
"Hey bangun! " Aisha sedikit membuka matanya.
"Kenapa kau mempertaruhkan dirimu sendiri untuk ku? " Ada nada sendu dalam ucapan nya. Tanpa sadar, kedua sudut mata mengalir cairan kristal bening. Terakhir kali Arthur menitikan air mata adalah saat menatap kepergian orang tuanya.
Dengan lirih Aisha berkata, "Pengorbanan yang baik akan berbuah manis.. " Perlahan mulai terpejam lagi. Dan tidak sadarkan diri.
"Adikku! " Jerit Bima histeris ketika dengan matanya sendiri ia mendapati Aisha yang terkulai tidak berdaya di atas pangkuan Arthur. Jantung nya berdegup kencang. Tidak bisa dijelaskan bagaimana perasaan nya kali ini. Ia langsung beringsut mendekati nya.
Sementara Yudhi masih ternganga tanpa bisa berucap apa - apa. Tungkai nya lemas tidak berdaya, ia jatuh tersungkur ke lantai. Menatap nanar pada adiknya yang bercucuran darah. Tatapan nya kosong, seolah nyawa nya telah melayang ke udara. Dunia terasa berhenti berputar baginya. Cukup. Sudah cukup ibunya yang meninggalkan nya. Ia tidak mau jika adik yang amat disayangi nya juga pergi jauh darinya.
"Bangun! Bangunlah, jangan tinggalkan kakak" Bima sontak membawa adiknya keatas pangkuan nya. Sudah tidak peduli pada dunia.
"Pither! " Kemudian ia menatap penuh kebencian pada Pither yang masih mematung disudut ruangan. Sadar posisinya terancam, ia beringsut pergi. Lari terbirit birit sebelum ajalnya mendekat.
"Kejar dia! " Titah Bima lantang pada beberapa anak buah GE yang juga terpaku di ambang pintu.
Mereka mengangguk dan mengejar jejak Pither.
Yudhi yang sudah seperti orang linglung, menyeret kakinya mendekat kearah Bima yang sedang memangku Aisha seraya berusaha menekan pendarahan pada luka menggunakan kemejanya.
Entah mengapa kakinya terasa berat diayunkan. Ia ambruk terduduk disamping tubuh yang berselimut darah itu.
Menatap sendu pada cairan merah segar yang mengalir deras dari perut Aisha.
"Ayo kak, kita harus kerumah sakit sekarang. Dia kehilangan banyak darah " Bima yang saraf sadar nya masih efektif dengan sigap menggendong Aisha dan berdiri.
Yudhi tak bergeming.
"Ayo kak! " Kata nya dengan nada setengah tinggi. Jengkel karena Yudhi sama sekali tidak merespon. Ia malah menatap sisa darah Aisha yang tergenang di lantai.
"Kak ayo!! Aku tahu kau sedih tapi adik kita lebih membutuhkan sekarang ini. Jangan seperti patung setengah jadi yang tidak berguna begitu. " Teriakan Bima yang menggelegar berhasil menyeruak masuk pada indra pendengaran Yudhi dan menarik nya pada alam sadar. Bima benar, Aisha sangat membutuhkan nya saat ini. Jika ia hanya diam, lantas apakah semuanya akan kembali seperti semula?.
__ADS_1
Ia langsung bangkit berdiri tegak. Mengangguk lalu berjalan seiringan dengan Bima menyusuri jalan dengan berlari. Luka - luka dan cedera yang diperoleh ketika bertarung tadi sudah tidak terasa apapun. Seperti mati rasa, justru yang lebih sakit adalah ketika melihat Aisha.
Sementara Arthur, ia masih duduk bersimpuh di lantai. Masih terlalu terkejut untuk sekedar berpikir jernih. Mengapa dia rela mempertaruhkan nyawa hanya sekedar demi dirinya. Bahkan tanpa pikir panjang sekalipun.
Sekarang bukan saatnya untuk bersedih, aku harus kerumah sakit sekarang. Ia berdiri. Seribu langkah dipercepat menyusul Yudhi dan Bima.
***
Di luar ruangan UGD di sebuah rumah sakit ternama kota, enam orang laki - laki berikut anak buahnya tengah risau menunggu diluar ruangan. Aisha masih ditangani dokter, entah apa yang terjadi pada anak itu. Semua orang larut dalam benak nya masing - masing.
Tak lama kemudian, seorang dokter pria dengan terseok seok menghampiri mereka.
"Bagaimana? " Johan jadi yang terlebih dahulu melayangkan pertanyaan.
Dokter pria itu melepas stetoskop yang tergantung rapi pada lehernya. Mengambil napas dalam - dalam.
"Cepat katakan! Apa yang terjadi dengan adikku?" Bima sudah tak sabaran.
"Katakan saja apa yang harus dilakukan!! "
"Kita harus segera melakukan tindakan operasi. Namun sebelum itu, salah satu dari kalian harus mendonorkan darah untuknya " Lanjut sang dokter.
"Ambil darahku! " Tukas Yudhi cepat.
Dokter Nathan menggeleng. Ia telah memindai Yudhi dari ujung kepala hingga ujung kaki. Luka yang dialaminya cukup parah dan perlu perawatan.
"Kau terluka cukup parah, yang lain saja "
"Aku saja! " Ujar kelima lelaki lainnya bersamaan.
"Dewa, kau saja ya. Lukamu kulihat tak terlalu mengkhawatirkan " Kata dokter itu. Dewa tentu saja dengan senang hati setuju. Apapun akan ia laksanakan asalkan adik nya selamat.
__ADS_1
Selepas transfusi darah, kini Aisha yang masih dalam keadaan pingsan tengah menjalani penanganan di ruang operasi VVIP. Semua orang menanti dengan risau diluar ruangan. Berkecamuk dalam pikiran sembari memanjatkan doa yang terbaik.
Selamatkanlah Aisha Tuhan... selamatkanlah Aisha Tuhan... Itulah rangkaian doa yang selalu terucap dalam hati. Tak terlewat satu detikpun, semua manusia membatin hal yang serupa.
"Sial!! " Bima yang telah diluar batas kesabaran melayangkan tangan nya pada keca bening disampingnya.Benda sensitif itu terpecah menjadi keping - kepingan kecil. Darah bercucuran. Namun peliknya, tangan Bima benar benar tak terasa apa - apa. Ada apa ini, apakah kedua tangan Bima sungguh mati rasa karena tersiksa. Entahlah.
"Sabar tuan muda, sabar... saat ini yang harus kita lakukan adalah mendoakan nona. Amarah tidak akan menyelesaikan apapun tuan " Jack yang ikut terpukul melihat kondisi keluarga Fernandez ikut prihatin. Ia menenangkan Bima sebisanya, namun tetap dengan wajah dingin nya. Padahal hatinya turut berduka, namun pria berkepala plontos ini benar - benar lihai menetralkan raut wajahnya.
Kursi tunggu dibiarkan hampa terbengkalai tanpa ada satupun bokong yang mendarat diatasnya. Semua orang terduduk lemas di lantai. Hanya Bima yang berdiri diluar pintu ruangan. Lampu masih menyala menandakan jika tindakan operasi belum usai.
Lampu operasi padam. Tak selang lama, dokter Nathan keluar dari dalam dengan wajah masam. Ia tertunduk.
"Katakan, bagaimana hasilnya! " Kata Yudhi.
Bima yang melihat dokter Nathan tak kunjung menyahut, mencengkeram kerah kemeja nya. "Katakan dokter! Apa yang terjadi, aku tidak ingin kabar buruk! "
"Dia kritis. Pasca operasi apabila Aisha tidak sadar dalam kurun waktu 4 jam kedepan, maka ia akan koma " Ujar dokter Nathan penuh sesal. Ia pribadi sejujurnya telah menganggap Aisha layaknya putri nya sendiri.
"Lakukan apapun asal putriku selamat, aku mohon padamu... " Johan menitikan air mata, menyatukan tangan nya di depan dada berharap agar Nathan berkenan memberikan solusi untuk masalah ini.
"Berdoalah Jo, kita hanya bisa berdoa " Ia merangkul Johan. Mereka cukup dekat bahkan bisa dibilang sebagai sahabat.
"Apa... ada kemungkinan terburuk? " Tanya Nakul ragu. Semua orang seketika menatap padanya.
"Kemungkinan terburuk nya jika dalam 4 jam kedepan Aisha tak kunjung sadar, maka... dia akan koma atau mungkin... tidak selamat "
Semua orang terpaku mendengar penuturan dokter Nathan. Ia adalah dokter profesional lulusan Amerika. Pernah bekerja di berbagai negara juga. Sangat kecil kemungkinan analisanya salah.
Dokter Nathan menepuk bahu Johan pelan. Berusaha memberi sedikit semangat walaupun tak membantu apapun. Lalu ia berlalu ke ruangan nya sendiri.
Bersambung...
__ADS_1
Segini dulu lagi nggak enak badan 😴