Gadis Manis Milik Mafia

Gadis Manis Milik Mafia
BAB 50


__ADS_3

Malam pun tiba, mentari telah bersembunyi dibalik peraduannya. Malam yang gelap gulita menyambut manusia, seolah mengisyaratkan untuk berhenti dan istirahat dalam buaian mimpi.


Tapi tidak begitu dengan seorang gadis yang sedang menjalani les privat dari aunty nya. Aisha sekarang tengah berada dalam kamar tidur aunty Rania. Wanita itu berdalih mengingatkan Aisha pada janjinya. Janji agar membantunya merubah pribadi Arthur. Sebenarnya ada niat terselubung di dalamnya, aunty hanya ingin mengeratkan hubungan mereka. Ia yakin, kehadiran Aisha dalam hidup monoton keponakannya akan membawa dampak baik padanya.


"Jadi pertama, kau harus sesering mungkin berkomunikasi dengan suamimu. " Arahan pertama di dengarkan dengan baik oleh Aisha.


"Untuk apa itu aunty, kenapa tidak kau saja yang melakukannya? Kau kan bisa menasihati Arthur agar merubah sikap dingin dan sombongnya itu, " Kata Aisha menatap lekat wanita di depannya.


"Kalau aku yang katakan, Arthur akan menjawab iya aunty, iya. Tapi dia tidak akan merealisasikan nya. Jadi berhubung kau istrinya, kau harus membantu aunty " Ujarnya lembut, lalu membelai surai Aisha penuh sayang. " Yang terpenting kau harus bersikap baik padanya, tidak dingin, tidak cuek, tidak ketus dan -"


"Selalu tersenyum " Sargah Aisha cepat. Saking seringnya yang dikatakan aunty, ia sampai fasih pada seluruh wejangannya.


"Gadis pintar, sekarang buatkan kopi untuk suamimu. " Sudah mendorong tubuh Aisha keluar dari kamarnya. "Cepat ya, jangan sampai Arthur malah pergi nanti. " Peringatnya sambil menatap punggung Aisha yang mulai menjauh.


Aku akan menyatukan kalian. Batin aunty Rania dalam hati.


Arthur yang tengah berkutat dengan laptop dan beberapa berkas penting di ruang kerja, menoleh sejenak saat ada yang mengetuk pintu.


Ia mengernyitkan dahi kala Aisha datang dengan secangkir kopi di tangan. Meletakan kopi itu di depannya dengan hati - hati.


"Apa yang kau lakukan disini? " Tanya Arthur heran.


"Membawakan kopi untukmu " Jawab Aisha dengan senyum merekah. Walaupun hatinya tidak sejalan dengan gurat wajahnya. Ia melakukan ini hanya demi kebahagian aunty Rania yang sudah bagaikan ibu untuknya.


"Emm, kau boleh pergi. "Arthur meraih cangkir, meneguknya hingga setengah tandas. Rasa kantuk sedikit berkurang, apalagi dia harus lembur sampai malam.


Gadis itu mengangguk, mengayunkan kaki keluar ruangan menuju kamarnya.


Sampai pada kamarnya, dia langsung merebah. Menatap langit - langit kamar sembari membayangkan wajah ibunya yang sedang tersenyum kearahnya. Dan tak lama kemudian, matanya terpejam. Ia terlelap dalam alam bawah sadarnya.


Sementara itu Arthur yang telah selesai dengan pekerjaannya memasuki kamar, menyambar kunci mobil. Ia menoleh sejenak pada istrinya yang tengah tertidur dengan pulasnya.


Lalu pria itu keluar menuju kearah garasi.


***


Seorang anak kecil bersembunyi dibawah kolong tempat tidur. Dengan tangan gemetar, bulu kuduk meremang dan dahi yang berkeringat dingin. Ia hanya mampu memperhatikan apa yang terjadi dari dalam sana.


"Jadi kau belum mau menyerah? " Sebuah suara berat dari seorang laki - laki menggema di seluruh ruangan.


"Sampai aku mati pun, aku tidak akan ikut dengan manusia biadap sepertimu! " Giliran suara sarkas seorang wanita yang terdengar. Anak itu hanya mampu mendengarkan apa yang diperdebatkan dalam diam.


Hanya mampu membisu dan berusaha meredam suara. Manik matanya masih setia merekam setiap adegan yang disaksikan. Entah apa yang mereka katakan selanjutnya, dan tak lama kemudian suara tembakan bertubi - tubi terdengar nyaring di telinga.

__ADS_1


Dor! Dor! Dor! Dor! Dor!


"Ibu!!! " Aisha terbangun dari mimpinya. Dengan napas memburu, ia mengusap peluh di keningnya. Bayangan potongan kejadian masa lalu kelam kembali menghantuinya. Ia pikir, setelah kematian Pither, bayangan itu akan lenyap dengan sendirinya. Namun prediksinya salah, tregedi buruk beberapa tahun silam masih menggantung dalam pikiran. Menari - nari dikepala seolah mengejeknya.


Gadis itu menyapu sekeliling ruangan dengan iris matanya. Sesaat ia tersadar, kamar menjadi gelap gulita tanpa satupun cahaya. Tak ada satupun berkas cahaya yang menimpa penjuru ruangan.


Meraba meja nakas disampingnya, lalu menyambar benda pipih dari sana. Ia menyalakan senter, lalu mencari - cari nomor Arthur disana. Sekali, dua kali, tiga kali, tapi tidak ada sahutan.


Hingga ia memutuskan berdiam disana. Dengan keringat dingin yang menyergap, Aisha berusaha tenang. Ia membungkus tubuhnya dengan selimut, menenggelamkan wajahnya disana dengan lutut yang tertekuk. Jika di mansion nya dulu, paling tidak ayah atau kakaknya akan datang menghampiri.


Mendekap dan mengelus punggungnya menenangkan. Tapi sekarang dia sendirian. Tinggal seatap dengan pria yang entah kemana perginya.


Selang beberapa menit, derit pintu menyapa pendengaran Aisha. Tak lama kemudian, gadis itu merasakan ranjang bergerak. Ia semakin kalut dalam ketakutan, trauma nya memang menjadi salah satu kelemahan diantara banyaknya potensi yang dikandungnya.


Sebuah lengan kekar merengkuhnya posesif. Sama seperti yang dilakukan Yudhi saat adegan seperti ini terjadi. Ia merasakan kehangatan, Aisha pun turun mendekapnya erat.


"Kakak jangan pergi lagi... aku takut. Aku bermimpi ibu tadi. " Cicitnya lirih. Berpikir bahwa itu adalah kakaknya, maka ia kian mendekapnya erat. Menenggelamkan wajah pada dada pria itu.


Arthur terus menepuk punggung istrinya. Hingga suara deru napasnya mulai teratur, Arthur ikut menjatuhkan diri dalam tempat tidur. Mereka terlelap bersama diselimuti malam yang gelap gulita.


***


Keesokan harinya, Aisha mengerjapkan mata. Ditatapnya wajah damai Arthur yang sangat dekat dengannya. Ternyata yang datang tadi malam adalah dia, batin gadis itu. Perlahan, ia menurunkan kakinya memijak lantai. Melangkah gontai menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Siang hari yang lumayan panas, hari ini adalah hari libur. Semua orang sedang bersantai dalam rumah, kecuali Arthur tentunya. Hari kerja maupun hari biasa, ia tetap mengurung diri dalam ruang kerjanya. Tangannya berlarian lincah pada keyboard benda persegi panjang kesayangannya. Seperti tidak ada lelahnya melakukan itu seharian penuh.


Salah satu pelayan datang dari arah pintu, menghampiri nona muda yang masih asik dengan kegiatannya.


"Ada apa? " Tanya Aisha.


"Diluar ada orang yang mengaku sebagai kakak nona. Tuan Yudhistira namanya. " Kata sang pelayan dengan kepala menunduk hormat.


Aisha mengangguk, lalu dengan girangnya gadis itu berlari kecil mendekati pintu. Langsung memeluk kakaknya erat, melepas rindu setelah sekian lama tak bertemu.


"Masuklah kak, " Menggandeng lengan Yudhi mendekati sofa. Mereka berdua duduk disana.


"Bagaimana kabarmu? " Basa basi sebelum ke inti pembicaraan. Yudhi begitu khawatir pada adiknya, siang dan malam ia berharap jika Aisha akan nyaman dan hidup bahagia di tempatnya. Juga berharap bahwa Arthur akan memperlakukan dia dengan selayaknya.


"Aku baik. Bagaimana denganmu? " Aisha balik bertanya.


"Aku baik baik saja. "


"Ada apa? Apa ada masalah? "

__ADS_1


"Tidak ada, sebenarnya aku sudah seminggu di Amerika. " Terang Yudhi. Aisha terperanjat kaget.


"Lalu kenapa baru kesini sekarang kak? " Tanya gadis itu heran.


"Karena ada urusan dengan salah satu pengusaha disini, jadi kakak fokus kesana dulu. Hari ini baru akan pulang, oleh sebab itu kakak baru menemuimu hari ini. "


"Apakah ada masalah? " Kata Aisha lagi. Menilik dari sorot mata kakaknya, ia seperti merahasiakan sesuatu. Aisha paham, sebab Yudhi tak pernah bisa berdusta di hadapannya. Namun jika dia memang belum ingin bercerita, Aisha juga tak akan memaksa.


"Tidak ada, lihatlah ini. " Menyodorkan sebuah paper bag coklat yang ditentengnya.


"Apa ini? "Aisha meraihnya. Mengeluarkan isinya.


"Makanan favoritmu " Tutur Yudhi disusul dengan belaian lembut di kepala adiknya. "Kakak akan pergi sekarang. " Ucapnya kemudian.


Sebelum Aisha membuka mulut, Arthur muncul dari arah tangga. Merapikan kancing kemejanya. Ia melangkah mendekati kakak beradik itu.


"Aku ingin bicara empat mata denganmu. " Memandang datar kearah kakak iparnya.


"Ada apa? " Sahut Yudhi tak kalah datar.


"Ikutlah denganku. "Arthur berlalu dari hadapan mereka. Menganyunkan kaki menuju ruang kerjanya. Yudhi yang penasaran, akhirnya mengekor dibelakang langkah kaki pria itu.


Saat diruang kerja Arthur,


"Ada apa? " Yudhi langsung ke inti perbincangan. Bertele tele bukanlah kebiasaannya kecuali bersama keluarganya.


"Ada yang ingin kutanyakan " Membenahi posisi duduknya agar nyaman disofa. Lalu kembali menatap intens pria dihadapannya.


"Hemm, katakan! "


Arthur menghela napas sejenak, ia teringat perkataan istrinya semalam. Dalam benaknya, ia ingin menggali informasi tentang kematian ibu Aisha. Apa yang menjadi penyebab tragedi itu, dan juga bagaimana balas dendam bertahun tahun mereka bermula. Ia ingin tahu semuanya.


"Ceritakan tentang Ibu Alina. " Kata kata Arthur membuat Yudhi terkesiap. Masa lalunya, sesuatu yang masih menggantung di pikiran. Berusaha ia lupakan tapi tidak kuasa. Bahkan setelah kematian Pither sekalipun. Sisa kedukaan dari peristiwa kala itu masih menyisakan jejak berupa trauma adiknya.


Namun sejenak Yudhi berpikir, mungkin dengan membeberkan sebagian kerumitan hidup keluarganya pada Arthur, akan mengurangi beban pikirannya. Mungkin setelah Arthur tahu sedikit rahasia, ia akan mampu melindungi adiknya dengan lebih baik.


"Kau pasti sudah tahu tentang trauma Aisha " Ujar Yudhi tetap dengan raut datar tanpa ekspresinya.


Arthur mengerutkan dahinya heran, tidak paham arah pembicaraan. " Maksudmu-"


"Adikku trauma pada kegelapan. Beribu psikolog telah dihadirkan untuk mengobatinya, tapi tetap tidak ada hasil yang memuaskan. " Terdengar helaan napas berat yang berhembus dari mulutnya. Seperti sedang mencurahkan luka yang sangat mendalam.


"Dia memiliki trauma? " Jadi yang semalam itu adalah salah satu gejala trauma istrinya?. Arthur kira ia hanya takut biasa, karena biasanya para wanita akan bergidik ngeri saat sedang tidak ada penerangankan.

__ADS_1


"Iya, itu semua berkaitan dengan masa lalu keluarga kami. " Dan dari situlah, Yudhi menerangkan semuanya. Segala kejadian masa lalu yang ingin ia kubur dalam dalam. Bagaimana terjadinya pembunuhan ibunya, rentetan peristiwa masa lalu yang kelam. Arthur memerhatikan dengan seksama. Ia mencerna setiap kata kata yang keluar dari mulut kakak iparnya.


Bersambung....


__ADS_2