
Bagi siapa yang tidak tahu atau mungkin lupa siapa itu Roman. Coba baca ulang bab 4-5. (kalau mau ya)
Betapa terkejutnya keduanya saat mengetahui siapa yang ada di dalam sana.
Seorang pria tua yang tak terurus lagi rupanya. Dia terduduk lemah di lantai dingin ruangan. Wajahnya mulai keriput, rambut dan jenggotnya gondrong dan pandangan yang lurus seolah tak ada nyawa. Roman, si pria setia yang tetap setia sampai masa tuanya.
Aisha dan Clara bergegas menghampiri, memeriksa orang itu dengan teliti.
"Paman, paman.. " Panggilan Aisha membuat tatapan Roman beralih padanya. Sebuah senyuman terbit begitu saja ketika orang yang ia harapkan selama ini akhirnya datang. Ya, Roman memegang keyakinan teguh dalam hatinya bahwa kelak orang dari GE pasti akan membantunya, dan itu terealisasi sekarang.
"Ayo paman! Aku akan membawamu pergi darisini!" Ia tak ingin menghamburkan waktu dengan menanyakan sebab akibat. Yang terpenting adalah menyelamatkan nyawa orang yang paling setia pada Golden Eagle selama ini. Roman adalah mata mata yang ditugaskan untuk memantau setiap gerak gerik Pither dulu. Tapi sayangnya, kesalahan kecil membuatnya terciduk dan bernasib malang seperti ini.
"Selamatkanlah Anna.. " Lirih dia menyahut. Membuat Aisha menjeda pergerakannya dan menatap Roman dengan bingung.
"Anna.." Memori tentang penerangan yang dijelaskan aunty Rania membuat Aisha paham apa yang laki laki ini coba jelaskan.
"Dimana paman?" Tanya Aisha.
"Milan.." Lirih Roman seraya mengulurkan sebuah kertas berisikan alamat yang sudah lama ia simpan. Bahkan kertas itu sudah menguning ditelan usia."Dengar, aku mohon cari tahu tentang anak dan istriku. Itu adalah satu satunya permintaanku. " Napasnya mulai tersengal.
"Paman! " Aisha dan Clara panik.
Bukannya merintih sakit atau apa, Roman malah melayangkan senyum leganya. Lega karena setidaknya ia telah melakukan tugas terakhirnya. Menyampaikan informasi yang akan sangat berguna. Lega karena di penghujung umurnya ia masih sanggup menjaga kesetiaan nya.
Perlahan mata sayu itu tertutup diselingi dengan hembusan napas terakhirnya.
"Paman Roman.. " Aisha memeriksa denyut nadinya yang sudah melemah, lubang hidungnya yang tak mengeluarkan udara.
Ada rasa sesal dalam hatinya karena baru menemukan Roman sekarang. Air matanya jatuh begitu saja.
"Nona, biar saya saja yang urus ini. Kita sudah banyak membuang waktu. Sebentar lagi pemilik rumah ini akan tiba. " Clara gelisah melihat nonanya yang masih menatap nanar jasad itu. "Nona, ini bukan saatnya menangis. Lihatlah dia, dia sudah mengorbankan hidup dan nyawanya. Jangan sampai kita menyia -nyiakannya. " Seru Clara mengingatkan.
Aisha mengusap air matanya. Benar apa yang diucapkan Clara. Jangan sampai pengorbanan pria tangguh ini sia sia hanya karena air mata. Ia harus menjalankan aksi selanjutnya.
"Saya akan mengurus ini. Cepatlah nona lanjutakan rencana kita. " Kata Clara yang diangguki Aisha.
"Baiklah, mintalah bantuan pada Jason untuk membawa jenasah paman Roman. Waktu ku tidak banyak. " Serunya. Menatap sekali lagi pada tubuh Roman, lalu melenggang pergi darisana.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Disaat Aisha sudah tiba di lantai satu, ia melewati sebuah lorong yang akan menghubungkan langsung dengan ruang arsip. Ia telah membaca denah yang dibuat oleh salah seorang mata mata kemarin.
Dan saat ia melewati belokan, ia berpapasan dengan Arthur disana.
"Monyet! Eh maksudku.." Sorotan tajam dilayangkan Arthur mendengar kode yang digunakan Aisha untuk menyebut namanya. Padahal kemarin sudah ia katakan untuk mengganti kodenya dengan harimau atau serigala.
"Aku sudah selesai. " Tukas Arthur. Dan disaat Aisha akan menyahut, sebuah suara mengejutkan mereka.
"Rupanya ada penyusup disini." Suara salah satu mafia senior. Menyeringai tajam."Untung tuan tidak ada disini, jika ada maka kalian pasti akan dikuliti saat ini juga. " Ia menodongkan pistol nya.
Dengan sigap Arthur ikut menodongkan senjatanya. Jika sudah ketahuan begini, jalan satu satunya adalah berkelahi.
"Matilah kau!" Seru pria itu. Namun ketika ia menarik pelatuk pistolnya, tidak ada benda tajam yang keluar."Apa ini?"
"Hahaha, pelurunya habis tuan. Apa kau mau aku pinjami? " Aisha tergelak. Begitupun dengan Arthur yang memanfaarkan kesempatan ini untuk melawan pria itu. Tak butuh waktu lama ia sudah tersungkur jatuh ke lantai.
"Aku sudah membaca denah yang kemarin. Kita akan lari melalui lorong di dekat ruang itu. " Aisha berkata, sembari menarik tangan suaminya.
"Kita harus melawan mereka, kalau tidak nanti bedebah itu akan menertawakan ku."
Kembali menggeret tangan suaminya.
"Apa maksudmu?"
"Nanti aku ceritakan!" Dengan langkah seribu keduanya pergi meninggalkan lokasi. Setelah sebelumnya Arthur.
***
Milan
Sebuah rumah tua yang besarnya tak seberapa, terkepung oleh anggota Regdator yang baru saja tiba dari Amerika.
Tubuh para penjaga tergeletak begitu saja, beberapa orang membobol keamanan yang ada. Ada salah satu pintu yang terkunci, beruntunglah karena hanya kunci konvensional yang digunakan. Bukan fingerprint, password apalagi arduino. Jadi mereka tak perlu bersusah payah.
Pintu terbuka perlahan, mata Arthur dibuat membola dengan apa yang dilihatnya.
__ADS_1
Seorang gadis muda yang tampak tertidur dengan pulas di dalam sana.
Perlahan kakinya mendekat, memerhatikan wajah itu. Sosok yang sangat familiar di matanya walaupun bertahun tahun tak berjumpa.
"Anna.." Lirih Arthur seraya membelai wajah itu. Aisha pun turut terharu, dugaannya selama ini tepat sasaran. Eylina atau Anna yang tak lain adalah anak Rania masih hidup hingga kini. Kabar dan jasad Anna itu hanyalah rekayasa orang orang saja.
"Emm.. " Gadis itu menggeliat dari tidur nya. Mengucek matanya yang gatal, lalu ia mengerjab. "Arggghh!!! Siapa kalian!" Histeris.
"Tenang.. tenanglah..Kau tidak ingat aku? Aku, yang suka mengambil coklatmu dulu." Seru Arthur. Gadis muda itu tampak mengerutkan keningnya. Antara bingung dan terkejut.
"Siapa kalian ini? " Tiba tiba seorang wanita paruh baya datang memasuki kamar dengan sebuah nampan berisikan makanan di tangannya.
"Bibi.. aku takut.. " Langsung saja gadis itu merengkuh tubuh wanita yang selama ini sudah menjaganya. Zalima, wanita baik hati yang bekerja sebagai pelayan disini. Dia lah yang mengasuh Anna sedari kecil.
"Nyonya, biar aku jelaskan semuanya. " Aisha ikut menyahut.
Penjelasan yang dilontarkan Aisha dan Arthur di dengarkan dengan seksama oleh Zalima.
Kisah masa lalu yang kelam, yang akan membuat siapapun menitikan air mata saat mendengarnya.
***
"Ikutlah dengan keluargamu sayang.. " Ujar Zalima dengan nada keibuannya. Situasi sudah cukup tenang. Anna walaupun masih ragu tapi dia hanya mengangguk mendengarkan. Samar samar ingatan masa lalunya berkecamuk di kepala. Momen ketika ia sedang bermain dan gerombolan pria menariknya. Hingga bertahun tahun dia dikurung dan tidak boleh keluar dari kamar itu. Sungguh mengerikan.
"Tapi aku ingin bibi ikut denganku.." Rengek Anna.
"Ini adalah tempat bibi nak.. Kau selalu ingin kembali pada keluargamu kan? Sekarang kau bisa kembali. Bibi akan tetap disini. " Serunya seraya membelai kepala Anna.
"Nyonya, tidak masalah kalau kau bersedia ikut dengan kami. Kami berjanji akan memperlakukanmu dengan baik." Seru Arthur.
"Tidak tuan.. ini adalah tempatku." Walaupun rumah ini lebih mirip penjara, tapi bertahun tahun ia menghabiskan masa hidupnya disini.
"Aku akan sangat merindukan bibi.." Anna memeluk wanita itu erat.
Di satu sisi ia senang karena dapat keluar bebas dari penjara ini. Ia bisa bertemu dengan keluarganya yang bertahun tahun hanya bisa dia khayalkan dalam otaknya.
Tapi dia juga sangat menyayangi Zalima.
__ADS_1
"Bibi akan selalu menganggapmu sebagai keluarga. Tapi keluargamu yang asli sedang menunggumu sayang." Seru nya lagi.
Perbincangan itu terus berlanjut sejenak. Hingga akhirnya Arthur, Aisha dan Anna berangkat ke bandara dengan sedikit drama karena adanya pengejaran dari Esponder. Beruntunglah mereka dapat mengelabuhinya dengan menaiki angkutan lain.