
Hallo readers!! Bab - bab masa kecil Aisha telah selesai ya. Episode - episode selanjutnya adalah versi Aisha dan Arthur yang dewasa.
Selamat membaca, :)
Seorang gadis muda yang mengenakan hoodie hitam beserta masker penutup wajah tengah bertarung dengan dua orang berbadan kingkong. Dengan secepat kilat, ia melumpuhkan dua pria yang mengeroyoknya. Tak butuh waktu lama, bahkan kurang dari lima menit saja sudah cukup baginya.
Ia meraih tas merah dari tangan salah satu pria. Tak lupa mengambil topinya yang tercecer di tanah karena perkelahian mereka. Ia pun memasang topi baseball itu pada kepala.
"Aku ingatkan ya om - om tampan, mencari uang itu dengan cara bekerja. Pekerjaan yang baik, bukan merampok seperti tadi. Apalagi ini pada nenek - nenek " Omel gadis itu sembari melipat tangannya di dada. Kedua preman pasar itu hanya bisa menunduk, tak pernah mereka sangka gadis yang menjulang di hadapan mereka sangat ganas. Meskipun bicara dengan lembut, entah mengapa itu lebih mirip pidato malaikat maut sebelum mencabut nyawa. Wajahnya tidak nampak, tertutup oleh masker dan topi yang dipakainya.
"Kenapa lihat - lihat? " Sewot " Kuperingatkan sekali lagi, cari uang yang benar! Jangan merampok, awas saja kalau kalian mengulanginya lagi " Kedua pria itu hanya diam membisu.
Perempuan muda itu merogoh saku hoodie nya, meraih dompet dan mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah dan mengulurkan pada kedua pria yang tersungkur dibawahnya.
"Ini, ambilah! Gunakan dengan baik untuk mencukupi kebutuhan keluargamu " Di dalam masker itu sebuah senyuman manis tersungging. Hati yang baik dan wajah yang manis, sungguh perpaduan yang sempurna.
"Be-benar ini untuk kami? " Tanya salah satu pria dengan terbata. Nurani mereka tersentuh, meskipun telah berusaha melukai gadis ini tapi kenapa dia masih berbuat baik pada mereka?
"Iya om, paman, atau bagaimana aku memanggilmu. Intinya terimalah uang ini dan bijaklah dalam menggunakan nya. "
"Te-terimakasih nona " Ia mengangguk, lalu melangkah menjauh dengan menenteng tas merah yang tadi dirampok.
Gadis cantik, manis nan baik hati itu adalah Aisha. Aisha Eldara Fernandez atau orang Amerika mengenalnya dengan El Taylor. Anak nakal yang gemar bermain petak umpet itu kini telah tumbuh menjadi gadis yang cantik dan berpendidikan. Sedikit bandel namun memiliki kepedulian yang tinggi. Sedikit cerewet juga. Ralat, sangat cerewet.
Aisha menyapu jalanan dekat pasar yang lumayan lengang. Matanya menangkap sesosok nenek tua dengan balutan baju lusuhnya yang terduduk di bangku pinggir jalan. Ia terlihat sedih karena kehilangan tasnya. Padahal disana ada uang untuk biaya sekolah cucunya yang dengan susah payah ia kumpulkan. Sedikit demi sedikit hingga menjadi bukit.
"Nenek... " Aisha mendekat dan mendaratkan bokongnya dekat sang nenek. Wanita tua itu mendongak menatap Aisha, dan alangkah girangnya dia kala melihat tas model jadulnya yang ditenteng gadis itu.
"Ini tas nenek kan? " Mengulurkan tasnya.
"Iya benar nak... Bagaimana kau bisa tahu?" Tanya sang nenek heran. Aisha melepas topi dan masker diwajahnya dan tersenyum.
__ADS_1
"Itu tidak penting, yang penting tas itu sudah kembali pada yang berhak " Ujar Aisha.
Nenek tua itu menatap lekat wajah Aisha, memandangnya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ia tersenyum dan membelai rambut panjang nya.
"Kau gadis yang sangat baik nak... Nenek akan berdoa pada Tuhan agar memberikan jodoh yang paling baik untukmu. Semoga hidupmu dipenuhi kebahagiaan " Doa baik tak henti terlontar dari mulutnya. Aisha senang menerima setiap doa yang dipanjatkan nenek itu. Baginya, doa yang tulus dari orang lebih berharga daripada pujian yang hanya mengharapkan harta.
"Terimakasih, aku pergi dulu ya " Aisha pamit pergi setelah mengucapkan selamat tinggal pada wanita itu. Wanita tua yang telah renta itu menyunggingkan senyum nya. Dan membatin dalam hati, Gadis muda sepertinya hampir punah di bumi ini. Dia berbeda dan sangat langka. Siapapun akan sangat beruntung mendapatkannya. Semoga kau selalu diliputi kebahagiaan nak...
***
"Gadis nakal kemari!! " Teriak Johan seraya mengejar Aisha. Berniat menjewer telinganya karena lagi lagi kabur tanpa sepengetahuan siapapun. Bukan apa apa, Johan melarang Aisha pergi pada waktu tertentu untuk menghindarkan putrinya dari bahaya. Tapi apa dayanya karena memiliki putri keras kepala seperti nya.
"Ampun ayah.... ampunn!! " Teriak Aisha sambil terkekeh, gelak tawa memenuhi udara. Johan tidak pernah serius saat memarahinya. Ia berlari terbirit - birit hendak menuju kamarnya, namun sampai pada belokan,
Brukk! Ia menabrak tubuh besar dan kekar Bima. Bima berkacak pinggang dengan mata yang melotot. Aisha yang menyaksikan itu hanya tercengir kuda. Menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan basa basi pada kakaknya.
"Kak Bima.. sedang apa disini? Aku mau kekamarku " Ujarnya yang tidak ditanggapi Bima. Sadar kondisinya terancam, Aisha dengan cepat menampakan tatapan puppy eyes nya yang bisa meluluhkan hati siapapun. Berharap kakaknya akan meloloskannya kali ini.
"Kak kumohon, aku ingin pergi dengan temanku setelah ini. Aku harus lekas bersiap kak " Bima tidak bergeming.
"Kak lihat itu! " Bima menoleh, dengan secepat kilat Aisha berbalik dan berlari kencang. Namun baru lima langkah, ia berhenti karena keempat kakak nya yang lain beserta Johan turut menghadang jalan sembari berkacak pinggang.
"Mau kemana gadis nakal? " Ujar mereka serempak.
Habislah dirimu Aisha bodoh sialan! Sekarang kau akan terjebak dirumah sepanjang hari Gerutu gadis itu dalam hati.
"Huh! baiklah aku menyerah, aku tidak akan keluar hari ini " Pada akhirnya ia menurut perintah semua orang untuk berdiam dirumah hari ini. Masalahnya adalah, hari ini sedang banyak mafia yang dikirim Mr. Taylor setiap tahun. Takutnya, kejadian yang dulu terulang kembali.
"Bosan sekali... " Gumam Aisha, gadis itu saat ini tengah berada pada perpustakaan besar di dalam mansion nya. Membaca adalah salah satu dari sekian banyak hobinya. Dan hal itu kian menambah wawasan dan membuatnya jadi yang paling cerdas dalam kelas. Namun entah mengapa, hari ini dia sangat bosan walaupun sudah membaca buku sains favoritnya.
Selang beberapa menit, ia memutuskan keluar kamar. Berniat mencari udara segar ditaman, rutinitas yang ia lakukan saat sedang suntuk. Ia bersenandung ria sambil berjalan menyusuri jalan menuju taman teratai.
__ADS_1
Tidak sengaja ia berseberangan dengan Yudhi.
"Mau kemana Sha? " Tanya Yudhi dengan bibir merekah.
"Ke taman " Singkat, padat, jelas. Pria yang kini genap berusia 37 tahun itu hanya menghela napas melihat kelakuan adiknya. Lucu sekaligus menjengkelkan.
"Jangan marah ya, inikan demi kebaikanmu juga " Bujuk Yudhi dengan mengeluarkan coklat dari sakunya. Coklat dan eskrim adalah salah satu cara meluluhkan hati adiknya.
"Tidak mau! " Sok jual mahal, padahal dalam hati ia mau. Tahan Sha, jangan gampang luluh, bisa hancur harga diriku.
"Yakin? Yasudah kalau begitu kakak akan memberikannya pada pelayan saja kau " Ia sudah akan memanggil salah satu pelayan yang melintas, namun Aisha dengan cepat meraihnya.
"Lila sedang sakit gigi, berikan padaku saja aku akan memberikannya pada pelayan yang lain " Ujarnya lalu melenggang pergi.
Yudhi hanya terkekeh sambil menggelengkan kepalanya. Tidak pernah berubah.
Semilir angin yang berhembus membelai lembut wajah seorang gadis manis yang tengah duduk di pinggir kolam teratai. Pemandangan bunga - bunga yang bermekaran serasa menyejukan hati.
Inilah kebiasaan Aisha, memandangi teratai ciptaan Tuhan yang begitu elok di matanya. Seakan bunga itu menggambarkan ibunya yang penuh kasih sayang.
Aisha tersenyum membayangkan saat ia masih kecil dan bersama Alina tengah menghabiskan waktu luang disini.
Aku bahagia ibu.. Kau tidak perlu risau, kakak dan ayah membesarkanku dengan begitu baiknya. Namun jika ibu disini aku pasti akan lebih bahagia.
Kehilangan figur ibu memang menjadi ujian tersendiri bagi anaknya. Tak terkecuali Aisha. Gadis itu telah mengetahui semua rahasia yang telah lama disembunyikan darinya, termasuk organisasi yang dipimpin ayahnya.
Bersambung...
Alhamdulillah, akhirnya bisa update episode yang dewasanya. 🤗🤗🤗
Intinya, terimakasih buaanyakkk banget yang sudah bersedia membaca novel yang masih amatir ini. Bukan penulis profesional, bukan juga orang yang ahli, aku hanyalah manusia gabut yang lebih memilih menyalurkan pikiran dalam novel daripada kelayapan tidak jelas yang belum tentu berfaedah.
__ADS_1
Terimakasih, :)
😁😁😁