
Tempat pertama yang menjadi pilihan adalah, Galeries Lafayette. Disini aneka pakaian, tas, sepatu rancangan dan lainnya dijual. Berisikan barang barang branded yang kualitasnya tidak diragukan lagi.
"Kau mau beli apa? " Tanya Aisha menatap suaminya.
"Terserah kau saja! " Jawab Arthur.
Mereka mulai memilih pakaian, tas, sepatu dan lainnya yang akan menjadi oleh - oleh saat kepulangan mereka nanti. Aisha menarik - narik lengan suaminya mondar mandir kesana kemari, memilih pakaian yang entah mengapa semuanya serasa bagus dimata wanita.
"Beli saja seisi tempat ini! " Ujar Arthur kemudian. Dia sudah pusing menghadapi tingkah aneh wanita saat di pusat perbelanjaan. Melihat ini melihat itu, mencoba ini mencoba itu, kesana lalu kembali kesini. Dan ujung - ujungnya tidak ada yang dibeli.
"Sabar Arthur, kita harus mencari pakaian untuk aunty dulu. Lalu untukmu, untukku, Lia, para pelayan dan pengawal dan juga-"
"Pilih dengan cepat, atau aku akan meninggalkanmu disini! " Ujar Arthur setengah berteriak.
"Iya - iya sabar... " Akhirnya mereka pun menghabiskan waktu untuk belanja disana. Memilah - milah barang yanga akan dibeli. Mengingat tempat itu sangat luas, jadi Arthur sangat lelah. Tapi tidak dengan Aisha, entah kekuatan apa yang terpendam dalam diri wanita. Mengapa wanita tidak pernah lelah saat belanja? Itulah yang berkecamuk dalam benak Arthur.
Ya Tuhan.. Dosa apa yang telah aku lakukan?. Bersabarlah kedua kakiku..
Arthur mengusap peluh di dahinya, padahal udara sedang dingin. Namun entah mengapa dia bisa berkeringat.
***
Jam baru menunjukan pukul 11.30 siang, setelah acara belanja yang menguras tenaga tadi, mereka memilih memesan makan siang pada sebuah cafe tak jauh dari sana.
"Kenapa tidak makan? " Tanya Arthur sembari meneguk wine dari gelasnya.
"Aku tidak lapar. " Tukas Aisha. Ia hanya menikmati segelas minuman hangat yang tadi dia pesan. Tidak tahu kenapa, tapi dia tidak berselera makan sekarang.
"Jangan menyusahkan! Cepat makan, kalau kau sakit aku juga yang susah nanti! " Kata Arthur.
"Makanlah atau aku akan menghukummu! " Ancam Arthur penuh penekanan.
"Iya - iya " Aisha pun menyantap makanan yang ada di depannya. Ia hanya makan sedikit yang penting perutnya terisi.
"Arthur, setelah ini kemana lagi? " Tanya Aisha seraya memakan burgernya. Arthur diam tidak menyahut.
"Arthur... " Panggil Aisha. Arthur menghentikan acara makannya dan menatap istrinya tersebut.
"Kita ke Disneyland ya? " Ujar Aisha.
"Tidak! " Balas Arthur.
"Kenapa? " Suara Aisha terdengar kecewa.
"Kau pikir aku anak anak? Aku tidak mau kesana! " Tukas Arthur lalu meraih selembar tissue. Menyeka bibirnya dengan benda itu.
"Tapi aku ingin kesana.. Boleh ya? " Rengek Aisha dengan menyetel wajah memelasnya.
"Kau kan sudah berjanji padaku. "
"Habiskan makananmu! " Perintah Arthur. Aisha terdiam seketika, ia melanjutkan makannya yang sempat terjeda karena obrolan dengan suaminya.
***
Kini keduanya berada dalam mobil lagi, kendaraan inilah yang akan membawa mereka ke Disneyland yang ada di negara ini. Setelah bersusah payah dengan mengeluarkan seribu jurus, akhirnya Aisha sukses membujuk suaminya agar mau mengajaknya pergi kesana. Pasti sangat menyenangkan jika bisa bermain dan berfoto bersama karakter - karakter lucu disana, pikir Aisha.
Beberapa saat melajukan mobilnya, kini Arthur dan istrinya telah tiba di parkiran. Memasuki area itu, mereka disuguhkan dengan pemandangan ala disney yang membuat mata terpukau. Ini bukan pertama kalinya bagi Aisha, karena ia sering ke Disneyland dulu.
"Ayo Arthur! " Ia menggiring lengan suaminya masuk.
"Arthur, kira kira ada karakter doraemon tidak ya? " Tanya Aisha asal sembari mensejajari langkah lebar Arthur.
"Mungkin ada, tapi versi Amerika. " Ucapnya datar. Mereka pun kembali melangkah kesana, menghabiskan waktu berdua dengan suka ria.
***
Sepanjang hari ini, mereka menghabiskannya dengan liburan dan belanja. Tanpa sadar hari mulai menjelang malam. Saat dirasa oleh oleh sudah lengkap tanpa terkurang suatu apapun, mereka memutuskan kembali ke villa yang jaraknya amat jauh dari kota.
Hening, tidak ada pembicaraan.
Arthur fokus mengemudikan mobilnya, sementara Aisha sibuk bertukar kabar dengan Myara.
__ADS_1
Bagaimana bulan madunya? ~ Myara
Menyenangkan, aku berjalan jalan setiap hari disini Mya. Aku juga membeli oleh oleh untukmu. Nanti saat aku kembali ke Amerika, aku akan memberikannya. ~ Aisha.
Yasudah, baik baik disana ya. Jangan lupa mengisi perutmu 😂 ~Myara.
Iya, aku makan setiap hari Mya. Kalau aku tidak makan aku akan mati~ Aisha.
"Apa - apaan Mya ini? Ya jelaslah aku mengisi perut, kalau tidak aku bisa mati kan! " Ucap Aisha lirih namun masih menjangkau pendengaran Arthur.
Maksudku bukan itu, Ah sudahlah yang penting baik baik disana. ~ Myara
Iya ~ Aisha.
Setalah bertukar sapa dengan Mya, Aisha memasukan kembali ponselnya dalam tas. Arthur melirik kearah istrinya.
"Kenapa tadi? " Tanya Arthur.
"Oh, itu Mya aneh, masa' dia mengingatkanku untuk mengisi perut. Aku juga sudah tahu, kalau aku tidak makan, aku kan bisa mati. " Ujar Aisha dengan polosnya. Awalnya Arthur hanya acuh menanggapi, wajahnya datar sedatar dinding rumah. Namun beberapa menit kemudian setelah mencerna kalimat yang dimaksud istrinya, ia menyunggingkan senyum tipis.
"Kau mau mengisi perut? " Tanya Arthur sembari menatap sekilas istrinya.
"Kan tadi sudah, aku sudah makan banyak tadi, " Seru Aisha.
"Bukan itu bodoh! Jadi bagaimana mau mengisi perut tidak? " Ucap Arthur menggoda. Aisha mengangguk.
"Iya, aku mau. " Balasnya.
"Oke, tunggu nanti malam. " Muncul seringai misterius pada bibir Arthur, pria itu kembali melesatkan kendaraannya tanpa banyak bersuara.
"Dasar aneh, dia pasti mau memaksaku makan lagi! " Gumam Aisha dengan sangat lirih, berharap Arthur tidak mendengarnya.
Perjalanan pada awalnya berjalan lancar tanpa kendala. Hari mulai menjelang malam, langit berangsur menjadi gelap. Tiba tiba, mobil Arthut berhenti mendadak.
Aisha mengernyitkan keningnya heran, " Ada apa Arthur? Kenapa berhenti disini? Jangan bilang kau mau membuangku! " Rentetan ocehan Aisha membuat Arthur gusar.
"Diamlah! Mobilnya mogok! "Arthur beranjak dari kursi kemudi. Membuka bagian depan mobilnya dan mengeceknya. Sedangkan Aisha, gadis itu menyapu sekeliling. Hawa dingin menyeruak masuk saat ia membuka kaca disampingnya. Ia menutupnya kembali, memerhatikan sang suami yang sedang mengotak atik mesin di depannya.
"Kenapa mobilmu? " Tanya Aisha seraya menggosok lengannya dibalik jaket tebal. Walaupun sudah memakai pakaian tebal, entah mengapa hawa dingin masih terasa apalagi dibagian lehernya.
"Mesinnya rusak. "Tutur Arthur.
"Coba aku lihat. " Aisha mengambil alih senter dari ponsel Arthur, ia menyorotkan cahaya itu pada mesin mobil. "Ini harus dibawa ke bengkel. " Ucapnya.
"Sok tau! Tau apa kau tentang mesin? " Ujarnya dengan nada sinis.
"Kau meremehkan ku? Dulu mobil kakak juga pernah mengalami mogok. Dan lihat itu, ada yang rusak pada mesin mobilmu. " Ucap Aisha.
"Dulu saat mobil ini mogok, aku dalam perjalanan pulang dengan kak Yudhi. Kami hanya berdua, lalu terpaksalah kakak mendorong nya. Aku juga ikut membantunya waktu itu, apa kau tau -"
"Sudah diamlah! " Potong Arthur saat menyadari celotehan istrinya sudah keluar dari topik perbincangan dan merambat kemana mana.
"Masuk kedalam! " Titah Arthur.
"Lalu kau? "
"Aku akan mendorong mobilnya, siapa tahu ada bengkel di depan. Kita kan belum terlalu jauh. " Seru Arthur, menarik tangan istrinya dan memaksanya memasuki mobil. Kemudian ia sendiri melangkah ke bagian belakang, mendorong mobil dengan sekuat tenaga.
50 meter berhasil ditempuh dengan cara mendorong mobil. Aisha berkali kali menoleh ke belakang. Disana terlihat sekali suaminya yang tengah banjir keringat, ia menjadi tak tega. Gadis itu turun dan tak lupa mengambil beberapa lembar tissue dari mobil. Ia menghampiri Arthur.
"Arthur! " Panggilnya. Arthur menatap tajam Aisha.
"Kenapa turun! Kau ini keras kepala sekali ya, aku kan sudah bilang didalam saja! " Sentak Arthur dengan nada tinggi. Aisha hanya menghela napas mendengar perkataan suaminya yang serasa menusuk telinga.
"Lihatlah, kau sampai berkeringat begini, padahal sedang dingin. " Tak membalas ucapan Arthur, gadis itu menghapus peluh yang bercucuran dari dahi sang suami menggunakan tissue. Arthur terdiam, ia memandang gadis cantik yang berada di depannya. Merasa mendapat perhatian, Arthur menatap dalam manik mata indah istrinya.
Dia begitu baik. Batinnya dalam hati.
"Hey, kenapa menatapku seperti itu? Aku cantik? " Tanyanya sambil terkekeh. Arthur sontak bangkit dari lamunannya.
"Cantik apanya, kau jelek seperti ayam! " Ledek Arthur lalu kembali mendorong mobil mewahnya.
__ADS_1
Aisha seketika terkesiap dan mensejajari langkah suaminya, ia mengerucutkan bibir dan berkata, " Ayam? Tapi kata semua orang aku cantik! " Serunya tak mau kalah.
"Pasti mata mereka terkena katarak! " Hardik Arthur lagi. Aisha hanya diam tak membalas perkataannya, ia beralih membantu suaminya mendorong mobil.
"Apa yang kau lakukan! Masuk kedalam! " Perintah Arthur. Namun Aisha tak beranjak dari tempatnya.
"Aku tidak mau. " Teguh pada pendirian.
"Kenapa?" Tanya Arthur lagi.
"Tidak apa - apa, kau adalah suamiku. Jika kau menjumpai kesulitan, maka aku wajib membantumu. " Ujar Aisha dengan entengnya. Ia kembali membantu suaminya. Tanpa peduli bahwa Arthur sedang menatap lekat kearahnya.
Padahal, aku menikahinya dengan paksa. Aku merenggut masa mudanya dan membawanya bersamaku. Arthur mengulas senyum di wajahnya, entah ada apa, tapi ia begitu bahagia. Tidak ada yang memahami isi hati. Ia kembali melanjutkan aktivitas nya.
Sekitar 300 meter menapaki jalan dengan menguras tenaga, napas Aisha mulai tersengal. Namun tak kunjung menemukan bengkel, hingga mereka memutuskan beristirahat sejenak di pinggir jalan. Hari yang sudah malam, menambaha aura mencekam di sepanjang jalan.
"Ini minumlah! " Arthur menyodorkan sebotol air mineral yang ia ambil dari mobilnya tadi. Aisha meraih botol itu dari tangan Arthur, meneguknya hingga tinggal separuh. Lalu ia menyodorkan juga pada suaminya. Pria itupun segera meneguknya hingga tandas.
"Aku akan menelepon penjaga villa saja." Meraih ponsel dari saju jaketnya. Namun sialnya, tidak ada signal yang menjangkau di tempat itu.
"Sial! Kemana perginya signal ini! " Arthur menggoyankan ponselnya berharap ada signal yang menjangkau. Namun hasilnya nihil.
"Kita cari penginapan dekat sini saja! " Ujar Arthur. Aisha hanya mengangguk dan mengikuti langkah suaminya. Untung saja di sekeliling jalan masih ada penerangan, jadi memudahkan langkah mereka mencapai tujuan. Sepanjang perjalanan Aisha menggenggam erat tangan Arthur. Bayangan saat ia bersama Alina waktu kecil dulu bergelut di benaknya. Dimana waktu itu dia dan ibunya juga berjalan di jalanan seperti ini, lalu tiba tiba ada gerombolan penjahat yang menghadang mereka.
Arthur yang paham kian mengeratkan tautan tangan mereka, " Tidak akan terjadi apa - apa, jangan cengeng! " Ujarnya. Mereka kembali melanjutkan langkah mencari penginapan terdekat.
"Arthur dingin... " Seru Aisha sambil mengusap tengkuknya, kebetulan syal yang ia kenakan tertinggal di mobil. Arthur juga tidak membawa syal.
"Bersabarlah, 100 meter lagi ada penginapan." Tutur Arthur. Rasa pusing yang tiba tiba meliputi Aisha, membuat ia kehilangan keseimbangan. Hampir saja jatuh apabila Arthur tidak menopang tubuhnya.
"Kau kenapa? " Tanya Arthur.
"Tidak apa - apa. " Bantahnya, lalu gadis itu kembali berdiri.
"Pasti karena kau hanya makan sedikit tadi. Apalagi kau membantuku mendorong mobil!" Seru Arthur. Aisha hanya terdiam dan melanjutkan langkahnya. Tiba - tiba Arthur menarik tangannya, menggendongnya ala bridal style.
"Arthur apa yang kau lakukan! Turunkan aku! " Aisha meronta, memukul dada bidang suaminya.
"Diam! Atau aku akan menjatuhkanmu disini!" Aisha seketika bungkam saat mendengar kalimat yang dilontarkan suaminya. Karena tidak tega melihat peluh yang membasahi dahi suaminya, ia mengusapnya dengan telapak tangan. Napas Arthur juga naik turun tidak beraturan, membuat ia tidak tega melihatnya.
***
100 meter berhasil ditempuh, setelah memesan sebuah kamar dan memperoleh kunci, mereka masuk kedalam kamar. Arthur mengunci kamarnya lalu ikut merebah disamping istrinya yang sudah berbaring sejak lima menit yang lalu.
"Arthur.. " Aisha tampak menggigil.
"Kau kenapa? " Pria itu mendekat, mendaratkan punggung tangannya di dahi Aisha. Sedikit panas, gumamnya.
"Kau demam, tapi tidak ada obat. Disini juga jauh dari apotek. "
" Aku hanya dingin... " Lirih Aisha lalu menarik selimut hingga membalut sampai lehernya.
"Kemari! " Ujar Arthur.
" Apa? "
"Mendekatlah! " Aisha mengiyakannya, ia merapat ke tubuh Arthur dan disambut dekapan hangat suaminya. Menenggelamkan wajahnya disana lalu kembali terlelap dalam alam mimpi.
Merasakan deru napas istrinya mulai teratur, Arthur kian mendekapnya dan turut tenggelam dalam alam bawah sadar.
Bersambung...
•
•
Kenapa baru up? Sedikit banget?
Maaf, aku akhir - akhir ini lagi nggak enak badan. Mungkin pengaruh cuaca🤕
Jangan di unfavorit ya😀
__ADS_1