Gadis Manis Milik Mafia

Gadis Manis Milik Mafia
BAB 82


__ADS_3

Langkah kedua kaki keluar dari dapur. Menaiki tangga, melewati lorong - lorong dan menuju kamarnya. Namun ketika melewati kamar aunty Rania, isakan kecil menghentikan langkah kaki. Isakan kecil yang tertahan karena tak ingin menciptakan bunyi. Perempuan itu membuka sedikit pintu kamar, terlihat wanita itu duduk memunggunginya di tepi tempat tidur.


Aisha masuk kesana, memerhatikan Rania yang masih belum menyadari kehadirannya. Sebuah figura menjadi pusat perhatian wanita itu.


"Aunty.. " Ucapan lembut diselingi dengan usapan pada bahunya. Rania bergegas menyeka air mata. Mendongak pada Aisha disertai senyum bahagia.


"Jangan berkilah lagi aunty.. katakan padaku ada apa sebenarnya. Sudah dua kali aku melihat aunty menangis sambil menatap foto itu. " Duduk perlahan dengan mata yang menatap lekat figura yang dibalikan oleh Rania.


"Tidak ada apapun sayang, sudahlah. Apa kau tahu, menangis itu salah satu hobiku, jadi tidak perlu risau. " Mencoba tertawa walaupun nada bicaranya sudah parau.


"Kalau aunty tidak mau bercerita padaku, aku jadi merasa bahwa aku hanyalah orang asing yang tidak dianggap disini. " Menampilkan wajah paling sedihnya. Membuat Rania tak tega. Sebenarnya wanita itu tak ingin mengungkit masa lalunya. Tapi dia tak punya cukup kekuatan untuk menahan hatinya yang butuh tempat untuk menumpahkan curahan hati.


Menghela napas sebentar lalu memperlihatkan figura kesayangannya pada Aisha. Tampak seorang anak kecil berusia sekitar 9 tahun yang tengah memakan lollipop disana. Rambutnya coklat, matanya indah dan senyumnya begitu manis khas anak - anak.


"Dia adalah putriku. " Kalimat pertama Rania membuat Aisha tergugu. Seingatnya ia juga sama sekali tak tahu tentang anak ataupun suami Rania. Pengetahuan tentang keluarga ini masih minim. Karena Arthur pun melarangnya menyinggung tentang hal ini.


"Lalu, dimana dia sekarang?" Tanya Aisha.


"Putriku sudah tidak ada. Dia hilang sewaktu bermain dulu. Kakak dan suamiku mencoba mencarinya, namun yang di dapatkan justru berita duka. " Bagian ini membuat Rania kembali terisak, raut wajahnya menyiratkan luka yang begitu dalam. Aisha merengkuh tubuh wanita itu dalam dekapannya.


"Jasad putriku ditemukan terbakar di sebuah jurang. Bahkan beberapa anggota tubuhnya tak ada. Dan setelah diusut, ini semua perbuatan Pither. " Rania mengepalkan tangannya saat menyebut nama itu. "Suamiku yang marah akhirnya bertindak gegabah, dia datang seorang diri ke Italia. Dan akhirnya.. dia tidak selamat. " Aisha mengusap lembut punggung auntynya. Merasa iba, sedih sekaligus marah.


"Lantas kenapa dia melakukan itu aunty?" Masih berusaha mengorek informasi sebanyak mungkin. Karena ia juga penasaran dengan perkataan Greg tadi siang. Tentang sepupu Arthur, berarti adalah anak dari wanita ini.


"Masalahnya sebenarnya tidak begitu rumit. Pither menawarkan kerjasama pada kakak dan suamiku, namun kakak malah melemparkan kontrak itu ke wajah Pither. Dia marah, semenjak itulah mereka menjadi rival. Karena menculik Arthur sangat susah, dia pun mengincar putriku. Karena kakak juga menyayangi anakku. "


Hening sejenak. Otak Aisha sedang mencerna kata - kata, menghubungkannya dengan perkataan Greg tadi siang. Seperti ada yang janggal disini.


"Siapa namanya aunty? " Sejak tadi membicarakannya tapi tak tahu namanya.


"Eylina. Kami biasa memanggilnya Anna. Gadis periangku.. " Hati Rania bergetar mengingat bayangan kenakalan dan keceriaan anaknya. Oleh sebab itu, ketika melihat Aisha, ia seperti merasakan kehadiran Anna di hadapannya.

__ADS_1


"Bersabarlah aunty, aku juga putrimu sekarang. " Dekapan hangat kembali menenangkan Rania.


Semoga saja dugaanku benar. Kalau itu benar, maka aku pastikan air matamu akan berubah menjadi tangisan kebahagiaan aunty.


Tekad bulat dibuat Aisha dalam hati.


***


Dengan hati berdebar debar dan tangan yang bertautan, Aisha berdiri diatas balkon. Menanti suaminya pulang. Arthur tadi menelpon dan mengatakan kalau dia telah sampai di bandara. Ia telah memantapkan hati, apapun yang terjadi, Aisha akan mengatakannya saat ini. Menguak kebenaran yang seharusnya telah lama ia lakukan.


Suara deruman mobil membuyarkan lamunan. Demi apapun, ia tak pernah segugup ini sebelumnya. Antara takut dan ragu, kalau kalau suaminya malah akan marah padanya.


Semoga ini benar. Biar bagaimanapun juga pria itu telah resmi menjadi suaminya. Tak ada yang harus di sembunyikan dalam tali pernikahan.


Suara langkah kaki menginterupsi, Aisha berbalik dan menyambut kedatangan sang suami. Menyetel senyum manis yang menyejukan hati.


"Kau sudah pulang? " Tanpa aba aba Arthur seketika memeluknya. "Apa kau lelah? Aku akan menyiapkan air hangat. " Aisha akan melerai pelukannya. Namun sepertinya pria itu begitu merindukannya.


"Arthur sebentar, aku ingin mengatakan sesuatu dulu padamu." Berupaya menghentikan tangan nakal suaminya.


Diam tak menyahut, Arthur melanjutkan apa yang sudah dia mulai. Tangannya merambah kemana - mana. Mulai melucuti pakaian keduanya. Mulai melancarkan aksinya. Cukup lama. Hingga ditengah penyatuannya, ketika gairah keduanya sedang membara, suara tembakan pistol terdengar memekakan telinga. Menghentikan sejenak aktvitas suami istri yang sudah setengah jalan.


"Apa itu? " Aisha refleks mendongakan kepala. Ia bahkan lupa dengan sebuah rasa yang diciptakan Arthur yang masih gencar dibawah sana.


"Arthur, ayo kita lihat! " Panik.


"Sebentar! " Sepertinya hasrat lebih mengalahkan kepanikannya. Arthur malah terus memacu tubuhnya dibawah sana. Berusaha secepat mungkin meraih pelepasan. Ia sudah tak asing dengan situasi semacam ini.


"Hey, jangan gila! Kita diserang! " Teriak Aisha menahan emosinya. Membuat Arthur berdecak sebal dan menjauhkan miliknya. Mengucap sumpah serapah pada sesiapa yang berani menggangu kesenangannya.


Buru - buru mereka mengenakan pakaian yang tadinya berserakan di lantai. Otak masih menerka - nerka siapa yang datang mengacau. Keduanya sudah fasih dalam menghadapi situasi genting. Gerakan Aisha yang akan melangkah menuju pintu dicekal Arthur. Dahinya mengernyit memandang sang suami.

__ADS_1


"Kau mau kemana? Tetap disini! Kunci pintunya dan jangan keluar sebelum aku kembali. " Dengan tegas memerintah seraya menyentuh bahu wanitanya. Sebenarnya Aisha enggan, tapi menilik wajah garang Arthur membuatnya menjadi istri yang patuh. Pintu ditutup sesaat setelah pria itu melenggang pergi dengan sepucuk pistol Deagle di tangan.


Lindungilah kami Tuhan.. Berdoa tulus dalam hati. Selama kondisi masih dapat terkendali, Aisha memutuskan tak akan keluar hingga sang suami menghampiri.


***


Beberapa menit berjalan kondusif. Hanya suara jatuhnya lawan, bogeman mentah dan suara pekikan yang menyemarakan. Mereka memilih bertarung dengan tangan, meminimalisir terjadinya sesuatu yang tak diinginkan. Telinga Aisha setia menempel pada daun pintu. Berusaha mendengar apa saja yang diraihnya.


"Tapi aku sudah bertekad akan mengatakan segalanya. " Kembali teringat tentang apa yang akan dia terangkan pada suaminya. Tapi pria itu sama sekali tak memberinya sedikit kesempatan.


Ya Tuhan, Myara..


Tangan Aisha bergerak memutar kunci dan membuka pintu ketika telinganya samar samar mendengar pekikan Myara. Hanya Myara, entah kemana aunty Rania. Tangannya terulur meraih pistol Deagle yang sudah ia siapkan sebelumnya, untuk berjaga jaga.


Reynard yang tengah menangani dua orang mafia yang cukup tangguh, posisinya juga cukup jauh untuk menggapai istrinya. Apalagi ditambah kemunculan tiga orang yang mengepung. Memblokir akses Rey untuk mendekati istrinya.


"Myara pergilah!! " Teriak Rey menggema. Memandang Mya dengan tangan yang masih fokus melawan bogeman dari lawannya. Mereka kekurangan angggota, kebanyakan anggota Arthur memang ditempatkan di markas. Mengingat jumlahnya yang luar biasa rasanya mustahil jika semuanya ditampung di istana megah ini.


Myara terpojok di sudut dinding, tadinya ia mengikuti instruksi pengawal yang sedang mengamankan aunty Rania. Yang menyuruhnya agar mengikuti mereka. Tapi ketika tiba di lantai atas dan melihat Rey yang dikeroyok membuatnya tak tega. Akhirnya kembali turun mengikuti naluri hati, walaupun tak bisa berbuat apapun disini.


Ya Tuhan, bagaimana ini. Myara kian terpojok hingga punggungnya menyentuh dinding. Menatap pria dengan tatapan membunuh di depannya.


"Habislah kau! Kau tidak beruntung karena menjadi anggota keluarga sialan ini! " Gerakan memukulnya mengggantung di udara. Mata pria itu menatap tangan putih kecil yang mencekalnya. Bersitatap dengan manik indah namun penuh amarah.


"Menjijikan! Kau akan memukul wanita! " Teriaknya. Bahkan suara itu merebut perhatian orang orang disana. Termasuk Arthur yang tergugu menatap istrinya.


"Aisha! Kembali ke kamar! " Perintahnya terabaikan. Dengan gerakan kilat gadis itu menyaut tangan yang akan menarik rambutnya, pertarungan pun tak terelakan.


Arthur yang jaraknya cukup jauh pun kesulitan menghampiri sang istri. Mengingat saat ini ia sibuk meladeni sepuluh pria yang menghadangnya. Pekikan menyedihkan keluar dari mulut si pria. Membuat pandangan Arthur kembali tertuju pada Aisha.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2