
Arthur menginjak lantai lorong rumah sakit menuju resepsionis. Dua orang bodyguard berbadan gorilla siaga mengekor di belakang nya. Sampai pada meja resepsionis, ia langsung menanyakan ruangan Aisha dirawat.
"Pasien bernama El Taylor tidak ada disini " Ucap wanita itu dengan nada sopan.
"Apa! Bagaimana mungkin tidak ada? Coba periksa sekali lagi " Sang resepsionis pun kembali mengecek nama - nama pasien yang baru masuk. Namun nama El Taylor memang tidak ada.
"Tidak ada dek, maafkan saya ya "
"Yasudah, kalau begitu tunjukan kamar pasien yang terkena luka tembak. Emm.. dia anak perempuan, kira kira berumur 8 tahun dan baru masuk sore ini " Arthur menyebutkan ciri ciri Aisha. Suster itu mengangguk dan menunjukkan letak ruang dimana Aisha ditangani.
"Hanya ada satu pasien luka tembak hari ini dan ciri cirinya cocok seperti yang adek katakan. Namun namanya ada_"
"Tunjukkan saja dimana kamarnya! " Geram Arthur. Ia paling tidak suka bertele tele. Mendengar ocehan suster itu rasanya telinga nya mengepulkan asap.
"Baiklah. Ruang Dahlia nomor satu di lantai paling atas "
Arthur mengangguk. Ia menaiki lift menuju ruang yang ditunjukan.
Sampai pada ruang dahlia, dimana Aisha tengah terbaring lemah yang pertama ditangkap penglihatan nya ialah para keluarga Fernandez yang terduduk di lantai. Arthur mendekati nya.
"Paman, bagaimana keadaan nya? " tanya anak itu pada Johan. Johan tak bergeming, menolehpun tidak. Ia hanya duduk diam menatap ke pintu. Seperti semesta yang hening.
Yang lain nya pun hampir sama.
Apa yang terjadi, mengapa mereka sesedih ini? Apa jangan - jangan...
"Paman... " Panggil Arthur yang kedua kalinya.
Jack yang otaknya masih lancar perlahan mengayunkan kakinya kearah Arthur. Ia memindai ujung kepala hingga ujung kaki anak laki laki itu. Dia tahu siapa yang berdiri di hadapannya ini.
"Arthur Steven Anderson, ada keperluan apa anda kemari " Ujar Jack datar.
"Aku ingin menjenguk_" Ucapan nya terpotong oleh Bima yang menghampiri mereka.
__ADS_1
"Pergilah dari sini. Berbahagialah karena dia telah menolongmu. Kami bisa mengurus nya sendiri " Bima menoleh ke belakang dimana keluarga nya sudah seperti kehilangan akal.
"Terimakasih sudah membantu GE melawan Esponder, sekarang pulanglah ke asalmu "
"Tapi _"
"Anda bisa mendengar perkataan tuan Bima kan? Jadi saya persilahkan anda kembali ke tempat asal anda " Usir Jack dengan sopan.
"Aku akan pergi, tapi biarkan aku menunggu sampai dia sadarkan diri. Setelah itu aku pasti akan pergi " Arthur masih bersikeras pada pendirian nya. Ia bukan pecundang yang akan lari dari tanggung jawab. Aisha terluka karena menyelamatkan nya. Jadi sudah sepantasnya jika dia paling tidak ikut menunggu kesadaran nya kan.
"Kalau memang itu sudah menjadi pilihan anda, maka saya tidak bisa bertindak apapun. " Ujar Jack. Arthur mengangguk, ia turut menanti dokter yang berada didalam untuk keluar dan menyampaikan kabar baik.
Empat jam telah bergilir. Dokter yang sejak tadi memberikan pertolongan keluar dengan langkah lebar. Para suster juga berlarian menenteng alat medis kesana kemari.
"Hei tunggu, katakan apa yang terjadi?" Dokter wanita itu tidak menghiraukan cecaran pertanyaan dari para pria yang sudah mirip ancaman. Jika ia mengulur waktu semenit saja, entah apa yang akan terjadi pada Aisha.
"Hei berhenti suster! " Yudhi mencekal salah satu suster.
"Katakan ada apa! "
"Aku pasti akan membunuh Pither! " Yudhi sudah bangkit dari lantai. Amarah yang membuncah menepis rasa sakit bahkan rasa lapar yang menyergapnya. Begitupun Bima yang turut berdiri akan mengikuti langkah kakak nya. Namun baru sejengkal berdiri, suara lirih penuh kesedihan dari ayahnya membuyarkan niat mereka.
"Jika kalian ingin menambah luka ayah, maka pergilah! Pergi sana! " Ucap Johan tanpa menoleh pada putra - putranya.
"Saat ini belum waktunya membunuh Pither, bagaimana kalau niat kalian justru berbalik pada putri ku "
Semua orang terdiam. Yudhi dan Bima mulai bisa mengendalikan emosi nya. Kedua laki laki itu menghampiri ayahnya yang terduduk di lantai.
"Maafkan kami ayah, kami terlalu kalut dalam emosi. " Kata Yudhi.
Johan hanya mengangguk.
Satu jam berlalu sejak adegan mendebarkan ketika para tenaga medis berlarian. Dokter Nathan keluar dengan tatapan menunduk dari dalam ruangan.
__ADS_1
"Bagaimana hasilnya? " Tanya Johan. Dokter Nathan ikut mendudukan diri dilantai dan merengkuh tubuh Johan dalam dekapan nya. Menyalurkan ketenangan sebelum dia menyampaikan kabar duka.
"Ada apa Than! " Bukan nya membuat tenang, sikap Nathan yang terdiam malah membuat Johan semakin kalang kabut. Pria itu menunduk, mengusap wajahnya kasar dan menoleh pada anak anak Johan yang tengah menanti jawaban darinya.
"Katakan dokter Nathan! " Sentak Bima.
"Maafkan aku, aku sudah berusaha semampuku " Semua bingung dengan apa arah pembicaraan pria berkulit putih itu.
"Maksudmu? "
"Aisha.. Aisha koma " Usai menyampaikan kabar terburuk pria itu memalingkan wajahnya ke belakang. Tidak sanggup menatap manik manik mata yang menatap tajam padanya.
"Jangan mengarang cerita dokter sialan!!! " Bentak Yudhi dengan menarik kerah jas putih milik sang dokter hingga memaksanya berdiri. Nathan bahkan tidak melawan, ia hanya pasrah terhadap keadaan. Ia bukanlah Tuhan yang menghendaki roda kehidupan. Bahkan setelah semua upaya yang dikerahkan, tetap saja semua tidak berjalan sesuai angan angan.
"Hentikan dongeng mu atau kau akan menyesal seumur hidup! Katakan yang sejujurnya! " Teriak Bima.
"Aku berkata yang sebenarnya "
Arthur yang berdiri di pojokan ternganga dengan mata yang lebar. Penyesalan merundung nya. Bagaimana pun, anak perempuan itu dalam kondisi parah seperti ini adalah karena menyelamatkan Arthur. Lantas apa yang pantas ia perbuat sekarang?. Tidak ada. Nyawa ada di tangan Yang Kuasa. Yang sanggup dia lakukan saat ini hanyalah berdoa.
"Ve? " Panggil Arthur pada salah satu bodyguard nya.
"Iya tuan? " Pria yang dipanggil Arthur mendekat. Mengangguk hormat lalu menunduk.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? " Arthur terduduk di kursi tunggu. Mengusap wajahnya kasar dan mendesah samar. Bingung apa yang harus diperbuat. Ia pribadi juga tidak tahu harus bersikap bagaimana. Apalagi bodyguardnya, kenapa juga majikan nya ini menanyakan hal yang sama sekali tidak ia ketahui.
"Mmm... menurut saya sebaiknya tuan muda minta maaf " Hanya kalimat itu yang melintas di otaknya.
Arthur mendongak, lalu melempar tatapan setajam pedang pada pria berbalut jas hitam itu. Meskipun masih dalam masa remaja, anak laki laki itu tahu bahwa minta maaf saja tidak akan pernah cukup. Apalagi ini masalah nyawa. Jika dengan minta maaf terlampau cukup untuk melebur dosa besar, maka di dunia ini tidak akan ada permusuhan.
"Bodoh! Kau pikir minta maaf saja cukup! " Satu tamparan mendarat di lengan kekar pria itu. Meskipun tangan Arthur lima kali lebih kecil darinya, entah mengapa pukulan nya terasa begitu perih. Paling tidak cukup untuk membuat pria itu mengaduh kesakitan.
"Maafkan saya tuan " Mundur selangkah lalu kembali pada tempatnya.
__ADS_1
Bersambung...
Aisha pasti selamat kok 😀