Gadis Manis Milik Mafia

Gadis Manis Milik Mafia
BAB 9


__ADS_3

Chicago, Amerika


Pagi hari yang cerah di Amerika. Seorang lelaki dan anak perempuan nya baru saja turun dari jet pribadi mereka. Lalu berjalan melangkah mendekati mobil mewah yang terparkir disamping jet.


Kini mereka sudah ada di dalam mobil.


"Ayah, apa daddy sudah tahu jika kita berdua akan kesana? " Tanya Aisha pada ayahnya.


Johan tersenyum hangat dan membelai rambut panjang putrinya, " Tentu saja daddy sudah tahu, jika kita datang tiba - tiba, maka ia akan mengomel karena tidak sempat membuat penyambutan "


"Aku senang akhirnya setelah sekian lama, kita akan ke mansion daddy. Yeyy!! " Ia bersorak ria. Memang sudah lama ia tak berjumpa pria yang dipanggilnya dengan sebutan 'daddy'.


"Iya sayang.. " Mengecup dahi putrinya.


Kini mobil berwarna hitam itu telah sampai pada sebuah mansion megah milik salah satu konglomerat di negara ini.


"Hai brother! " Sapa Johan seraya tersenyum seribu watt. Yang disapa bukannya membalas atau memeluk, malah menengok ke kanan dan kiri seperti mencari sesuatu.


"Apa yang kau cari! " Desis Johan galak. Ada tamu bukannya disambut malah diabaikan.


"Dimana putriku? " Beralih menatap Johan.


Johan berdecak kesal " Kau ini ya, aku datang setelah sekian lama bukannya disambut!! " Pria itu terus mengomel.


"Ah ya, maaf brother " Kedua pria dengan usia yang sepantaran itu saling merangkul hangat. Meskipun sudah dimakan usia, namun keeratan persahabatan mereka tak pernah luntur selamanya.


"Katakan dimana putriku? " Pria berbalut jas hitam itu melepaskan rangkulan nya.


Belum sempat Johan membuka mulut, suara teriakan menggelegar dari seorang gadis kecil mengejutkan mereka.


"Daddy!!!! " Aisha berlari menghampiri pria yang dipanggilnya daddy itu seraya merentangkan tangannya.


"Putriku... " Pria bule itu dengan senang hati membawa putri angkatnya ke pelukan hangatnya. Mendekapnya erat. Sungguh, ia amat merindukan anak mungil ini.


"Aisha merindukan daddy " Ia mengalungkan kedua tangan putih kecilnya ke leher pria itu.


"Apalagi daddy.. sangat sangat merindukan mu little girl " Ia mencubit gemas hidung anak manis itu.


"Ekhmm.. Ekhmm.. " Johan berdehem, ia merasa di kacangi dari tadi karena pelepasan kerinduan dua orang itu.


"Ada apa Jo? " Martin menatapnya dengan tatapan mengejek. Pamer karena putri kecilnya lebih merindukan nya.


"Sudahlah, ayo masuk " Johan menyerobot masuk ke pintu megah mansion yang bagaikan istana itu.


"Hey, ini rumah siapa? " Johan terus melangkah tanpa menghiraukan ocehannya.

__ADS_1


"Ayo kita masuk sweetheart.. " Membelai pipi Aisha. Anak itu mengangguk dan terus merangkul daddy nya.


Pria itu tersenyum. Dia tak lain adalah Martin Taylor, sahabat karib Johanes Fernandez yang sudah melebihi keluarga baginya. Istri Martin meninggal saat mengandung tujuh bulan, oleh sebab itu ia tidak punya anak.


Di mansion megah ini ia hanya tinggal sendiri bersama para anak buahnya dan pelayan, mengingat Edward juga tengah menyelesaikan studi di Jerman. Martin adalah orang yang membentuk dan mendidik para mafia hebat di Amerika. Sebagian mafia itu dikirim ke Indonesia untuk mengabdi kepada Golden Eagle. Tak heran, jika anggota mereka bertambah setiap tahun. Sebagian mafia juga dijual pada pembeli seperti konglomerat, pejabat atau pengusaha yang membutuhkan jasanya.


Ia mengangkat putra dan putri Johan termasuk Aisha sebagai anaknya. Ia juga mengangkat satu anak lagi bernama Edward Taylor, yang merupakan seorang yatim piatu.


"Wah!! Ini semua daddy yang siapkan? " Aisha girang dengan mata yang memandang sekeliling. Pasalnya, seluruh sudut ruang tamu dihiasi bunga teratai dan banyak boneka doraemon dimana mana.


"Perpaduan dari dua hal yang kau sukai, bagaimana? " Ia kembali melirik Johan dengan tatapan mengejek.


"Ini sangat indah dad, terimakasih ya " Ia kembali memeluk daddy nya.


"Berhenti menatapku dengan tatapan seperti itu!! " Desis Johan galak. Yaampun, dua sahabat ini tak pernah akur sedari muda dulu.


"Jangan terlalu sensitif Jo, dia juga putriku "


"Ayah jangan marah ya, daddy kan baru bertemu Aisha sejak lama " Tutur anak itu dengan polosnya.


"Iya nak, ayah tidak marah. Ayah akan istirahat dulu ya "


"Hey kau!. Kau sudah siapkan kamar untukku kan? " Menatap Martin dengan sinis.


"Iya - iya dilantai dua sana " Johan pun menapaki tangga menuju kamarnya yang ada di lantai dua. Ia sudah sangat sering ke mansion Martin, jadi hafal betul setiap inci dari istana megah bernuansa putih ini.


"Daddy aku membawa sesuatu untuk mu "


"Oh ya, apa itu honey? " Ia tidak sabaran.


Aisha nampak membongkar tas ransel mungil yang juga bergambar doraemon nya. Kemudian meraih sesuatu dari sana.


"Ini dia! " Anak itu memperlihatkan sebuah kotak makan lengkap dengan isinya di depan Martin.


"Apa ini? "


"Buka saja dad " Martin pun membuka nya, dan tampaklah makanan buatan Aisha sendiri.


"Kau yang membuat ini sweetheart? " Aisha mengangguk.


"Serius? Bukan pelayan yang membuat ini? "


"Serius daddy, kata kak Yudhi berbohong itu dosa dan tidak boleh dilakukan. Aisha tidak bohong. " Ucap anak itu.


"Kau memang manis putriku. " Mencubit hidung kecil putri angkatnya itu.

__ADS_1


"Ayo makan dad "


"Baiklah, tapi kau yang suapi "


"Oke daddy " Aisha pun mulai mengambil sendok dan menyuapi daddy angkatnya ini. Sangat banyak, sampai sampai Martin tak dapat bicara karena mulutnya penuh makanan. Ia menerima suapan dari anak menggemaskan ini dengan senang hati. Walaupun hanya sekedar telur mata sapi dan mie goreng instan, tapi percayalah ini adalah makanan terlezat yang pernah dimakan Martin. Bahkan tak bisa dibandingkan dengan masakan barat bintang lima yang biasa ia pesan. Buatan kedua tangan mungil Aisha, sangat berharga melebihi apapun.


Aku akan selalu bersyukur pada Tuhan karena telah menghadirkan putri sepertimu di dunia ini. Aku juga berterimakasih pada Johan karena mengizinkan ku mengangkat putra putri nya menjadi anakku.


"Bagaimana dad? " Matanya berbinar berharap agar hasil karya pertamanya memuaskan daddy nya.


"Kau tahu honey, ini adalah makanan paling eksklusif dan paling lezat yang pernah daddy makan. Makanan termahal di dunia pun tak bisa menandingi masakan yang dibuat tanganmu " Ia menggenggam kedua tangan Aisha. Kenyataannya memang seperti itu, bukan karena rasa nya tapi karena ketulusan dan cinta yang ada pada masakan itu.


"Daddy tak berbohong? "


"Mana mungkin daddy bohong, Aisha kan tak menyukainya "


"Thank you dad, tapi Aisha sudah mengantuk " Ia menguap berkali kali.


Hoahh..


"Daddy akan mengantar ke kamarmu "


Kemudian ia membawa Aisha dalam gendongan nya, menapaki anak tangga menuju lantai tiga mansion ini.


***


"Terimakasih Jo " Entah ada angin apa tiba tiba Martin memeluk Johan dengan eratnya. Johan pun membalasnya. Kini mereka berada dalam sofa di ruang tengah.


"Iya - iya, ada apa kau tiba tba manis begini? " Ia melepas rangkulannya.


"Terimakasih karena telah mengizinkan ku mengangkat putra putri mu sebagai anakku. Terutama Aisha. " Bule asli Amerika itu tersenyum hangat pada sahabatnya.


Matanya mulai berkaca kaca.


"Sudahlah Mar, tidak usah seperti ini, kita ini lebih dari keluarga bukan? " Ia kembali merangkul karibnya ini, Johan tahu bahwa bule ini sok kuat diluar padahal hatinya sangat hancur karena kehilangan istri dan anaknya yang masih dalam kandungan.


"Katakan apa yang bisa kubantu? " Tanya Martin usai rangkulan mereka terlepas. Tidak mungkin Johan datang tiba tiba jika tak ada sesuatu.


"Aku akan menyerbu Pither, aku perlu tambahan anak buah " Langsung to the point.


"Anggap saja itu sudah selesai " Jawab Martin.


"Thanks brother"


"No problem "

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2