
Perusahaan Anderson Groub.
Tok, tok, tok
Bunyi pintu terketuk menyapa pendengaran Arthur. Sejenak Arthur meliriknya, Reynard muncul dengan senyum merekah. Lalu menghampirinya dan duduk di kursi.
"Selamat siang bos galak " Sapa Rey tanpa mengikutkan kata terakhirnya.
"Hem, ada apa? " Balas Arthur yang masih menyusun rangkaian kata pada keyboardnya.
"Hadus bos... bisa tidak kau itu turunkan kadar sifat dinginmu itu. Aku pusing me-"
"Langsung ke intinya saja! Jangan buang waktuku yang berharga. " Rey melengos sebal. Bosnya ini tidak bisa diajak bercanda sedikit saja.
"Baiklah, ini aku bawakan dokumen penting untukmu. Yang aku janjikan kemarin. " Menyodorkan sebuah map ke meja Arthur. Pria itu menatapnya sejenak. Menutup laptop, lalu membuka dokumen yang dibawa sekretarisnya.
"Itu adalah dokumen data dari anggota six powers. Memang sedikit, itu karena susah menggali lebih dalam tentang mereka. " Jelas Rey.
Arthur membacanya dengan teliti. Satu persatu tanpa ada yang terlewat. Penasaran ingin tahu sehebat apa yang dinamakan Golden Eagle.
Disana tertulis data diri anak anak Johan, mulai dari Yudhi sampai Dewa. Tapi yang nomor enam kosong.
"Dimana data tentang nomor enam? " Tanya Arthur, sambil mengernyitkan keningnya.
"Tidak ada "
"Kenapa tidak ada? " Heran, padahal detektif dan mata mata milik Regdator itu sangat profesional. Apapun diketemukan dengan mudah. Data pribadi petinggi negara yang ditutupi dari publik sekalipun.
Lantas mengapa mereka begitu lihai menyembunyikan fakta ini.
"Sudah kubilangkan Arthur, dia luar biasa. Itulah yang dikatakan mata mata kita. " Ucap Reynard jengah.
"Cari tahu tentang dia! Aku ingin data nya secepatnya di mejaku! " Titah yang mulia telah dikumandangkan. Kalau begini Reynard hanya bisa menghela napas panjang melawan sikap menyebalkan bosnya. Sekarang dia harus direpotkan lagi dengan pekerjaan ini.
"Iya - iya, nanti akan aku cari tahu " Ujar Rey, lalu tersenyum simpul. " Bagaimana saranku kemarin? Sudah kau pikirkan belum? "
Arthur berpikir sejenak. Mengetuk ngetukan telunjuknya di meja. Dengan wajah serius yang semakin meningkatkan level ketampanan nya.
"Sudah " Jawabnya singkat. Menyenderkan kepalanya ke sandaran kursi lalu memejamkan mata sejenak.
" Bagaimana? "
"Aku akan mencoba saranmu. " Jika dengan bersatu dia bisa menumpas Pither, lalu kenapa tidak dicoba. Singkirkan dulu ego dan gengsi, sekarang dia tidak tahan dengan tingkah semena mena Pither.
"Nice! Kapan kita berangkat? " Tanya Rey girang. Tidak sabar rasanya dia ingin melihat Nusantara. Negeri indah penuh destinasi wisata yang menakjubkan. Reynard tahu itu, karena saat ia kecil mendiang orang tuanya sering mengajaknya berlibur disana. Musim panas yang menyenangkan.
" Besok "
" Besok? Bagus Arthur, aku juga tidak sabar kesana. Kau pasti tidak sabar jugakan?
Aku tahu itu, kau akan menyukainya. " Rey tertawa sendiri seperti orang hilang akal
" Arthur apa kita akan berlibur disana? Kau tahu, wanita di-"
__ADS_1
"Diamlah! Jangan cerewet! " Bosan mendengar ocehan sekretarisnya yang serasa menusuk telinga, Arthur melengos menatap arah lain.
"Heh! Anak ini ya! Lihat saja nanti Arthur, saat kau pergi berlibur disana akan ada banyak wanita cantik. Mungkin saja salah satunya adalah jodohmu. Hahahah!" Tertawa lepas. Rey tidak bisa mengkhayalkan bagaimana Arthur si penjahat wanita akan menikah dan memiliki seorang istri. Baginya sendiri, terikat dalam tali pernikahan itu merepotkan. Tidak boleh itu, tidak boleh ini. Rey jadi tidak bisa mengencani banyak wanita.
"Itu tidak akan terjadi! " Geram Arthur. Baginya, cinta adalah bumerang. Ia gemar mempermainkan wanita lalu mencampakannya. Dengan satu alasan, ia tak mau jatuh cinta dengan seorang gadis pun. Menurut sudut pandangnya pribadi, cinta hanya membawa luka. Ketika orang yang kita cintai tiada, itu akan sangat menyakitkan.
"Oh ya bos tampanku? Kita lihat saja nanti, apa kau akan mendapat wanita atau tidak" Tertawa lagi. Itulah Rey, selalu banyak bicara dan tertawa. Namun di depan orang asing, auranya bisa sedingin kutub utara.
Arthur hanya mencibir kesal. Tidak ada niatan untuk meminang seorang wanita. Tanpa ia tahu, takdir akan mempertemukan nya dengan seseorang di negara yang akan dituju. Lihat saja nanti, apakah orang yang dikirim Tuhan untuk Arthur membawa dampak padanya atau tidak sama sekali.
***
Di Sebuah Perusahaan Besar di Indonesia
Arthur dan Reynard yang rapi dengan setelan jas hitamnya, semakin terlihat gagah dengan kacamata hitam yang bertengger sempurna di hidung mancungnya. Dengan langkah berwibawa, Arthur sang penguasa Anderson Groub turun dari kendaraan nya. Rey setia berjalan disebelahnya. Berjalan beriringan menuju lobi kantor.
Sekarang keduanya telah berada dalam lift yang sama. Tidak perlu berdebat dengan resepsionis lagi, karena sebelumnya mereka telah membuat janji.
Memasuki ruangan CEO, lalu mereka dipersilahkan duduk di sofa yang tersedia. Sembari menunggu kedatangan sang pemilik kantor. Tak berselang lama, Johanes Fernandez memasuki ruangan. Dua pria itu sontak berdiri dan berjabat tangan dengannya. Tata krama sesama penguasa yang wajib dipelihara.
Johan yang tidak tahu maksud tujuan Arthur, tetap menarik sudut bibirnya ramah. Apalagi yang tiba adalah orang yang masuk dalam kategori pengusaha sukses dunia.
"Welcome to Indonesia Sir! " Sapa Johan ramah.
"Thank you Mr. Fernandez " Ujar Arthur dengan gaya cool nya.
"Silahkan diminum tuan... " Basa basi Johan sebelum ke inti pembicaraan. Untuk menghargai tawaran pria dihadapannya, Arthur dan Rey meneguk secangkir teh yang telah diseduh dua menit sebelum mereka masuk.
Sepertinya dia bukan tipe pria yang suka minum minum. Batin Arthur dan Rey bersamaan. Sebenarnya Arthur kerap kali ditawari minuman beralkohol saat mengunjungi kolega nya di negeri ini. Tapi lain dengan Johan, pria itu berpegang teguh pada prinsipnya. Mendiang sang istri yang akan mengamuk saat Johan mabuk, menjadikan pria itu tidak pernah menyentuh minuman semenjak resmi meminang Alina.
"Saya langsung ke intinya saja tuan. " Memperbaiki posisi duduknya sejenak. Mengambil napas sambil memikirkan susunan kata yang tepat agar tak menyinggung pria paruh baya di hadapannya
"Saya ingin mengajak anda bekerjasama " Johan menyatukan alisnya. Belum menangkap arah pembicaraan Arthur.
"Maksud anda, ingin bekerjasama dengan saya. Tentu saja saya dengan senang hati menerimanya. Jadi dalam bidang apa tuan? Dan kapan kita menandatangani kontrak? " Rentetan pertanyaan terlontar begitu saja, karena dalam benak Johan ia pikir bahwa Arthur membicarakan soal bisnis. Tentu saja dia senang. Menjalin hubungan kerjasama dengan tokoh seperti Arthur, akan berdampak baik bagi perusahaannya.
Sementara Arthur dan Reynard bimbang, mereka kelabakan bagaimana caranya menjabarkan kepada pria dihadapannya, jika mereka ingin mengajak kerjasama GE.
"Bukan itu yang saya maksud tuan, saya ingin mengajak organisasi anda untuk bekerja bersama Regdator. " Ujar Arthur. Rey yang disampingnya hanya menganggukan kepala.
"Maksud anda... Golden Eagle? " Sekarang wajahnya datar. Mulai tidak bersahabat. Karena Johan tidak mau bekerjasama dalam dunia lainnya.
"Benar sekali tuan, jadi bagaimana? Anda bersedia? " Tawar Arthur.
"Tuan? Bagaimana? " Rey akhirnya angkat bicara setelah lama membisu. Memerhatikan raut wajah Johan, ia mulai meraba keadaan yang tidak baik.
"Maaf Tuan Arthur Anderson dan Tuan Reynard, saya menolak tawaran nada. Jika anda bicara masalah bisnis, saya akan menerima dengan suka cita. Tapi tidak dengan dunia gelap saya " Dia sudah berdiri, mengisyaratkan bahwa tidak ada yang perlu dibicarakan lagi.
"Tuan, pikirkan sekali lagi? " Ujar Rey penuh harap. Namun wajahnya datar dan dingin.
"Maaf, saya tidak bisa. Silahkan keluar dari ruangan saya "
Arthur yang tersinggung, langsung berdiri dan melangkah lebar keluar ruangan. Meninggalkan Johan tanpa berkata sepatah kalimat lagi. Rey yang masih berusaha menggoyahkan hati Johan, tetap tidak membuahkan hasil yang memuaskan. Akhirnya dia menyusul Arthur seusai berpamitan dengan gaya dinginnya.
__ADS_1
***
Seusai kejadian di kantor Johan, amarah Arthur meluap. Dia merasa tidak dihargai, sebab Johan dengan cepatnya menolak ajakannya. Bahkan tanpa pikir panjang.
Beraninya kau menolak ajakanku! Memang kau pikir organisasi semutmu itu lebih baik dari Regdator!
Kini dia berada dalam ruangan CEO, di anak perusahaan nya yang berada di Indonesia. Pria itu memang punya banyak cabang perusahaan. Berpusat di Amerika.
Reynard yang baru saja datang hanya menghembuskan napas menyaksikan tingkah Arthur. Dia paham, bosnya sekarang sedang dirundung emosi.
"Arthur, Johanes Fernandez memiliki seorang anak gadis " Langsung to the point.
"Lalu? " Ujar nya tanpa menoleh ke belakang. Arthur saat ini memandang kepadatan kota dari balkon.
"Kau bisa menggunakannya " Sejak satu jam yang lalu, Rey bertarung dengan pikirannya. Mencari jalan keluar dari masalah yang menimpa. Dan, sebuah ide cemerlang mengalir pada otaknya.
"Maksudmu, aku menculiknya dan meminta Johan membantuku begitu? Cih, tindakan murahan! " Cibir Arthur.
"Bukan bos, maksudmu adalah... kau menikahinya " Sontak ide gila yang diutarakan sekretarisnya membuat Arthur berbalik dan melempar tatapan membunuh. Apa katanya tadi? Menikah? Cih, merepotkan. Bagi Arthur sendiri, menikah itu adalah perihal yang sangat dihindarinya. Sebisa mungkin ia bertahan dari cecaran pertanyaan orang yang selalu bertanya 'Kapan kau akan menikah? '.
"Bodoh! Aku tahu kau itu bodoh, tapi jangan memberiku ide bodoh dengan otak gilamu itu!" Hardik Arthur seraya mendorong bahu sahabatnya.
"Santai bos, ini demi kebaikan bersama. Dengarkan aku! " Melangkah mendekati Arthur yang terduduk di sofa. "Jika kau hanya menculiknya saja, mungkin tuan Johan akan membantumu. Tapi, dia bisa saja berkhianat atau tidak serius dalam menjalankan misi ini "
Menarik napas sebentar, sebelum melanjutkan perkataannya.
"Namun jika kau menikahi putrinya, Johan tidak akan berkhianat padamu. " Ujar Rey.
"Kenapa begitu?"
"Tentu saja demi menjamin keselamatan putrinya. Karena dia menjadi istrimu, maka Johan pasti tidak mau kau menyakitinya. Oleh sebab itu dia akan dengan sukarela membantumu "
Arthur mengangguk ngangguk, menimbang keputusan yang tepat dengan wajah serius. Sesaat kemudian, tatapan tajam tercipta. Ia sedikit tak terima dengan kata kata 'membantu'. Sebab Arthur merasa dia bisa melakukan semua seorang diri.
"Apa yang kau katakan tadi? Membantu!! "
Rey kelabakan. Bagaimana bisa dia lupa jika tengah beradu argumen dengan manusia paling sensitif sejagad raya.
"Bu-bukan begitu Arthur. Maksudku adalah, kau akan membantu GE. Ya, itu maksudku. Iya kan? "
"Baiklah, apa rencanamu? " Dalam hati, Rey berseri seri. Dia penasaran bagaimana nanti nasib Arthur jika sudah punya istri.
Tuh kan, sudah kuduga provokasi ku pasti berhasil kan. Hahaha! Semoga saja setelah punya istri Arthur galak ini berubah dan tidak merepotkanku.
"Begini... " Memajukan wajahnya mendekati telinga Arthur.
"Apa yang kau lakukan! Jangan macam macam ya! " Ancam Arthur yang jijik karena berada dalam radius sangat dekat dari wajah Reynard.
"Aku hanya ingin membisikan sesuatu padamu " Ujar Rey.
Setelah membisikan ide yang terpendam dalam pikiran, Reynard tersenyum puas. Sedangkan Arthur terlihat sibuk menimbang nimbang keputusan. Tidak ingin salah langkah.
"Baiklah, akan kucoba " Ujarnya kemudian.
__ADS_1
Bersambung....