Gadis Manis Milik Mafia

Gadis Manis Milik Mafia
BAB 103


__ADS_3

Pemandangan taman yang semakin asri pada siang itu begitu menyejukkan kedua manik mata indah Aisha yang saat ini sedang duduk diatas kursi yang ada di balkon kamarnya.


Perempuan itu nampak sedang berbicara dengan seseorang pada ponselnya.


Lima belas menit lalu hingga saat ini ia menelepon Myara yang saat ini sedang ada di rumah ayahnya. Kebingungan membuatnya bertanya pada sahabatnya tindakan apa yang harus ia ambil saat ini.


Karena jujur Aisha bingung harus berbuat apa menghadapi masalah dalam rumah tangganya.


"Sudah lakukan saja saran pertama yang aku berikan, temui Arthur baik baik dan jelaskan semuanya. Aku yakin jika kau bicara dari hati ke hati dia akan mempercayaimu." Ujar Myara di seberang sana yang membuat wajah Aisha semakin bimbang.


Masalahnya Arthur tidak mau mendengarkan dia dan tak memberinya kesempatan menjelaskan.


"Dia tidak pernah mau mendengarkan aku Myara, aku juga bingung harus menjelaskan apa karena aku belum punya bukti bahwa aku tidak ada hubungan apapun dengan Billy.


Arthur juga semakin marah karena aku ditolong oleh Rithik dan tidak pulang beberapa hari."


Panjang lebar perempuan itu menumpahkan keluh kesahnya pada lawan bicaranya.


"Dan aku juga rasanya emosi setiap melihat wajah Arthur." Sambungnya lalu mengehela napas beratnya.


Mungkin ini efek dari hormon kehamilannya sehingga membuatnya sering bertingkah bodoh dan terkesan aneh di mata orang.


Tidak ada jawaban. Keheningan tercipta beberapa saat diantara mereka sebelum Aisha mendengar isak tangis diseberang sana.


"Myara kenapa kau menangis?!" Panik Aisha yang khawatir akan keadaan sahabatnya.


Apakah ia salah bicara?


Myara masih sesenggukan hingga ia berucap,"Ini semua karena aku Sha, kalau saja saat itu aku menuruti perkataan Rey tentu saja aku tidak akan diculik.


Kau tidak perlu menyelamatkan aku dan melakukan semua ini hingga akhirnya memicu kesalahpahaman diantara kalian. Ini semua memang gara gara aku!.Hiks!"


Myara merasa amat bersalah menyebabkan celah diantara hubungan kedua orang dekatnya.


Andai saja ia tidak diculik, Aisha tak perlu menuruti keinginan Billy.


Ini semua memang salahnya!


"Tidak, ini bukan salahmu. Ini salahku yang seharusnya jujur pada Arthur sedari awal. Saat itu aku tidak berpikir panjang karena tidak ingin kekasih kakak ku terluka.

__ADS_1


Dan aku mengatasi semuanya sendiri karena aku tidak mau merepotkan Arthur yang sedang ada masalah dalam perusahaan." Ucap Aisha.


"Tapi tetap saja akar masalahnya karena aku. Kau tenang saja, aku akan kesana sore ini setelah mengantarkan ayah kerumah sakit untuk check up. Aku sendiri yang akan minta maaf pada Arthur dan menjelaskan segalanya."


Aisha termenung, mungkin dengan Myara yang menjelaskan maka ia akan percaya. Ya, kenapa ia tidak terpikirkan dari dulu.


"Baiklah, terimakasih. Dan semoga ayahmu lekas sembuh."


"Iya, dan Aisha?"


"Apa?"


"Aku sudah menceritakan semuanya pada Reynard sejak beberapa hari yang lalu."


***


Ruangan kerja Arthur yang didesain campuran warna silver dan putih kembali rapi seperti semula setelah sebelumnya bagaikan kapal yang pecah. Para pelayan dengan telaten membersihkan semua itu meskipun tak sedikit yang menggerutu karena barang barang mahal banyak yang pecah.


Disaat Arthur memasuki ruangan dan menutup pintu lalu ia membalikkan tubuhnya, tatapan tajam Rey sontak menyambutnya yang membuat lelaki itu heran.


"Ada apa denganmu? Kenapa kau memandangku seperti sedang mengajak perang denganku?!"


"Kaulah selalu membuatku berada dalam masalah Arthur! Dari dulu hingga kini aku selalu pusing dengan kelakuanmu itu!" Rey menumpahkan kekesalannya karena sikap Arthur yang tak pernah berubah sejak mereka kecil hingga dewasa.


Dan ia juga harus pusing memikirkan kehidupan rumah tangga sahabatnya sedangkan rumah tangganya sendiri saja tidak harmonis.


Tidak bisa dibayangkan betapa lelahnya Rey harus menghadapi ini semua seorang diri.


Sedangkan Arthur malah sibuk dengan keegoisan dan keras kepalanya.


"Apa yang kau katakan Rey? Langsung pada intinya, jangan berbelit belit dan membuatku marah!" Sentak Arthur pada asistennya itu.


"Aku seharusnya yang marah bukan kau! Kau tahu betapa pusingnya aku?! Asal kau tahu memenangkan tender besar di Eropa itu sangat sulit hingga rasanya membuatku ingin menghilang dari bumi karena mengurus segalanya sendiri." Rey kembali mengingat repotnya dia ketika harus bolak balik kesana kemari. Belum lagi ia juga menyelidiki apa yang terjadi pada Billy dan Aisha pada hari itu hingga menimbulkan kesalahpahaman.


Dan saat ia memenangkan tender besar, dia senang sekaligus kesal karena mendapat kabar bahwa Billy telah melarikan diri dan lenyap entah kemana.


Rey mengatur napasnya dan menstabilkan emosinya, pria itu merasa sedikit lega setelah melampiaskan rasa kesalnya pada Arthur walau hanya lewat mulut.


Sebenarnya ia ingin menghajar pria pembuat masalah dalam hidupnya itu.

__ADS_1


"Cepat katakan Rey." Lelaki itu memelankan nada suaranya.


"Pertama, aku hanya ingin berkata padamu kalau perusahaan kita berhasil memenangkan tender besar di Eropa. Dan semua itu berkat kerja keras dan dedikasiku.


Karena Reynard yang sangat profesional." Pujinya pada dirinya sendiri.


Kemenangan itu membuat Arthur senang dan tersenyum tipis.


"Lalu apa ada yang lain?" Tanya Arthur.


"Ya! Yang kedua kau harus bersiap siap menjadi duda." Ketus Rey bicara.


"Apa maksudmu?!" Kening Arthur berkerut dalam gagal mencerna apa yang dimaksud pria di depannya.


"Ya, kau harus bersiap menjadi duda di usia ini. Karena wanita mana yang tahan dengan pria yang arogan dan keras sepertimu ini tuan Arthur. Semua wanita pasti akan kabur."


Rey mengajak Arthur mendekati komputer untuk melihat CCTV di apartemen Billy beberapa hari yang lalu. Pria itu menceritakan segalanya yang sudah ia selidiki pada Arthur tentang kelicikan Billy dan bagaimana pria itu mengancam Aisha hanya karena ingin dekat dengannya.


Rey juga berkata bahwa Billy berhasil merebut saham milik Aisha yang ada di perusahaan Johan Fernandez.


Arthur menggeram kesal, guratan di wajahnya menunjukan kemurkaan yang bersemayam dalam dadanya.


"Aku akan membunuuh Billy!!" Teriak nya diiringi dengan gebrakan di meja yang membuat barang barang diatas meja berceceran.


Namun Rey dengan sigap mencekal pria itu.


Jangan sampai dia bertindak bodoh dan menyusahkannya lagi.


"Tenanglah Arthur! Percuma kau seperti ini karena pria sialann itu sudah kabur sejak kemarin. Hingga sekarang anak buahku masih kesulitan melacak posisinya." Ujar Reynard.


"Dengarkan aku Artur, cemburu itu sangat wajar tapi cemburumu ini sudah diluar kewajaran. Seharusnya kau mendengarkan Aisha dan memberinya kesempatan bicara, bukan bertindak mengikuti emosimu dan melukainya.


Aku tidak menyalahkan salah satu diantara kalian karena kalian berdua sama sama salah. Aisha yang memilih mengatasi masalahnya sendiri dan berbohong padamu. Dan kau yang keras kepala."


Nasehat Rey membuat lelaki dengan mata elang itu merenung, semua yang diucapkan sahabat baiknya itu benar.


Ia sangat keterlaluan menuduh istrinya tanpa bukti yang jelas tanpa tahu kalau dia melakukan ini karena ia ingin menyelamatkan Myara dan nyawa orang lain yang terancam melayang.


Ia mengusap wajahnya kasar, merasa sangat berdosa karena menganggap Aisha berkhianat padanya.

__ADS_1


"Aku bodoh! Aku memang sangat bodoh!" Gumamnya seraya menjambak rambutnya.


"Kau bersikap seperti ini karena kau trauma pada masa lalumu atau karena kau masih tidak bisa melupakan wanita itu?!" Rey curiga apakah Arthur masih memikirkan wanita yang sudah bertahun tahun pergi menghilang dan menghianatinya.


__ADS_2