
Rasti, Bara dan Bunga mengikuti Raka kakaknya, dan berlalu pergi ke kamar.
"Sebenarnya ada apa, Kak? Kenapa Kakak harus menyuruh anak-anak pergi? Apa ada masalah serius? Apa terjadi sesuatu?" Ayu membeberkan beberapa pertanyaan pada Amel.
"Masalah ini cukup serius."
"Coba Kakak ceritakan lebih detailnya agar aku dapat mengerti dan memahami."
"Sebelum Kakak menceritakan masalah itu, pertama-tama Kakak ingin meminta maaf padamu, Yu. Karena Kakak sudah menyembunyikan semua ini darimu."
"Iya tidak apa-apa Kak, kuyakin Kakak pasti punya alasan sampai Kakak menyembunyikan masalah itu padaku."
"Baiklah, sebenarnya ... sebenarnya Kakak sudah bertemu dengan ayah dari anak-anak Kakak."
"Hah?! Serius Kak?!"
"Iya."
"Ketemunya di mana? Kok bisa?"
"Ternyata dia bukan seorang gigolo seperti yang kakak bayangkan pada tiga tahun lalu."
"Lalu, kalau bukan seorang gigolo terus apa, Kak?"
"D-Dia ... dia, adalah Bos Kakak."
"What?! L-Lalu apakah dia sudah mengetahui tentang anak-anaknya Kakak?"
"Belum, Kakak juga belum memberitahukan padanya. Dan ternyata pada waktu itu dia juga di jebak oleh seorang perempuan."
"Seorang perempuan? Pacarnya?"
"Kakak tidak tahu tentang dia lebih detail, dia hanya memberitahukan pada kakak bahwa wanita itu ingin menjebaknya agar dapat menikah dengannya."
"Wanita itu licik sekali Kak. Sudahlah Kak, mungkin bos kakak adalah jodoh Kakak, makanya di pertemukan dengan cara yang tak terduga. Sebenarnya aku sudah curiga pada waktu itu, waktu kakak pulang dari tempat tinggalnya."
"Pantesan waktu itu Ayu sempat memperlihatkan tatapan curiga padaku, ternyata dia sudah dapat menebaknya," batin Amel.
"Kamu tidak marah sama Kakak?"
"Untuk apa marah Kak. Bahkan aku malah senang, pantesan anak-anaknya Kakak itu pintar-pintar semua, ternyata oh ternyata bibitnya dari sana. Haha."
"Haha, kamu bisa saja. Kamu tahu Yu, wajah bos Kakak sama persis seperti Raka. Jadi ketika kakak melihat Raka, kakak selalu terbayang padanya."
"Kakak mulai bucin ih!"
"Haha, kamu kapan?"
"Kapan apaan Kak?"
"Punya pacar!"
"Kalau itu entahlah Kak. Aku tidak doyan pacaran. Pengennya nikah saja, kan enak tu dinner bareng pasangan. Haha."
"Emang kamu sudah punya target?"
"Belum Kak."
"Target saja belum ada, terus nikahnya sama siapa? Tembok? Haha."
"Hahaha, Kak Amel ada-ada saja deh! Oh Iya Kak, besok pengasuh itu akan datang ke sini."
__ADS_1
"Kakaknya sudah setuju?"
"Sudah Kak, aku juga sudah share lokasi kita ke dia."
"Syukur deh! Dengan begini mungkin kita bisa sedikit nabung buat biaya ganti rugi itu." Amel belum menceritakan tentang mobil yang di rusak oleh Bara adalah mobil ayahnya sendiri.
"Jika dia tahu anaknya yang merusak mobil itu, apakah dia akan membatalkan pembayaran itu?" batin Amel.
"Iya Kak. Semoga saja masalah kita ini cepat terselesaikan. Semangat!"
"Semangat!"
Keesokkan harinya Amel telah pergi ke kantor dari semenit yang lalu dan tinggallah Ayu dan anak-anak yang berada di rumah. Ayu sedang menunggu kedatangan pengasuh yang sudah mengirim pesan padanya, kalau dia akan datang pagi sekali dari waktu yang telah ditentukan, padahal Ayu sudah mengatakan datangnya jam 8 saja dan sekarang baru pukul 06:31 pagi.
Ayu memilih memandikan anak-anak yang belum sempat mandi, Ayu mengurus mereka seperti anak-anaknya sendiri.
Di tempat lain, seorang perempuan imut sedang berbicara dengan kakaknya.
"Kamu kerja sepagi ini?" Arya yang heran dengan adiknya, langsung memberikan pertanyaan padanya.
"Iya Kak, emang kenapa? Aku ikut nebeng, ya Kak!"
"Nanti aku bisa telat, dan harus jemput Azka dulu."
"Ya elah Kak, masa Kak Arya tega sih, sama adik sendiri! Please ya Kak, cukup hari ini saja, esoknya tidak lagi. Please."
"Baiklah, di mana alamatnya?"
"Di sini Kak!" Sonya menghadapkan benda pipih miliknya ke wajah Arya. Arya melihat alamat yang tertera di layar ponsel adiknya.
"Ayo!" ajak Arya pada adiknya.
"Turun di sini saja Kak, nanti aku jalan kaki saja. Tempatnya sudah dekat kan?"
"Iya, kamu hati-hati ya!"
"Siap Kakakku yang tampan." Sonya turun dari mobil, kakaknya langsung tancap gas dan berlalu perlahan, Sonya melambaikan tangannya.
Setelah mobil kakaknya sudah tidak terlihat lagi, dia bergegas pergi ke rumah sesuai petunjuk, melewati gang itu. Sonya sedikit kebingungan, dia pun bertanya pada ibu-ibu yang kebetulan sedang duduk bergosip.
"Permisi Bu!"
"Ada apa ya, Neng? Ada yang bisa ibu bantu?"
"Begini Bu, saya sedikit tersesat. Apa Ibu tahu alamat ini?" Sonya memperlihatkan alamat yang tertera di ponselnya.
"Oh, Neng mau ke rumahnya neng Amel?"
"Eh bukan Bu. Saya lagi mencari rumahnya mbak Ayu Bu." Sonya yang ingat betul nama akun yang sedang mencari seorang pengasuh bernama Ayumi Putri dan bukan bernama Amel.
"Ya iya Neng. Neng Ayu itu adiknya Neng Amel, rumah mereka ada di ujung jalan, Neng tinggal lurus saja dari sini."
"Oh gitu ya Bu. Makasih ya Bu. Saya permisi!"
"Iya Neng. Sama-sama." Sonya berlalu dari sekumpulan ibu-ibu itu. Dia berjalan lurus sesuai intruksi yang di dapatkannya. Hingga tibalah ia di rumah sederhana dan mempunyai taman sedikit luas di depan.
"Mungkin ini rumahnya," lirih Sonya, matanya berkeliling melihat rumah yang berada di depannya. Rumah itu tidak berpagar jadi dia langsung masuk begitu saja.
Sonya melangkah perlahan-lahan mendekati pintu rumah itu. Kedengaran sekali di indera pendengarnya ada tawa anak kecil yang entah ada berapa orang di dalam. Sonya pun mengetuk pintu Rumah sederhana itu.
Tok... Tok... Tok...
__ADS_1
"Permisi!" Dia terus mengetuk pintu.
Ayu yang berada di dalam sedang menemani anak-anak menonton kartun lucu, mendengar ada suara teriakkan seseorang di luar rumah.
"Itu pasti orangnya," batin Ayu.
"Tante ke depan dulu, ya? Kalian tunggu di sini sebentar!"
"Iya Ante!" seru mereka serempak. Ayu berjalan cepat ke arah pintu.
"Iya tunggu sebentar!" Teriak Ayu dari dalam rumah. Dia menghampiri pintu dan membukanya. Terlihat seorang gadis cantik berdiri di depannya.
"Kamu Sonya?"
"I-Iya Kak, aku Sonya! Kakak, Kak Ayu kan?"
"Iya. Silahkan masuk!" Ayu tersenyum pada Sonya. Mereka sudah berada di ruang tamu.
"Ayo Kakak kenalkan kamu pada ponakan Kakak!"
Sonya mengikuti langkah kaki Ayu menuju ruang TV. Pemandangan indah tiba-tiba terlintas di benakknya. Sungguh anak-anak yang sangat-sangat mengemaskan.
"Raka,Rasti,Bara,Bunga. Lihat siapa yang datang!" Mendengar teriakkan Tantenya, mereka serempak melihat ke arah Ayu dan orang yang berada di belakangnya.
"Tu tiapa Ante?" tanya Rasti.
Sebelum Ayu memperkenalkannya, Sonya sudah berjalan cepat dan menghampiri anak-anak yang berada tak jauh darinya.
"Hallo! Nama Tante adalah Tante Sonya. Senang berkenalan dengan kalian!"
"Ante Nya?" tanya Bunga, memastikan.
"Iya! Uuu mengemaskan sekali." Sonya menatap gadis kecil yang sedang bertanya dengannya. Dia menghampiri dan mencubit pelan pipi gadis itu.
"Kelihatan banget kalau dia menyukai anak-anak," batin Ayu memperhatikan Sonya.
"Ante Nya tenapa tubit pipitu?"
"Karena kamu lucu dan imut." Sonya mengedipkan sebelah matanya.
"Lau Ante Nya engen ang puk, tubit ja pipi tak Bala." Tunjuk Bunga pada Bara, yang memiliki pipi cubby mirip ibunya. Sonya mengikuti arah tangan Bunga.
"Wah, pipi kakakmu imut sekali!" Girangnya saat melihat Bara yang menatapnya dengan tatapan yang mengemaskan.
"Lau atu imut tak?" tanya Rasti. Sontak membuat Sonya menatapnya.
Mengusap kepala Rasti. "Kamu juga imut sayang!"
"Lau tak Laka mna Ante?" Tunjuk Rasti pada Raka. Membuat Sonya menatap Raka dan Raka pun menatapnya balik dengan tatapan datarnya.
"Loh! Wajahmu sedikit familiar! Tapi mirip siapa, ya?!" Sonya terkejut melihat wajah Raka. Dia pernah melihat wajah itu tapi dia tidak mengingat siapa yang memiliki wajah yang mirip dengan bocah kecil itu.
"Jangan-jangan dia kenal lagi sama ayah dari anak kak Amel. Tapi mana mungkin? Kota ini kan luas, mungkin itu hanya kebetulan saja," batin Ayu.
Bersambung ❤
...🍃Semoga yang baca sehat selalu. Aamiin!...
...Jangan lupa dengan kebiasaan baiknya🍃...
...love you All💜...
__ADS_1