azka kemari dan lihat apa yang wanita ini lakukan padaku!"


"Cih, kamu tampak baik-baik saja. Sebaiknya aku kasih tahu masalah ini saja kepada Azka," batin Arya.


Tanpa bicara, Arya langsung berjalan menuju ruangan Azka, setelah mendengar seruan masuk, Arya langsung menghilang dibalik pintu. Tidak begitu lama Azka dan Arya keluar dari ruangan, menghampiri Amel dan wanita itu.


Melihat ke arah Azka. "Sa-Sayang, wanita ini mencoba menghalangi kepergianku, dia juga melawan dan berani membantahku," ucap wanita itu manja, menghampiri Azka, memeluk lengan Azka, dan menempelkan badannya seperti benalu.


Amel yang melihat tingkah wanita itu menatap jijik, tak suka. "Saya permisi Pak!" ucap Amel berbalik badan dan melangkah, tidak mau berlama-lama meladeni mereka.


"Apa dia cemburu?" fikir Azka, menatap Amel.

__ADS_1


"Kamu jangan pergi dulu! Apakah yang di katakannya benar? Kamu mencoba menghalanginya pergi? dan bahkan melawannya?" tanya Azka datar, pada Amel.


"Cih, rupanya mau main pahlawan-pahlawanan, kek drama saja. Seorang pahlawan tampan menolong wanita cantik," batin Amel mendecih.


Berbalik badan. "T-Tidak Pak, kalau mau pergi ya pergi saja, kenapa saya harus menghalanginya," ucap Amel penuh penekanan.


"Dasar kurang ajar! Jadi loe berniat mengusir gue?"


"Ya ampun Bu, maksudku tidak seperti itu."


Melototi Amel. "Ibu?" Mendongakkan kepala menatap Azka. "Sayang, segera pecat saja dia, dia sudah lancang kepadaku."


"Pak, sebaiknya Bapak urus dulu wanitamu ini dan jika ada hal serius yang ingin Bapak bicarakan, datang saja ke ruangan saya, Saya permisi Pak!" ucap Amel mulai berani, berjalan cepat ke ruangannya.


"Apa dia benar-benar cemburu, aku harus memastikannya," batin Azka.


"Ada apa denganku? Kenapa aku mengatakan itu? Dasar Bodoh!" batin Amel, mengumpat dirinya sendiri.


"Tuh kan, dia berani melawanku!" Suara wanita itu masih terdengar jelas oleh Amel yang baru saja membuka pintu ruangannya.


Amel duduk di kursi kerjanya. " Apa-apaan sih, bikin mual saja. Oppai wanita itu nempel di lengan Si Bongkahan Es dan dia sama sekali tidak menolaknya," umpat Amel kesal.


Di luar ruangan. "Lepaskan tanganku!" ucap Azka datar.


"Tidak mau, sebelum kamu memecat wanita itu!"


"Bukan dia yang harus pergi, tapi kamu," batin Azka kesal.


"Kamu tidak berhak mengaturku! Lepaskan tanganmu dariku!" bentak Azka murkah.


Mendengar betakkan Azka, nyali wanita itu menciut dan segera melepaskan tangan Azka.


"Arya, kamu sudah boleh kembali keruanganmu," pintah Azka.


"Baik Tuan, saya permisi."


"Dan kamu! Segera pergi dari sini," ucap Azka datar, dan berlalu pergi ke ruangannya. Wanita itu tidak punya pilihan lain dan segera pergi dari perusahaan Azka.


Bersambung ...❣


...Jangan lupa tinggalkan jejak baiknya,...


...like and komennya....

__ADS_1


...Love You All❤...


__ADS_2