Gadis Manis Milik Mafia

Gadis Manis Milik Mafia
BAB 89


__ADS_3

Sudah sebulan ini Aisha mengikuti saran dan anjuran dari Vely. Berdamai dengan masa lalunya. Melawan rasa takut dan trauma yang dideritanya. Yang dikatakannya adalah benar. Dahulukan logika, tidak ada sesuatu yang buruk yang akan terjadi. Masa lalu hanyalah pengalaman yang membuat kita bisa memetik hikmah di dalamnya.


Sebulan ini dia tidur dalam keadaan kamar yang gelap gulita. Tidak ada penerangan, walaupun awalnya Aisha sempat histeris namun lama kelamaan ia mulai terbiasa. Apalagi selalu ada Arthur yang setia mendampinginya.


Terkadang mereka berjalan kaki malam malam mengelilingi mansion yang gelap.


"Sepertinya aku mulai terbiasa dengan semua ini. Hal yang tidak pernah aku lalui dalam hidupku. Ternyata tidak semengerikan yang kukira. " Aisha berdiri tegak di depan cermin. Mematut dirinya yang sudah siap untuk berangkat ke kampus.


"Aku sudah siap.." Arthur yang baru saja keluar dari walk in closet seketika memeluk istrinya dari belakang.


"Kita berangkat sekarang? " Sambungnya lagi.


"Ayo, aku sudah terlambat. Oh ya, beberapa hari kedepan sepertinya aku akan pulang agak lambat dari biasanya. Kau tahukan, aku sedang menyusun skripsi. " Tukas Aisha seraya membenahi dasi suaminya.


"Tentu saja, ayo!" Mereka memutuskan tidak sarapan pagi hari ini. Mengingat hari sudah mulai siang.


🌿🌿🌿


Sebulan ini dijalani Billy dengan penuh perjuangan. Harapan akan mendapat wanita yang disukainya sejak lama berkobar di dadanya. Ia selalu mengkhayal, seraya menatap pantulan wajah nya di depan cermin. Bahwa kelak perempuan itu akan menjadi miliknya.


Ini bukanlah cinta, lebih tepatnya nafsu untuk memiliki hal indah yang susah ditaklukan. Dimana itu akan menciptakan kepuasan tersendiri karena berhasil memilikinya.


"Bagaimana, sudah kau atur semuanya?" Tanya Billy pada seorang lelaki bertopi. Pria itu hanya mengangguk.


"Seperti biasa, kau kan tahu aku sangat bisa diandalkan. " Tukasnya. Kakinya melangkah menjauh sesaat setelah Billy mengibaskan tangannya.


Otaknya sangat cerdik. Ia mendekati Aisha dan Myara layaknya orang baru yang tidak punya teman. Sehingga kedua gadis itu pun menjadi tak tega ketika melihat dirinya duduk termenung sendiri di meja kantin.


Akhirnya lambat laun mereka tak keberatan apabila Billy ikut duduk bersama.


Contohnya seperti saat ini.


"Hai girls, boleh aku duduk disini?" Billy tersenyum cerah seraya melambaikan tangannya.


"Tentu saja." Balas Aisha. Ia mulai terbiasa dan tak terlalu terusik, sejak Billy berkata bahwa ia sudah punya kekasih. Walaupun itu belum tentu kebenarannya. Tapi ketiganya sering duduk bersama saat jam istirahat.


"Bagaimana kabarmu Bil?" Tanya Myara. Perempuan itu juga telah akrab dengan nya. Alasannya karena pria ini adalah seseorang yang ramah, humoris dan pandai mencairkan suasana. Wanita manapun pasti akan nyaman di dekatnya.


"Aku tidak begitu baik kali ini." Memasang mimik wajah sendunya. Kedua perempuan itu mengernyit heran.

__ADS_1


"Kenapa?" Tanya mereka bersamaan.


"Karena kalian tidak mengucapkan selamat ulang tahun untukku."


"Jadi kau berulang tahun!"


"Yes!"


"Wahh! Selamat ulang tahun Bil, aku tidak tahu soal ini. Semoga apa yang kau cita citakan terwujud. " Myara memberi selamat seraya berjabat tangan dengannya.


"Terimakasih. Kau tidak mengucapkan sesuatu padaku?" Beralih menatap Aisha.


"Selamat ulang tahun Bil, maaf aku tidak tahu hari ini adalah hari kelahiranmu." Perempuan itu ikut menjulurkan tangannya. Dibalas dengan senang hati oleh Billy.


Perbincangan terus berlanjut diselingi dengan canda tawa ketiganya. Makanan dan minuman menjadi pelengkap. Billy yang selalu bisa membuat suasana cair dan menyenangkan, mudah mendapat perhatian semua orang.


"Aku permisi ke toilet dulu. " Aisha beranjak dari duduk. Mengambil tas dan melangkah menuju toilet untuk menunaikan hajatnya.


***


Aisha yang baru saja keluar dari toilet wanita, mengernyitkan keningnya kala melihat seorang pria yang sedang berdiri disana.


"Billy? Sedang apa kau disini?" Tanya Aisha heran.


"Apa yang kau lakukan!!" Bentak Aisha tak terima. Matanya menatap tak suka pada pria di depannya.


"Maaf, maafkan aku Sha. Jujur saja, aku sangat menyukai mu sejak dulu. Tapi sekarang aku sadar karena kau sudah bersuami. Maafkan aku, anggap saja itu adalah pelukan pertama dan terakhir." Billy memelaskan wajahnya.


Aisha menarik napas dalam. Ia tahu, Billy memang masih menyimpan rasa padanya. Tapi berhubung ini adalah ulang tahun pria itu, jadi anggap saja tadi adalah pelukan terakhir agar Billy dapat melupakannya.


"Sudahlah, aku akan pergi." Aisha beranjak daisana, namun Billy mencekal tangannya.


"Apa kau sudah memaafkan ku?" Tanya nya lagi. Mendapat tatapan tajam membuatnya melepaskan tangan putih yang ia genggam.


"Maaf,"


"Dengar Bil, aku harap kau melupakan segala kenangan masa lalu. Jika kau masih ada rasa padaku, lupakan saja aku. Carilah perempuan lain diluar sana. Aku yakin kau dapat menemukannya." Seru Aisha lalu mengayunkan kakinya pergi darisana. Meninggalkan Billy yang masih berdiri mematung seraya menatap kepergiannya.


Bagaimana bisa aku melupakan perempuan sesempurna dirimu?

__ADS_1


***


Beberapa hari ini adalah jadwal terpadat bagi Aisha. Sebenarnya bukan hanya dia saja, tapi Myara dan mahasiswa lain seangkatannya. Berangkat pagi pagi dan pulang petang sudah biasa ia lakukan. Bahkan pernah sekali dia pulang hingga larut malam, membuat Arthur memarahinya. Pria itu juga merasa istrinya tidak memerhatikannya lagi sekarang, jarang sekali Aisha memasangkan dasinya walaupun ia yang menyiapkan semuanya. Sarapan di rumah pun jarang, membuat hubungan mereka jadi sedikit renggang.


"Kau tidak akan memasangkan dasiku lagi?" Tanya Arthur sedikit kesal saat melihat istrinya sudah akan membuka pintu kamar. Aisha berbalik, menghampiri suaminya yang tengah merajuk.


"Maafkan aku Arthur, akhir akhir ini aku sibuk. Kau tahukan, sebentar lagi aku mendekati kelulusan. " Aisha memasangkan dasi pada kerah kemeja suaminya.


"Hem..pulang jam berapa hari ini? Biar aku menjemputmu. " Seru Arthur dengan bibir yang menyusuri leher istri nya. Aisha bergidik geli, apalagi ketika tangan Arthur sudah merambah kemana mana.


"Arthur.. "


"Sebentar saja.. " Lirihnya tanpa menghentikan kegiatan yang sedang ia jalankan. Ia berdecak kesal kala Aisha menjauhkan tubuhnya.


"Arthur, aku sudah terlambat. Lagipula kau juga ada rapat pagi ini kan? Nanti malam saja ya? " Bujuknya seraya mengelus lembut rahang kokoh di depannya.


"Hemm... ayo kita berangkat. " Melenggang pergi darisana dengan hati yang sedikit kesal. Entah kenapa, sepertinya Arthur merasa bahwa kini perhatian istrinya terbagi dua.


🌿🌿🌿


Aisha yang tengah menapaki lantai menuju kelasnya. Sesekali mendapat sapaan dari mahasiswa yang ia kenal. Sambil mengecek ponselnya ia terus berjalan. Tiba tiba tangannya tertarik hingga membuatnya terlonjak kaget.


"Billy kau gila! Apa yang kau lakukan! Lepaskan tanganku! " Ia mengibaskan tangannya yang tengah digenggam erat pria gila itu. Billy tampak berjongkok dengan tangan yang menggenggam erat tangan Aisha.


"Aku tidak bisa melupakanmu. Beribu usaha telah kulakukan, tapi nyatanya aku sangat mencintaimu. Aku tahu kalau kau menikah dengan Arthur Anderson tidak didasari cinta. Lantas kenapa mempertahankan hubungan yang tak membuatmu bahagia? Terimalah cintaku Sha? " Dia masih berjongkok. Kini mereka menyedot perhatian semua orang. Para lelaki dan wanita bergerombol menyaksikan seraya bersorak agar Aisha menerima pernyataan cintanya.


"Sudah terima saja! Dia sangat mencintaimu!"


"Dia tampan dan kaya, ayahnya adalah pengusaha terkenal. Terima saja!"


"Kau akan menyesal seumur hidup kalau tidak menerimanya."


Begitulah teriakan para warga kampus yang membuat Aisha mendelik tajam. Bisa mati dia karena terkena semburan api amarah Arthur nanti. Sontak ia menghempaskan tangan Billy dengan kasarnya, bahkan tubuh pria itu terjungkal ke belakang.


"Kau! Dasar gila! Tidak tahu malu! Bisa bisanya kau menyatakan cinta pada wanita yang sudah beristri!" Maki Aisha menancap telak. Semua orang terdiam. Senyap seketika, hanya ada bisikan bisikan para mahasiswa lainnya. Aisha melangkah menjauh meninggalkan Billy yang melayangkan tatapan tajam padanya.


Malu, itulah yang kini pria itu rasakan. Sudah mengungkapkan perasaan nya di depan khalayak ramai tapi ternyata ditolak. Bahkan dia didorong dengan keras hingga terjungkal ke lantai. Apalagi yang lebih memalukan daripada ini.


Terdengar gunjingan orang orang. Entah membicarakan apa namun ia masih dapat mendengarnya. Pria itu bangkit, meraih tasnya yang tercecer di lantai.

__ADS_1


Kau akan merasakan akibatnya karena berani mempermalukanku. Ini adalah penghinaan terburuk di dalam hidup seorang Billy Deano.


Perasaannya cinta yang tak terbalaskan, membuatnya berubah menjadi nafsu balas dendam.


__ADS_2