Gadis Manis Milik Mafia

Gadis Manis Milik Mafia
BAB 117


__ADS_3

Mata Aisha membola tatkala mendapat kabar dari si penelepon yang merupakan salah satu guru di sekolah Devan. Dengan tergesa - gesa perempuan yang tengah berbadan dua tersebut menuruni anak tangga, namun tetap hati - hati karena Aisha sadar janinnya sangat rapuh.


Ia merogoh ponsel di sakunya dan menghubungi Arthur.


"Hallo." Suara di seberang sana menyahut.


"Arthur cepatlah pulang kerumah!" Suara Aisha panik. Membuat lawan bicaranya ikut panik. Khawatir telah terjadi sesuatu pada istri dan anaknya.


"Ada apa sayang? Kenapa suaramu begitu panik? Apa kau sakit? Apa terjadi sesuatu dengan anak kita?" Cecarnya.


"Tidak! Tapi Devan diculik dari sekolah dan aku yakin pelakunya adalah John." Aisha sudah sampai di anak tangga terakhir dengan selamat.


Sedangkan yang pria yang sedang berada di lantai tertinggi Anderson Group itu terhenyak, bagaimana Aisha bisa tahu tentang John? Apa Aisha sudah tahu semuanya, termasuk hubungannya dengan Wilhelmina di masa lalu?


"Sha bagaimana kau tahu-"


"Kita bahas nanti, aku tidak ingjn mendengar penjelasan apapun kali ini. Bisakah kau pulang sekarang, keselamatan Devan saat ini jauh lebih penting. Aku sudah meminta anak buahku melacak jejak John, ada beberapa kemungkinan keberadaan pria itu." Tanpa mengatakan salam perpisahan seperti biasanya Aisha menutup telepon. Ia bergegas ke ruang komputer dimana beberapa anggota tengah berkutat dengan alat canggih tersebut.


Di seberang sana Arthur meletakkan ponselnya dengan pelan diatas meja. Ia seperti orang linglung. Otaknya berjalan lambat mencerna keadaan selama beberapa menit. Aisha tahu semuanya. Ya, bagaimana dia bisa lupa siapa istrinya itu. Beberapa bulan terakhir ia telah melihat sisi Aisha yang lain sebagai gadis manis yang baik dan sedikit manja.


Hingga melupakan sisi lain yaitu El Taylor, putri angkat kesayangan Mr. Taylor yang dilatih khusus sejak kecil untuk dapat melindungi dirinya sendiri. Sosok yang bisa berubah menjadi mengerikan dan hanya dapat ditemui di situasi tertentu.


"Oh ****! " Nalarnya kembali bekerja. Kaki panjangnya berlari menuju lift namun sebelumnya Arthur tak lupa meraih sebuah pistol Deagle yang ia simpan di tempat khusus di salah satu sudut ruangan. Untuk berjaga apabila ada kondisi tak terduga seperti sekarang.


****


Di tempat lain tepatnya di ruang penyimpanan senjata milik Regdator, akhirnya setelah sekian lama inilah kali pertama tangan halusnya menyentuh sebuah senjata api.


Senapan Lee-Enfield kini ditentengnya.


Aisha ragu ingin ikut, tapi ia tidak tenang disini. Ia juga khawatir pada Devan. Faktanya Aisha sudah menyayangi anak itu sejak pertama kali menatapnya. Tiba - tiba rasa keibuannya kian menyeruak kala menatap mata polos Dev. Dia suci dan bersih, yang salah adalah ibunya jadi tak ada alasan baginya membenci Devan.


"Apa anda yakin akan ikut nyonya? Tuan Arthur pasti tidak akan mengijinkan apalagi anda sedang berbadan dua." Seru Thomas yang merasa ngeri sendiri membayangkan nyonya mudanya memegang senjata. Berkali - kali pria dengan tinggi 187 cm itu mencoba melarang Aisha yang ngeyel ingin ikut menyelamatkan Devan. Tapi nasehatnya bahkan tak digubris.


"Apa kau meragukan aku Thomas?" Suara yang sama namun dengan nada yang berbeda terlontar dari bibir Aisha. Thomas seketika menundukan pandangan kala menangkap sorot mata asing pada nyonya nya.


Gila! Nyonya Aisha seperti bukan dia, dia terlihat sangat marah.


Thomas tahu apa penyebabnya, karena disaat mereka menemukan beberapa kemungkinan keberadaan John, tiba - tiba pria brengsek itu justru menghubungi Aisha. Mengatakan dimana keberadaannya seolah menantang.


Dan setelah dipastikan oleh beberapa anggota Regdator ternyata benar, Devan diculik disana bahkan Wilhelmina sekarang juga ada disana.


Namun mereka tidak bodoh, tentunya pasti John menyiapkan banyak jebakan dan perangkap.


Menilik dari sikapnya yang seolah berani menantang singa untuk mengaum, pastinya sekarang lelaki itu punya dukungan yang kuat.


Aisha pikir mungkin John mencari partner lain yang tentunya tak kalah kuat dari Regdator sehingga membuatnya percaya diri.


"Siapkan mobil Thomas! Kita berangkat sekarang."


"Tapi nyonya anda sedang hamil!" Pakaian berwarna hitam yang menutup seluruh tubuh Aisha dari atas hingga bawah adalah pakaian khusus yang anti peluru dan senjata tajam. Tapi Thomas tetap khawatir, kalau terjadi sesuatu padanya pasti ia yang akan kena imbasnya. Mengingat tuan Arthur dan Reynard tidak ada disini.

__ADS_1


"Aku tau, dan aku bisa." Nadanya sangat dingin. Benar - benar bukan nada bicara Aisha.


Emosinya masih belum turun saat John mengatakan "Wanita hamil yang buncit dan tidak berdaya tidak akan bisa menemukanku, jadi aku memilih untuk memberitahu dimana posisiku saat ini. "


Perempuan itu melenggang pergi begitu saja ketika menyelesaikan kalimatnya. Thomas hanya menepuk kepalanya sendiri. Ia pasti akan tamat kalau gagal menjaga nyonya Aisha seperti amanat tuan Arthur.


***


Akhirnya setelah menunggu sekian lama kini aset berharganya ada di depan mata.


Bukan tanah, emas atau pun bisnis, namun tak lain adalah anak laki - lakinya sendiri, aset berharganya yang akan berguna di masa depan. John sudah menyusun seluruh rencananya dengan matang.


"Daddy tolong antarkan aku pulang.. " Rengek Devan pada ayahnya yang tengah menyesap wine di dekat balkon.


Saat ini anak itu tengah duduk diatas sofa dengan makanan ringan dan banyak susu berjejer diatas meja. Namun tidak ada niat melahapnya, Devan yang masih menggunakan seragam sekolah hanya ingin pulang berjumpa ibunya yang pasti sangat cemas.


"Kau mau pulang kemana Dev? tempatmu ada disini bersama Daddy."


"Tapi mami pasti sangat cemas sekarang. Ini sudah jam pulang sekolah tapi Dev belum pulang."


"Memangnya ini jam berapa?" Mencoba mengalihkan pembicaraan agar bocah itu tidak rewel.


"Jam tiga sore." Sahutnya polos setelah melirik jam bergambar tokoh salah satu hero favoritnya.


"Apa sekolahmu bagus?"


"Ya! sangat bagus sekali Dad. Teman - temanku sangat banyak dan lebih baik daripada teman temanku yang lama. Mereka sangat sopan. Tapi sayangnya ada salah satu temanku yang tidak lancar bicara bahasa Inggris, dia dari Spanyol.Kalau di kelas dia hanya diam saja, tapi untungnya Devan mengerti sedikit apa yang dia katakan." Dev mulai bercerita panjang lebar meskipun tak ada tanggapan.


Sementara pria yang berdiri di balkon menarik salah satu sudut bibirnya tatkala satu anak buahnya mengkode bahwa incaran sudah masuk perangkap.


John tak habis pikir kenapa sebegitunya mereka membela mantan istrinya. Dia hanya ingin mengambil anaknya saja, apa yang salah dengan hal itu.


Arthur dan para anggotanya sudah mengepung rumah berlantai tiga yang ditempati John. Dia melesat kemari saat Thomas mengirimkan lokasi padanya. Arthur menebak John telah menyiapkan banyak jebakan disekitar. Meskipun rumah sangat sepi seperti tidak berpenghuni.


Mereka membawa banyak anggota. Tetapi yang nampak dilihat mata hanya Arthur, Reynard, dan lima pria yang tidak membawa apapun, sisanya berada di tempat yang sudah dipastikan tak dapat dijangkau mata John. Mereka akan keluar nanti saat situasi mendesak dan dibutuhkan.


"Sialan! Apa maksudnya Tom! Aisha ada disini? Dimana istriku?" Tanya pria itu beruntun terkejut mendapati kabar istrinya ada disini. Takut kalau - kalau terjadi sesuatu pada istrinya mengingat dia sedang hamil. Apalagi kandungan Aisha bermasalah.


"****!" Menutup panggilan dengan kasar.


"Ada apa?" Rey bertanya. Menyaksikan kegelisahan Arthur sebelum memulai aksi penyelamatan Devan.


"Aisha ada disini, aku harus menemuinya sekarang!"


"Jangan! Biarkan dia melakukan apa yang dia mau. Aku percaya pada Aisha, jika dia sudah memutuskan pasti sudah ada pertimbangan yang matang sebelumnya."


"Kau gila! Kalau ada apa apa dengan calon anakku bagaimana?!" Sentaknya geram melihat Rey bertingkah biasa saja.


"Dia bisa menjaga dirinya Arthur, karena yang kau cemaskan saat ini bukan Aisha, dia telah menjadi orang lain. Apa kau lupa siapa istrimu itu? Kau melupakan sisi lain Aisha yang telah lama tidak muncul. Biarkan saja, dia tidak akan membiarkan sesuatu terjadi pada seseorang yang sangat ia sayangi."


Arthur terdiam, mencerna penuturan sahabat karibnya. Dari luar dia terlihat tidak membawa senjata apapun, tapi faktanya seluruh tubuh Arthur kini sudah penuh dengan berbagai alat yang telah ia sediakan sebelumnya.

__ADS_1


"Jangan khawatir Arthur!" Seru Rey sekali lagi.


***


Dengan sisa napas yang masih dapat dihirupnya, Wilhelmina tetap berdiri tegak. Saat tadi perjalanan ke sekolah Devan, tiga orang berpakaian serba hitam mencegatnya dan membawanya kemari. Dan ia sangat yakin, ini semua ulah pria itu. Dan Devan sekarang juga pasti sedang ada padanya. Fokus Wilhelmina terbagi dua, satu Dev yang ada pada John dan satunya pada Krystal yang dirumah hanya dijaga salah satu temannya.


Belum lagi, ia harus menerima penyiksaann ini. Wilhelmina tengah berdiri tegak pada lingkaran dengan diameter kurang lebih 30 cm. Hilang keseimbangan atau oleh sedikit saja, sudah pasti ia akan jatuh kebawah. Dibawah sana terdapat puluhan buaya yang siap menyambutnya apabila ia lengah.


Namun Wilhelmina belum siap mati sebelum memastikan putranya baik - baik saja, dengan sekuat tenaga ia menjaga keseimbangan, menumpu beban tubuhnya pada sebuah tali yang ada.


Ini benar benar mengerikan, buaya - buaya disana tak diberi makan. Dan kini mereka seolah menyumpahi Wilhelmina agar oleng dan jatuh kebawah agar menjadi santapan mereka.


John benar - benar manusia iblis, lebih baik ia dihukum cambuk daripada semacam ini. Kakinya rasanya sudah mati rasa, sangat pegal dan dia ingin duduk namun tak mungkin.Dari tempat ini telinga wanita itu samar - samar mendengar kegaduhan diluar.


***


Rumah besar ini terdiri dari tiga lantai. Halamannya sangat luas dengan ukuran sekitar 350 meter dari gerbang utama. Bisa dibayangkan betapa megahnya hunian tersebut. Kondisi bangunan yang sangat sepi mulai terdengar gaduh di dalam. Arthur yang akan masuk semakin mempercepat laju mobilnya yang kini memasuki halaman.


Sementara Aisha yang sudah terlebih dahulu masuk bersama Thomas dan lima lelaki lain sudah berada di ruang tamu rumah ini. Peliknya, bangunan ini terlihat megah dan mewah dari luar tapi dalamnya sangat kotor dan jorok. Bagai tak dihuni bertahun tahun.


Mereka semua juga sama, terlihat tidak membawa senjata satupun.


"Silahkan ikuti saya!" Ujar salah satu pria berbaju hitam yang entah muncul dari sudut mana. Lalu berlalu pergi begitu saja.


Aisha menahan tangan Thomas dan menggelengkan kepala saat laki - laki itu nampak akan menyerangnya.


"Kita ikuti dia." Ucap Aisha.


Dengan arahan dari anak buah John tadi, mereka sampai di sebuah ruangan yang didalamnya nampak seperti sebuah ruang rapat, ada banyak kursi dan satu meja besar dan layar untuk presentasi.Dengan beberapa rak buku yang berjejer di sepanjang dinding.


"Akhirnya kalian datang juga." John membuka suara. Pria itu duduk di salah satu kursi yang ada disana.


Aisha mengernyit, apa mau pria ini?


"Apa maumu?" Tanya perempuan itu.


"Seharusnya aku yang bertanya untuk apa kalian ke rumah ini. "


"Aku ingin menjemput Devan dan Wilhelmina yang kau culik brengsek!"


Dia mulai tersulut emosi saat John nampak santai.


"Dengan kondisimu itu, kau mau melawanku? Haha!"


"Dengarkan aku baik - baik nyonya Anderson, aku sebenarnya tidak tertarik mengusikmu, tapi berhubung kau adalah istri Arthur dan kau sudah menantangku dengan datang kesini, maka bersiaplah--" John menggantungkan kalimatnya.


Tangannya bergerak memencet sebuah tombol yang tertanam di meja. Sontak pintu di belakang mereka tertutup rapat. Aisha dan rombongannya menoleh ke belakang. Saat John menekan tombol itu untuk yang kedua kali, tiba - tiba terdapat dinding penyekat yang muncul dari atas, seperti terbuat dari besi yang kuat. Menghalangi pandangan mereka dari John. Jendela dan ventilasi udara tiba - tiba tertutup rapat, mereka masih sibuk mengamati sekitar hingga tidak sadar, mereka dijebak!.


Tidak ada oksigen didalam dan ruangan sangat gelap.


"****! Kita dijebak nona!" Thomas berteriak kesal. Ruangan di desain seperti ini hanya untuk mengecoh. Sebenarnya seluruh isi ruangan menggunakan teknologi canggih dan terbaru.

__ADS_1


"Jangan banyak bicara kalau kau tidak mau mati konyol disini."


Aisha tahu apa yang harus ia lakukan. Dia tahu apa yang harus dilakukan. Teknologi seperti ini sudah biasa ia saksikan mengingat jurusan yang ia ambil berhubungan erat dengan hal semacam ini.


__ADS_2