
Hari sudah menunjukan pukul 5 sore, matahari sudah mulai meredup, bersiap kembali ke peraduannya. Semburat berwarna oranye menemani sore Aisha yang tengah menikmati secangkir teh hangat seraya membaca buku favoritnya. Ya, beginilah caranya menghabiskan harinya setelah mengetahui kehamilannya, Arthur tidak mengijinkan dia beraktivitas yang berlebihan. Tidak pernah membiarkannya kelelahan, dia hanya bisa olahraga ringan dan yoga khusus ibu hamil. Bahkan untuk Krystal dan Devan, suaminya memutuskan membayar pengasuh untuk keduanya, meski Aisha juga turut mengasuh Devan dan Krystal jika Arthur sudah berangkat bekerja.
"Hallo sayang," Aisha tengah mengangkat sebuah panggilan dari ponselnya, dengan antusias ia berdiri, meletakan buku di tangannya dengan asal ketika menerima panggilan dari suaminya.
"Maaf sayang, hari ini aku ada acara dinner dengan tuan Barnold, aku ingin mengajakmu tapi kau pasti tidak akan nyaman karena acaranya sampai tengah malam." Suara khas laki- laki di seberang sana terdengar gugup. Perempuan berambut coklat tua itu merengut, padahal malam ini ia berencana akan mengadakan sebuah dinner romantis di taman belakang.
"Dinner? Kenapa kalau hanya dinner harus sampai tengah malam? Ada acara apalagi setelahnya?" Aisha memberondong suaminya dengan pertanyaan.
"Maaf, setelah itu ada pesta yang diadakan tuan Barnold juga, aku benar - benar tidak bisa menolak karena dia adalah salah satu penyokong besar perusahaan." Balas Arthur tidak enak hati. Ia juga tak tega meninggalkan istrinya sendiri di mansion. Belum lagi, para kenalannya sesama pengusaha yang akan menghadiri pesta tentunya akan membawa pasangannya masing - masing. Bayangkan saja seorang Arthur Anderson yang pastinya akan tersorot kamera berjalan sendirian mendatangi acara. Itu mengurangi rasa percaya dirinya sebenarnya.
"Pesta apa?" Tanya Aisha lagi dengan rasa penasaran yang semakin membuncah.
"Aku kurang tahu."
"Baiklah, kau boleh pergi aku mengizinkanmu."
"Benarkah? Kau tidak keberatan?"
"Tidak, kenapa aku harus keberatan"
"Kenapa aku harus keberatan kalau aku juga akan kesana?"
__ADS_1
"Kau memang terbaik sayang, aku janji tidak akan lama. Aku janji tidak akan mabuk, aku hanya akan minum soda saja. Aku janji tidak akan lama."
"Oke, bye?"
"Bye, jangan lupa makan jaga kesehatan dan sampaikan salamku pada bayi kita."
"Iya Arthur.."
•
•
"Selamat datang nyonya Anderson." seorang pegawai wanita menyapa dan tersenyum ketika berpapasan dengan istri pemilik kantor tempat ia bekerja. Aisha membalas dengan senyuman dan anggukan yang sopan lalu memasuki ruang kerja CEO tanpa mengetuk pintu. Tentu saja, ia mempunyai akses keluar masuk ruangan tersebut dengan bebas.
"Hmm, ya " Arthur yang masih membaca sebuah berkas di tangannya belum sadar siapa yang sedang duduk manis di depannya. Beberapa detik kemudian, pria itu meletakan sebuah map yang semula menghalangi pandangannya, matanya menangkap wajah cantik istrinya yang sudah terpoles make up dengan sempurna.
"Loh, sayang! Bagaimana kau bisa ada disini? Kapan kau datang?" Rasa terkejut tak dapat ditutupinya karena kedatangan Aisha yang tiba - tiba tanpa memberi kabar. Padahal Arthur baru saja akan berganti pakaian di ruang khusus yang tersedia guna bersiap - siap menghadiri undangan makan malam dari Tuan Barnold.
"Sejak tuan sibuk membaca berkas tadi." Seloroh Aisha tertawa kecil. Perempuan berambut panjang itu tampak sangat bersemangat akan niatnya datang kemari. Yaitu menemani suaminya pergi dinner dan pesta. Semenjak hamil, Aisha jarang keluar rumah untuk acara - acara seperti itu. Apalagi pada trimester pertamanya dulu, dimana dia selalu mual dan muntah pada beberapa kondisi. Yang membuatnya merasa sebal sendiri saat sedang jalan - jalan keluar rumah.
"Aku sengaja kesini dengan berdandan seperti ini Arthur, aku akan menemanimu dinner sekaligus ke pesta yang diadakan tuan Barnold.Lihat, aku membawa pakaian ganti, boleh aku berganti pakaian disini?" Tanyanya penuh semangat yang menggelora seraya memandang suaminya dengan tatapan yang sangat manis mirip anak kucing. Jurus andalannya saat sedang meminta suatu hal pada suaminya yang kemungkinan besar tidak akan dipenuhi.
__ADS_1
"Tapi.." Arthur tampak tak setuju. Bukan karena tak ingin mengajak sang istri tercinta untuk pergi bersenang - senang. Masalahnya adalah, pesta yang akan diadakan tuan Barnold adalah pesta perayaan ulang tahun putri tunggalnya, yang tentunya akan banyak dihadiri para anak muda. Arthur khawatir Aisha akan kenapa - napa, belum lagi kehamilan istrinya dalam kondisi langka yang membuatnya harus ekstra hati - hati dalam melindungi calon buah hati.
"Tidak ada tapi - tapian! Istrimu yang sedang hamil ini sudah susah payah berdandan sampai secantik ini, jangan bilang kau akan membatalkan semuanya." Sungutnya kesal seraya memasang ekspresi memohon pada suaminya. Ada dua alasan kenapa Aisha sangat ingin hadir. Pertama, karena ia tak mau ditinggal suaminya pulang malam. Kedua, karena disana pasti banyak gadis - gadis berpakaian minim yang berkeliaran di segala penjuru. Aisha merasa was was, tak rela suaminya digoda para wanita. Apalagi ia tahu, wanita manapun pasti akan tergiur dengan aura wibawa seorang pengusaha tampan dan sukses di kota New York. Tentu saja, siapa yang tak mengenal Arthur Anderson sedangkan wajahnya selalu ada di majalah bisnis bahkan media sosial manapun.
"Aku pasti akan membatalkannya. Baiklah, kita tetap akan memenuhi undangan tuan Barnold untuk dinner sekaligus membahas masalah proyek, tapi untuk datang ke pestanya, kurasa itu tidak perlu." Putus Arthur kemudian, pria itu berdiri dan menuntun istrinya untuk duduk diatas sofa yang tentu lebih nyaman daripada kursi. Menggenggam jemari putih wanitanya.
"Tapi sayang, tuan Barnold pasti akan tersinggung. Kau tahu kan, dia adalah salah satu investor yang sangat berpengaruh bagi perusahaanmu. Kalau kau kehilangan dia, itu akan sangat mempengaruhi perusahaan." Bujuk Aisha. Saat di Indonesia dulu, ayah Johan pernah menjalin kerjasama dengan tuan Barnold dari Jerman, Aisha yang turut menangani proyek itu paham betul bagaimana kepribadian pria cukup umur tersebut. Ia tipikal orang yang mudah tersinggung bahkan dulu hampir membatalkan kerjasama dengan ayah Johan.
"Aku lebih takut kehilanganmu daripada dia." Tutur pria tampan itu. Aisha tersipu malu, entah sejak kapan pria yang berstatus sebagai suaminya itu pandai menuturkan kata kata manis yang mampu membuatnya seolah terbang ke awan.
"Ck, kau ini! Kau tidak akan kehilangan aku, aku akan tetap disini Arthur, aku ini istrimu dan akan selalu bersamamu."
"Baiklah, kau boleh ikut. Tapi.."
"Aku janji akan memberitahumu kalau merasa tidak nyaman atau mengantuk." Ujar Aisha yang sudah hafal diluar kepala ultimatum dari prianya.
"Good girl." Pria itu mengacak rambut istrinya gemas. Membuatnya wanita kesal karena rambutnya jadi berantakan. Tapi Aisha senang, Arthur sudah banyak berubah, pria dengan tubuh atletis itu semakin hari semakin memanjakannya. Membuatnya merasa sangat diinginkan dan berharga.
"Kau dan anak kita adalah sumber kebahagiaan ku yang dikirimkan Tuhan sebagai ganti atas kepergian orang tuaku." Bisiknya mesra di dekat perut wanitanya yang menyembul. Yang didalamnya terdapat benih Arthur yang sedang berjuang untuk tumbuh, menyempurnakan bentuknya untuk siap menghadapi kerasnya dunia. Aisha ibarat malaikat yang dikirim padanya untuk membawanya menjadi lebih baik, pria itu berjanji akan mengusahakan apapun agar dapat mengukir senyuman manis yang selalu membuat hari harinya terasa lengkap dan sempurna.
•
__ADS_1
•