
Seorang pria dewasa tampan tengah asik berkutat pada laptopnya. Matanya fokus menatap layar, jemarinya masih berlarian lincah pada keyboard benda pipih itu. Wajahnya yang tampan, hidung yang mancung dan mata elang yang dapat memikat siapapun, menjadi pelengkap atas segala yang ia miliki.
Arthur Steven Anderson, pria yang dipenuhi dendam yang telah tumbuh sedari kecil itu saat ini sudah menjadi laki - laki dewasa pada umurnya yang menginjak 29 tahun.
Sifat arrogan, dingin dan kejam menjadi tabiat Arthur yang telah dihafal banyak orang. Siapapun yang mengusiknya, ia akan meluluh lantak kan kehidupan orang itu. Telah banyak nyawa yang dilayangkan Arthur, namun hal itu tak menyurutkan api amarah pada dirinya akibat seseorang. Hanya satu orang yang masih diincar Arthur dan belum mampu dibunuhnya hingga saat ini, Pither Wilson. Pria yang menjadi tujuan utama pembalasan dendam Arthur itu kini telah bersembunyi dengan sangat baiknya setelah ia tahu bahwa Arthur kecil semakin dewasa dan semakin kuat. Membuatnya lari ketakutan, begitulah yang ada dalam pikiran Arthur.
Tak berselang lama kemudian, pintu diketuk tiga kali. Bunyi pintu terbuka terdengar dan tak lama munculah sesosok pria yang tak kalah tampan darinya. Pria itu melangkah mendekati Arthur dengan membawa seberkas dokumen di tangan nya.
"Bos "Panggil orang itu. Arthur tidak bergeming, menolehpun tidak.
"Bos, aku membawa berita untukmu " Ujar laki laki itu sembari menahan emosi. Menghela napas kasar lalu kembali menatap bosnya. Dia mulai kesal saat Arthur tidak menanggapi nya, melirik saja tidak. Membuat pria itu merasa menjadi seekor nyamuk yang mengganggu.
"Arthur! Aku bicara padamu! " Teriak nya mengeluarkan amarah. Tidak bisakah bosnya itu menghargai orang sedikit saja? Bahkan dia telah dengan susah payah mengerjakan apa yang diperintahkan padanya dengan sebisa mungkin. Namun apa balasannya.
"Sudahlah Reynard, aku tahu kau lagi lagi membawa kabar buruk " Kata Arthur tanpa menatap anak buahnya.
"Apa kau tidak bisa menghargai orang sedikit saja? Sifat arrogan mu itu sudah keterlaluan Arthur! " Sentak pria yang ternyata bernama Reynard itu meluapkan emosinya. Sudah bertahun tahun dia bekerja pada Arthur, ia paham betul semua penderitaan yang dialaminya. Tapi sifat Arthur ini sudah kelewat batas. Reynard atau kerap kali disapa Rey itu adalah anak buah sekaligus sahabat baik Arthur.
"Sudahlah, kau tahukan aku tidak suka mendengar kabar buruk. Dan sekarang aku yakin kau membawanya " Sekarang Arthur menoleh pada Reynard dengan tatapan tajamnya. Agak kesal karena Rey yang terkenal sebagai mafia hebat gagal menjalankan tugas yang sudah bertahun tahun dipikulkan padanya.
Rey mengambil nafas dalam, berusaha menetralkan emosinya " Baiklah, maafkan aku bos. Sebenarnya aku memang membawa kabar buruk, tapi aku juga membawa sebuah informasi penting "
Arthur menatap Rey yang duduk di depan meja kerjanya, ada rasa antusias dalam hatinya. Akhirnya Rey membawa informasi setelah sekian lama. Meskipun penasaran, Arthur tetap mempertahankan raut muka datar dan dinginnya.
"Apa? " Tanya nya datar.
"Lihat ini " Rey menyodorkan sebuah berkas yang baru saja dia peroleh dari seorang informan handal dan terpercaya.
__ADS_1
Arthur pun membuka nya. Membacanya satu persatu dengan mata menyipit.
"Mata - mata dan detektif kita telah menyelidiki keberadaan Pither. Namun setelah bertahun tahun, jejak pria itu sama sekali tidak tercium. Dan akhirnya setelah sekian lama ada petunjuk untuk kita.
Ternyata Pither bersekongkol dengan salah satu pemberontak pada salah satu negara. Dia menjadikan komplotan itu sebagai tamengnya, mereka mengajarkan cara agar Pither dapat bersembunyi dan menyamar dengan sangat baik. Hingga tak ada yang bisa mengenalinya, termasuk keluarga nya sendiri"
Rey menjelaskan apa yang dia ketahui dari anak buahnya. Tentang bagaimana cara Pither mengelabuhi para bawahan Arthur yang mencarinya dengan begitu lihai.
Walaupun bosnya itu telah membaca berkas nya, namun Rey sudah hafal apa mau Arthur. Yaitu mendengar dengan telinganya sendiri, lalu mencocokan dengan data yang diperoleh.
"Hem.. " Hanya berdehem, lalu menyandarkan kepalanya tang terasa pening ke sandaran kursi kerja. "Siapa yang melindungi mereka? Cari tahu dan bantai saja sekalian " Ujar Arthur dengan santai.
"Tidak semudah itu Arthur, mereka adalah kelompok pemberontak. Mereka sangat ahli dalam segala bidang. Dari mulai beladiri, merakit peledak, menyamar, merusak, mencari jejak bahkan sampai menyusup ke kandang musuh. Mereka bisa melakukan nya dengan sangat mudah. Bahkan_"
"Sudahlah, kau itu terlalu cerewet!. Kita harus menyerang komplotan orang bodoh itu. Jika ada yang menghalauku untuk membunuh pria sialan itu, aku pasti juga akan menumpas mereka. " Ujar Arthur penuh penekanan. Sedikit tersinggung saat Reynard memuji kehebatan mereka. Memangnya Arthur tidak cukup kuat untuk melawan gerombolan semut itu?. Cih, Regdator jelas jauh lebih unggul dari pada kelompok pemberontak negara itu, pikir Arthur dalam hati.
Haduh! Dasar bos sombong, belum tahu saja dia bagaimana kehebatan kelompok pemberontak itu. Sabar Rey, sabar... Bagaimanapun juga Arthur gila ini adalah sahabat baikmu.
"Dengar Arthur, jika kita menjadi musuh mereka, itu bukan hal yang baik bagi kita. Sekawanan orang nekat seperti mereka bisa saja menyakiti kau atau keluargamu " Peringat Rey. Meskipun menasihati pria dihadapan nya ini terbilang mustahil, tapi Rey tetap mencobanya. Arthur itu keras kepala, hanya percaya pada realita, dan tidak ada yang berhasil menasehatinya. Tidak ada yang pernah melarang keinginannya.
"Lalu apa masalahnya! Tumpas saja mereka semua, aku tidak peduli!! " Teriak Arthur dengan emosi yang meletup letup. Geram karena sekretaris, asisten, sekaligus tangan kanan dalam dunia mafianya itu terus saja mengoceh.
Dasar pria cerewet!. Batin Arthur dalam hati.
"Lalu kau tidak memikirkan aunty Rania? "
"Dia ada dalam perlindunganku " Ujarnya singkat.
__ADS_1
"Menjelaskan padamu tidak ada gunanya " Rey memutar bola matanya malas.
"Kenapa dengan matamu itu? Ingin aku mencopotnya sekarang! " Tawar pria itu dengan seringai licik di wajahnya.
Heh! Jangan gila pria aneh!. Batin Rey.
"Diamlah, dasar aneh!. Sia - sia waktunya yang berharga dengan bicara padamu " Ujar Rey sambil membetulkan letak dasi mahalnya.
"Kau sebut apa kau tadi! " Menatap tajam pada pria di hadapannya. Rey tak mau kalah, ia turut menatap pada bosnya dengan tatapan setajam silet.
"Ingat ya bos, pokoknya pikirkan perkataanku tadi. Aku tidak mau mati muda sedangkan aku masih perjaka. Lihat, bisa - bisa para wanita yang mengincarku mati berdiri jika aku tiada" Berkata dengan percaya diri tingkat dewa sambil menyisir rambutnya dengan jemari tangan. Membuat Arthur serasa ingin muntah mendengarnya.
"Hey kau! Mana ada wanita yang mau dengan penjahat sepertimu. Kau itukan playboy, jangan berharap tinggi akan ada wanita yang mencintaimu dengan tulus " Hardik Arthur dengan sinis. Siapa juga yang mau dengan pria seribu wanita seperti Rey.
"Dan apa kau bilang tadi, perjaka? Cih! "
Reynard geram "Dasar bule jelek! Aku masih perjaka! " Teriak Rey sambil memukul perut Arthur. Dan entah kenapa malah tangan Rey yang terasa terpentuk palu karena kekerasan perut bosnya.
Sial! Aku juga harus rajin olahraga. Lihat saja nanti, aku akan menemukan wanita yang mencintaiku dengan tulus.
"Apa kau bilang!!!"
"Maaf bos, aku pergi dulu. Bye!! " Teriak Rey sambil tergelak keluar dari ruang kerja Arthur. Sadar nyawanya terancam, lebih baik dia kabur saja kan? Daripada bertarung dengan singa.
Arthur hanya menggelengkan kepalanya menatap punggung anak buahnya yang berlarian seperti dikejar hantu.
Dasar Reynard!
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa like, komen, dan vote ya 🤗🤗🤗