
Mobil mewah milik Arthur telah sampai pada gerbang utama. Di dalam mobil tadi tidak ada pembicaraan. Bahkan Reynard juga diam seribu bahasa.
Pintu gerbang terbuka. Aisha menatap ke jendela, sebuah mansion megah dengan nuansa putih yang mempesona. Bagai istana kerajaan.
Ini mirip rumah daddy.
Mereka keluar dari mobil. Arthur langsung melangkah duluan, memasuki mansion meninggalkan istrinya. Para penjaga dan pelayan telah berbaris rapi di sepanjang jalan, memberi bahasa tubuh sopan dan menunduk.
Aisha keluar dari mobil. Reynard mengikuti di belakang. Agak iba karena melihat sikap Arthur pada istri barunya. Tapi ia juga tak bisa berbuat apa - apa.
Dan pada akhirnya, Aisha yang masih merasa asing diantar oleh dua orang pelayan.
"Mari saya antar nona " Ucap pelayan wanita itu ramah.
Aisha hanya mengangguk, berjalan mensejajari langkah pelayan. Sambil sesekali melirik satu pelayan di belakang yang tengah menenteng kopernya.
"Silakan nona " Sampai pada sebuah pintu berwarna hitam, pelayan itu hanya mengantar sampai sana. Membuka pintu lalu meletakan koper Aisha di dalam.
"Ini kamar nona dan tuan " Lanjut salah satu pelayan lagi.
"Apa! Kamarku dan es balok! " Ia terkejut. Kedua pelayan tadi juga terkejut mendengar panggilan yang dipakai nona untuk menyebut tuan mereka.
*Aku tidak mau sekamar dengannya!
Es balok, apa maksud nona*?
"Maaf nona, ini kamar nona dan tuan " Sahut pelayan satunya.
"Ah ya, apakah tidak ada kamar yang lain? " Masih mencari celah, agar setidaknya ia bisa hidup dengan tenang tanpa menghadapi kelakuan gila si es balok.
"Sebenarnya ada nona, tapi digunakan tuan Reynard. Kamar yang lain juga masih banyak, tapi sebagian di renovasi dan-"
"Lalu sisanya? Pasti ada kamar lain kan? "
"Ada nona, tapi belum sempat kami bersihkan. Karena mansion ini tidak ditempati tuan sebelumnya, tuan tinggal di Amerika. "
"Kami permisi " Lanjut mereka, lalu berlalu pergi melanjutkan tugas masing - masing.
"Nona " Sapa Rey yang baru saja datang.
__ADS_1
"Iya? "
"Kenalkan, saya Reynard Smith. Sekretaris tuan Arthur. " Rey mengulurkan tangannya. Meski akan canggung, gadis itu tetap menjabat tangan pria di hadapannya. Menurut spekulasinya, Reynard jauh lebih hangat daripada suaminya. Terlihat dari wajahnya yang meskipun masih dingin, namun sudah menampakan keceriaan. Sepertinya beradaptadi dengannya jauh lebih mungkin.
"Tinggal saja dikamar ini nona, lagipula kita tidak akan selamanya disini " Ujar Rey.
"Kalau ada apa - apa nona bisa memanggil pelayan. Saya permisi " Rey pamit undur diri. Lalu melenggang pergi dari dari hadapan Aisha. Masih banyak tumpukan kertas yang harus dia habiskan.
Aiss! Aku merasa terasing disini.
Jika saja dia membawa Lila atau pelayan lain untuk menemaninya tadi. Pasti tidak akan mati kesepian seperti ini.
Setelah cukup lama mematung di pintu, ia memutuskan masuk ke dalam.
Bola mata gadis itu menatap sekeliling ruangan. Kamar yang mewah dengan perpaduan warna hitam dan putih. Lalu ia melangkah mendekati ranjang king size disana, merebahkan sejenak tubuhnya yang terasa pegal. Ternyata pesta pernikahan cukup melelahkan. Tamu undangan lebih banyak daripada saat pesta ulang tahunnya dulu. Tidak ada kesempatan untuk sekedar menyapa teman.
Memiringkan tubuhnya ke kanan, ke kiri, lalu ke kanan lagi. Ia bahkan lupa jika belum mandi. Gaun pengantin bahkan masih melekat sempurna pada tubuhnya.
Namun rasa lelah yang menyergap membuat Aisha terlarut dalam rasa kantuknya. Tanpa sadar, ia tertidur disana. Terlena dalam buaian mimpi yang indah.
Hari sudah mulai gelap. Matahari sudah daritadi tergelincir di ufuk barat. Arthur yang baru menyelesaikan urusannya memutar handle pintu. Menguncinya lalu melangkah ke ranjang.
Hal pertama yang dilihat ialah, Aisha yang telah terlelap dengan nyenyaknya. Gaun yang masih melekat bahkan hiasan rambut belum terlepas.
Mencoba acuh pada keadaan, Arthur memasuki kamar mandi. Berendam sejenak dalam bath up yang berisikan air hangat, meredam rasa pegal pada sekujur tubuhnya.
Ia menengadah keatas, memikirkan jalan kehidupan nya kedepan. Sekarang dia membawa seorang gadis dalam hidupnya. Dan Arthur sadar, itu adalah tanggung jawab yang harus dia pikul. Walaupun tidak mencintainya, tapi ia telah berjanji pada Johan dan kakak kakak Aisha, bahwa ia tak akan membuatnya terluka.
Sekarang tanggung jawabku bertambah.
Setelah sejenak berendam sambil membayangkan masa depan, Arthur bangkit dari bath up, mengguyur tubuh atletisnya dibawah shower. Lalu mengambil handuk.
Setelah berganti baju dalam closet, ia melangkah mendekati sofa. Menyambar selimut tebal dalam lemari. Lalu merebah disana, menarik selimut sampai pinggang. Memejamkan mata menuju alam mimpi.
***
Udara pagi yang sejuk. Matahari masih malu - malu menampakan diri. Aisha baru saja membuka mata. Memandang sekeliling yang tak ada siapa - siapa. Bahkan saking lelapnya, ia tak tahu bahwa Arthur tidur di kamar ini.
Entah kemana perginya pria itu.
__ADS_1
Oke, Aisha. Hari ini adalah hari yang baru. Tidak ada lagi rasa canggung, bersikaplah biasa seperti saat dirumahmu.
Sudah ia tanamkan dalam hati, hari ini dia akan mengambil sikap biasa. Kembali menjadi Aisha cerewet yang banyak bicara. Persetan dengan es balok itu, dia akan menjalani hari seperti biasa.
Seusai membersihkan diri dalam kamar mandi. Ia sudah memakai dress cantik seperti biasa. Tidak ada perubahan.
Dengan raut ceria, perempuan manis itu keluar dari kamar. Menapaki anak tangga menuju meja makan. Disana beraneka makanan dengan cita rasa berbeda telah tersaji rapi. Karena semalam ia melupakan makan malam, langsung saja dia sarapan duluan.
"Selamat menikmati nona, saya permisi " Ujar salah satu pelayan yang akan pergi. Masih beribu tugas yang belum ia tuntaskan.
"Tunggu! " Cegat Aisha.
"Iya nona, ada yang bisa saya bantu? " Berbalik. Lalu bicara sambil menundukan kepala. Tata krama yang telah menjadi tradisi selama ini.
"Tidak usah canggung begitu, bersikap biasa saja padaku. Oh ya, dimana es, eh maksudnya tuan Arthur? "
Pelayan tadi sedikit mendongakan kepala, menatap nona mudanya selama tiga detik lalu kembali menunduk. Ia sempat tertegun, istri dari tuannya sangat cantik dan manis. Pantas saja tuan menikahinya, pikir wanita itu. Tidak tahu saja dia apa alasan dibalik tragedi pernikahan dua manusia ini.
"Baik nona, tuan Arthur sepertinya ada di ruang kerjanya. Hari ini beliau tidak bekerja "
"Oh yasudah, pergilah. Emm, siapa namamu? " Satu yang Aisha ketahui. Jika kau berada pada tempat asing, pertama carilah teman. Berinteraksi dengan banyak orang akan memudahkan proses adaptasi di lingkungan baru. Aisha sudah mempraktekannya dari dulu, saat pertama kali dia memasuki dunia perkuliahan.
"Nama saya Lia nona " Ucapnya.
Aisha mengangguk, nama pelayan ini mengasah memorinya tentang Lia. Singa betina peliharaan nya yang telah mati beberapa bulan yang lalu.
"Kau tahu Lia, namamu mirip dengan sahabatku " Kata Aisha girang, dibumbui dengan senyum manis yang membuat pelayan itu semakin terpana.
Nona sangat manis, beruntungnya tuan muda.
"Dia sahabat baikku Lia. Tapi sayangnya, dia sudah tidak ada sekarang. " Pelayan itu mau membuka mulut, tapi rasanya nona nya ini masih enggan berhenti mengoceh "Andai saja dia masih ada. Aku akan membawanya kemari. Tinggal disini bersamaku. Tapi tidak papa, masih ada Leo dan Simmba. Mereka akan tinggal disini juga nantinya.
Apa? Nona akan membawa laki - laki tinggal disini.
Pelayan itu ragu dengan pikirannya sendiri. Memangnya tuan Arthur akan mengijinkan hal itu terjadi. Ini istrinya lho. Seorang istri, tidak mungkin kan suaminya tidak cemburu kala istrinya akan membawa pria lain tinggal bersamanya.
"Maaf nona, apa mereka itu laki - laki? " Bertanya lagi. Mungkin saja kan yang namanya Leo dan Simmba itu perempuan.
"Iya. Mereka yang paling mengerti aku. Aku sangat sangat sangat menyayangi mereka berdua. " Mendengar penuturan sang nona muda rasanya pelayan itu mau pingsan saja.
__ADS_1
Jadi benar nona akan membawa laki laki ke mansion ini?
Bersambung...