Gadis Manis Milik Mafia

Gadis Manis Milik Mafia
BAB 17


__ADS_3

"Hey kau itu bocah kemarin sore! Jadi jangan sok bertanya pada orang sepertiku. Kau akan menyesal seumur hidup apabila tahu siapa aku " Gaya sok kuat dan berkuasa nya hampir membuat Aisha ingin memuntahkan isi perutnya. Ia terpingkal karena ucapan Arthur.


"Kenapa tertawa! " Sewot " Memangnya ada yang melawak! " Melempar tatapan mematikan pada lawan bicaranya saat ini. Bahkan ia lupa tentang misinya menumpas Pither. Rasanya, mengobrol dengan gadis kecil periang itu jauh lebih mengasikan dan membuat nya kehilangan fokus. Biarpun masih diklasifikasi kan kecil, ia sudah terlihat imut dan manis untuk membuat Arthur terpana.


"Kau.. " Masih tergelak " Kau adalah pelawak nya. Hahahah, memangnya kau pikir kau sudah dewasa? Yang paling besar begitu?. Haha bahkan kau pasti masih menangis jika digigit semut "


Wajah Arthur merah padam membendung amarah. Bisa bisanya bocah ini menghina nya. Bahkan mafia hebat di Regdator saja menunduk hormat padanya. Dan anak ini? Sungguh kelewat batas.


"Hentikan tawamu! Atau kau akan menyesal! " Ancam Arthur mengintimidasi.


"Baiklah, aku akan berhenti tertawa asalkan kau mau mengatakan siapa namamu tuan muda yang terhormat? " Gelak tawa telah berhenti. Sekarang ia tersenyum semanis madu, bahkan tanpa sadar Arthur ikut tersenyum karena keimutannya. Manis sekali.


Huh! Bagaimana dia bisa begitu manis!


"Ayo, jabat tanganku dan perkenalkan dirimu padaku " Mengulurkan tangan di depan Arthur. Arthur masih tenggelam dalam alam lamunan nya.


"Hey, kenapa? " Aisha menggoyangkan bahu laki laki dihadapannya ini. Arthur bangkit dari alam bawah sadarnya. Wahh, ternyata dari tadi ia melamun karena mengamati wajah Aisha.


"Arthur. Arthur Steven Anderson, kepala organisasi Regdator dari Amerika " Ia menyambut uluran tangan kecil Aisha. Dan tersenyum simpul. Sementara Aisha tengah mencatat nama dan identitas anak di depannya ini pada memori otak. Mungkin suatu saat informasi ini akan berfaedah.


"Bagaimana kau bisa berada disini? " Kata Arthur heran. Aisha nampak berpikir sejenak, lalu ia menatap Arthur.


"Aku diculik paman Pither... "


"Cih! Sudah kuduga, lelaki bajing*an seperti nya hanya bisa melakukan hal rendahan untuk meraih keberhasilan " Jijik, itu yang dirasa Arthur. Tindakan penculikan pada gadis kecil sepertinya itu tidak pantas, memang apa yang akan diperolehnya. Uang?. Hah, dia memang kekurangan uang. Pantas saja selalu bergantung pada sekutu.


Tiba - tiba terdengar suara langkah kaki segerombolan orang menyapa indra pendengaran mereka. Semakin dekat, dan semakin terdengar jelas.

__ADS_1


"Tetaplah disini! Karena kau sudah berbuat baik padaku, maka aku akan melindungimu " Ucap Arthur dan akan beranjak berdiri. Namun Aisha memegang tangan nya. Tatapan mereka kembali bersitemu. Lama, saling mengamati satu sama lain.


"Kau akan kemana? " Entah mengapa, namun rasa khawatir tiba - tiba menyergap nya. Seperti tidak rela.


"Menghadapi mereka apalagi. " Tukas Arthur.


"Jangan - jangan, ayo kita pergi diam - diam saja dari sini " Menarik tangan Arthur menuju jalan rahasia yang ditemukan nya. Lorong sempit nan pengap itu langsung menghubung kan dengan ruangan utama tempat para manusia tengah bertaruh nyawa.


"Lepaskan tanganku! Aku akan menghabisi mereka, kenapa membawaku kemari " Teriakan Arthur terdengar menggema karena lorong itu sempit. Bahkan pasokan oksigen hampir menipis untuk persediaan kedua manusia. Jika tidak bergegas, maka niscaya nyawa akan terbang dengan suka ria dari dalam raga.


"Diam, atau kau mau mati konyol disini karena kehabisan napas. " Tidak menghiraukan celotehan Arthur yang terasa menusuk telinga nya. Ia masih tetap menyeret Arthur menyusuri lorong gelap itu.


Beberapa menit bergilir, kini keduanya telah sampai pada ujung lorong. Banyak pengawal dan para mafia yang terkulai lemah tidak berdaya bahkan diantaranya telah meregang nyawa. Nuansa mencekam diiringi hari yang mulai malam. Suhu dingin terasa menusuk kulit sampai ke tulang.


"Ayo, kita pergi saja dari sini " Ujar Aisha, ia ingin menemui kakak dan ayahnya. Pasti saat ini keenam laki laki itu sedang menyusuri jejaknya.


"Hey! Arthur! " Bukannya mengamankan diri sendiri, ia malah pergi mengejar Arthur. Cemas, entah mengapa nalurinya mendorong untuk selalu memastikan keselamatan anak laki laki yang baru beberapa menit dikenal. Baru sekejap berjabat tangan, rasanya Aisha telah menjalin ikatan tersendiri dengan nya. Meskipun menjengkelkan, ia khawatir sebab Arthur mengalami luka tembak pada tangan.


Sampailah ia pada lantai dua. Ia memandang Arthur yang tengah mengedarkan pandangan nya, berusaha mencari sosok Pither. Namun hasilnya nihil, Pither kembali bersembunyi di tempat rahasia nya.


"Arthur, ayo kita pergi dari sini... Aku akan membawamu menemui kakak ku. Aku akan memintanya mengantar mu pulang " Ujar Aisha dengan polosnya.


Cih, kau kira aku ini bayi yang mesti diantar pulang. Aku masih ingat jalan ke rumah. Begitulah arti sorot mata Arthur yang ditafsirkan Aisha.


"Ayo... Arthur awas! " Dari arah belakang, tepatnya di balik tumpukam kardus ada seseorang yang menembak menggunakan senapan. Beruntung karena peringatan Aisha, mereka berdua berhasil menghindar. Peluru runcing itu salah sasaran hingga menancap pada dinding yang berdebu.


"Kurang ajar! Sembunyi disana, aku akan melawan nya " Menunjuk tumpukan kursi dan kardus di pojok ruangan. Aisha mengangguk patuh, ia beringsut mendekati apa yang ditunjuk Arthur. Memperhatikan dalam diam adegan berbahaya di hadapan nya. Remaja pria yang tampan itu sedang beradu tembak dengan Pither. Orang yang sebelum nya ia anggap malaikat yang akan menarik nya dari lubang bahaya, namun faktanya, malah pria itu yang telah menculik dan menyekap dirinya.

__ADS_1


Bagaimana ini? Aku harus bagaimana, anak itu dalam bahaya. Aku harus menyelamatkan nya.


Sementara itu, kakak tertua dari enam bersaudara tengah mencari cari keberadaan adiknya. Dibantu Bima, Arjun, Nakul, Dewa dan sang ayah. Tapi tidak ada hasil yang memuaskan bahkan setelah mereka mengintrogasi para anak buah Pither.


Dimana kamu Sha.... Khawatir Yudhi dalam hati.


"Bagaimana, kau sudah menemukan nya? " Tanya Yudhi pada Bima yang baru sedetik menghampiri nya. Bahkan nafasnya masih tersengal karena berlari.


"Ada salah satu mafia yang berkata jika ia melihat Aisha pergi ke lantai dua. Tepatnya dekat ruangan luas nomor 3 dekat tangga " Lapor Bima. Tanpa babibu lagi, mereka bergegas berlari secepat kilat menuju tempat yang dimaksud.


Kembali lagi ke Aisha. Anak imut nan menggemaskan itu mulai risau kala menyaksikan dengan mata lahir nya sendiri, bahwa Arthur ambruk tersungkur ke bawah karena tendangan Pither. Moncong pistol terarah tepat pada kepalanya. Ia tidak bisa tinggal diam, harus berbuat sesuatu.


"Awas!! " Dan Dorrr!!


Peluru yang sebenarnya ditujukan pada Arthur menancap telak pada perut Aisha. Ia jatuh terhuyung ke lantai.


"El!! " Mengangkat kepala Aisha keatas pahanya. Menepuk nepuk pipinya, berharap agar anak itu bangun.


"Bangun El! "


Bersambung...


Hai! Hai! Hai Jangan lupa like, komen, vote dan rate 5 ya... πŸ€—πŸ€—πŸ€—


Yang paling penting dari deretan kepentingan lain adalah... tambahkan novel ini ke favorit ya. Agar kalian tidak ketinggalan kisah Arthur dan Aisha selanjutnya... πŸ˜€


Sampai jumpa lagi.... 🌺🌺

__ADS_1


__ADS_2