Gadis Manis Milik Mafia

Gadis Manis Milik Mafia
BAB 30


__ADS_3

Selepas pembicaraan dengan Arthur kala itu, hari - hari Aisha dipenuhi kegundahan. Tetap cerewet, namun keceriaan di wajahnya berkurang. Setiap hari hanya menghabiskan sisa waktu yang tersisa bersama keluarga.


Seminggu berlalu tanpa terasa. Di mansion besar ini pernikahan mewah tergelar. Konsep pesta di desain sesuai permintaan.


Semerbak bunga bertebaran dimana - mana. Para tamu undangan berdatangan. Mulai dari sanak saudara, kerabat, kolega bisnis dan partner kerja. Mansion keluarga Fernandez dipenuhi suara riuh dari perbincangan para tamu undangan.


Semua orang berdecak kagum dengan konsep ruangan. Konsep kerajaan yang elegan. Dibumbui dengan nuansa alam berupa bunga dan dedaunan. Lampu kristal besar yang mengkilat tergantung sempurna di tengah ruangan. Perpaduan warna emas dan putih yang mempesona. Membuat seolah ruangan ini disulap menjadi negeri dongeng.


Aisha yang mempesona dengan balutan gaun putihnya. Rambut yang disanggul rapi dengan hiasan daun putih gemerlap. Kalung berlian berliontin hati tergantung di leher jenjangnya. Turun menapaki anak tangga, semua orang terpana memandangnya. Tak terkecuali Arthur yang tak mengalihkan pandangan dari seorang putri jelita yang sesaat lagi akan menjadi pendampingnya. Sesaat kemudian, ia menepis pikirannya.


Apa yang otakku pikirkan! Ingat Arthur, dia hanyalah gadis tengil yang manja. Tidak ada yang istimewa darinya!!


Mungkin logika Arthur tak menyukai Aisha. Namun lain dengan hatinya. Lubuk hati terdalamnya mulai menyimpan sebuah rasa. Hanya saja belum menyadarinya.


Waktu telah bergulir. Resmi sudah Aisha menjadi pendamping Arthur. Berganti status dari seorang putri menjadi seorang istri. Ia meringis dalam hati. Menerka - nerka bagaimana ia menjalani hari - hari selanjutnya.


Kini kedua insan yang telah resmi menjadi pasangan, sedang berdiri di pelaminan. Para undangan bergantian mengucap selamat. Keluarga Fernandez bahkan Mr. Taylor sekalipun menangis pilu dalam hati. Tak rela rasanya melepas anak dan adik mereka. Tak disangka, anak kecil nakal mereka kini telah bersuami. Merajut hubungan dengan seorang lelaki yang entah akan memperlakukan nya seperti apa.


"Selamat ya " Kalimat yang selalu terngiang di kepala Aisha. Saking banyaknya tamu undangan yang hadir membuat kakinya serasa meronta minta keadilan. Tentu saja, siapa yang akan melewatkan kesempatan langka menghadiri acara salah satu konglomerat di negara ini. Meskipun begitu, ia hanya bisa melempar senyum terpaksa demi citra keluarga. Apa yang akan dipikirkan orang nanti kalau kedua mempelai berwajah kecut.


Dan lihatlah pria disebelahnya. Dia hanya tersenyum sekilas dengan aura dinginnya. Bukannya kesal, para tamu malah melempar tatapan memuja padanya. Terutama para wanita. Bahkan ada ibu - ibu yang ingin memeluknya jika saja suaminya tidak melotot padanya. Seolah berjumpa dengan dewa Yunani saja.


Hih! Apasih, pria menjengkelkan sepertinya itu tidak pantas menerima tatapan kekaguman dari kalian. Dia itu pantasnya menerima nominasi pria jahat didunia. Hiks!


Kurang lebih tiga ratus manusia sudah mengucapkan selamat dan rasa suka citanya. Aisha tak tahan lagi. Dia memang biasa memakai high heels, tapi tidak setinggi ini juga. Saat tadi pagi heels sepuluh sentimeter telah terpasang di kakinya, tiba - tiba utusan Arthur datang dengan sekotak sepatu baru.


"Tuan muda mengirim ini dan mengatakan jika beliau tidak ingin anda terlihat lebih pendek darinya. " Ucapan sang pelayan saat menyerahkan barang titipannya.


Aisha hanya mendesah sebal, yang memakai kan dia. Lantas kenapa pria itu sampai mengatur - ngaturnya. High heels dengan tinggi 20 centimeter, membuat tingginya hampir sepadan dengan suaminya. Maklum saja, tinggi Aisha hanya hampir sebatas bahu Arthur. Hampir.


Dasar pria aneh! Dia yang terlalu tinggi kenapa menyusahkanku?. Geram Aisha dalam hati.


Rasanya gerombolan tamu tidak ada habisnya.


Manik gadis itu berlarian mendeteksi keberadaan ayah atau kakaknya. Nihil, mereka tidak ada. Mungkin sedang menyapa para tamu. Hanya ada Jack dengan radius paling dekat darinya. Aisha mencoba memberi isyarat, agar Jack datang dan membantunya. Paling tidak membawakan sepatu heels yang lain. Namun sia - sia, Jack malah asik bercengkerama dengan sesama asisten, mungkin saja kenalannya.


Mau minta tolong pada para pelayan, tapi mereka tengah sibuk dengan kegiatan masing - masing. Melayani tamu undangan yang tak terkira jumlahnya tentunya bukan pekerjaan yang mudah.


Aku tidak tahan lagi, kakiku keram sekali. Aku bisa pingsan kalau tetap disini.


Lalu tersenyum lagi, karena salah satu temannya mengucapkan selamat padanya.


"Selamat ya Sha, aku tidak menyangka kau menikah secepat ini. Mendahuluiku lagi. " Ujar salah satu teman perempuannya. Sambil mendekap Aisha erat.

__ADS_1


"Terimakasih Din " Balas Aisha dengan memasang full senyum. Lebih tepatnya ringisan menyedihkan.


"Kau kenapa? " Khawatir dengan ekspresi temannya yang lebih mirip orang yang menahan rasa sakit.


"Tidak papa "


"Oh, yasudah duluan ya " Ujar gadis yang bernama Dina. Melirik Arthur sejenak dan tersenyum sekenanya.


Beruntungnya Aisha, punya suami setampan dia.


Aaaa, kamu tidak tahu si bagaimana sifat aslinya 😪


Selepas kepergian Dina, sang pengantin wanita benar - benar sudah kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Bahkan terkadang lupa tersenyum saking sakit yang merajalela pada kedua kakinya.


Aku mau pingsan saja...


Pasrah, lalu dengan ragu - ragu dia berbisik dekat telinga suaminya.


Tapi aku harus memanggil apa padanya? Yasudah, tuan sajalah. Nanti juga bisa diganti kalau dia tidak suka.


"Tuan... " Lirih Aisha dekat telinga Arthur. Ia hanya melirik, lalu menatap lagi kedepan.


Nyayian salah satu penyanyi laki - laki di ujung sana rasanya lebih menyenangkan daripada adu argumen dengan gadis di sampingnya.


Arthur menoleh singkat " Apa? "


Sabar.. sabar..


"Tuan, kakiku sakit... " Tidak kuat menyangga beban tubuhnya, tanpa sadar ia berpegangan pada lengan suaminya.


Arthur hanya acuh bicara " Lalu? "


Lalu? Inisiatif sedikit saja kenapa? Masa'aku sakit diabaikan saja! Kalau kak Yudhi dia pasti akan membantuku naik keatas.


Ada dua pilihan sebenarnya, daripada minta tolong pada manusia yang meraih apresiasi orang paling menyebalkan di dunia. Dia bisa saja melepas sepatunya atau teriak memanggil Jack atau pelayan lain. Tapi rasanya itu hal yang memalukan. Jika tidak banyak kolega ayah dan kakaknya yang memenuhi sudut ruangan, Aisha pasti akan nekat merealisasikan pikirannya, andai dia tidak sayang nama baik keluarga.


"Tolong aku... inikan salahmu juga"


Inikan salahmu karena mengirim high heels yang terlalu tinggi. Harusnya kau yang sedikit menurunkan badanmu yang bagaikan galah itu. Aku bahkan bisa menggunakanmu untuk memetik rambutan di belakang mansionku.


Mendengar ucapan Aisha, Arthur menoleh sejenak, lalu berkata " Salahmu sendiri yang terlalu pendek. Hanya sebatas bahuku. Mirip kurcaci saja! " Hardik Arthur menancap telak.


Apa! Kurcaci? Tinggi Aisha sudah normal tahu. Sama seperti model - model profesional. Sangat proporsional dengan berat badannya. Kau saja yang terlampau tinggi.

__ADS_1


Tapi ini bukan saatnya beradu pendapat. Lihat saja nanti bagaimana istrimu mengalahkanmu dalam bersilat lidah.


Sembari menahan rasa dongkol di dada, Aisha tetap berbisik padanya " Ini salahmu, sekarang bantu aku. Atau aku akan pingsan disini. "


Arthur mendesah samar. " Bantu apa? "


"Telepon anak buahmu atau kakakku, atau Jack, siapapun untuk mengambil sepatu yang ada di kamarku "


Arthur memindai sekeliling, anak buahnya sedang jauh darinya. Mereka memastikan keamanan di penjuru ruangan. Hanya ada Rey, dia pun tak bergeming saat Arthur memanggil nya.


Dasar! Awas saja kau Rey.


Lalu meraba saku jas dan celananya. Namun benda yang dicari tidak ada, ponselnya tertinggal di saku jas satunya. Di ruang ganti saat ia berganti pakaian.


"Aku tidak bawa ponsel "


"Terserah padamu, pokoknya bantu aku. Atau aku akan benar benar pingsan disini. Teriak saja panggil anak buahmu itu " Ujarnya sambil meringis.


Arthur menatap tajam, mana mungkin ia menurunkan harga dirinya dengan berteriak diantara kerumunan orang begini. Apalagi suara bising dari lagu yang dinyanyikan, ditambah sorak para penonton dan perbincangan para tamu. Jikalau ia berteriak, orang orang akan menoleh padanya.


Akhirnya, setelah sejenak ia memutar otak. Keputusan final diambilnya.


Ia meraih tangan Aisha yang sedang berjabat tangan agar merapat kearahnya. Menunduk lalu menggendong Aisha ala bridal style.


Semua orang yang ada disana terkejut dengan apa yang dilakukan sepasang mempelai. Tak terkecuali The Pandawa gengs, Johan, Mr. Taylor serta Reynard dan lainnya. Terutama Yudhi yang tak melepaskan pandangan dari adiknya. Suara musik terhenti. Semua orang menatap kearah mereka.


Aisha yang kelabakan karena perlakuan Arthur, hanya bisa meronta sambil memukul dada suaminya. Malu, itu yang dirasakanya. Apa yang akan dipikirkan semua orang nanti. Dan akhirnya, ia menenggelamkan wajahnya di dada Arthur saking malunya.


"Hey, apa yang akan kau lakukan pada adikku!" Teriak Yudhi yang menggelegar.


Arthur tak bergeming. Dengan wajah datar dan ditekuk, ia membawa istrinya meninggalkan pelaminan. Meskipun dihadang tatapan para tamu undangan.


"Hey! Mau dibawa kemana putriku!! " Giliran Johan yang berteriak.


"Membuat cucu untukmu!! " Teriak Arthur tak kalah keras.


Apa yang kau katakan! .


Ya Tuhan, aku ingin menyembunyikan wajahku di dasar kerak bumi saja!. Aisha.


Semua orang yang semula panik, malah terpingkal karena kalimat sang pengantin pria. Semua tamu undangan terkekeh. Gelak tawa memenuhi udara. Kecuali keluarga Fernandez tentunya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2