
"Stop!! " Teriak Pither tak menghentikan langkah kaki Johan. Isak tangis anaknya terdengar semakin pilu di telinga. Ayah mana yang sanggup melihat ini.
" Berhenti atau putrimu akan mati sekarang juga " Johan menjeda langkah nya. Menatap lekat sarat akan kebencian pada rival abadinya. Mencoba berpikir dengan logika. Ia menghembuskan napas kasar, berusaha meredam emosi guna menjamin keamanan sang anak.
"Hahaha, kau memang ayah yang baik dan penyayang Jo. " Bertepuk tangan riang dan mengulum senyum licik.
"Apa yang kau inginkan! " Laki - laki itu berupaya menahan lahar amarah yang rasanya ingin mengalir, membumi hanguskan pria di hadapannya ini.
Sahabat yang dulunya ia anggap paling setia melampaui sanak saudara, kini telah berevolusi menjadi lawan nya sendiri. Hanya karena wanita. Memang benar yang dikatakan orang. Harta, Tahta, Wanita.
"Penderitaan. Penderitaan mu lah yang aku idam - idamkan sejak lama. Hahaha" Johan dan putra - putra nya sudah mengeratkan rahang. Rasa kesal berintegrasi dengan marah, dendam, sedih semuanya bersatu padu menjadi satu.
"Sial! Bunuh saja aku tapi jangan lukai putriku sialan! "
"Wohoo.. Tidak - tidak kawan " Geleng - geleng kepala. " Karena aku tahu, jika kematian tidak lebih menyakitkan daripada melihat orang yang dicintai terluka " Ia menekankan perkataannya. Pither sendiri sudah pernah merasakan, bagaimana sakit dan derita ketika ditinggal pergi jauh dari orang yang paling dicinta. Alina. Ya, wanita cantik itu adalah serpihan hati nya yang patah dan saat ini sudah berpulang ke Tuhan nya. Orang yang selalu ia temui dalam buaian mimpi yang indah. Membayangkan acara pernikahan megah saat ia masih lajang dulu. Namun sekarang, apa boleh buat bahkan ia sendiri yang melayangkan nyawa sang pujaan hati.
"Lepaskan adikku kapar*at " Teriak Bima menggelegar menyeruak ke seluruh penjuru ruangan. Emosi sudah di ubun - ubun. Tak dapat dibendung. Sudah cukup semua drama murahan ini, waktunya melancarkan aksi yang sesungguhnya.
Bima maju mendekati Aisha. Mengesamping kan bunyi gertakan, ancaman maupun peringatan yang berupaya menghadang. Di benak hanya terpikir satu hal, keselamatan adiknya.
Ia semakin mendekat.
"Lakukan! " Teriak Pither langsung menginstruksi para anggota. Gerombolan mafia berlarian kearah pria kingkong itu dan menahan nya. Pither paham, Bima adalah yang paling menonjol perihal fisik dan stamina dari lainnya. Oleh sebab itu, ia memerintah puluhan anak buahnya yang paling tidak sanggup menghalau pria itu selama beberapa menit.
Anggota Esponder yang masih mengandung nyawa merapat. Tugas mereka saat ini ialah menghadapi ketua Golden Eagle dan anak - anak nya. Gelegar peluru dari pistol, senapan dan sekawanan nya kembali menjadi latar suasana di markas besar. Jika orang awam menonton ini, mereka pasti akan berdecak kagum layaknya menyaksikan film mafia Jepang. Tapi bedanya, skenario film disusun oleh sutradara. Tapi action ini di sutradarai oleh pemeran nya masing - masing.
__ADS_1
Puluhan anggota Esponder terhempas, terbanting, terhuyung, dan terjungkal ke lantai penuh debu hanya karena dampak dari sekali hempasan kedua tangan kekar Bima. Ia menyeringai, kemudian melangkah mendekati musuh bebuyutan nya.
Tanpa basa - basi lagi, kedua orang itu saling adu pukul dengan tangkasnya. Sudah tak memerlukan senjata, pistol, senapan, bom, granat atau pusaka ampuh lain. Hanya kepalan tangan yang berperan aktif saat ini.
"Kurang ajar! " Pither menyeka sudut bibirnya yang mengalir darah segar. Bima lagi - lagi tersenyum licik. Puas karena berhasil menuntaskan nafsu meninju wajah sialan Pither. Meskipun hal itu tak sepadan dengan apa yang diperbuat pria itu terhadap keluarganya.
Yudhi yang telah usai menjatuhkan lawan, bergerak seribu langkah mendekati adiknya yang dijaga dua pengawal. Pither yang menyadari sontak menginstruksi skenario selanjutnya yang telah ia persiapkan.
"Hei, lakukan! " Perintahnya. Dua orang disamping Aisha mengangguk patuh. Melepas cengkeraman tangan pada pundak anak itu. Dan semua mata membelalak kaget saat menyaksikan secara live adegan drama besutan Pither selanjutnya.
Mereka melempar tubuh mungil Aisha hingga tercebur mengenaskan di kolam. Semua mata membola, mulut menganga lebar.
"Aisha!! "
"Dasar bajing*an " Yudhi seketika berlari merapat ke kolam. Mendorong keras sekaligus membogem kedua wajah penjaga yang masih setia berdiri disana seraya menarik sudut bibirnya.
"Sha! Aisha! " Ia panik, menggoyangkan tubuh adiknya yang sudah memejamkan mata.
"Sha, bangun! " Ia memberikan tekanan pada dada Aisha. Memberi pertolongan pertama.
"Hey! Bangun, ayo bangun kakak sudah disini" Masih tak ada respon.
"Kakak... " Dan pada akhirnya Aisha kecil berhasil sadar. Ia berucap lirih. Sambil mengatur napasnya yang tersengal dan memuntahkan air dalam tenggorokan nya.
Uhuk! Uhuk.
__ADS_1
"Kau bangun?. Tenanglah, sekarang kakak disini. Tidak ada lagi yang akan melukaimu " Ia mendudukan anak perempuan itu. Sambil memijat tengkuknya, sebab Aisha masih muntah sedari tadi.
"Sudah baikan? " Aisha mengangguk.
"Ayo, ayo kita pergi dari sini " Dia sudah membantu Aisha untuk berdiri.
"Kak, tapi bagaimana yang lain? " Ia merasa khawatir, pada ayah, para kakaknya, Jack dan yang lain. Perlu kalian ketahui, meskipun Aisha ini masih masuk dalam kategori anak kecil, tingkat kepedulian sudah tumbuh padanya sedari dulu. Egois? Jika masalah seperti ini ia tak mungkin egois. Ia mungkin akan egois pada masalah tertentu, sama persis seperti sang ibu.
"Mereka akan baik - baik saja. Yang penting adalah kau saat ini. Ayo sha... "
"Kakak awas dibelakang mu!! " Jerit Aisha. Seorang pria salah satu anggota Esponder membawa kayu dari belakang. Memukul Yudhi dengan benda keras itu. Dan berhasil, Yudhi jatuh tersungkur ke lantai. Penglihatan nya mulai memudar. Hanya diselimuti warna hitam, bahkan bayangan Aisha sudah tak terlalu jelas tampak. Namun Yudhi masih mempunyai sedikit kesadaran. Ia sadar, adiknya lebih membutuhkan, nyawanya di ujung tanduk. Dengan mengacuhkan segala rasa pusing dan nyeri yang timbul, pria itu bangkit dan lagi lagi adu pukul dengan anak buah Pither.
"Sha! Lari!! " Titah Yudhi menatap adik kecilnya yang ketakutan di belakang punggung kekarnya.
Yudhi masih berkelahi " Tunggu apa lagi! Lari, cepat lari dan sembunyi " Teriak Yudhi yang tak terlalu kencang dikarenakan rasa sakit yang semakin meliputinya.
Anak itu bimbang. Bimbang antara harus menyelamatkan nyawa pribadi atau memilih menanti sang kakak dan ayahnya yang beradu nyawa disana. Namun jika ia tetap mematung disini, memang apa faedahnya. Toh, Aisha tak pandai bela diri. Ia pun baru belajar panah dan pistol.
Akhirnya ia memutuskan beringsut pergi, meninggalkan ayah dan para saudara laki - lakinya yang tengah bertempur dengan taruhan nyawa. Bukan nya Aisha mementingkan diri sendiri, tapi ia tahu benar jika ia tetap disana, maka semua orang akan lebih tersiksa.
Aku harus lari kemana ini?. Dimana - mana ada paman - paman jahat itu...
Bersambung....
Nantikan kisah selanjutnya...
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote, rate 5 dan tambahkan novel ini ke favorite yaaa 🤗🤗🤗
Sampai jumpa di episode berikutnya... 😀