Father Of My Children

Father Of My Children
FOMC 64


__ADS_3

Walaupun saya sibuk, tapi jika ada waktu saya akan update sebisa mungkin walau hanya satu episode saja. sekali lagi maaf atas ketidaknyamanannya, ya🙏😍


...................❤...................


Amel dan yang lainnya menyusul Arya dan Darren. Setelah sampai ke mobil barulah mereka berbagi tempat.


"Anak-anak biarkan saja mereka naik ke mobil Darren bersama Sonya di sana. Nona dan gadis gi--, maksudku kamu naik di sini saja." Arya hampir keceplosan.


"Baiklah. Aku di jok belakang temani Azka. Ayu kamu duduk di depan,"pinta Amel.


"Baiklah, Kak."


Apaan tadi? Dia ingin mengataiku gadis gila? Lagian kenapa dia menyuruhku duduk di mobilnya? Batin Ayu.


Darren mengendarai mobilnya dengan hati-hati. Beda terbalik dengan Arya, dia sedikit mengemudikan mobilnya dengan cepat agar Azka tidak berada lebih lama lagi di rumah sakit.


Amel mengusap kepala Azka yang berada di pangkuannya, agar Azka dapat lebih tenang. Amel cemas sekali melihat Azka yang mengerutkan dahinya menahan sesuatu yang menyakitinya. Mendapat usapan lembut dari Amel membuat Azka perlahan-lahan menormalkan kondisi dahinya. Namun, keringat masih terus mengalir membanjiri wajahnya.


Sabar, sebentar lagi kita sampai di rumah. Batin Amel.


Di tempat lain.


Kirana yang merasa tidak tenang langsung pergi ke hutan bambu tempat dia menyekap Bara. Sesampainya pandangan mata Kirana meneliti keadaan gudang yang saat ini tampak begitu amburadul.


Pintu gudang terbuka lebar. Apa mereka semua ditangkap? Bagaimana bisa?


Kirana memberanikan diri masuk ke dalam gudang, dia meneriaki nama orang suruhannya, namun sia-sia karena tidak ada seorang pun di dalam. Dia kemudian pergi memeriksa kamar bagian belakang tempat dia mengunci Bara.


"Tidak ada! Apa mereka semua di tangkap polisi atau telah terjadi sesuatu di sini?"lirih Kirana.


Untung saja aku sudah mempersiapkan semuanya dari awal. Batin Kirana.


Kirana mengingat kembali kejadian sebelum orang suruhannya di tangkap. Kirana yang pada saat itu menelepon bos dari genk orang suruhannya.


"Jika terjadi sesuatu pada kalian nanti, jangan pernah menyebut namaku di depan siapa pun! Aku juga akan menempati janji untuk menjamin keselamatan keluarga kalian. Apa kamu paham?"terang Kirana.


"Siap Bos. Lalu siapa yang akan menjadi kambing hitamnya?"


"Kalian limpahkan semua kesalahan ini pada wanita yang membawa anak itu." Kirana tersenyum sinis.


"Baiklah. Kami akan melaksanakan perintahmu."


"Bagus."


Lamunan Kirana terbuyarkan dan segera bergegas pulang ke rumahnya dia takut jika berlama-lama di hutan bambu dapat menimbulkan masalah baru lagi untuknya. Yuni bersantai ria, menonton flim yang seru sambil tertawa. Bahkan Kirana sama sekali tidak mengabarinya masalah yang terjadi di hutan bambu.


Mobil Arya memasuki area parkiran Apartemen yang ditinggali oleh Azka. Arya turun dari mobil, dia di bantu oleh Amel memapah Azka ke kamarnya, sedang Ayu menunggu mobil yang dikendarai Darren datang.


Tidak begitu lama mobil Darren tiba di parkiran dan langsung memakirkan mobilnya di sana. Ayu bergegas mengendong Bara, kedua putri Amel di gendong oleh Darren dan Sonya sedang Raka seperti biasa dia tidak mau digendong dan berjalan sendiri.


Azka kini sudah dibaringkan ke ranjang besar miliknya, dia sedikit lebih baik di rumah dari pada saat berada di rumah sakit.


"Nona, tenang saja Azka pasti baik-baik, saja." Arya berusaha menenangkan Amel yang terlihat khawatir dipandangan matanya.


"Apa dia sering mengalami keadaan seperti ini?"tanya Amel.


"Tidak juga, Nona. Semua terjadi di hari-hari tertentu saja, namun dia sering mengalami gejala susah tidur pada malam hari,"jelas Arya.

__ADS_1


"Sebenarnya apa yang telah terjadi pada Azka?"tanya Amel. Amel mencoba menanyakan masalah Azka lagi pada Arya, dia juga sudah tahu bahwa tidak mungkin Arya memberitahukan kondisi Azka padanya.


"Maaf Nona. Saya tidak berhak menceritakan lebih detail lagi. Selebihnya biarkan Azka saja yang menceritakannya pada Nona." Jawaban Arya masih tetap sama seperti waktu Azka sakit dahulu.


Aku sudah dapat menebaknya. Pak Arya tidak akan menceritakan masalah Azka padaku begitu saja. Batin Amel.


"Baiklah, saya tidak memaksamu untuk mengatakan kebenarannya." Amel sadar dia tidak boleh terlalu memaksa Arya dalam hal ini.


"Terima kasih Nona, telah mengerti keadaan saya."


"Ya,"jawab Amel singkat.


Maafkan saya, Nona. Saya tidak bermaksud menyembunyikan semuanya darimu. Namun, ada baiknya Nona mengetahui semua ini dari Azka saja. Batin Arya.


Darren dan yang lainnya masuk ke kamar Azka. Darren segera memeriksa Azka dengan stetoskop miliknya lalu memeriksa tekanan darah dan terakhir mendengar denyut nadi Azka pada pergelangan tangannya.


"Semuanya normal, dia hanya perlu beristirahat saja,"ucap Darren setelah selesai memeriksa.


Dia selalu keras kepala, kenapa harus ditahan? Jika merasa sakit kenapa tidak memberitahukan? Sudah kuduga ini semua dia lakukan demi Amel dan buah hati mereka, untung saja tidak separah waktu hari berhujan. Batin Darren.


"Syukurlah. Tapi, kenapa dia belum siuman?"tanya Amel.


"Tergantung tempat di mana dia mengingat traumanya. Biasanya memakan waktu sebentar saja untuk sadar, namun kejadian ini terjadi di rumah sakit jadi kemungkinan besar dia akan siuman lebih lama dari biasanya,"jelas Darren.


"Trauma?"tanya Amel. Amel ingin mendengar lebih jauh tentang Azka pada Darren.


"Ekhem!" Deheman Arya membuat Darren tersadar. Jika tidak menghentikan Darren saat ini maka sudah pasti dia akan memberitahukan semuanya pada Amel.


Anak ini, tidak bisa apa memberi waktu agar Azka yang menceritakan semuanya. Untung saja aku cepat, jika tidak mulut embernya itu tidak bisa di rem lagi. Batin Arya.


"Maaf Kakak Ipar, selebihnya aku tidak bisa menjelaskan,"ucap Darren merasa legah dapat menahan mulutnya.


"Aku paham." Amel akhirnya mengalah.


Mereka enggan memberitahuku. Aku hanya dapat menunggu sampai Azka menceritakan semuanya, tapi sampai kapan? Batin Amel.


"Apa Pak Dokter tidak sibuk di rumah sakit?"tanya Amel.


"Sif-ku sudah diganti oleh orang lain, jadi kakak ipar tenang saja,"terang Darren.


"Oh. Apa di sini ada kamar kosong?"tanya Amel pada Arya.


"Ada, Nona."


"Kalian semua pasti lelah, kan? Mending kalian istirahat dulu saja,"ucap Amel.


"Oh iya. Apa di Apartemen ini ada bahan makanan?"tanya Amel lagi. Dia mengingat waktu terakhir kali dia masuk ke dapur dan tidak ada apa-apa di sana.


"Tidak ada Nona. Nanti biar saya saja yang berbelanja." Arya menawarkan dirinya.


"Biar aku saja yang pergi bersama Sonya." Darren mencari kesempatan lagi agar lebih dekat dengan Sonya.


"Kamu ingin mencari kesempatan, kan?"tanya Arya yang sudah membaca isi kepala Darren.


"Ini bukan masalah mencari kesempatan dan kesempitan. Tapi, Sonya 'kan jago masak tuh, otomatis dia jauh lebih tahu apa yang harus kita butuhkan, benar tidak?"


Kau terlalu meremehkanku Darren. Batin Arya.

__ADS_1


"Kak Darren salah. Sebenarnya Kak Arya juga jago masak loh. Hanya saja dia tidak pernah turun ke dapur, terakhir kali dia masak di rumah Nenek dan makanan buatannya jauh lebih enak dari masakanku, Kak!"ucap Sonya serius.


"Benarkah? Kok, aku baru tahu, ya?"tanya Darren seakan tidak percaya dengan ucapan Sonya.


"Sudahlah. Kalian di rumah saja, Aku yang akan membeli bahan makanannya."


"Tapi, Kak Ayu juga boleh dong temani Kakak?"tanya Sonya girang, dia ingin mendekatkan kakaknya dengan Ayu.


"Boleh, jika dia berguna,"ucap Arya cepat.


Enak saja, dasar Es Batu tua, kau fikir aku tidak berguna? Huh, hampir saja aku menolak untuk menemanimu pergi. Jika kau sudah mengatakan aku begitu, jangan salahkan aku jika aku membongkar sedikit kartu-mu, Om. Batin Ayu.


"Om fikir aku tidak berguna? Buktinya di rumah sakit aku berguna, kan?"tanya Ayu dengan tatapan tajam.


Mengalah jauh lebih baik, jika dia menceritakan semuanya bisa gawat apalagi ada Darren di sini. Batin Arya.


"Baiklah, kau boleh ikut."


Nah, sekarang baru tahu takut, kan? Ayu di lawan, Om-Om. Batin Ayu senang.


"Oke!"jawab Ayu singkat.


"Nona, kami pamit dulu!"pamit Arya pada Amel.


"Kak, aku pamit, ya!"


"Iya, kalian berdua hati-hati!"


"Iya Kak."


"Baik Nona." Ucapan keduanya hampir bersamaan.


Bagus, dengan begini mereka pasti akan semakin lebih dekat. Batin Sonya senang.


Selepas mereka pergi barulah Amel menyuruh Sonya dan Darren istirahat. Sedang para malaikat kecilnya meminta Amel untuk menaikan mereka ke kasur empuk milik Azka.


"Papa tenapa Mama? Papa atit, ya?"tanya Rasti yang sejak dari awal ingin menanyakan kondisi ayahnya.


"Papa baik-baik saja sayang,"jelas Amel.


"Api tenapa Papa elum angun uga?"tanya Bunga, menatap ayahnya yang masih belum membuka mata.


"Tenang saja. Om Dokter sudah mengatakan bahwa Papa baik-baik saja,"ucap Amel, dia mengelus pelan pipi Bunga dengan lembut.


"Um, temoga Papa epat adar,"ucap Bunga penuh harap.


"Papa pati akit di tini." Rasti mengusap wajah Azka yang sudah tidak berkeringat lagi.


"Alah, pati Papa tatit di tini,"ucap Bunga tidak terima dan mengelus-elus perut ayahnya.


"Tau Papa akit di tini." Bara meninju-ninju kecil kaki Azka.


"Talian idak oleh mendandu Papa. Papa tedang betittiahat." Raka sedikit memarahi adik-adiknya. Raka tidak mau mereka menganggu Azka yang sedang beristirahat.


"Iya sayang. Apa yang dikatakan oleh Kak Raka itu benar, kalian diam, ya sayang. Biarkan Papa istirahat dulu." Amel ikut membela Raka, namun perkataannya dibuat selembut mungkin agar anak-anaknya tidak tersinggung.


"Aik Mama,"ucap ketiganya serempak.

__ADS_1


"Anak pintar!" Amel mengelus pucak kepala mereka satu persatu.


Bersambung❣


__ADS_2