
Waktu menjelang malam namun seolah tak berpengaruh bagi Aisha. Tenaganya seolah selalu full dan tidak terkuras sedikitpun ketika melangkahkan kakinya mengelilingi bangunan luas ini.
Buktinya sekarang, mereka masih berada disana. Tepatnya di sebuah restoran Prancis yang terdapat dalam mall tersebut.
Ia memesan beberapa makanan Prancis yang sebenarnya sama sekali tidak ia sukai. Dekorasi dalam ruangan semuanya berbalut arsitektur Prancis yang membuat Aisha merindukan negara yang pernah ia kunjungi itu. Terakhir kali ia kesana saat liburan keluarga bersama, membuatnya mengingat betapa menyenangkannya masa itu bersama ayah dan kakak - kakaknya.
"Kenapa kau memesan banyak sekali sayang? Bukankah kau tidak suka makanan seperti ini?" Heran Arthur mengedarkan pandangannya kearah meja dimana terhidang banyak makanan yang hampir memenuhi meja.
"Tapi sekarang aku suka, apa boleh buat?" Balas perempuan tersebut seraya mengunyah makanan yang ia pesan beberapa saat yang lalu.
"Aneh sekali..."
Willy dan Rosy yang duduk tak jauh dari mereka, hanya berjarak beberapa meja.
Kesempatan emas ini tak mungkin Rosy sia -siakan. Bayangkan saja, makan di restoran Prancis yang sangat mewah. Seporsi makanan disini saja setara dengan sebulan gajinya sebagai pelayan.
Sementara Wilhelmina tak henti mencuri pandang pada dua pasangan romantis yang tengah bercanda tawa disana.
Tawa mereka seolah menyakiti telinganya hingga mengaduk perasaannya menyebabkan makanan yang masuk dalam mulutnya menjadi tidak terasa.
"Ada apa denganmu? Jangan perhatikan Tuan dan Nyonya kalau kau ketahuan kau bisa dihukum oleh tuan!" Ujar Rosy memperingati.
"Maafkan aku." Jawab Wilhelmina. Fokusnya kembali tertuju pada hidangan mahal di hadapannya. Makanan itu terasa sangat berharga saat ini, dulu saat ia masih kaya, bahkan seluruh makanan di tempat ini bisa ia beli dengan modal menggesek kartu.
***
Pukul 9 malam, Aisha yang mencuri curi waktu untuk berdandan kini nampak sangat cantik dengan balutan dress berwarna merah yang sangat pas di tubuh rampingnya.
Ia tersenyum melihat penampilan nya di cermin besar dengan polesan make up yang sedikit bold daripada biasanya.
Malam ini adalah malam yang spesial, karena malam ini ia akan memberikan kejutan spesial pada suaminya. Anggap saja ini adalah pengganti kejutan untuk ulang tahun Arthur yang sempat tertunda.
Pukul 21.30, setelah setengah jam Aisha menunggu kini hatinya mulai berdebar kala gendang telinganya menangkap deru mobil yang ia yakini mobil milik suaminya.
Disentuhnya jantungnya yang berdetak tak karuan, tak sabar melihat reaksi Arthur.
***
Kedua kaki panjang Arthur berjalan cepat menuju taman belakang kala salah satu pelayan memberitahunya bahwa istrinya sedang pingsan disana.
Sontak ia melempar tas kerja beserta berkas penting lain. Rasa cemas menghantuinya. Jangan sampai Aisha kenapa - napa. Bayangan buruk yang ada di kepalanya membuatnya berlari kesana. Mungkin saja Aisha kelelahan akibat mereka berkeliling mall tidak tahu waktu.
__ADS_1
Tapi dugaannya salah, Arthur menghentikan langkah kakinya dan menatap takjub pada taman luas yang telah disulap menjadi tempat yang sangat romantis.
Mawar merah bertebaran dimana - mana membuat harum semerbak memenuhi indra penciuman Arthur.
Lampu kerlap - kerlip yang indah dan jangan lupakan sebuah meja dengan dua kursi beserta makanan dan lilin diatasnya.
Arthur terkesima. Senyum tak menyurut dari wajahnya yang rupawan sejak lahir ke dunia.
Ternyata Aisha mengerjainya demi menyiapkan kejutan ini.
Arthur tersentak ditengah lamunannya tatkala sebuah lengan putih kecil melingkar di perutnya.
"Surprise!!" Aisha berteriak seraya menenggelamkan wajahnya di punggung Arthur yang lebar.
Membuat pipi pria itu merona seketika, jarang sekali ia diperlakukan semanis ini.
"Jadi kau membohongiku seharian ini?" Tanya Arthur sembari berbalik dan memasang wajah garangnya.
"Tidak, lihatlah aku membuat kejutan yang hebat bukan?" Manik mata Aisha mengelilingi taman yang dihias sesuai seleranya.
"Ya, tapi kau hampir membuat suamimu ini jantungan!" Serunya kesal, ia pikir istrinya benar - benar kelelahan hingga pingsan.
Aisha hanya tercengir kuda, ia menggandeng lengan suaminya dengan sangat mesra. Mereka berlalu lalu duduk berhadapan di meja dengan berbagai hiasan diatasnya.
"Hmm?"
"Maafkan aku yang tidak pernah jujur padamu. Kejadian kemarin.." Aisha belum menyelesaikan kalimatnya saat Arthur menyela.
"Lupakan yang terjadi kemarin sayang, itu semua salahku juga. Aku tidak ingin membahasnya lagi. Sekarang lebih baik kita fokus pada masa depan kita." Arthur berujar demikian seraya menggenggam tangan istrinya. Wanita yang selalu ada bersamanya hingga saat ini.
Ia menyelipkan sebuah cincin berlian yang membuat Aisha terkejut.
"Arthur ini?" Memandang jari manisnya yang terhiasi benda mewah tersebut. Itu adalah cincin keluaran terbaru dari sebuah toko perhiasan di Chicago. Hanya satu - satunya. Yang harganya bahkan hampir setara dengan salah satu mansion Arthur yang ada di negara lain.
"Cincin ini tidak ada artinya denganmu, kau lebih berharga daripada hanya sekedar harta dunia sayang." Pipi Aisha menyembulkan rona merah. Sejak kapan pria dingin yang telah ia nikahi ini berubah menjadi lelaki romantis yang ia idamkan.
"Tapi ini terlalu berlebihan, aku tidak butuh semua ini. Aku hanya membutuhkanmu untuk disampingku selamanya." Aisha mengungkapkan apa yang ada di hatinya dengan tulus. Bahwa saat ini yang ia inginkan hanyalah memulai kehidupan yang baru bersama Arthur dan anak Arthur yang sedang ia kandung.
"Ck, kau ini! Apa kau sedang memancingku daritadi?" Pria itu tersenyum nakal, membuat Aisha mengerucutkan bibirnya.
Padahal ungkapannya tadi tulus dari lubuk hati yang terdalam.
__ADS_1
"Aku serius! Bisakah hentikan pikiran mesum mu sebentar saja." Serunya.
"Baiklah, baiklah. Sekarang ayo kita makan. Makanannya tidak akan enak jika sudah dingin." Arthur mengalihkan pembicaraan.
Kedua insan yang saling mencintai tersebut kemudian melanjutkan makan malam romantis mereka. Keduanya berbagi canda dan tawa hingga sebuah musik yang lembut dimainkan membuat mereka berdansa dengan pelan dan anggun.
"Arthur, aku ingin menunjukan sesuatu padamu." Suara lembut Aisha memecah keheningan. Kini mereka duduk berhadapan dengan Arthur yang sedang menyesap minumannya.
"Apa itu?" Pria itu meletakan gelas ditangannya dan fokus menatap wajah cantik sang istri.
"Ini, bukalah itu. Semoga kau menyukainya." Perempuan itu menyodorkan sebuah kotak yang terbungkus oleh kertas berwarna perak yang mengkilap terkena sorot lampu.
Netra Arthur menelisik sebuah kotak yang membuatnya penasaran, apa yang dihadiahkan kepadanya. "Apa ini hadiah ulang tahun ku?" Tanyanya.
"Ya, anggap saja begitu." Balas Aisha.
Dengan cekatan lelaki tampan itu membuka pembungkus kotak itu. Seketika matanya menyipit, memastikan dua benda yang ada di genggamannya.
Sebuah test pack dengan garis dua yang tertera diatasnya beserta sebuah kertas USG yang menampilkan sesuatu yang membuat hatinya berdebar dengan cepat.
Apa yang ia lihat tidak salah?.
"Apa maksudnya ini semua? Apa kau..?" Seolah tak percaya, Arthur mendekatkan kertas tersebut yang terpampang sesuatu seperti miniatur manusia namun masih sangat kecil dan rawan.
"Ya, saat ini aku sedang mengandung. Kita akan menjadi orang tua Arthur." Manik coklat Aisha yang berkaca - kaca disertai senyuman di wajahnya menyakinkan Arthur. Pria itu beranjak, merengkuh tubuh kecil istrinya dengan sangat erat hingga merapat padanya.
"Aku sangat bahagia, terimakasih sayang. Ini hadiah terindah." Arthur mengangsur tubuhnya guna menatap wajah istrinya yang rupawan. Tidak dapat digambarkan betapa senang dan terkejutnya ia saat ini.
Berita kehamilan Aisha sukses membuat tubuhnya bergetar, tidak menyangka bahwa suatu saat akan menjadi seorang ayah.
Benih yang ia tanam berhasil tumbuh dan tengah berjuang di dalam perut istrinya.
Arthur tak pernah membayangkan akan mempunyai seorang anak, sebab selama ini cita - citanya hanya membesarkan perusahaan Anderson Group yang menjadi warisannya.
Tidak pernah terbesit dalam pikiran bahwa Tuhan akan memberikan anugerah terindah berupa keturunan.
"Aku tidak menyangka kita akan punya anak sebentar lagi. Tapi kapan kau tahu? Kenapa baru memberitahuku?" Tanya pria itu heran seraya menatap perut sang istri.
"Sebenarnya aku sudah tahu sejak dulu, tapi saat itu aku tidak punya waktu yang pas untuk memberitahumu." Tukas Aisha seraya menundukan pandangannya. Mengingat beberapa minggu yang lalu dimana hubungan mereka merenggang karena salah paham tidak jelas.
"Tidak apa, lupakan itu." Ujar Arthur. Ditatapnya sang istri dengan mendamba, tanpa meminta ijin pria itu menenggelamkan bibirnya pada belahan bibir ranum di depannya.
__ADS_1
Keduanya menikmati ciuman tulus tersebut. Kali ini mereka bertukar saliva karena cinta, bukan karena hasrat semata.