Gadis Manis Milik Mafia

Gadis Manis Milik Mafia
BAB 20


__ADS_3

Beberapa bulan berlalu, hari hari berganti menjadi baru. Namun seorang gadis kecil yang terbaring diatas brankar jumbo rumah sakit tidak kunjung menampakan tanda tanda akan bangun. Alat alat medis tercanggih dan termahal melekat sempurna di tubuh mungilnya. Seolah tidur nyenyak dalam buaian mimpi, meskipun wajahnya beraura pucat dengan bibir yang memutih ia tetap memancarkan keceriaan yang menggembirakan. Seakan akan dirinya tidak pernah ada rasa penyesalan setitik pun atas tindakan yang dipilih.


Arthur telah pulang ke negara asalnya beberapa bulan yang lalu. Itupun dengan paksaan dari Jack. Ia pulang mengantongi kedustaan, dimana Jack dan lainnya sepakat akan menipu Arthur bahwa Aisha sudah tidak ada. Awalnya usul bodoh itu ditolak mentah mentah, namun setelah mengetahui apa alasan Jack mengutarakan usul itu mereka pada akhirnya mencapai mufakat. Alasannya adalah supaya Arthur tidak terus menanti setiap hari di luar kamar rawat Aisha. Selain membuat canggung, rasa jengkel juga tercipta. Lagipula itu bukan sepenuhnya kesalahan nya. Seusai berucap kata maaf dan belasungkawa, remaja laki laki dengan kewarganegaraan Amerika itu pulang pada negara nya sendiri.


Keenam laki laki yang setia mendampingi bergantian di sekeliling brankar rumah sakit itu lebih mirip mayat hidup atau robot tiruan manusia. Tatapan kosong menuju kearah manik mata kecil dengan harapan mata itu akan terbuka lebar seperti biasanya. Namun yang terjadi malah sebaliknya.


Saat ini yang menunggu di rumah sakit hanyalah Yudhi dan Arjuna. Sementara yang lain dengan berat hati harus pulang kerumah. Biar bagaimana pun juga, mereka tetaplah manusia yang perlu istirahat, bahkan jika mesin dinyalakan terus menerus maka tentu akan rusak dengan sendirinya.


Yudhi termenung di dalam kamar rawat VVIP dengan tangan yang senantiasa ia tautkan dengan jemari dingin Aisha. Tatapan fokus lurus pada alat bantu napas yang ada pada hidung adiknya.


"Kapan kau akan sadar, apa tidak puas bermain pura pura tidur dengan kakakmu ini?" Yudhi tersenyum getir. "Ayo berhentilah Sha, kakak mengaku kalah sekarang. Katakan apa hadiah yang kau minta! Coklat, eskrim, atau boneka doraemon favorit mu? Kakak akan memberikan apapun padamu, bangunlah... "


Dia sudah mirip orang depresi. Frustasi. Selama apapun ia mengoceh dengan adik terkecilnya, dia tidak merespon apapun. Setau Yudhi, orang yang koma masih dapat mendengar, jadi pria itu tetap bersikeras mengobrol dengan Aisha meski mendapat teguran dari sang ayah. Johan miris karena melihat tingkah Yudhi. Merasa menjadi ayah yang tidak berguna, ia selalu menangis diam diam dalam kamar mandi saat melihat upaya Yudhi.


"Masih tidak mau menyerah, baiklah kakak berjanji akan melatihmu belajar beladiri. Itukan yang kau mau? Bangun dan bersiaplah, kita akan latihan.. " Memang Yudhi mewariskan skill memanah dan menembak dengan jitu pada adik perempuan nya, namun untuk belajar ilmu beladiri, ia belum memberi ijin, dengan alasan Aisha masih kecil dan ia tidak mau jika adiknya cedera.


Tanpa ia deteksi, ada sepasang mata yang telah berair mengintip di sebelah pintu. Arjuna, laki laki rupawan itu memperhatikan dalam diam apa yang dilakukan kakak tertuanya. Rutinitas yang dilaksanakan Yudhi sepanjang hari, tanpa absen satu haripun yaitu mencoba bercengkerama dengan Aisha. Yang selalu membuat siapa saja tak terkecuali dirinya merasakan sesak pada dada.


"Sudah cukup! Bangunlah Sha, kakak berada diambang batas kesabaran! Jangan main main lagi!! " Ia dengan gilanya menggoncang tubuh Aisha dan menepuk nepuk pipinya. Meskipun berteriak namun ia tidak bermaksud membentaknya, malah ia semakin deras mengucurkan air mata.


Arjuna yang menyaksikan itu sontak berlari dan menghentikan aksi Yudhi.

__ADS_1


"Cukup kak, cukup! " Seru Arjun dengan nada setengah tinggi.


"Dia keterlaluan Arjun! Dia terus pura pura tidur karena ingin diajari beladiri. Dan aku sudah menyetujuinya, tapi dia kekeh tidak mau membuka mata! " Mereka saling adu mulut. Hingga menciptakan kebisingan sampai Arjun menyudahinya dengan mendekap Yudhi.


"Sudah, sudah... Jangan gila seperti ini. Kakak pikir dengan bertingkah seperti tadi Aisha akan sadar? Tidak kak, dia malah akan patah semangat karena mendengar bentakan mu. Kau ingatkan, anak nakal itu tidak suka dibentak. Dia keras kepala, kalau kau memarahi nya mungkin saja dia tidak akan bangun " Nasehat Arjuna membuat Yudhi tersadar dari kegilaannya. Dia benar, bagaimana jika Aisha malah tidak mau bangun karena nya.


Sadar kakaknya mulai tenang, Arjuna melerai rengkuhan nya. Menepuk nepuk bahu Yudhi sembari tersenyum.


"Yang harus kita lakukan saat ini adalah menyalurkan semangat pada Aisha dan senantiasa memanjatkan doa pada Tuhan "


Lagi lagi jawabannya benar. Bagaimana mungkin Arjuna lebih sanggup bertahan dalam keprihatinan daripada dirinya?. Jelas jelas dia adalah yang paling tua. Cinta kasih pada sang adik membuatnya terlalu larut dalam kedukaan. Bukannya bersedih dan mengoceh tidak berfaedah, seharusnya ia mencari cara agar Aisha tersadar dari tidur panjangnya.


"Kau benar " Menarik kedua sudut bibir nya


Yudhi dengan tersenyum lebar melangkah mendekati ranjang Aisha. Duduk di kursinya tadi lalu membelai lembut surai adiknya. Kemudian menggenggam tangannya dan berucap,


"Maafkan kakakmu yang bodoh ini. Bertahanlah adikku, berjuanglah untuk bangun lagi dan setelah itu minta apa saja padaku. Aku tidak akan menolak nya" Kemudian ia mengecup kening Aisha. Arjuna yang berdiri menjulang di sampingnya turut tersenyum. Setidaknya hal ini dapat meminimalisasi kesedihan yang tengah merundung keluarga besar Fernandez.


***


Pria bertampang bule berjalan tergopoh gopoh mendekati lift. Ia menaiki benda kotak itu menuju ke lantai teratas dari rumah sakit ternama ini. Pria dengan setelan jas hitam yang menjadi ciri khasnya itu tak lain ialah Mr. Taylor dari Amerika. Dengan langkah memburu, ia keluar dari lift dan mengayunkan kaki mendekati ruang Dahlia.

__ADS_1


Perlahan bunyi handle pintu diputar terdengar, menampakan Mr. Taylor dengan raut cemasnya. Pemandangan menyakitkan yang pertama ia tangkap, adalah dokter yang sedang mengecek kondisi putri angkatnya. Ia pun berjalan mendekati brankar sesaat setelah dokter keluar ruangan.


"Putriku... apa yang terjadi padamu honey? " Mr. Taylor mengelus puncak kepala putrinya. Sedih sebab dirinya baru saja mengetahui insiden yang sudah beberapa bulan yang lalu terjadi.


"Tega sekali kalian tidak mengabari daddy, apa aku ini tidak punya hak atas kalian! " Kata Mr. Taylor memandang Yudhi dan Arjuna.


Kedua orang itu tertunduk, bagaimana mereka bisa lupa melakukan prosedur paling penting. Daddy mereka pernah membuat semua putra angkatnya berjanji, bahwa ketika ada hal penting apapun yang menimpa, maka mereka akan langsung bertukar kabar dengan pria itu.


"Maaf dad, kami lalai. Kami terlalu cemas akan kondisi Aisha sehingga lupa mengabari daddy. Aku bersumpah dad, aku bahkan tidak menyentuh ponselku selama beberapa bulan terakhir " Yudhi yang bicara mewakili. Ia berkata yang sejujurnya, dirinya bahkan seperti berseteru dengan benda canggih yang bernama ponsel beberapa bulan belakangan. Mr. Taylor menatap langit langit ruangan berusaha agar air matanya tidak jatuh.


"Sudahlah, daddy maklum. Jika salah satu anak buah daddy tidak memberitahu mungkin aku tak akan tahu selamanya " Seru pria itu.


"Apakah sudah ada perkembangan yang baik?" Ujar Mr. Taylor lagi.


"Belum dad " Arjuna menggeleng. "Kita hanya bisa berdoa "


Bagai dihimpit batu yang besar, entah mengapa dada Mr. Taylor terasa sukar bernapas. Tidak ada kabar yang lebih buruk dari ini setelah kematian istrinya dan calon bayinya.


Namun karena keteguhan hati yang tetap berdiri, ia menyunggingkan senyum penuh semangat pada putra putranya. Meyakinkan lewat sorot mata bahwa segalanya akan baik baik saja dan berjalan dengan semestinya.


Bersambung...

__ADS_1


Tinggalkan jejak dengan like, komen, vote dan rate 5 yaaa!! 😅


Sampai jumpa di episode selanjutnya 🤗🤗🤗


__ADS_2