
Arthur mendekati istrinya, "Kau tidak apa apa? " Tanya pria itu khawatir. Aisha menggeleng.
"Aku baik Arthur, aku pikir kau --"
"Sudah diam! Ayo kita kerumah sakit." Tutur Arthur seraya meraba luka di sudut bibir Aisha.
"Aaww! " Pekik gadis itu.
"Maaf, maaf, ayo " Ajak Arthur seraya menggenggam tangan istrinya.
"Tidak perlu Arthur, aku baik baik saja. Kita pulang saja ya, aku sangat lelah sekali." Rengek Aisha dengan wajah sendunya. Ia tidak bohong, badannya terasa pegal semua. Apalagi ditambah rentetan kejadian hari ini yang membuatnya semakin letih saja.
"Tidak! Kita akan ke dokter! " Tegas Arthur pada istrinya.
"Aku bisa mengobati ini sendiri, kau tidak lihat, ini hanya luka kecil.. aku sudah biasa mendapatkannya. " Seru Aisha.
"Sudah biasa? " Dahi Arthur berkerut heran.
"Mmm, maksudku luka ini tidak ada apa apanya. Aku adalah gadis kuat yang cantik, cerdas, baik hati, imut dan menggemaskan." Aisha tertawa ringan, berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Kau ini ya! " Pria itu refleks mencubit hidungnya gemas. Namun beberapa saat kemudian, ia memperbaiki raut wajahnya. Lalu ia memapah gadis itu menuju mobil yang agak jauh darisana.
Sesuai permintaan Aisha, Arthur tidak akan membawanya ke rumah sakit. Gadis itu daritadi merengek dengan dalih bahwa ia bisa mengobati ini sendiri. Terpaksalah pria itu membawanya pulang.
*
*
*
"Sini, biar aku yang mengobatinya! " Ucap Arthur dengan nada datar, melihat Aisha yang tengah memangku kotak P3K.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri. " Tolak Aisha halus. Namun bukan Arthur namanya kalau tidak keras kepala. Pria itu menyambar kotak di pangkuan istrinya dan mulai mengobati lukanya.
"Aaww! " Pekik Aisha.
"Pelan - pelan Arthur, kau niat mengobatiku atau tidak? " Protes Aisha.
"Iya - iya, cerewet sekali. "
Arthur melekatkan plester di pelipis Aisha. Lalu ia mengembalikan kotak P3K itu pada tempatnya.
Saat ini adalah waktunya makan malam. Aisha, Arthur dan Rey sudah duduk rapi di meja makan. Sedangkan Rania, wanita itu pergi ke mansion nya sejak tadi pagi.
__ADS_1
"Apakah aunty tidak akan kembali kesini lagi?" Tanya Aisha dengan tatapan sedih yang menatap suaminya.
"Dia akan berada disana beberapa hari. Dia akan kembali nanti. " Sahut Arthur sambil meneruskan makannya.
Meja makan kembali hening sejenak. Semua orang fokus melahap hidangan yang tersaji di meja. Reynard yang biasanya membuat suasana hidup entah mengapa menjadi diam sekarang. Begitupun Arthur, sepertinya mereka sedang berselisih, begitulah yang ditangkap Aisha.
"Kau tidak memasak daun lagi? " Suara Arthur tiba tiba memecah keheningan beberapa saat yang lalu. Aisha mengernyitkan kening heran.
"Daun? Kau ingin makan daun? " Tanya Aisha yang diangguki suaminya.
"Baiklah, aku akan mengambilnya. " Gadis itu beranjak dari duduknya, melangkah menuju dapur mencari apa yang diinginkan suaminya. Lalu ia kembali lagi dan duduk disamping suaminya.
"Ini dia! Makanlah Arthur. " Ujar Aisha seraya meletakan sebuah mangkok yang isinya membuat Arthur mendelik kesal.
"Apa ini? " Protes Arthur memerhatikan daun yang dibawa Aisha. " Kau pikir aku ini kambing! "
"Itu namanya daun salam, kau bilang tadi ingin makan daun, di dapur hanya ada daun salam. Jadi aku membawanya untukmu. Kau itu, itu harganya sangat mahal dan susah di dapat, aku membelinya di toko Asia. " Seru Aisha dengan wajah tanpa dosanya. Bahkan dia tak menyadari perubahan gurat wajah Arthur yang sudah mengepulkan asap. Sedangkan Reynard, ia tampak menahan senyum disana, tanpa punya keberanian untuk ikut menimpali.
"Ada apa? " Tanya Aisha.
Sabar Arthur, sabar. Batin pria itu dalam hati. Mencoba menetralkan rasa jengkel dan raut wajah nya.
"Besok aku ingin makan daun yang kau masak tempo lalu. " Kata Arthur.
Seusai makan malam dengan sedikit perdebatan kecil tadi, Aisha sudah masuk dan terlelap di dalam kamarnya. Arthur yang baru saja menuntaskan pekerjaannya pun keluar dari ruang kerja. Pria itu menyugar rambutnya dengan jemari tangan seraya kaki yang melangkah menuju kamar. Namun langkah kakinya terjeda kala suara Rey menghentikannya.
"Arthur! " Panggil Rey lalu menghampiri sahabatnya itu. Arthur berbalik dan menyetel raut datarnya.
"Maafkan aku, " Tutur Rey penuh sesal seraya menundukan pandangannya.
"Untuk apa kau minta maaf? "
"Aku tahu aku salah, seharusnya aku tidak mengusulkan ide bodoh itu, sampai Aisha menjadi terluka seperti itu. " Ujar Reynard.
"Aku akan memaafkanmu dengan satu syarat." Arthur menarik salah satu sudut bibirnya jahil. Akan sangat seru apabila bisa menyuruh Rey dan dia akan mengangguk tanpa banyak bicara.
"Apa syaratnya? "
"Kau harus menuruti tiga perintahku tanpa banyak bantahan. " Tegas Arthur penuh penekanan. Rey nampak menimbang keputusan sejenak, ia adalah orang yang paling hafal akal busuk bosnya ini.
"Baiklah, aku setuju. Katakan, apa yang kau perintahkan. " Putus Rey kemudian.
"Yang pertama, aku perintahkan agar kau lebih berusaha lagi untuk menyelesaikan tugas yang sudah aku embankan padamu bertahun tahun, tapi kau tidak pernah membawa hasil yang memuaskan. " Perkataan Arthur menancap telak pada dada Rey, seolah menampar harga dirinya sebagai mafia terbaik kepercayaan ketua. Tapi ia tak ingin menampik fakta, bahwa tugas berat yang diembankan Arthur padanya memang sangat sukar dituntaskan.
__ADS_1
"Aku akan berusaha melakukan itu dengan sebaik mungkin. Aku butuh waktu bos. " Ujar Rey. "Lalu apa yang lainnya? " Tanya Rey lagi.
"Sisanya aku akan memintanya disaat yang tepat. " Huh, jika sudah begini maka dipastikan akan ada malapetaka bagiku, batin Rey melengos kesal. Tapi ia senang, setidaknya rasa bersalahnya sedikit berkurang karena Arthur memaafkannya.
"Oke " Sahut Rey pasrah. Lalu ia berbalik dan kembali kedalam kamarnya.
Arthur masuk kedalam kamarnya, manik matanya menangkap Aisha yang sudah terlelap dengan posisi miring. Perlahan ia turut merebah diatas ranjang. Menarik selimut agar membalut tubuhnya. Disaat ia akan terpejam, pria itu melihat ponsel Aisha yang masih menyala di sebelahnya. Terselip rasa penasaran dalam lubuk hati Arthur, karena selama mereka menikah, tidak ada yang pernah menyentuh ponsel masing masing. Arthur meraih benda pipih itu, ia sekali lagi melirik istrinya, memastikan bahwa gadis itu tidak tahu apa yang ia perbuat.
Arthur mulai mengotak atik ponsel Aisha, ia membuka chat di ponsel istrinya.
Arthur, Myara yang cantik, Reynard si tukang membual, Kakak tersayang, Ayah pahlawanku, Kak Bima keren, Kak Arjuna ganteng, kak Nakul yang baik, Kak Dewa yang imut, Jack yang galak. Haha, Arthur tertawa sendiri membawa setiap kontak yang dinamai Aisha dengan unik. Tapi tunggu, ada yang salah disini.
Dia menamai semua kontaknya dengan baik, sedangkan aku hanya Arthur saja! Dasar gadis manja, tengil, kecil dan tidak bertenaga!.
Arthur melirik sebal pada seorang putri jelita yang terlelap di sampingnya. Terbesit ide brilliant di otak Arthur. Ia mengedit nama kontaknya pada ponsel Aisha.
'My Handsome Husband '
Arthur tersenyum membayangkan reaksi Aisha saat tahu apa yang ia lakukan.
Ia membuka galeri foto Aisha. Langsung ia disambut oleh deretan foto selfie istrinya. Kebanyakan gadis itu berselfie dengan Yudhi, Arjun, Leo, Simmba, dan lainnya. Tapi yang paling banyak adalah koleksi foto bersama Yudhi.
Apa ini! Mereka itu adik kakak atau sepasang kekasih? Kenapa fotonya mesra sekali.
Gerutu Arthur saat melihat adegan foto istrinya dan Yudhi.
Apa, kurang ajar lelaki itu! Dia bahkan memeluk dan mencium pipi gadis ini?
Wajar saja apabila mereka berpose seperti itu, karena Yudhi sangat sangat sangat menyayangi adik kecilnya.
Pria tampan itu kembali meletakan ponsel Aisha pada posisi semula. Namun pikirannya masih belum dapat diajak kompromi, ia menyambar ponsel nya sendiri diatas nakas. Lalu mencari kontak perempuan di sebelahnya.
Ia juga mengedit nama Aisha menjadi
'My Pretty Wife'
Ia meletakan ponsel itu pada posisi semula. Memiringkan tubuhnya hingga matanya dapat menjangkau wajah cantik nan manis Aisha.
Dia memang cantik dan manis. Batin Arthur dalam hati. Perlahan ia mendekatkan wajahnya kepada Aisha. Mengecup dahi dan pipinya singkat sebelum kembali ke posisi semula.
Apa yang aku katakan dan aku lakukan. Dia biasa saja, tapi dia memang cantik sih. Arthur menggelengkan kepalanya berusaha menepis pikiran aneh yang menghampiri.
Bersambung...
__ADS_1