Gadis Manis Milik Mafia

Gadis Manis Milik Mafia
BAB 88


__ADS_3

"Kakak, bolehkah aku memanggilmu kakak?" Tanya Anna dengan polosnya. Keduanya kini sedang duduk bersama di depan televisi, menonton film Disney rekomendasi Aisha.


"Tentu saja, kenapa tidak? Kau bisa memanggilku sesukamu." Aisha tersenyum senang. Akhirnya dia punya teman perempuan yang sebaya dengannya sekarang. Ya walaupun dia jauh lebih tua daripada Anna. Terlebih perilaku gadis itu yang masih kekanakan membuatnya sangat nyaman.


"Makanan datang.. " Rania dengan bahagianya membawakan berbagai macam camilan yang dia buat sendiri. Akhir akhir ini wanita itu memang suka memasak, tentunya karena kedatangan putrinya.


"Mom, aku sudah lama tidak memakan ini?" Anna dengan bahagia nya memakan semua camilan yang dibawa Rania.


"Makanlah sayang, jangan lupa bagikan juga dengan kakak sepupumu ini." Ujar Rania terharu. Ia masih tidak menyangka bahwa kini dia dapat kembali berkumpul dengan putrinya. Rania berjanji akan menjaga anaknya itu dengan sebaik mungkin mulai saat ini.


Ditengah percakapan mereka, Arthur datang dengan wajah datar. Melewati ruang keluarga dan langsung naik ke atas tanpa menyapa. Membuat semua orang mengernyit heran.


"Aku akan menyusul Arthur dulu." Beranjak dari duduknya.


"Ya, ya susulah suamimu itu. Jangan sampai dia kekurangan apapun." Seru Rania.


Aisha menapaki anak tangga, membuka pintu kamar dan menutupnya perlahan. Nampak oleh matanya Arthur yang tengah menanggalkan pakaian kerjanya.


"Biar aku bantu.. " Melepaskan jas dan membuka kancing kemeja milik suaminya. Tapi anehnya, lelaki itu hanya diam. Tidak menolak ataupun memberikan respon apapun. Padahal biasanya Arthur akan berceloteh menggodanya.


"Ada apa denganmu Arthur?" Tanya Aisha ketika berhasil melepaskan pakaian suaminya. Hingga kini ia bertelanjang dada.


"Tidak ada." Hanya menjawab singkat lalu kaki Arthur melangkah mendekati bathroom.


Namun sebelum itu Aisha kembali mencekal lengannya. Ia yakin, ada sesuatu yang aneh dalam diri suaminya. Tidak biasanya Arthur mengacuhkannya begini.


"Ada apa Arthur? Apa ada masalah? Apa aku menanyakan hal yang salah padamu?Atau ada masalah di kantor?"


"Sudah kubilang tidak ada apapun." Nada bicaranya masih datar, Arthur berusaha sekuat tenaga meredam rasa cemburunya.

__ADS_1


"Kalau tidak ada apapun kenapa kau mengachkanku?" Lirih Aisha dengan tatapan sendunya.


Menghela napas panjang, lalu tangan Arthur meraih ponsel yang terselip dalam saku celananya. Membuka kunci dan memperlihatkan foto tadi pada istrinya.


"Kenapa kau pulang diantar dia?! Padahal kan aku bilang akan menjemputmu tadi! " Sungut Arthur yang mulai meluapkan emosinya. Membayangkan istrinya berada dalam satu ruangan dengan pria tidak tahu diri itu. Ah, memikirkan nya saja membuat kepalanya mengepulkan asap.


Melihat foto itu, Aisha tersenyum simpul. Ternyata suaminya ini sedang cemburu, hanya saja cara dia mengekspresikannya membuat Aisha hampir kelepasan tertawa.


"Kenapa tertawa! Kau ada hubungan apa dengannya! "


"Ssst.. dengarkan aku dulu." Aisha meletakan jari telunjuknya di bibir suaminya. Mengelus rahang yang keras itu lembut.


"Aku dan Billy tidak ada hubungan apapun. Kau tahukan kalau kami dulunya hanya teman sekampus. Hanya teman. Saat aku di kantin, dia tiba tiba duduk di depanku. Lalu saat aku akan pulang dan menelfonmu, ponselmu tidak aktif. Billy datang dan menawarkan tumpangan, aku tidak punya pilihan lain. Karena aku sudah berjanji pada Anna akan menemaninya." Tutur Aisha dengan lembutnya.


Terdengar helaan napas.


"Huh.." Menghela napas. "Tentu saja aku percaya padamu. " Sontak Arthur mendekap istrinya erat. Rasa cemburu nya beberapa saat yang lalu lenyap entah kemana ketika melihat wajah imut sang istri.


"Tidak marah lagi? " Tanya Aisha.


"Tidak! Asalkan kau mau meminta maaf padaku. "


"Baiklah, maafkan aku. " Pasrah Aisha menjawab.


"Minta maaf yang lain! bukan yang itu! " Masih mendekap istrinya. Menyandarkan dagunya pada bahu Aisha dan mengendus aroma wangi yang menyeruak ke indra penciumannya.


"Bagaimana caranya? "


"Begini " Tanpa aba aba Arthur menyatukan bibir mereka. Melummat dan menjelajahi rongga mulut Aisha. Dan akhirnya, mereka kembali melakukan penyatuan panas yang membangkitkan gelora dalam tubuh mereka.

__ADS_1


...🌿🌿🌿...


"Kita ini ada dimana? Dan untuk apa kemari?" Tanya Aisha seraya matanya berpendar menjelajah bangunan. Rumah megah yang didominasi warna abu abu dan putih.


"Ini adalah rumah temanku. Istrinya seorang psikolog. Dia yang akan membantumu untuk sembuh. " Seru Arthur.


"Aku?"


"Tentu saja kau, memangnya siapa lagi? Simmba! " Tanpa menunggu jawaban pria itu menggandeng tangan istrinya masuk kedalam. Mereka disambut hangat oleh pemilik rumah. Bahkan istri dari temannya Arthur memeluknya tanpa sungkan. Aisha membalasnya. Bercengkerama dan mengenal sejenak sebelum ke inti pembicaraan.


***


"Achluophobia, atau biasa disebut fobia gelap merupakan rasa takut terhadap kegelapan atau suasan gelap. Apa kau sudah tahu itu?" Ujar nona psikolog setelah ia mendengar segala penjelasan dari dua orang di depannya.


"Aku sudah tau sejak aku masih kecil. "Seru Aisha.


"Apa ada solusi untuk menyembuhkannya?" Arthur bertanya, menatap penuh harap agar wanita itu bisa membantu nya.


"Kau mengalami kejadian yang mengerikan di masa lalu. Tenang saja, itu bisa disembuhkan. Berdamailah dengan masa lalumu Sha, kau wanita yang kuat. Aku yakin kau pasti bisa. Semua yang kita alami di masa lalu itu hanyalah pengalaman hidup saja. Jangan sampai mempengaruhi masa kini dan masa depanmu. " Ucap wanita bermana Vely, istri teman Arthur.


"Kau bisa membiasakan dirimu dengan keadaan yang membuatmu takut. Cara yang paling baik untuk melewati rasa takut adalah melawannya. Bukan pasrah dan menganggap itu adalah kelemahanmu. Selagi kita bisa, berusahalah untuk memperbaiki sesuatu yang buruk daripada menjadikannya sebagai bahan ledekan orang. " Tuturnya lagi yang membuat Aisha terdiam. Pandangannya menunduk, semua yang dikatakan nona Vely adalah benar. Selama ini dia terlalu takut dan ragu untuk mengingat kejadian masa lalunya.


"Baiklah Vely, terimakasih atas bantuannya." Arthur beranjak dari duduk. Menarik tangan istrinya agar ikut berdiri. "Kami permisi pulang dulu, ini sudah malam."


"Terimakasih nona Vely, semua pesan pesanmu sangat berarti untukku." Aisha tersenyum dan menggandeng lengan suaminya. "Kami permisi.."


"Hati hati dijalan, jangan lupa rutin konsultasi sesuai jadwal yang aku beri. "


"Baiklah." Keduanya berjalan keluar dari rumah itu dan kembali ke mansion Arthur.

__ADS_1


__ADS_2