
Sementara itu Arthur tengah berada pada ruang kerjanya. Memeriksa beberapa email yang masuk. Sembari membaca beberapa proposal yang dikirim padanya. Reynard yang baru saja masuk, langsung duduk di depannya tanpa ijin.
"Bos " Sapa Reynard seperti biasa, senyum merekah yang selalu menyertainya.
"Hemm, apa? " Nada bicaranya masih acuh. Lebih fokus mengetikan tulisan pada laptopnya.
"Aku ada sebuah berita " Ujar Reynard. Lalu memperbaiki posisi duduknya. Meletakan map berwarna hijau yang tadi dibawanya.
"Apa ini? " Seru Arthur.
"Itu seluk beluk istrimu. Yang kau minta kemarin. Dan aku ada berita penting lagi. " Menerbitkan senyum liciknya. Kali ini dia ingin jual mahal. Pokoknya tidak mau bicara jika Arthur tidak berkata dengan nada lembut dan penuh hormat.
"Apa? Katakan saja, jangan membuatku kesal"Acuh bicara, sebab biasanya jika sekretaris nya melempar senyum jelek seperti itu pasti ada maunya. Yang pastinya hanya akan merepotkan Arthur saja.
"Aku tidak akan bicara sebelum kau berkata lembut dan sopan padaku " Teguh pada pendirian. Kapan lagi dapat peluang emas seperti ini. Jarang sekali Arthur menurutinya kalau tidak sangat penting.
"Tidak mau, paling kau hanya membual saja "
"Heh, ini tentang six powers yang ingin kau ketahui! " Setengah berteriak. Lalu melipat tangan di dada. Kembali melempar seringai iblisnya.
Huh! Arthur menarik napas panjang. Seperti sebelum - sebelumnya dia harus melakukan hal konyol yang menggores harga diri demi sebuah informasi.
"Sahabatku Reynard... katakanlah info apa yang kau bawa " Berucap selembut sutra. Sambil mengepalkan tangan dibawah sana menahan geram.
"Tidak! " Menggeleng " Katakan dulu aku ini tampan, pandai dan setia. Baru aku mau bicara " Rasanya telinga Arthur mengepulkan asap. Wajahnya merah padam membendung rasa dongkol di dada.
Baiklah, kali ini saja. Setelah ini tidak ada lagi. Yang penting dia bisa mengobati rasa keinginan tahuannya.
"Sahabatku yang paling tampan, pandai dan setia. Katakanlah apa yang ingin kau katakan. Bicaralah selagi kau bisa bicara. " Mendengar itu, Reynard langsung membuka mulutnya. Daripada bertarung dengan harimau gila.
"Begini " Menjeda sebentar, menetralkan raut wajahnya. Sekarang dia serius. Melihat keseriusan Rey, Arthur jadi yakin bahwa ada hal penting yang akan ia sampaikan.
__ADS_1
" Katakan! "
"Sebenarnya ini hanya hipotesis saja, tapi sepertinya kakak ipar adalah.. Six powers nomor enam " Ujar Rey serius.
Arthur yang terlanjur memperhatikan dengan khidmat, akhirnya malah terpingkal. Ia memegang perutnya yang rasanya ingin meledakan tawa. Saking tidak percaya.
"Kenapa kau malah tertawa Arthur. Aku ini sedang serius sekarang! " Rey tak terima. Disaat ia sedang bicara serius, seharusnya bos gila nya ini memerhatikan dengan seksama. Tapi apa ini, dasar gila.
"Hahaha " Masih terkekeh geli. Bagaimana mungkin gadis kecil manja plus banyak bicara semacam dia menjadi seorang mafia. Itu mustahil, sangat kecil bahkan nyaris tidak ada kemungkinan dia bisa beladiri.
Penampilan tidak mencerminkan kepribadian orang. Seharusnya Arthur menerapkan kalimat itu. Jangan meremehkan orang hanya karena menilik penampilan saja, mungkin saja dia diluar ekspektasimu.
Dan benar saja, penampilan dan sikap Aisha yang manja menjadi topeng kuat baginya, hingga seorang Arthur tak dapat mengenalnya.
"Diamlah Arthur! Sudah aku katakan, jangan meremehkan orang lain. Kau ini masih saja ngeyel " Omel Reynard jengah. Siapa yang selalu mengumumkan pada dunia bahwa dirinya yang paling cerdas? Arthur sendiri kan. Bahkan saat ini realitanya Reynard jauh lebih peka pada keadaan.
"Kau itu membual ya? Jangan menjadi pengarang cerita dengan berkata begitu. Kau pikir aku percaya. Cih, jangan harap! " Menghempaskan map diatas meja. Lalu meledek Rey dengan tatapan mata. Reynard hanya mendengus sebal.
Seusai mendengar beberapa ocehan dari Rey yang diabaikan olehnya, pria bule itu mengayunkan kaki keluar ruangan. Ada suara gelak tawa yang memenuhi udara.
Dan sepertinya tak asing dengan suara itu.
Yudhi saat ini tengah menyisir rambut adiknya. Sebagai perpisahan sebelum dia melesat ke kantornya sendiri. Sembari bercerita tentang beberapa peristiwa masa lalu yang lucu. Dari mulai Nakul yang jatuh dari pohon, Arjuna yang kepergok telefon dengan Julia oleh ayah, sampai kak Bima yang didandani menjadi cinderella.
"Kakak, aku masih boleh kerumah kan? " Tanyanya sambil membelakangi Yudhi yang masih fokus menyisir rambut.
"Apa yang kau katakan, sampai kapanpun itu adalah rumahmu. Jika si gila itu membuatmu tidak nyaman, pulang saja kerumah. Kakak yang akan menghajar dia nanti. " Kata Yudhi. Tanpa disadari, Arthur sudah berdiri di anak tangga paling dasar. Menatap tak suka pada adik kakak yang tengah melepas rindu.
Belum ada sehari saja sudah seperti seratus abad. Dia kakaknya atau kekasihnya. Romantis sekali datang pagi - pagi kerumahku hanya untuk menyisir rambut.
"Ekhm... ekhm.. " Arthur berdehem, dia sudah ada didekat sofa kali ini.
__ADS_1
Yudhi menoleh sekilas " Apa? "
"Tidak ada kerjaan? Datang tanpa ijin kemari pagi pagi hanya untuk ini! " Masih tidak terima.
"Kenapa? Cemburu? Dia ini adikku " Menunjuk Aisha dengan ekor mata. Yang dilirik hanya diam dan membiarkan mereka beradu mulut. Tidak peduli.
"Untuk apa aku cemburu pada gadis jelek seperti dia " Yudhi naik darah. Beraninya dia menghina Aisha. Baru sehari saja sudah seperti ini bagaimana nanti.
"Beraninya kau! " Sudah melepas genggaman nya pada sisir. Dia sudah bangkit berdiri, hendak meninju rahang Arthur. Jika saja tarikan diujung jasnya tak terasa.
"Kak, hentikan bagaimanapun juga dia adik iparmu sekarang " Yudhi melepasnya.
Lalu pria itu merogoh sakunya, meraih dompet. Mengambil black card unlimited dan mengulurkan nya pada Aisha.
"Kakak apa ini? " Tanya Aisha heran. Ia sudah dua punya kartu semacam itu dari Johan dan Yudhi. Kartu ATM dan lainnya juga sudah komplit disana.
"Ambilah, aku tidak yakin pria gila ini sanggup menafkahimu " Melirik Arthur dengan ekor matanya. Sebenarnya Yudhi hanya ingin mengejek Arthur. Seperti kata orang, kata - kata lebih mematikan daripada senjata.
"Kurang ajar! Kau menghinaku" Geram Arthur marah. Bahkan seribu kartu seperti itu bisa dia berikan cuma cuma.
"Kau mungkin kaya, tapi aku tidak yakin kau akan menyanggupi kebutuhan adikku " Sudah meletakan kartu itu di tangan adiknya.
"Kurang ajar kau! " Untung sekarang kau menjalin hubungan keluarga denganku. Jika tidak,
"Kakak pergi ya, jaga dirimu dari orang gila ini" Lalu melenggang pergi setelah memeluk adiknya sekali lagi.
"Buang kartu itu! " Masih kesal.
"Kenapa? Enak saja, inikan punyaku " Menyembunyikan kartu itu di belakang punggung. Agar jauh dari jangkauan Arthur. Bukan dia gila harta, tapi Aisha selalu menghargai pemberian kakaknya.
"Buang! Akan kuganti yang baru " Setelah mengucapkan itu, Arthur berjalan keluar. Entah mau kemana dia, Aisha juga tak terlalu peduli.
__ADS_1
Bersambung....