
Gelapnya malam telah tergantikan dengan cerahnya sinar mentari. Biasnya membangunkan seorang gadis manis yang tengah merengkuh suaminya dengan eratnya. Merasakan adanya sinar menerobos dari ventilasi udara, Aisha mengerjabkan mata. Menggeliat pelan tidak sadar akan keadaan. Ia kembali terpejam sembari mengumpulkan separuh nyawa yang ada.
Tapi tunggu, ada yang ganjal disini. Gadis itu merasa aneh, guling yang di dekapnya semalam bertambah panjang. Bantal yang dikenakan tadi malam serasa agak keras, baunya juga aneh. Tampak begitu maskulin khas aroma laki laki. Dan sialnya, ia menyukainya. Aisha malah mengendus yang dikiranya bantal. Sangat nyaman untuknya. Jika orang lain tiba - tiba masuk, pasti akan mengira mengira mereka adalah sepasang pengantin baru yang harmonis nan romantis.
Lima belas menit beranjak, kini manik indahnya benar - benar mengerjab. Sontak dia terlonjak keget dengan adegan menggelikan yang ia lakukan. Terlebih saat ia sadar, apa yang di dekapnya dari tadi.
"Aaaaaa!! " Jerit Aisha memenuhi dinginnya udara pagi. Gadis itu sontak beringsut menjauh dari lelaki disampingnya. Merapat ke bibir ranjang.
Arthur yang sebenarnya sudah terjaga dari tadi pura -pura tidak tahu apapun. Dengan polosnya, ia mengucek mata. Melirik perempuan di sebelahnya dengan tatapan kesal.
"Apa? Pagi pagi sudah teriak teriak. Kau pikir ini hutan, bagaimana kalau aunty Rania berlari kesini karena khawatir? " Omel Arthur marah. Masih berbaring dengan santainya, lalu meluruskan lengannya yang keram karena ulah Aisha semalam.
"Lihat, kau membuat tanganku keram. Seharusnya kau berterimakasih karena aku meminjamkan lengan untukmu. "
"Apa? Tidak mungkin! " Tidak mungkin dia melakukannya. Adegan menggelikan seperti tadi? Cih, memikirkannya saja membuat Aisha ingin muntah. Namun sejenak ia berpikir, memeluk guling sebagai pelengkap tidurnya sepanjang malam adalah kebiasaan nya yang sudah mendarah daging.
Tidak, apa yang aku lakukan!. Malu sendiri, dia sudah berbuat keliru. Dan parahnya lagi, ia menuding suaminya yang tidak berdosa apa - apa.
"Kenapa? Sudah sadar kejahatan apa yang kau lakukan padaku semalam? " Seringai licik muncul di wajahnya. Bagaimana ia akan menjahili istrinya dengan menggunakan senjata pamungkas. Aib Aisha. Ya, kelakuan nya semalam tadi Arthur rasa sudah lebih dari cukup digunakan sebagai bahan olokan nantinya.
Aaaa, aku memang sudah gila!. Gadis itu hanya mampu menunduk. Bergumam kesal dalam hati karena kebiasaan buruk yang terbawa sampai masa - masa dewasa.
Sebenarnya ini bukan kebiasaan tercela kan, hal yang wajar jika tidur sembari memeluk guling. Kecuali kalau gulingnya adalah suami menyebalkan sejenis es balok ini.
Karena malu yang tidak terkira, Aisha hanya membuang muka. Enggan menanggapi celotehan Arthur yang masih mengejeknya. Perempuan itu hanya melangkah gontai ke kamar mandi. Dengan bibir mengerucut dia memutar handle pintu. Masuk kedalam dan menguncinya.
Sedangkan Arthur yang masih terpingkal hanya menatap punggung sang istri yang lenyap dibalik pintu.
Dasar gadis kecil menggemaskan. Gumamnya dalam hati lalu melangkah mendekati pintu. Saat ia memutar nya, sudah bisa terbuka. Berarti ini memang ulah jahil aunty Rania semalam.
Dasar aunty, untung aku menyayangimu.
Di dalam kamar mandi Aisha berendam air hangat. Dia hanya termenung tenggelam dalam pikiran. Mencoba membedah memori tentang rentetan tragedi memalukan semalam. Nihil. Tidak ada apapun yang diketemukannya.
Sepertinya memang aku yang bersalah disini. Hihh, kenapa juga aku refleks memeluk es balok itu. Runtuh sudah harga diri yang aku junjung tinggi selama ini.
Dirinya masih tidak terima. Tapi ya sudahlah, semua telah berlalu. Hari ini Aisha akan menjalani hari yang baru. Kehidupan perkuliahan yang dinantikan telah menanti di depan mata. Hari ini dia akan menginjakan kaki pada salah satu kampus favorit dunia. Kampus terbaik di negara ini yang berisikan orang - orang jenius di dalamnya.
Senangnya...
Enyah sudah rasa malu yang menyergap beberapa saat yang lalu. Dengan hati riang gembira, gadis itu keluar dari bath up. Menyambar handuk di gantungan yang tersedia disana.
Namun, dia terlupa sesuatu.
Bajuku! Aku lupa membawa baju. Pakaian ku masih ada dalam kamar yang lama.
__ADS_1
Dengan ragu, dia membuka sedikit pintu kamar mandi. Menyusupkan kepalanya keluar. Hari ini sepertinya dia tidak beruntung ya. Ia melihat Arthur yang bersandar dengan santainya. di tempat tidur. Sembari memainkan ponsel di tangan.
Kenapa masih disitu sih? Hushh, hushh pergi sana aku mau keluar.
Gadis itu memutuskan berdiam diri dalam kamar mandi. Setengah jam berlalu, tapi tidak ada tanda - tanda kemunculannya.
Membuat Arthur geram dan bangkit dari duduknya.
Apa gadis itu mati atau apa, kenapa lama sekali, batin pria itu.
Diketuknya pintua tiga kali. Tidak ada sahutan dari dalam. Hingga pada saat ketukan itu berubah menjadi gedoran keras, baru ada yang menyahut dari dalam sana.
"Iya, sebentar! " Teriak Aisha dari dalam kamar mandi. Sudah bingung sendiri, ia hanya mengenakan lilitan handuk yang hanya mampu menutup dari dada sampai paha. Tidak mungkin kan dia berlari keluar dan menuju kamar lamanya hanya untuk mengambil baju.
Sudahlah, minta tolong pada Arthur saja.
"Cepat! Aku ingin pergi ke kantor, kau mau memonopoli kamar mandi ini? " Ujar pria itu lalu kembali mendudukan diri di sofa. Membuka laptop dan mengecek beberapa email yang masuk.
"Arthur. " Panggil Aisha dengan menampakan kepalanya keluar.
Arthur menoleh " Apa? "
"Tolong ambilkan pakaianku di kamar lama. Aku lupa mengambilnya tadi " Cicit gadis itu lirih.
"Tidak mau, pergi ambil saja sendiri. Kau punya kaki dan tangankan " Melanjutkan pekerjaannya lagi.
"Kali ini saja, memang kau mau aku keluar hanya memakai handuk? "
"Hemm " Setelah dipikir pikir, dirinya tidak setega itu sampai membiarkan Aisha berlari dalam keadaan seperti itu. Bagaimana kalau nanti ada pengawal yang berpapasan dengannya, bisa rusak citra baik Arthur. Kemudian pria itu beranjak dari duduknya. Melangkah kearah kamar Aisha. Lalu membuka pintu dan menuju lemari.
Hah, aunty benar - benar menjual ranjang dan sofa yang ada. Tidak habis pikir dengan tingkah konyol wanita itu. Arthur pikir, perkataan semalam hanya main - main saja dan tidak akan diwujudkan.
Tapi lihatlah sekeliling kamar Aisha, hanya ada lemari dan meja saja. Sofa dan ranjang telah dipindahkan entah kemana.
Setelah meraih pakaian, lelaki itu berjalan keluar ruangan.
Aisha dengan gembira menerima uluran pakaian yang disodorkan Arthur. Langsung bergegas masuk kedalam dan berganti pakaian.
***
Hari ini adalah hari spesial yang cukup menegangkan sekaligus menyenangkan bagi Aisha. Dokumen perpindahan kampusnya telah selesai diurus, hanya tinggal masuk membawa badan dan perlengkapan lain saja. Semuanya beres diurus sang suami. Namun tentunya ketika memasuki tempat asing yang kalian sama sekali tidak mengenal satu orang pun di dalamnya, akan ada rintangan tersendiri yang menghampiri. Adaptasi, dia harus melakukan adaptasi ulang baik dengan sekawanan mahasiswa maupun lingkungan. Cara berinteraksi pasti jauh berbeda dengan Indonesia kan. Entah dia akan mendapat teman seperti apa nanti.
Kini kedua suami istri itu berada dalam mobil mewah Arthur. Pertama dia akan mengantar sang istri menuju universitas ternama yang tak jauh dari kantor dan mansionnya. Baru dia akan tancap gas menuju perusahaan Anderson Groub.
Sepanjang perjalanan Aisha hanya memandang keluar jendela. Mengamati gedung - gedung pencakar langit yang berlarian meninggalkannya. Mobil mulai berlalu lalang melewati jalanan yang padat. Semua manusia disibukan dengan urusan masing - masing.
__ADS_1
Beberapa saat perjalanan, kini kendaraan roda empat edisi terbatas milik Arthur sampai di depan gerbang sebuah universitas melegenda. Tempat ini dulunya adalah tempatnya menimba ilmu. Hingga terlahirlah Arthur Anderson yang berkuasa dan disanjung semua orang seperti sekarang.
"Turunlah! " Titahnya pada Aisha yang masih asik mengamati bangunan yang menjulang tinggi. Gadis itu masih terpana mengagumi tempat baru yang akan menjadi tempatnya menuntut ilmu sekarang.
"Turun! " Ujar Arthur lagi.
"Iya - iya dasar es balok dingin, datar, keras, dan menyebalkan " Ujarnya dengan kalimat terakhir yang dilirihkan.
"Apa katamu? "
"Tidak ada " Kata Aisha lalu bergegas keluar dari mobil suaminya. Memandang sejenak lalu mulai memasuki gerbang utama. Arthur masih memerhatikannya, hingga istrinya mulai menjauh darinya. Gadis itu tampak mengepalkan tangan ke udara, sambil berkata entah apa.
Seperti memberi semangat pada dirinya sendiri.
Dasar bocah. Geleng - geleng kepala. Sudah dewasa tapi masih bersikap seperti anak anak. Namun entah mengapa Arthur malah senang melihatnya.
Pria itu mulai melajukan mobilnya. Tancap gas dengan kecepatan sedang menuju perusahaan.
Memasuki lobi kampus, gadis itu merasa terasing. Para mahasiswa dan mahasiswi hilir mudik kesana kemari. Orang disini didominasi warga negara internasional. Dengan ras dan agama yang berbeda beda. Aisha merasa sendirian, canggung menyelimutinya sepanjang langkahnya menyusuri setiap jalan yang tersedia.
Karena maniknya asik menyapu ruangan, tanpa sengaja ia menabrak seorang perempuan. Mereka sama sama terpundur ke belakang karena sama sama tidak sadar.
Buku perempuan yang ditabrak Aisha jatuh berserakan di lantai.
"I am sorry "Ujar Aisha.
"No problem " Kata gadis cantik itu sembari membereskan bukunya. Aisha turut membantu membereskan buku karena bagaimanapun ini adalah kesalahannya.
Setelahnya, ia mengulurkan tumpukan buku tebal itu pada gadis di depannya.
"Maafkan aku ya, aku benar benar ti- " Salah tingkah sendiri. Tanpa sadar dia berbicara dengan bahasa negaranya.
"Tidak apa, aku juga salah "
"Kau, kau bisa bahasa Indonesia? " Terperangah kaget. Inikah kebaikan Tuhan untuknya? Di hari pertama dimana ia tidak mengenal siapapun, dia berjumpa orang yang sama dengannya.
"Iya, aku dari Indonesia juga. " Ujarnya diselingi senyum merekah.
"Aku mahasiswi baru disini, bisa kita berteman? Aku tidak punya teman " Ujar Aisha seraya mengulurkan tangannya. Menemukan teman setanah air di tempat asing seperti ini tentunya akan mempermudah penyesuaian dirinya bukan? Jadi tentunya ia akan lebih nyaman dalam menuntaskan kegiatan pembelajaran.
"Tentu saja " Menerima uluran tangan Aisha. Mereka berbincang sejenak lalu memutuskan melanjutkan percakapan di kantin kampus.
Melangkah bersamaan memecah kerumunan para manusia lainnya.
Bersambung...
__ADS_1