Father Of My Children

Father Of My Children
FOMC 151


__ADS_3

Arya menghampiri yang lainnya yang masih setia menunggu dokter keluar dari ruang operasi. Beberapa menit telah berlalu namun dokter juga tak kunjung keluar.


Azka gelisah, Amel dan anak-anak hanya bisa menghiburnya. Tidak begitu lama pintu ruang operasi terbuka. Dokter pun keluar dari ruang operasi.


"Apa kalian dari keluarga pasien?" tanya Dokter.


"Iya Dok, kami keluarganya. Bagaimana keadaan Ayah saya, Dok?" Azka balik bertanya.


"Begini Pak. Operasinya berjalan dengan lancar. Namun, untuk saat ini kondisi pasien sangat kritis. Dan sementara waktu pasien akan mengalami koma. Jika pasien selamat, kondisi tubuhnya tidak akan sama lagi seperti dulu, dan jika tidak, maka dapat menyebabkan kematian."


Deg!


"Dok, tolong selamatkan nyawa Ayah saya," pinta Azka memohon seperti anak kecil.


"Berdoalah kepada Tuhan, karena hidup dan mati manusia hanya milik-Nya," ucap dokter.


Dokter menepuk pundak Azka, kemudian berjalan meninggalkan mereka yang masih berada di sana.


Darren menyaksikan secara langsung operasi yang dilakukan oleh tim dokter itu. Dirinya tak sanggup melakukan operasi terhadap Daniel dan harus diganti oleh dokter lain.


Para suster yang telah menyelesaikan urusan mereka di dalam segera memindahkan pasien ke ruang IGD tuk melakukan perawatan lebih lanjut.


Darren yang juga ikut membantu menyelesaikan urusan di dalam ruang operasi juga ikut keluar bersama para suster.


Azka tidak henti-hentinya menyalahkan dirinya atas kejadian yang menimpah ayahnya. Amel turut merasa sedih, hatinya sakit saat melihat orang yang ia cintai harus mengalami kejadian mengerikan seperti itu.


Monica dan Jonathan izin pulang terlebih dahulu, sedang Ayu dan Sonya juga ikut pulang di temani oleh Arya. Yang tersisa hanyalah Azka, Amel dan anak-anak saja. Sedang Darren masih berbincang-bincang dengan dokter yang mengoperasi Daniel.


Ayu dan Sonya sengaja pulang duluan, tuk mengambil pakaian dan membeli makanan untuk mereka yang masih berada di rumah sakit.


Di dalam kamar pasien. Azka duduk di kursi yang letaknya berada di sisi ranjang. Azka mengengam tangan keriput milik Daniel. Tangan Daniel diletakan ke benda kenyalnya lalu mendaratkan kecupan singkat pada tangan sang ayah.


"Ayah ... maafkan Azka," lirih Azka pelan.


"Bangunlah Ayah! Azka ingin mendengarmu bicara," ucap Azka lagi.


"Ayah jangan tinggalkan Azka, Azka sayang Ayah. Maafkan Azka ... jika selama ini Azka tidak mematuhimu, Yah."


Amel yang masih duduk di sofa segera berdiri dan menghampiri Azka. "Sayang ... Ayah pasti baik-baik saja. Sini istirahat dulu, kamu pasti capek," pinta Amel lembut.


"Aku tidak capek sayang." Azka hanya bisa mengelak. Rasa capeknya telah ditutupi oleh rasa bersalah pada ayahnya.


Amel merengkuh Azka dalam pelukkannya. Kepala Azka di letakan di perut rata miliknya.


"Baiklah ... jika kamu lelah, kamu bisa istirahat. Masih banyak yang membutuhkanmu, Ayah, aku dan anak-anak bahkan yang lainnya juga. Kami semua masih membutuhkanmu. Jadi kumohon ... dengarkanlah aku sayang," ucap Amel mengelus puncak kepala Azka lalu mengecupnya singkat.


"Aku janji padamu, tidak akan terjadi apa-apa padaku." Azka lebih mengeratkan pelukannya.


"Iya aku percaya," ucap Amel. Ia mengecup dahi Azka dengan lembut. Sentuhan bibir Amel yang mengenai kulit dahinya membuat Azka lebih rileks.


Anak-anak sudah tertidur di sofa sejak tadi. Sedang Amel masih menemani Azka di sisi ranjang. Mereka berdua tak kunjung tidur dan masih berada dalam posisi yang sama.


Pintu diketuk dari luar, sedikit membuat anak-anak terusik dari tidur pulas mereka namun mereka tidak bangun. Amel izin pada Azka, lalu berjalan mendekati pintu dan membukanya.


"Ayu!" ucap Amel ketika melihat siapa orang yang mengetuk pintu.


"Iya Kak. Ini aku bawain makanan dan pakaian untuk kalian semua," ucap Ayu.


"Kamu kesini sendiri? Mana Sonya?" tanya Amel celingak-celinguk.


"Aku kesini bersama Bee. Sonya tidak ikut. Perutnya sakit, biasa ... sedang kedatangan tamu bulanan."


"Lalu di mana Arya?" tanya Amel.


"Katanya ingin menemui Darren dulu, Kak."


"Oh, ya sudah. Ayo masuk!"

__ADS_1


"Iya."


Amel membawa makanan dan pakaian dari Ayu. Ayu pun mengekorinya dari belakang.


"Kapan anak-anak tidur, Kak?" tanya Ayu. Matanya menatap keempat bocah yang masih tertidur pulas di atas sofa besar dalam ruangan itu.


"Belum lama, mereka pasti capek. Untung saja, mereka sudah makan saat di acara tadi," ungkap Amel.


"Baguslah kalau begitu. Sebaiknya Kakak berganti pakaian dulu. Pasti ribet 'kan, kalau harus pakai gaun begitu," ucap Ayu memerhatikan penampilan Amel yang sudah acak-acakkan.


"Iya Yu. Ribet, sangat ribet."


"Oke, kalau gitu Kakak ke kamar mandi dulu. Sekalian membasuh wajah."


"Baiklah Kak. Kebetulan aku juga membawa sabun cuci muka."


"Oke. Kau memang yang terbaik," puji Amel.


Amel berlalu ke dalam kamar mandi. Suasana dalam kamar itu menjadi sunyi, karena Azka tidak membuka suaranya dan Ayu pun juga hanya diam saja.


"Dimana Arya?" Pertanyaan mendadak dari Azka seketika membuat Ayu kaget.


"Bee, pamit padaku, katanya dia ingin menemui dokter Darren dulu, Kak."


"Oh."


Balasan singkat Azka mampu membungkam mulut Ayu. Sedang di tempat lain khususnya di ruangan kerja Darren, Arya tampak membicarakan masalah serius dengan Darren di sana.


"Apa kau sudah tahu kondisi tante Laksmi sekarang?" tanya Darren.


"Iya."


"Aku mengetahui dari dokter yang bekerja dibidang gangguan mental, dokter itu mengatakan bahwa tante Laksmi mengidap penyakit gangguan jiwa. Dia selalu berterik-teriak tidak jelas, bahkan tante Laksmi juga tertawa dan menangis di waktu yang bersamaan. Sungguh ironis," terang Darren.


"Ya, aku sudah mengetahuinya dan bahkan sudah melihatnya secara langsung. Mengenai kejadian yang terjadi di acara pernikahan Azka Rupanya ada dua komplotan yang telah di bayar oleh orang yang berbeda," jelas Arya mengertakkan giginya.


"Apa komplotan yang pertama kali itu suruhan orang lain?" tanya Darren.


"Aulia," tebak Darren tepat sasaran.


"Ya."


"Ckck, dia benar-benar nekat."


"Bukan hanya itu saja, Risky juga di tangkap polisi atas kasus pelecehan terhadap gadis di bawah umur."


"Lalu bagaimana dengan Kirana?" tanya Darren. Seingatnya waktu di pernikahan Azka dirinya tidak melihat Kirana di sana.


"Dia telah kabur ke negara asalnya," ungkap Arya.


"Bagaimana bisa?" tanya Darren.


"Bisa-bisa saja, jika ia menggunakan otak liciknya maka semua yang dia mau pasti ia lakukan. Namun, akan kupastikan itu semua tidak akan bertahan lama. Orang suruhan kita telah mendapatkan bukti yang kuat berupa obat terlarang di Hotel tempat tinggalnya. Aku juga telah mendapatkan bukti bahwa Kiranalah dalang dibalik penculikan Bara."


"Benar-benar wanita jahat. Mereka semua memang pantas mendapatkan ganjaran setimpal atas perbuatan jahat mereka."


"Lalu bagaimana dengan tante Laksmi?" tanya Darren lagi.


"Walaupun dia sekarang mengidap gangguan jiwa, namun dirinya tidak akan lolos dari jeratan hukum yang berlaku. Semua kedoknya telah terbongkar. Setelah mengakui semua perbuatannya, kita juga memiliki seorang saksi yang dapat membenarkan kejadian di masa lalu," ungkap Arya.


"Saksi? Apa orang yang kalian berdua cari selama bertahun-tahun?" tanya Darren memastikan.


"Ya. Supir yang pernah bekerja di rumah Azka."


"Akhirnya semuanya terungkap."


"Iya."

__ADS_1


"Hei, kenapa kau malah sedih? Harusnya kau senang," ucap Darren menatap wajah Arya yang terlihat sendu.


"Aku mengkhawatirkan Azka, apa dia mampu melewati semua ini? Aku khawatir trauma masa lalunya kembali lagi," terang Arya.


"Sejujurnya aku juga memikirkan hal yang sama. Aku juga mengkhawatirkan keselamatan om Daniel dan juga Azka."


Huff ...


Kedua orang dewasa itu membuang nafas kasar, lalu terdiam memikirkan apa yang akan terjadi nantinya.


Di dalam ruangan tempat Daniel di rawat. Amel keluar dari kamar mandi, lalu menghampiri Ayu di sana.


"Apa kamu sudah makan?" tanya Amel.


"Sudah, Kak. Eh iya Kak, aku pamit keluar dulu. Mau nunggu Bee di luar saja. Besok kami akan datang kesini lagi."


"Eh, baiklah kalau begitu." Amel hanya mengiyakannya saja. Ia juga tidak bertanya apa-apa pada Ayu, Amel mengerti apa yang saat ini Ayu fikirkan dan Ayu rasakan.


"Oke Kak. Bye."


"Oke, Bye-Bye."


Ayu pun pergi keluar dari kamar itu, berada di dalam sana hanya akan membuatnya tercekik. Dia duduk di kursi tunggu menunggu Arya datang. Tidak begitu lama Arya pun datang menghampirinya.


"Loh, kok tidak masuk ke dalam. Ada apa?" tanya Arya heran.


"Tidak apa-apa, Bee."


"Apa kamu sudah ingin pulang?" tanya Arya.


"Iya Bee. Sonya sendiri di rumah. Besok baru kita datang lagi kesini," ungkap Ayu sedikit memberi alasan.


"Baiklah. Kamu tunggu aku disini. Aku masuk ke dalam melihat Azka dulu. Sekalian pamit," ucap Arya tersenyum.


"Iya Bee."


Arya tidak mengetuk pintu dan langsung masuk begitu saja ke dalam ruangan. Dirinya melihat Azka yang sedang dibujuk oleh Amel.


"Makanlah, nanti kamu sakit!" bujuk Amel.


Pufff ...


"Azka,Azka. Sejak kapan kau menjadi cenggeng begini? Mana sifatmu yang kejam dan berwibawa itu, hm?" tanya Arya mencoba memprovokasi Azka.


Azka menoleh ke sumber suara. "Diam kamu!!!" hardik Azka.


"Aku bisa makan sendiri sayang," ucap Azka lembut. Lalu merebut makanan dari tangan Amel. Amel tersenyum melihat tingkah keduanya.


"Baiklah. Silahkan menikmati," ucap Arya.


Demi melihat Azka menghabiskan makanannya, Arya rela menunggu selama beberapa menit lagi. Kini makanan Azka telah selesai makan dan makanannya habis tak tersisa. Amel membung nafas lega saat melihat Azka menghabiskan makanannya.


"Niatku kesini ingin pamit pulang," terang Arya.


"Oke," ucap Azka acuh tak acuh.


"Ketus amat. Dan satu lagi, semua masalah sudah selesai diatasi. Jadi yang perlu kau lakukan ialah fokus menjaga om Daniel dan menjaga kesehatanmu. Apa kau paham?"


"Baiklah bawel, aku sudah paham. Sana, pulanglah!"


"Oke. Aku pamit, ya."


"Hm." Azka hanya berdehem.


"Iya, hati-hati di jalan," ucap Amel.


"Iya."

__ADS_1


Arya berlalu pergi menemui Ayu. Keduanya terlibat perbincangan kecil, setelah itu barulah mereka berjalan menelusuri koridor rumah sakit menuju parkiran.


Bersambung ❣


__ADS_2