
Seorang sekretaris CEO memang memikul beban berat yang dipikulkan pada bahunya. Selain mengurusi masalah kantor yang terkadang bergejolak, Reynard juga harus memutar otak apabila ada masalah dalam organisasi. Belum lagi dia harus menuntaskan tugas - tugas dari Arthur yang terkadang diluar nalar manusia. Tujuannya hanya satu, mengerjai Reynard.
"Huh! " Desah Reynard frustasi. Pria itu tengah menggarap sebuah berkas laporan perusahaan sekarang, dan bos galaknya itu hanya memberi waktu setengah hari. Belum lagi masalah para wanita yang mengejarnya bagaikan maling sandal. Semakin melahirkan masalah masalah rumit baru bagi Rey.
Ternyata tidak enak ya punya banyak kekasih. Salah sendiri punya banyak wanita. Kenapa kau itu keras kepala Reynard. Berhenti jadi playboy, hiduplah dengan tenang bersama seorang pendamping yang setia. Tapi menemukan perempuan setia memang tidak mudah sih. Begitulah pikirannya menyadarkan. Seorang playboy yang memainkan banyak wanita, suatu saat pasti akan kena karmanya.
Menyandarkan kepala di sandaran kursinya. Berperang dengan logika menggali solusi terbaik yang efektif mengusir jauh - jauh para perempuan yang mengejarnya. Mereka setiap hari tiada henti menghampiri. Datang jauh - jauh kemari hanya sekedar meminta kejelasan perihal hubungan mereka. Jika tidak ditanggapi, high heels lancip lah yang akan jadi solusi.
Tak lama pintu terketuk. Tanpa menanti sahutan, seorang wanita menerobos masuk kedalam. Dengan balutan pakaian hitam seksi plus bibir merah yang menggoda. Dengan percaya dirinya, dia mendekati kekasihnya. Duduk di kursi dengan gaya elegan. Senyum menggoda tersungging di wajah full make up nya.
"Hai sayang" Sapa wanita itu dengan nada sensual. Berharap Rey tergiur dengan tawaran yang disampaikan semalam. Dengan tidak tahu malunya, ia meraih tangan kekar Rey. Mengecupnya lembut. Reynard sontak menarik tangannya, jijik rasanya. Apalagi melihat seringai licik muncul di wajahnya.
"Kenapa? Bagaimana penawaranku semalam? " Ujarnya. Masih berupaya menyambar tangan Reynard. Walaupun lelaki itu menatap nyalang padanya dengan wajah datar seperti biasa.
"Dengar Dona, kita tidak ada hubungan apa apa lagi. Semuanya telah kandas. Kini, jangan mengusik hidupku ataupun urusanku. Kau mengerti? " Kata Rey sembari menahan emosi. Menyaksikan sikap biasa saja yang disetel wanita di depannya serasa membuat wajahnya kian merah padam. Menahan marah yang bergelora. Diantara mantannya yang lain, Dona lah yang paling sukar dikendalikan. Bule berambut pirang ini bahkan tidak bergeming saat Rey sudah membentaknya dengan kasar sekalipun.
"Tidak! " Menggeleng tegas. " Aku masih mencintaimu Rey, ayo kita kembali membenahi hubungan. " Cih, Rey mencelos kesal. "Aku berjanji akan setia padamu. Aku tidak akan meninggalkanmu, aku akan selalu setia disampingmu "
Tak henti hentinya dia membujuk Reynard. Berharap dalam hati bahwa pria itu akan goyah pendiriannya. Lalu bersedia kembali padanya. Dona tidak benar - benar tulus pada Rey, hanya ingin memanfaatkan kekayaan dan kekuasaan Rey saja. Tidak lebih dari itu. Ia ingin dipandang dunia sebagai wanita yang dicintai seorang Reynard. Perempuan yang berdiri tegak disampingnya. Ya, walaupun Rey berkedudukan sebagai sekretaris CEO. Tapi tentunya kekayaan finansialnya tidak perlu dipertanyakan lagi.
"Diam! " Sentak Rey. Cukup sudah dia memendam semua ini. Sudah pekerjaan menumpuk bak gunung everest, ditambah masalah para kekasihnya yang tak ada usainya. Rasanya telinga Rey mengepulkan asap mendengar celotehan mereka.
"Keluar sekarang atau kuseret kau darisini! " Pria itu sudah bangkit berdiri. Menunjuk kearah pintu dengan ekor mata. Wanita itu tak bereaksi, ia malah bertopang dagu diatas meja. Sembari memindai wajah Reynard yang telah lama tidak dilihatnya.
"Aku tidak akan pergi sebelum kau menjawab pertanyaanku " Tekadnya sudah sekuat baja. Pokoknya tidak akan pergi sebelum mendapat apa yang dimaunya, begitu pikirnya.
Rey menarik napas dalam. Menekan tombol interkom yang langsung tersambung dengan staff sekretaris diluar ruangan.
"Panggil security, dan seret wanita yang ada di ruanganku. Mulai saat ini jangan biarkan orang asing masuk tanpa seizinku " Seru Rey yang diiyakan perempuan disana.
Lelaki itu melirik tajam pada wanita di depannya.
"Rey, kau ini kenapa? Kau sangat berubah sekarang " Sudah bangun dari duduk. Merentangkan tangan akan memeluk Reynard, namun pria itu segera menepisnya.
"Aku sudah punya kekasih! " Jawaban spontan demi membungkam mulut perempuan tidak tahu malu itu. Sebenarnya Rey belum punya wanita baru juga.
__ADS_1
Sadar Rey berdusta, Dona tergelak kencang. Dirinya tidak percaya Rey sudah punya kekasih baru. Ia paham betul sifat pria incarannya itu.
"Haha, jangan membual Rey. " Menyeringai
" Aku tahu kau tidak akan menemukan penggantiku secepat itu " Dua tahun menjalani hubungan penuh liku - liku bersama Rey, membuatnya hafal segala tabiatnya. Pria tampan itu tidak dengan mudah melabuhkan hati pada wanita. Paling dia hanya akan mempermainkan lalu mencampakkan seperti yang terjadi padanya sekarang.
Tak berselang lama, dua orang petugas keamanan masuk kedalam ruangan. Dengan sigap mereka menarik lengan Dona, menyeretnya keluar ruangan.
"Lepaskan aku! Aku bisa jalan sendiri! " Ronta perempuan itu.
"Ingat ya Rey, aku akan selalu mengejarmu. Sampai kapanpun itu. Bahkan walaupun kau sudah memiliki kekasih lainpun, aku akan mengambilmu darinya " Ujarnya lalu melenggang pergi meninggalkan ruangan.
Rey yang mendengar ocehan wanita itu hanya mendengus kesal. Ia berjalan keluar ruangan, melangkah menuju ruangan CEO dengan sebuah berkas ditangan.
Pintu terbuka, ia melihat Arthur yang tengah berkutat dengan laptopnya. Rey berjalan mendekat, duduk di depan dan menyodorkan berkas itu di meja.
Arthur meraih map hijau yang diberikan sekretaris nya, membaca sejenak dengan teliti. Ia melirik wajah Rey yang tidak seperti biasanya. Keceriaan yang menghias wajahnya berganti dengan wajah datar tanpa senyum seperti biasa.
"Kenapa dengan wajahmu? Seperti kain belum disetrika saja " Seloroh Arthur dengan tangan masih memegang berkas.
"Salah satu mantan kekasihku datang kesini" Seru Rey. Mendengar itu saja Arthur sudah terpingkal dalam hati. Tahu apa yang dirasakan pria ini, pasti rasanya sangat frustrasi. Diusik para wanita ditambah beban pekerjaan yang dipikulnya.
"Itu sudah nasibmu " Ujar Arthur.
"Hah, sudahlah bicara denganmu tidak akan ada gunanya. " Beranjak dari duduknya. "Sore nanti ada meeting penting dengan klien dari Jepang. Ingat Arthur, ini penting " Peringat Reynard lalu meninggalkan ruangan.
Berjalan gontai dengan langkah tertuju pada ruang sekretaris CEO, dia bahkan mengabaikan sapaan para karyawan yang biasanya dibalas senyuman.
"Hah, aku harus mengakhiri semua ini. Semua mantanku, semuanya mengusikku setiap hari" Rey memukul meja kerja, lalu menyandarkan kepala disana. Menyelami pikiran menggali solusi sebagai pemecah masalahnya. Bisa gila dia kalau setiap hari selalu ada wanita yang hilir mudik ke ruangannya.
Kasihan sekali hidupmu Reynard, mungkin sebentar lagi kau akan menemukan tambatan hatimu yang sesungguhnya.
***
Sedangkan di area perkuliahan, saat ini adalah jam istirahat. Para mahasiswa berlalu lalang memesan menu makanan. Rela antre demi mendapat makanan yang menjadi incaran. Suasana yang tadinya lenggang cukup berisik sekarang, obrolan para manusia memecah keheningan yang ada.
__ADS_1
Aisha dan temannya barunya yang bernama Myara tengah duduk berdua pada sebuah meja.
Makanan disertai minuman sudah tersaji di depan mata. Mereka pun melahapnya sembari bercakap - cakap ringan. Saling bercerita tentang diri masing - masing walaupun hanya sedikit.
"Myara, jadi kau pindah dari Indonesia kesini. Dan tinggal bersama ayahmu? " Tanya Aisha penasaran. Dirinya masih punya keinginan menggali lebih dalam tentang identitas perempuan cantik di hadapannya. Dia manis, baik dan ramah juga. Tidak seperti mahasiswa lain yang terkesan introvert padanya.
"Iya, aku dan ayah tinggal tidak jauh darisini. Ayahku itu tidak bisa jauh dariku, jadi dia ingin tetap tinggal bersamaku disini " Jawabnya sambil mengunyah hamburger di tangan.
"Kenapa kau memilih universitas ini? " Tanya Aisha lagi. Kemudian meraih segelas orange juice di meja. Meneguknya hingga setengah tandas.
"Karena tempat ini adalah impianku sejak lama. Aku ingin menimba ilmu disini " Impian Myara sejak kecil dahulu. Ia sering melamun dan mengkhayal akan duduk dan mengamati dosen menyalurkan ilmunya, memerhatikan dan menyerap setiap pelajaran dengan baik. Menjadi mahasiswa patuh dan lulus dengan nilai yang tinggi. Setelah itu dia akan mendedikasikan diri untuk umat manusia. Itulah impiannya sejak lama.
"Bagaimana denganmu Sha, kau tinggal dimana selama kuliah disini? " Saat perbincangan tadi, Myara atau kerap disapa Mya tidak banyak bertanya. Jadi dia belum mengenal dengan baik segala kerumitan hidup Aisha.
"Disini aku tinggal bersama suamiku " Sudah jujur saja lah, dalam pertemanan tidak boleh ada kebohongan. Kecuali kalau itu benar - benar privasi, pikir gadis itu.
Mya terlonjak kaget, dari paras wajah Aisha yang terbilang masih muda tidak terbesit prasangka bahwa gadis itu sudah membina rumah tangga.
"Kau, kau sudah menikah? " Tanya Mya antusias.
"Iya " Menjawab sekenanya. Lalu kembali meneguk sisa jus hingga terdengar bunyi gesekan es batu di dalamnya.
Mya masih tidak percaya, ia kembali bertanya memastikan praduganya.
"Apa kau dipaksa menikah, seperti aku? " Mya sendiri sangat tersiksa batinnya, sang ayah yang galak selalu memaksanya menikah muda. Mya selalu menolak tegas, ada hal yang masih ingin dia gapai dalam hidupnya. Menikah muda, apalagi dengan pria aneh yang merupakan kerabat jauhnya, itu adalah pantangan tersendiri baginya.
"Ya... bisa dibilang begitu. " Aisha bingung sendiri. Ayahnya tidak memaksa, suaminya lah yang waktu itu mengancam akan mencelakai kakaknya. Jadi bisa dibilang ada paksaan dan ada juga keinginan untuk menunaikan kewajiban.
"Kasihan sekali, apa kau bahagia? "
"Iya, aku bahagia disana " Sebenarnya dia tidak terlalu bahagia, lebih menyenangkan saat di mansionnya dulu. Dimana ia bisa bergerak bebas tanpa pemantauan khusus suaminya. Tapi jika dibilang menderita juga tidak, di satu sisi ia mulai terbiasa dengan kehadiran Arthur dalam hidupnya. Apalagi ditambah adanya aunty Rania yang serasa menjadi figur ibu bagi Aisha.
Mereka kembali meludeskan makanan yang dipesan. Sembari berbincang cukup lama menunggu jam pelajaran selanjutnya.
Bersambung....
__ADS_1