Gadis Manis Milik Mafia

Gadis Manis Milik Mafia
BAB 54


__ADS_3

Keesokan harinya, Aisha mengerjapkan mata. Ia menyapu sekeliling dan baru sadar bahwa ia ada di Paris. Hawa dingin yang terasa menusuk hingga ke tulang membuatnya mengusap kedua lengannya. Melirik ke sampingnya, Arthur masih tidur dengan posisi miring disana. Lalu gadis itu melangkah gontai menuju kamar mandi. Menutup dan mengunci pintu. Ia memutar kran air hingga mengucurlah air hangat yang mengisi bath up.


Setelah dirasa penuh, Aisha menuangkan aroma terapi cherry blassom disana. Lalu masuk ke dalam bath up. Merenggangkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Menyandarkan kepala ke sandaran bath up, memejamkan mata seraya memikirkan apa yang akan dia lakukan hari ini.


Hari ini aku ingin berjalan jalan. Sayangnya sedang musim dingin, jika tidak aku pasti akan bermain air di pantai. Sedikit kecewa karena ia tidak bisa bermain di pantai. Di dalam villa saja sudah dingin, apalagi kalau mereka nekat pergi ke pantai. Bisa - bisa dia menjadi es nanti.


Aku tidak mau menjadi es balok seperti Arthur, aku akan mengajaknya jalan - jalan ke Menara Eiffel saja nanti. Keputusannya kemudian. Lalu ia beranjak dari bath up, mengguyur tubuhnya dibawah shower yang menjatuhkan buliran air hangat nya. Lalu menyambar kimono mandi yang tergantung di gantungan.


Aisha keluar dari kamar mandi, Arthur sudah berganti posisi. Dia tidur tengkurap disana, membuat perempuan itu menghela napas kasar dan mengambil pakaian nya. Lalu kembali ke kamar mandi dan berganti pakaian.


Saat ia keluar, sang suami masih belum terjaga juga. Aisha melangkah mendekatinya dan menggoncang bahunya.


"Arthur bangun! Ayo kita jalan - jalan, aku ingin berkeliling kota Paris! " Seru Aisha setengah berteriak. Tidak ada sahutan, pria itu masih betah bergelung dengan selimutnya.


Yaampun orang ini, kalau mau tidur di mansion saja. Tidak usah jauh - jauh ke Paris. Aku ingin jalan - jalan menjelajahi kota ini.


Menggoyangkan bahu Arthur tiada henti, hingga si pemilik membuka matanya dam berdecak kesal, "Apa! Mengganggu orang saja, pergi sana! " Ujarnya kesal.


"Aku ingin berjalan jalan, kita kesini bukan untuk tidur saja, Ayo! " Menggeret lengan sang suami mendekati kamar mandi. Hingga terpaksa Arthur menurutinya. Aisha mendorong Arthur memasuki kamar mandi.


"Cepat mandi dan kenakan pakaianmu! Aku ingin mengambil banyak foto nanti. " Ujar Aisha. Lalu gadis itu kembali membedah kopernya, mencari kamera yang sengaja di belinya sebelum datang kesini. Benda itulah yang nantinya akan menjadi saksi bisu perjalanan honeymoon nya dengan Arthur.


Aku akan mengambil banyak foto dan menunjukkannya pada Myara nanti. Tersenyum senang dalam hati.


Tak berselang lama kemudian, Arthur keluar dari kamar mandi. Hanya berbalut handuk di pinggang yang membuat perut sixpack serta otot kekarnya nampak jelas. Ia mengeringkan rambutnya yang basah dengan sebuah handuk kecil. Aisha memalingkan wajah ke arah lain.


"Cepat pakai bajumu! Aku akan menunggu diluar. " Ujarnya lalu melenggang pergi meninggalkan Arthur. Pria itu menyeringai penuh arti, lalu membuka lemari dan mengenakan pakaian nya disana.


***


Saat dalam perjalanan menuju tempat tujuan, Aisha terkesiap karena jalanan yang mereka lalui. Jalanan sepi dengan banyak pohon rindang dan lebat. Membuatnya mengernyit heran.


Sebenarnya villa Arthur itu ada di kota mana sih? Kenapa jalanannya begini. Sial, karena aku tertidur di mobil kemarin aku jadi tidak melihat jalanan apa yang kami lalui.


"Arthur " Panggilnya pada sang suami yang sedang memegang kemudi. Arthur melirik sejenak.

__ADS_1


"Apa? " Balasnya.


"Villa mu ini ada di tengah hutan ya? Kenapa jalanan nya sepi, ini bukan di kota? " Tanya Aisha heran. Ia kira ia berada dalam lingkungan kota yang ramai akan hiruk pikuknya. Kenyataanya tidak, mereka berada dalam sebuah kawasan milik Arthur. Dimana disana terdapat banyak pohon beringin yang besar dan rindang. Namun tak dapat dipungkiri suasana asri dan tentram begini memang didambakan Aisha.


"Kita ada di kawasan milikku. Disini hanya ada villa milikku saja. Selebihnya hanya ada hutan dan perkampungan penduduk di Utara." Terang pria itu masih dengan tatapan fokus ke depan.


"Kenapa kesini? Seharusnya kita ke Kota dan berjalan jalan disana kan? Jangan bilang kau mau membuangku disini? " Tanya nya dengan mata memincing menghadap Arthur. Pria itu hanya berdecak kesal dan tidak mengalihkan pandangan.


"Kalau kau banyak bicara aku akan membuangmu disini! " Ancamnya mengintimidasi. Namun Aisha malah bersedekap dada, menaikkan satu alisnya menantang.


"Coba saja kalau berani, aku akan menelpon aunty nanti. " Ujarnya.


Seketika itu juga, Arthur menginjak rem. Menghentikan laju mobilnya. Lalu melirik tajam kearah Aisha. Nyali gadis itu seketika menciut saat melihat tatapan suaminya.


"Turun sekarang! " Perintahnya tegas.


"Apa! Aku tidak mau, kau gila? " Tersentak kaget. Sebenarnya kalau Arthur menurunkannya disini, dia bisa saja pulang. Toh, empat kartu unlimited ada di tangan. Hanya saja Aisha mungkin tidak akan sanggup melawan rasa dingin yang meliputinya nanti.


"Aku akan menelpon aunty Rania kalau kau menurunkanku. "


"Arthur! "


"Apa? Turun sekarang! " Pintu mobil sudah terbuka. Seketika hawa dingin pun menerobos masuk kedalam.


"Aku tidak mau, ayo kita jalan lagi. " Aisha menutup rapat pintu itu. Mendelik tajam pada pria disampingnya.


"Ayo jalan! " Perintah nya.


"Tidak, turun sekarang! Tadi katanya kau mau turun kan? Sekarang aku sudah mengabulkannya! "


"Baiklah, aku minta maaf." Menghela napas kasar. " Ayo jalankan mobilnya lagi. " Pinta Aisha dengan nada rendah nya.


"Kau tidak ikhlas minta maaf, turun sana!" Ujar Arthur.


Ya Tuhan orang ini... Geram sendiri Aisha dalam hati. Rasanya telinganya memanas mendengar ocehan suaminya. Di benaknya, bulan madu kali ini akan menjadi liburan menyenangkan yang merilekskan pikiran. Tapi praduganya salah, justru kunjungan kemari malah semakin menguras emosinya bangkit.

__ADS_1


Mengambil napas dalam - dalam, mengubah raut wajahnya agar nampak seikhlas mungkin. Lalu menghadap Arthur dan tersenyum manis padanya.


"Arthur yang baik.. aku minta maaf ya. Sekarang jalankan mobil mewahmu ini. " Pintanya selembut mungkin. Hingga Arthur terkekeh geli dibuatnya, lalu ia kembali menyalakan mesin. Menginjak gas lalu melesat menuju perkotaan.


***


Setelah beberapa jam menempuh perjalanan, keduanya akhirnya tiba dia area perkotaan. Sangat jauh dari area hutan dimana villa Arthur berada.


Mereka kini tengah menyusuri jalan setapak di sekitar Menara Eiffel. Orang orang nampak berlalu lalang kesana kemari. Mulai dari anak anak, remaja, dewasa hingga lansia tengah asik menghabiskan harinya disini. Ada yang sekedar jalan jalan, bertemu dengan kekasihnya, dan banyak juga yang berswafoto dengan lensa kamera.


Aisha menggeret lengan suaminya agar mendekati menara.


"Arthur ayo kita berfoto.. " Pintanya girang. Sambil menyalakan kamera yang telah ia siapkan dari villa tadi. Arthur hanya mendengus kesal, berfoto baginya adalah kegiatan tidak berfaedah yang mengesalkan.


"Tidak mau! " Tegas Arthur.


"Mau! "


"Tidak mau! "


"Aku akan menelfon aunty Rania! " Ancam Aisha. Sudah menyalakan ponselnya dan menujukan nomor Rania pada Arthur. Pria itu berdecak kesal, lalu mengangguk setuju.


"Ayo! " Menarik langan suaminya agar berpose.


"Siapa yang akan menjadi fotografer? Sudahlah kau yang berfoto saja, aku akan memfotomu. " Ucap Arthur.


"Tunggu! "Gadis itu melihat ke kanan kiri, mencari orang yang sekiranya bisa dimintai tolong. Ada seorang lelaki yang mendekat kala ia melambaikan tangannya.


"Pouvez-vous nous prendre en photo? (Bisakah kau memfotokan kami? " Tanya Aisha dengan nada yang sopan.


"Bien sûr (Tentu saja) " Jawab lelaki itu. Lalu ia meraih kamera yang disodorkan Aisha. Mulai memfokuskan lensa agar hasil foto maksimal. Aisha berpose sesuai yang ia suka, sedangkan Arthur hanya berdiri kaku dengan senyum tipisnya.



__ADS_1



__ADS_2