Gadis Manis Milik Mafia

Gadis Manis Milik Mafia
BAB 110


__ADS_3

Makan malam romantis mereka diakhiri dengan pergumulan panjang yang cukup menguras tenaga. Keduanya saling terlelap dan saling memeluk satu sama lain.


Aisha tertidur dengan senyum tipis yang menghiasi wajahnya.


Ia harap selanjutnya hanya akan ada hal - hal baik dan tidak ada masalah lagi pada hubungan rumah tangganya.


Tidak akan ia biarkan apapun memisahkan dirinya dan Arthur yang merupakan ayah dari calon anak yang tengah ia kandung.


****


WARNING⚠️ MENGANDUNG KEKERASAAN


TIDAK SUKA SKIP!!


Sementara itu di tempat lain, di sebuah rumah besar yang ketat penjagaan. Terdengar suara memilukan dari seorang wanita yang nampak sangat menderita. Keheningan di tempat itu membuat suara teriakan dan rintihaan itu sangat jelas di telinga.


Namun bukannya membantu, orang - orang disana justru mematung di tempat dan menjalankan tugas mereka. Berpura - pura tuli walaupun sebenarnya dalam hati tak tega mendengarnya.


"Kerja bagus! Kau menepati janjimu dengan membawa wanita itu kurang dalam dua hari." John menepuk pundak anak buahnya yang hebat. Dia adalah pria yang berjanji akan membawa seseorang yang diminta tuannya dalam dua hari.


"Terimakasih tuan."


"Kenapa tidak dari dulu aku merekrutmu. Jika saja itu terjadi mungkin aku tidak akan menunggu selama ini." Tawanya menggelegar memenuhi ruangan yang luas. Udara dingin sangat mencekam saat semua orang tahu apa yang akan dilakukan tuannya selanjutnya.


"Kalian semua boleh pergi!" Usir John pada para pria berbadan kingkong yang berbaris di hadapannya.


Tap!Tap!Tap!

__ADS_1


Langkah tegas itu terdengar mendekat membuat Wilhelmina yang sedang diikat pada sebuah kursi cemas.


Jantungnya berdegup dengan keras tatkala daun pintu itu terbuka lebar. Menampakan seseorang yang sangat ia takuti selama ini, yang tengah berdiri menjulang dengan sorot mata yang seolah ingin menelannya hidup hidup.


"John." Batinnya dalam hati. Pria yang membuatnya harus bersembunyi demi melindungi kedua anaknya. Susah payah ia menghindari iblis itu tapi Wilhelmina tak mengira, kini lelaki yang suka menyiksanya berdiri dan semakin mendekat padanya.


John terus melangkahkan kakinya hingga mengikis jarak diantara keduanya."Sudah puas menghindariku sayang?" Tanyanya dengan senyum licik di bibir.


"Lepaskan aku John! Biarkan aku pergi, apa lagi yang kau inginkan dariku?!" Wilhelmina berteriak dan meronta. Namun tak membuat hati pria itu goyah meski melihat wanita di depannya yang sudah banjir air mata.


Mana mungkin ia meloloskan buruannya yang sudah lama ia incar. Itu bodoh namanya.


"Apa yang aku inginkan darimu?" Jari telunjuknya mendarat di dagu wanita itu. Menelisik wajah yang terkena beberapa luka lebam ulah dari para anak buahnya. Tapi John belum puas, sebelum menyiksa perempuan ini dan memperoleh apa yang ia inginkan.


"Aku ingin menyiksamu! Membuatmu menderita dan memohon ampun dariku!!" Wilhelmina berteriak saat rambutnya ditarik dengan sangat kencang. Membuatnya memekik kesakitan.


"Salahmu banyak sekali padaku sayang, dan aku menginginkan kedua anak itu." Seru John yang sudah membendung emosinya sejak tadi, saat mendapatkan laporan dari bawahannya bahwa Wilhelmina tetap tidak mau menunjukan keberadaan Devan dan Krystal meski sudah disiksa.


Setelah ikatan itu terbuka, Wilhelmina yang awalnya ingin memanfaatkan kesempatan untuk meloloskan diri kembali memekik kesakitan kala pipinya memperoleh tamparan yang keras hingga sudut bibirnya mengucurkan darah segar.


"Hiks... Tolong biarkan aku pergi John." Lelaki di depannya benar benar iblis yang menjelma menjadi manusia. Dia tak henti - hentinya mengutuki John dalam hati, berharap laki - laki itu lenyap dari muka bumi ini.


Wilhelmina tidak masalah meski ia terluka atau tiada sekalipun, yang ia khawatirkan adalah keselamatan kedua anaknya yang saat ini berada di mansion Anderson.


Jangan sampai pria jahat ini menemukan dan membawa anaknya pergi jauh darinya.


"Kalau begitu berikan anak - anak itu padaku!" Sentaknya.

__ADS_1


"Tidak akan! Meski kau membunuhku sekalipun, aku tidak akan membiarkan tangan kotormu menyentuh anak - anakku!" Teriak Wilhelmina meluapkan emosinya. Terserah apa yang akan terjadi selanjutnya, ia tidak peduli.


Yang penting ia yakin di mansion milik Arthur, Devan dan Krystal akan aman mengingat penjagaan disana cukup ketat.


"Kalau begitu berarti kau setuju untuk menderita lebih jauh lagi. "


Dengan kasar John menyeret Wilhelmina menuju sebuah ruangan penyiksaann yang sudah ia siapkan.


"Lepaskan aku!" Teriakan itu terdengar hingga lantai bawah.


Dan disaat pintu hitam itu terbuka lebar mata perempuan itu membola seketika, bayang bayangnya kembali ke masa lalu dimana masa penyiksaan yang ia lewati dengan penuh tangis.


Ruangan ini adalah ruangan penyiksaann yang berisikan berbagai alat - alat khusus. Biasanya digunakan untuk memberi pelajaran pada para pengkhianat yang tertangkap basah.


Wilhelmina bergidik ngeri membayangkan ia akan kembali disiksa oleh pria kejam yang tengah menyeretnya. Rasa takut menyergapnya kala mengingat semua itu. Ruangan ini sama seperti yang dulu digunakan untuk menyiksa dirinya bedanya yang ini berukuran lebih kecil.


"Aku memberimu satu kesempatan lagi. Berikan anak - anak itu padaku, lalu kau akan bebas. Jika tidak maka kau akan menjadi tahanan disini selamanya dan aku akan tetap menemukan mereka." Ujarnya sekali lagi pada Wilhelmina yang tetap teguh pendirian.


"Lebih baik aku disiksa hingga mati daripada menyerahkan mereka padamu!" Ucapnya sungguh - sungguh. Membuat amarah John yang sedari tadi dibendungnya meluap.


Pria itu mengambil sebuah alat dan memukulkannya pada punggung wanita itu hingga membuatnya menjerit keras.


"Ahh!! " Sakit yang menjalar di punggungnya sangat terasa setelah terkena alat cambuk khusus yang lebih menyakitkan daripada alat cambuk biasa.


John terus mencoba puluhan alat yang berjejer rapi disana pada wanita itu. Seolah dia adalah kelinci percobaan.


Wilhelmina tersenyum di sela - sela penderitaannya, tatkala ia memejamkan mata dan melihat bayangan Devan dan Krystal yang sedang bermain bersama. Manis sekali kedua malaikat kecilnya itu.

__ADS_1


Tidak! Apapun yang terjadi dia tak akan membiarkan Dev dan Krystal menderita. Mereka harus bahagia. Dan salah satu jalan membuat mereka bahagia adalah menjauhkan keduanya dari jangkauan manusia iblis di dihadapannya.


__ADS_2