Gadis Manis Milik Mafia

Gadis Manis Milik Mafia
BAB 101


__ADS_3

Hati Arthur seperti tercubit ketika melihat rekaman CCTV jalan terakhir yang dilewati istrinya. Matanya tak berhenti menyaksikan layar komputer itu hingga terlihat cairan bening disana ketika ia melihat Aisha yang kesakitan di tengah jalan tanpa ada seorangpun yang bersedia membantunya. Apakah ia sangat keterlaluan? Ya, Arthur merasa mungkin ia sangat keterlaluan.


"Percepat videonya!" Arthur tak ingin membuang banyak waktu karena ia ingin tahu dimana istrinya saat ini. Dia hampir kehilangan kesabaran.


Seusai video rekaman itu dimajukan hingga terlihat detik detik Aisha yang pingsan, hingga tak lama kemudian ada sebuah mobil yang berhenti tepat disampingnya dan membawa wanita itu pergi darisana.


Kedua bola mata Arthur menatap tajam layar itu seraya mencengkeram meja disampingnya.


"Siapa pria itu?! Apa dia memang berniat menolong atau berbuat jahat?" Tanya Arthur dengan nada tinggi sambil mencengkeram kerah baju Tim, salah satu anggota Regdator handal yang berhasil menjalankan perintahnya dalam waktu yang singkat.


"Jangan katakan kalau kau belum mencari tahu tentangnya!?" Sambungnya kemudian dengan nada tinggi.


Tim menatap tenang pada tuannya karena ia telah menjalankan tugasnya dengan sangat baik. "Dia adalah musuh anda sendiri, Rithik Wilson yang kini meneruskan bisnis serta kekuasaan ayahnya." Ujarnya dengan penuh keyakinan.


Kemampuan Tim dalam menjalankan misi dan menyelidiki sesuatu memang tidak perlu diragukan lagi. Sudah beribu misi ia jalankan dan senantiasa memperoleh keberhasilan.


Mata Arthur membulat kala menerima laporan dari anak buahnya yang sangat bisa diandalkan itu. Rasanya jantungnya akan terlepas saat ia mendengar bahwa Aisha sedang bersama Rithik, anak dari musuh lamanya yang sudah mati. Mengingat bahwa istrinya itu sedang dalam keadaan yang lemah, Rithik bisa berbuat apapun padanya.


"Sialan! Beraninya pria itu! Siapkan semuanya sekarang kita akan berangkat saat ini juga!" Dengan tergesa gesa ia membalikkan badannya hendak keluar dari ruangan, namun Tim mencegahnya yang membuat pria itu mendengus sebal.


"Ada apa?!" Bentaknya tak sabar.


"Tuan, jika anda menghadapi masalah dengan emosi tentu semuanya akan bertambah parah. Bukannya menemukan nona Aisha mungkin anda malah akan terjebak sendiri. Lebih baik pikirkan dengan kepala dingin dulu."


Kening Arthur berkerut dalam mendengarkan setiap kata dari pria itu. Dia benar, pasti disana ada penjagaan yang ketat sehingga tidak bisa dengan mudah untuknya masuk dan membawa Aisha pergi.


Arthur menunda keinginannya sejenak dan berusaha berpikir jernih.


*****


"Tuan, kita harus pergi sekarang juga. Gudang besar yang ada di tengah kota kita sedang kebakaran. " Salah satu pengawal yang bekerja melaporkan hal yang membuat Rithik terkejut. Ia yang sebelumnya duduk tenang sambil mengetik sesuatu pada komputernya bangkit berdiri dan melepaskan kacamata kerjanya begitu saja.


"Sialan! Bagaimana bisa gudang itu terbakar!?" Rithik melemparkan kacamatanya hingga benda yang terbuat dari kaca itu jatuh berkeping keping ke membentur lantai.


Pengawal itu hanya menunduk tanpa berani menegakkan kepalanya daripada menyaksikan amarah tuannya.


Rithik memijat pangkal hidungnya yang untuk mengurangi pening di kepalanya.Ia tidak mau kehilangan gudang itu pasalnya bangunan itu menyimpan banyak komoditas ekspor yang seharusnya akan menghasilkan banyak keuntungan bagi perusahaannya.


Belum selesai satu masalahnya, kini datang masalah lagi.


Sekedar informasi saja, bahwa kemampuan bisnis Rithik memang tidak lebih baik dari sang ayah. Jelas Pither lebih berkompeten dalam urusan seperti ini, namun dia tidak punya pilihan karena dia adalah anak laki laki yang terpilih untuk mewarisi seluruh kekayaan keluarga.


"Kita pergi sekarang juga! " Titahnya tak terbantahkan.


Kedua kaki penjangnya melangkah lebar keluar dari ruangan itu dengan tergesa gesa.


Dua jam berlalu semenjak kepergian Rithik yang sempat membuat heboh seisi bangunan mewah itu karena menimbulkan keributan.


Belum lagi sebagian besar pengawal dan anak buahnya ikut pergi hingga rombongan mobil melintasi gerbang yang tak luput dari pandangan Aisha.


"Kemana sebenarnya mereka pergi? Apa ada masalah?" Perempuan itu tak henti bergumam seraya pikirannya yang berkecamuk memikirkan tentang kemana tujuan para pria itu tadi.


Tapi ia tak begitu ambil pusing mengingat Rithik adalah mafia yang mempunyai banyak musuh, kondisi seperti ini wajar untuk orang yang mempunyai banyak musuh. Sama seperti dirinya dulu.


Tiba tiba sebuah ide muncul dalam benaknya. Kepergian tuan rumah tadi dengan membawa begitu banyak orang tentu saja mengurangi penjagaan dirumah ini sehingga memudahkannya untuk pergi.


Sejujurnya Aisha memang sejak lama ingin melangkah pergi darisana, namun ia selalu tidak mendapat kesempatan bicara pada Rithik. Dan para pria bodoh dan kaku itu tentunya tak akan meloloskannya tanpa ijin langsung dari atasan mereka.


"Ya, aku harus pergi sekarang. Tidak ada kesempatan yang lebih baik dari ini atau aku tidak akan mendapat kesempatan kedua."


Nyaris dirinya mengayunkan kakinya menuju pintu keluar, namun ia mendengar sesuatu yang membuatnya mengumpat kesal.


*Aku dengar tuan sedang ada masalah besar diluar. Dia meminta seluruh orang yang tersisa agar tetap ditempat tanpa diijinkan satu langkahpun keluar dari tempat ini."


"Ya, aku rasa kita harus menjaga di depan kamar gadis ini agar dia tidak kabur. Kalau kita kehilangannya, bisa jadi setelah itu kita akan kehilangan nyawa juga*."


"Sial! Kenapa mereka malah berjaga diluar kamar ini!" Gerutunya hingga beberapa detik kemudian perempuan itu berlari ke kamar mandi dengan tergesa - gesa sebab perutnya yang terasa seperti diaduk.


***


Aisha memutuskan merebahkan tubuhnya yang lelah serta kepalanya yang terasa berputar putar. Rasanya ia masih lemas sebab seluruh makanan yang masuk dalam perutnya sudah ia muntahkan tanpa sisa.


Merasa kesal dengan dirinya sendiri yang kini sangat lemah dan tidak berdaya.


Hingga tanpa sadar ia terlelap diatas ranjang yang sangat nyaman tersebut.


Entah berapa lama seorang perempuan muda terlentang diatas ranjang dengan keringat yang bercucuran di dahinya.


Dahi mulus itu mengernyit dalam hingga beberapa lama kemudian ia terbangun dan mendapati dirinya masih di ruangan yang sama.

__ADS_1


Huh! Syukurlah! Kejadian buruk tadi ternyata hanya mimpi belaka.


Sejenak setelah Aisha berhasil mengatur napasnya dan menenangkan dirinya sendiri, pintu berwarna hitam itu terbuka hingga muncul Willy dibaliknya.


Wanita itu membawa nampan yang berisi piring dan gelas.


Seulas senyum ia tampilkan pada Aisha kala pandangan mereka bertemu.


Langkah perempuan itu mendekat kearahnya.


"Ini sudah waktunya makan, aku membuatkan sayur dan ikan. Ini akan sangat baik untuk pertumbuhan janin di dalam perutmu nona." Tuturnya yang membuat Aisha merasa tidak enak diperlakukan sebaik itu.


Willy masih setia pada posisinya.


"Terimakasih Willy." Ujarnya pelan sambil memanjangkan tangannya meraih piring diatas nampan.


Aisha mencicipi masakan perempuan itu. Hem, tidak buruk. Bahkan makanan ini sangat lezat hampir sebanding dengan restoran bintang lima.


"Apakah itu lezat?" Tanya Willy seraya menunjuk makanannya


"Sangat lezat, kau sangat berbakat dalam memasak." Puji Aisha.


Dirinya tidak berbohong, hidangan yang disajikan padanya saat ini rasanya mampu mengalahkan rasa tidak ***** makannya.


Hingga ia ingin menghabiskan semua makanan itu.


"Rasanya aku ingin memakan masakan buatanmu setiap hari. Seakan ***** makan ku kembali lagi seperti saat aku masih sehat." Aisha tak berhenti memuji membuat Willy senang.


"Tapi sayangnya kau tidak akan merasakan masakanku lagi setelah ini."Tukasnya dengan wajah yang sendu.


Aisha mengalihkan pandangannya dari piring kearah wanita yang berdiri disamping ranjang.


Manik matanya dapat menangkap kesedihan yang tersirat disana.


Membuat kening wanita itu berkerut dalam.


Aisha meletakkan piringnya ke tempat semula.


Menyuruh Willy untuk duduk disebelahnya.


"Kenapa seperti itu?" Tanya nya pelan.


"Kontrak kerjaku akan habis disini, dan aku tidak ingin memperpanjangnya lagi karena aku pikir gaji disini tidak dapat menutupi kebutuhanku dan kedua anakku. " Ia memberi jeda pada kalimatnya.


"Sepertinya aku akan mencari pekerjaan lain yang lebih menghasilkan banyak uang." Sambungnya kemudian.


Aisha mengangguk tanda dia paham akan masalah apa yang dihadapi orang disebelahnya.


Ia akui sedari kecil hingga sekarang, dirinya tak pernah sekalipun merasakan apa itu kesulitan ekonomi mengingat latar belakangnya yang merupakan keluarga terpandang.


Namun ia turut merasakan apa yang perempuan itu hadapi.


Rasa prihatin menyelimuti hatinya yang memang mudah iba pada orang yang kesusahan.


Membuatnya tak tega apabila tak dapat melakukan sesuatu untuk perempuan yang sudah banyak membantunya selama ia ada di tempat ini.


Apalagi jika memikirkan nasib kedua anak Willy, ia tak bisa membayangkan jika nasib yang sama akan menimpa anaknya.


Aisha mengelus perutnya yang masih datar sambil membayangkan hal tersebut.


"Aku mengerti keadaanmu, mengurus anak memang bukan hal yang mudah. Apalagi kau punya dua anak.


Tapi tidak masalah Willy, kau bisa bekerja denganku kebetulan aku menyukai masakanmu." Kalimat Aisha tersebut membuat Willy seketika mengangkat wajahnya yang semula tertunduk. Binar matanya menunjukan ia sangat bahagia mendapat tawaran itu.


Entah wajah sumringahnya itu karena ia telah mendapatkan pekerjaan baru dengan sangat mudah atau ada maksud lain.


Tidak ada yang tahu isi hati manusia kecuali dirinya sendiri dan Tuhan.


"Benarkah itu nona?" Tanyanya memastikan dengan mata berbinar.


"Ya, sebaiknya segera kemasi barangmu karena aku sedang memikirkan cara untuk segera pergi darisini." Sahut Aisha.


"Baiklah aku akan mengemasi barang barangku." Ujar wanita itu sebelum dirinya pamit keluar darisana.


Aisha masih termenung, pikirannya bergulat mencari jalan keluar agar dia bisa angkat kaki dari rumah ini. Kalau bisa tanpa menimbulkan keributan.


******


Di dalam sebuah mobil hitam itu terdapat seorang pria dengan kacamata hitam membingkai wajahnya.

__ADS_1


Ia tak melakukan apapun dan hanya menatap lurus pada gerbang yang terbuka sebagian itu.


Cukup lama menunggu, namun tidak ada tanda tanda dari dalam kalau ia bisa masuk.


"Lama sekali mereka! Apa mereka becus!" Pria itu tak lain adalah Arthur yang memang sedang menanti anak buahnya yang tengah melumpuhkan pada penjaga dirumah Rithik yang hanya tinggal sebagian.


Kesal lelaki itu menendang kursi di depannya yang disana Tom juga sedang memperhatikan tanda tanda dari dalam.


Seharusnya ini tidak akan menjadi lama menurut perkiraan nya.


"Maaf tuan, aku kita orang orang yang aku pilih sendiri tadi seharusnya bisa melumpuhkan mereka semua dalam sekejap."


Tom membalas dengan rasa malunya karena kali ini dirinya merasa agak lalai dalam bertindak.


Namun tak seberapa lama kemudian pintu gerbang itu terbuka lebar pertanda bahwa Arthur bisa segera masuk.


Tom menghela napas lega lalu segera mengemudikan kendaraan mewah itu memasuki halaman.


Tok!Tok!Tok!


Pintu digedor dengan agak keras menginterupsi Aisha yang tengah duduk diatas ranjangnya.


Siapa yang menggedor pintu dengan sangat keras?


Bahkan Willy saja baru keluar beberapa saat yang lalu setelah mengantarkan vitamin padanya.


Baru saja kedua kaki telanjangnya menyentuh lantai dan hendak mengenakan sandalnya, pintu berwarna hitam itu terbuka lebar menampilkan seseorang yang seketika membuat bola mata nya membulat.


"Arthur? Bagaimana dia tahu aku ada disini?" Gumamnya pelan namun tak membuat kakinya bergerak mendekati lelaki yang masih berstatus sebagai suaminya tersebut.


Rasa rindu yang tenggelam dalam masing masing manik mata mereka terlihat sangat jelas saat keduanya saling bertukar pandang.


Aisha tak dapat menampik fakta bahwa dirinya sangat ingin mendekap Arthur dan merasakan hangatnya tubuh pria itu yang sudah beberapa hari tak ia rasakan.


Namun ia mengurungkan keinginannya kala menyaksikan sendiri mimik wajah Arthur yang belum berubah dari terakhir kali mereka berjumpa.


Ia menautkan jemarinya dibawah sana kala pria itu mendekat disertai dengan tatapan dinginnya yang membuatnya bingung harus melakukan apa selain menghindar.


Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.


"Ayo kita pulang!" Dengan nada rendah namun penuh tekanan Arthur berucap.


Aisha menggeleng, ia memang ingin pergi tapi bukan dengannya. Ia masih sakit hati pada pria berbadan atletis itu.


"Aku tidak mau." Cicitnya pelan membuat Arthur mencekal pergelangan tangannya ketika ia hampir melangkah keluar.


"Kau mau kemana? apa kau sudah tidak menghormatiku lagi? Kau tidak menganggap aku sebagai suamimu?"


"Ada apa ini?" Belum selesai ucapan Arthur sudah dipotong oleh wanita yang baru saja masuk ke dalam kamar itu karena mendengar keributan diluar sana.


Aisha mengalihkan pandangannya menatap Willy agar mau membantunya terlepas dari jeratan pria ini.


Namun tidak dengan Arthur yang masih setia memandang wajah istrinya yang terlihat pucat.


Hatinya menjadi teriris. Ia tak kuasa melihat Aisha dalam kondisi seperti ini.


Dia ingin segera membawa wanita itu pulang kerumahnya meskipun sebenarnya ia masih marah pada istrinya tersebut.


"Kita pulang sekarang juga!" Arthur mungkin tidak mendengar pertanyaan yang dilayangkan padanya beberapa saat lalu atau memang ia tidak ingin membalasnya.


Ia kembali menarik tangan Aisha namun kali ini lebih pelan.


Langkah keduanya sudah mencapai pintu, namun Aisha berhenti sejenak. Ia menoleh ke belakang dan teringat akan janjinya pada perempuan yang sedang berdiri dengan wajah sendunya disana.


Aisha teringat akan janjinya pada Willy bahwa ia akan memberi pekerjaan pada wanita itu.


"Tunggu Arthur! Aku hanya akan pergi darisini kalau dia ikut bersamaku." Tunjuk Aisha.


Arthur menoleh pada perempuan yang menunduk disana.


"Baiklah." Jawaban itu mengiyakan permintaan Aisha.


Membuat perempuan itu sedikit lega karena berhasil menunaikan janjinya.


Arthur kembali mengajak istrinya mengayunkan kakinya menjauh darisana agar bisa segera pergi dari tempat itu.


Dia tidak terlalu memikirkan alasan Aisha meminta membawa wanita tadi kerumahnya sebab menurutnya itu tidak penting.


Yang penting adalah membawa wanita itu yang merupakan tanggung jawabnya pulang dengan selamat. Belum lagi tidak banyak waktu yang ia punya mengingat Rithik sudah tahu kalau ini semua adalah rencananya.

__ADS_1


__ADS_2