
Acara pesta ulang tahun putri tuan Barnold sangat mewah. Tamu undangan mulai berdesakan memenuhi ballroom hotel yang luas dan melingkar. Ruangan bernuansa hitam berpadu ungu yang merupakan request dari pemilik acara. Aisha mengenakan pakaian berwarna hitam sesuai dengan dress code yang ada.
Ia hanya tersenyum ramah menanggapi ucapan istri salah satu rekan bisnis Arthur yang bernama Samantha.
"Jadi usia kehamilanmu sudah berjalan lima bulan lebih?Wow! Bagaimana rasanya?" Samantha yang merupakan seorang wanita yang memutuskan untuk free child bersama suaminya sedikit terkejut. Karena usia perempuan di depannya terbilang masih muda dan sudah memutuskan untuk hamil. Sedangkan dia yang sudah menginjak kepala 3 memilih fokus pada karir dan menjalani hobi traveling. Bagi Samantha yang bercita - cita mengejar karir setinggi mungkin, memiliki anak kecil akan sangat merepotkan. Hanya akan menguras waktu dan tenaganya. Apalagi dengan hobi traveling yang melekat di hatinya, itu akan sedikit sulit. Namun belakangan ini ia mulai merasa kesepian ketika tengah cuti kerja atau ditinggal suaminya keluar kota. Dia sering sendiri di rumahnya yang luas.
"Rasanya menyenangkan, aku tidak menyangka juga akan hamil di usia ini. Tapi di negara asalku itu sudah biasa, lagipula aku menyukai anak kecil yang lucu. " Ujar Aisha seraya tersenyum lebar.
"Bayangkan saja ada makhluk mungil bernyawa yang bersemayam dalam perutmu, kadang aku tidak percaya saat merasakan tendangan dari dalam sana." Tuturnya dengan mata berbinar. Dia benar - benar terlihat sangat senang tanpa beban secuilpun.
"Sebegitu menyenangkannya kah?" Tanya Samantha yang hatinya mulai luluh. Belakangan ini niatnya memang sudah mulai goyah, ditambah pernyataan Aisha tentang betapa bahagia nya dia akan menjadi seorang ibu membuatnya iri dan penasaran dalam waktu bersamaan.
"Iya," Perempuan itu mengangguk. "Semoga kau berubah pikiran Samantha, jangan hanya fokus pada karir atau kau akan merasa kesepian nanti pada masa yang akan datang."
"Aku akan memikirkannya lagi." Ujarnya. Pembicaraan mereka terus berlanjut hingga membahas hal yang paling sepele sekalipun. Mereka sangat cocok. Sama sama ektrovert yang membuat topik pembicaraan keduanya selalu muncul.
Namun tiba - tiba Aisha terdiam, matanya menyorot curiga pada gadis cantik bergaun ungu yang sedang berbicara sangat akrab dengan suaminya. Ia yakin itu adalah putri tuan Barnold yang berulang tahun, terlihat dari gaunnya yang berbeda sendiri dari yang lain.
"Aku permisi kesana dulu." Dengan langkah lebar namun tetap anggun ia mengayunkan kakinya mendekati sebuah meja. Disana terdapat Arthur, tuan Barnold, dan seorang gadis cantik yang ia yakini sebagai putri dari pengusaha sukses tersebut.
"Dad, ternyata Arthur ini sangat berbakat ya, dia bahkan bisa bermain piano. Sedangkan aku saja menyentuh piano sudah gugup duluan, ah aku punya ide, bagaimana kalau aku kursus piano dengan Arthur saja?" Gadis itu asik berceloteh ria tanpa memberi kesempatan kedua laki - laki di depannya untuk menyahut.
Tuan Barnold hanya tersenyum, putrinya memang cerewet dan banyak bicara. Ia menoleh pada partner kerja barunya dan menggelengkan kepala, meminta pemakluman atas sikap yang ia rasa kurang pantas. Apalagi Arthur adalah pebisnis ulung yang usianya terpaut jauh diatas Elle, putrinya.
"Ekhm! Permisi, boleh aku bergabung." Sapa Aisha yang menginterupsi semua orang. Arthur mengalihkan pandangan, baru saja ia akan berkata namun sudah didahului gadis muda di depannya.
__ADS_1
"Oh, dia pasti sepupu Arthur yang tadi kau ceritakan kan? Tentu ayo bergabunglah dengan kami nona." Ucapnya tersenyum lebar, bahkan ia menarik kursi untuk perempuan di depannya.
"Aku Elle."
"Aisha."
Mereka saling berkenalan seraya berjabat tangan.
"Kau darimana saja? Aku mencarimu sejak tadi?" Bisik pria yang berstatus suaminya itu di dekat telinganya. Yang sebetulnya tetap masih bisa di dengar orang di sekitar mereka.
"Aku habis berbicara dengan istri James. Dia sangat baik ternyata, sampai aku lupa dimana keberadaanmu."
"Kalian sangat akrab sekali, Dad tolong carikan aku pria seperti Arthur. Aku ingin pria yang penyayang seperti dia." Rengek Elle manja yang hanya ditanggapi tawa oleh semua orang tak terkecuali Aisha.
"Kau ada - ada saja El." Gumam tuan Barnold.
"Sepertinya itu tidak sulit nona Elle, apalagi kau sangat cantik, tentu akan sangat mudah mendapatkan lelaki penyayang seperti suamiku ini. " Aisha berucap sambil tertawa. Perubahan raut wajah gadis kecil yang ia perkirakan masih berusia 17 tahun itu sangat kentara di matanya. Insting wanita memang kuat. Tapi rasa cemburunya masih wajar, sebab ia sadar di depannya hanya gadis belasan tahun yang masih labil dan bisa suka pada semua orang dalam waktu singkat.
Dia bukanlah wanita dewasa seperti mendiang Wilhelmina yang berbahaya.
"Yahh, ternyata kalian sepasang suami istri! Aku kira kalian sepupu. " Ujarnya menyetel raut wajah kecewa.
"Maaf nona Elle, wajah istriku ini memang masih sangat muda jadi kebanyakan orang yang bertemu tidak akan menyangka kalau kami pasangan." Tak dapat dipungkiri, perbedaan bentuk wajah keduanya sangat mencolok. Aisha, dia terlihat seperti anak gadis yang baru mengenal cinta. Sementara Arthur, terlihat mirip laki - laki dewasa beranak dua. Tentu orang akan terkejut saat tahu faktanya. Pria itu tak lagi tersinggung kalau ia dikatai lebih tua dari Aisha, asalkan perempuan manis dengan baby facenya itu selalu berdiri disampingnya, selamanya.
"Gagal dong mendapatkan pria mapan yang penyayang, haha!" Elle hanya tertawa masam. Sudah terlihat kan? Dia hanya gadis beranjak dewasa yang tak memiliki niat buruk seperti yang kalian pikirkan.
__ADS_1
"Tentu saja gagal dasar gadis bodoh, apalagi tuan Arthur akan segera memiliki anak!" Kesal tuan Barnold menjewer telinga anak perempuannya gemas. Gadis yang sedang berulang tahun itu hanya mendengus, beralih menatap perut buncit Aisha yang baru ia sadari.
"Wah wah, ternyata nyonya Anderson sedang hamil, hallo baby. Maaf karena tidak menyadari kehadiranmu daritadi." Ia beralih mengelus perut wanita itu yang membulat, menyapa nyawa yang ada di dalamnya. Sudut bibirnya melengkung keatas saat merasakan tendangan bertubi dari dalam. "Wah, dia menendang!'
"Coba aku lihat!" Arthur beralih meraba perut wanitanya, ia turut tertawa merasakan pergerakan di dalam sana.
Hidangan tersaji di depan mata. Beragam makanan khas asal negara tuan Barnold tersaji tapi diatas meja. Mereka makan dengan tenang di selingi beberapa obrolan ringan dan candaan. Ternyata sifat Tuan Barnold sudah berubah sejak terakhir kali Aisha menemuinya, dia jauh lebih hangat dan kadar arogannya berkurang.
"Arthur, ayo berfoto bersama!" Suara cempreng Elle memecah keheningan yang sempat tercipta. Ia memanggil fotografer yang ada di sudut ruangan dengan lambaian tangan. Tanpa menunggu jawaban, digeretnya tangan Arthur dan langsung menjepret beberapa gambar. Arthur yang tengah meneguk soda bahkan hampir tersedak, sedangkan Aisha tengah permisi ke toilet merapikan penampilannya.
"Elle, tuan Arthur sedang minum! Setidaknya tunggu dia selesai!" Tegur sang ayah yang diabaikan.
Cekrek! Cekrek!
Beberapa foto diambil dengan pose yang mesra bahkan mereka sempat berpelukan. Lebih tepatnya Elle yang berinisiatif duluan. Hingga tanpa mereka sadar terdapat sepasang mata indah yang kini melirik sinis pada keduanya.
Aisha menghampiri dengan langkah pelan, perutnya agak sedikit tak nyaman karena makanan sajian yang tak pas di lidahnya. Tapi saat ia kembali, malah melihat gadis itu sedang melakukan hal yang membuatnya kesal.
"Arthur, ayo kita pulang!" Serunya pada sang suami.
"Kau sudah selesai? Baiklah, ayo kita pulang sekarang. " Tutur pria itu. Melihat wajah istrinya yang sudah masam dan lelah membuatnya tak tega. Pada akhirnya dia meminta ijin pada tuan Barnold untuk pulang terlebih dahulu.
"Kenapa kalian pulang? Pestanya bahkan baru setengah jalan, aku juga belum memotong kue?!" Suara Elle menyahut saat Arthur tengah bicara pada ayahnya.
"Maaf sepertinya istriku kelelahan, dia tidak boleh terlalu lelah dalam keadaan hamil begini."
__ADS_1
"Jangan dengarkan dia Tuan Arthur, kalian boleh pulang. Dan hati - hati dijalan." Ujar Tuan Barnold bijak yang membuat Elle mendengus kesal.