
Hari ini adalah hari yang paling padat dan melelahkan bagi semua orang yang tinggal di mansion megah ini. Mengingat waktu untuk menyerang Esponder sudah semakin dekat, semua orang sibuk mempersiapkan segala keperluan yang ada. Dari mulai senjata, kesiapan anggota, keamanan, dan persediaan makanan. Seperti akan perang dunia saja 😂.
Johan dan Aisha sudah kembali dari Chicago kemarin malam. Siang ini, banyak kiriman mafia dari Amerika didikan Mr. Taylor ke kediaman Fernandez. Alhasil, Aisha dilarang keras keluar dari kamar demi keamanan nya. Dua penjaga siap siaga di depan pintu kamar anak itu.
"Huhh! Bosan sekali disini " Gumam anak itu lirih.
Ia melangkah mendekati jendela kamar yang didominasi kaca. Nampaklah para pria berbadan gorilla berlalu lalang untuk menghadapi introgasi ketat dari Jack dan Dewa sebelum masuk barisan Golden Eagle.
Dewa adalah yang paling ahli dalam ilmu psikologi, oleh sebab itu ia selalu bertugas dalam introgasi. Yang ketahuan berbohong, akan langsung ditendang ke kolam hiu atau mungkin kandang macan milik Yudhi.
Anak kecil itu mengamati setiap gerak gerik manusia disana. Normal, tapi sesaat kemudian penglihatan nya menangkap sosok pria berbalut jas hitam yang tampak mencurigakan. Pria itu berdiri di balik tiang yang cukup menutupi tubuhnya dari pandangan. Ia seperti menekan sesuatu pada daun telinganya dan berbicara perlahan. Mirip sebuah tindik hitam. Setelah selesai berbicara, ia menutupi tindik hitam itu dengan rambutnya yang semi gondrong.
"Apa yang dia lakukan? Hmm.. mencurigakan"
Entah mengapa, tapi sepertinya Aisha memiliki insting yang lebih tajam dari Dewa.
Ia berniat turun dan menghampirinya, namun apa dayanya, pasti dua pria menyebalkan yang berdiri seperti patung di depan kamarnya tak akan mengizinkan.
Sejenak ia berpikir, bagaimana caranya agar ia bisa keluar dari sini?.
Dan ya, otaknya yang jenius menemukan sebuah solusi.
"Hiks.. hiks... hiks.. " Ia menangis. Sengaja menangis dibalik pintu agar kedua penjaga tadi mendengarnya.
Pintu pun terbuka, satu penjaga masuk untuk memeriksa apa yang terjadi dengan nona kecil mereka.
"Nona, apa yang terjadi? Mengapa anda menangis di lantai? "
Aisha mendongak dengan berlinang air mata.
"Itu.. boneka kesayangan ku tertinggal di ruang tengah. Aku ingin mengambilnya tapi tidak boleh keluar.. " Tangisnya semakin meraung raung.
"Nona, jangan menangis.. saya akan mengambilnya untuk anda " Pria itu pun menuju ruang tengah yang ada dilantai bawah. Sebenarnya disana tidak ada boneka, tapi inilah siasat Aisha.
Sepersekian menit selanjutnya penjaga tadi datang dengan tangan kosong " Maaf nona, tapi saya tidak menjumpai apapun dibawah "
"Tapi boneka itu ada dibawah.. aku ingin bermain dengannya.. " Ia mulai banjir air mata lagi. Sungguh, aktingnya sangat menakjubkan. Saat ia besar nanti, mungkin akan mengalahkan Arjuna dalam bermain film.
__ADS_1
"Tapi tidak ada nona, mungkin saja nona lupa menaruhnya " Ujar pria itu.
"Kau menyalahkanku? " Habislah kau penjaga bodoh, saat putri keluarga ini menangis dan tersakiti karenamu, maka sudah tentu kau akan hancur.
Haduh bagaimana ini?. Disana memang tidak ada. Batin penjaga itu.
"Sudahlah, biar aku saja yang cari " Ia beranjak dari lantai dan mendekati pintu. Namun sebelum itu, tubuh lebar pria berkepala plontos itu menghadang jalan nya.
"Maaf nona, saya diperintahkan untuk tidak membiarkan nona keluar dari ruangan ini " Cegah pria itu cepat. Jika ia gagal menunaikan apa yang diperintah Yudhi, maka setelah ini kepalanya akan jadi lauk makan siang Lia dan Leo.
"Tapi _"
"Maaf nona, saya permisi. Saya akan berupaya mencari boneka nona. Satu jam lagi pelayan akan mengantarkan makanan, jam makan nona sudah dekat " Ucapnya sebelum melenggang pergi dan kembali melanjutkan tugasnya.
Huh! Sepertinya aku harus mencari akal yang lain.
Ia mulai berpikir lagi. Dan ya, lagi lagi otaknya seakan selalu berpihak pada Aisha.
Aisha menarik sprei yang terpasang rapi pada ranjangnya. Lalu ia mendekati balkon yang berhadapan langsung dengan taman teratai. Kebetulan, kamarnya punya dua balkon. Satu menghadap halaman mansion, dan satunya menghadap kolam teratai karena ia amat menyukai bunga teratai.
Aisha menatap kebawah, cukup tinggi karena kamarnya berada di lantai tiga. Tapi dia yakin pasti bisa melewati rintangan ini. Ia mulai turun kebawah perlahan dengan tangan yang berpegangan pada sprei itu. Tak butuh waktu lama, kini Aisha telah sampai dibawah.
Ternyata sangat menyenangkan juga.
Dengan cara mengendap endap, anak perempuan dengan nyali setinggi langit itu melangkah mendekati tempat latihan para mafia. Bahkan ia tak tahu apa definisi mafia sebenarnya.
Saat ini ia bersembunyi dibalik guci besar yang mampu menutup tubuh kecilnya dari pandangan. Ia menoleh ke kanan dan kiri, mencari pria yang membuatnya sampai harus membahayakan nyawa. Nampaknya pria itu sedang berbincang dengan Yudhi. Entah apa yang mereka perbincangkan.
Perlahan tapi pasti, Aisha mendekati kedua pria itu.
"Sha, sedang apa kau disini? " tanya Yudhi.
"Kakak, aku hanya sedang mencari Pushy "
"Yasudah, biarkan pengawal yang mencari. Sekarang kau masuk kamarmu ya, tidak aman disini " Kata Yudhi khawatir.
"Iya kak, tapi tunggu dulu, "
__ADS_1
"Ada apa? " Tanya Yudhi.
Anak kecil itu beralih menghadap pria dengan rambut semi gondrong disampingnya. Pria itu menunduk ketika Aisha menatap lekat kearahnya.
"Ada apa Sha? "
"Paman, bisa aku minta tolong padamu? " Ia memancarkan aura manis pada wajahnya.
"Tentu nona, apa yang bisa saya bantu? "
"Tolong carikan kucingku disana ya " Menunjuk taman tempat biasanya Pushy bermain.
Sial! Niatku kesini untuk memata matai, malah disuruh menangkap hewan!.
Ia menarik napasnya dalam " Baik nona, perintah anda akan segera saya laksanakan "
Pria itu berbalik hendak menuju taman. Kesempatan itu dimanfaatkan Aisha untuk mengambil guci disampingnya, lalu dengan sedikit meloncat ia berhasil memukul bagian belakang kepala pria itu. Sontak ia langsung jatuh pingsan saat itu juga.
Yudhi terkejut dan membulatkan matanya "Apa yang kau lakukan Sha? " Yudhi langsung memeriksa keadaan orang itu.
"Sha, kau tahukan memukul orang yang tidak bersalah itu namanya kejahatan "
"Maafkan aku kakak.. tapi aku terpaksa "
Kemudian gadis kecil itu mendekat kearah pria yang terkapar tak berdaya dilantai, lalu membuka kancing jas pria itu. Kemudian, ia menarik sapu tangan yang terselip di dalam kantung kemeja nya.
"Darimana kau tahu? " Yudhi mengambil sapu tangan itu, dan benar saja ada lambang Esponder disana.
"Tadi aku melihat ia menekan ini dan berbicara pada seseorang " Ia menunjuk sebuah tindik yang tersembunyi dalam rambut gondrong pria itu.
"Sial! Bagaimana mungkin kita bisa kecolongan seperti ini." Ia meninju tembok disampingnya dengan kepalan tangan.
"Terimakasih Sha, kau memang berbakat " Ia mengelus kepala adiknya penuh sayang.
Bersambung...
Yang sudah baca jangan lupa like, komen dan vote ya.. Tambahkan ke favorite juga:)
__ADS_1