
Aisha berlari kecil memasuki lobby kampus. Ia mendekap map di depan dadanya. Lama. tidak berolahraga membuat napasnya terengah engah. Ketika sampai di depan kelas, ia berpapasan dengan Myara dan mahasiswa lainnya yang tampak keluar ruangan.
"Sha, kenapa kau terburu buru? " Tanya Myara saat melihat sahabatnya itu menghapus peluh yang bercucuran di dahinya. Meskipun sebenarnya udara cukup dingin.
"Yaampun, aku kira sudah telat. Apa kelas sudah dimulai? " Tanya Aisha. Lalu ia mengajak Mya duduk di salah satu kursi berderet tak jauh dari mereka.
"Belum, dosen pagi ini tidak datang. Apa kau mau ke kantin atau library? " Ujar Myara.
"Bagaimana kalau ke library saja, ada beberapa buku yang ingin aku baca. " Kata Aisha. Myara mengangguk setuju. Mereka berdua berjalan beriringan menuju perpustakaan besar yang cukup jauh dari sana. Mereka harus berjalan ke gedung yang berbeda mengingat perpustakaan itu sangat luas dan terpisah dari gedung utama.
Mereka masuk kedalam dan memilah buku yang akan dibaca. Keduanya duduk di tempat duduk yang di fasilitasi oleh kampus.
"Banyak sekali yang kau ambil, yakin bisa membacanya semua? " Tegur Myara pada sahabatnya yang sudah memulai kegiatannya.
"Hehe, membaca termasuk dalam salah satu hobiku Myara. Lagipula mahasiswa seperti kitakan memang harus banyak belajar teori dan praktek. "
"Iya, tapi lebih banyak prakteknya. " Jujur saja, kegiatan yang sangat padat akhir akhir ini cukup menguras tenaga Myara. Ia harus mengumpulkan banyak paper dan tugas online nya.
"Semua kerja keras kita akan membuahkan hasil yang memuaskan. " Gadis itu membuka map yang ia bawa. Tapi tanpa sengaja ia menemukan salah satu berkas Arthur yang terselip disana.
"Ya Tuhan, ini berkas Arthur. Sepertinya ini penting. " Aisha membuka berkas itu. Ia jadi teringat bahwa suaminya berkata ia ada meeting penting dengan klien pagi ini.
"Bagaimana kalau kau suruh Rey mengambilnya. " Usul Myara.
"Tidak, Rey pasti ikut Arthur meeting juga. Lebih baik aku saja yang mengantarnya. Myara, kau bisa mengembalikan buku ini pada tempatnya? "
"Tentu saja. " Balas Myara cepat. Aisha segera mengemasi barang barangnya. Ia menyimpan dengan baik berkas penting Arthur dalam tas. Lalu ia melenggang pergi darisana.
Gadis itu menuju ke kantor suaminya menggunakan taksi yang kebetulan lewat di dekat kampusnya. Tadinya ia ingin memesan online, tapi ternyata baterai ponselnya low bat karena lupa tidak dicas semalam. Untung saja hari ini dosen tidak datang, jadi ia bisa mengantarkan berkas ini langsung pada Arthur. Tak berapa lama kemudian, taksi itu berhenti di depan perusahaan Anderson Groub.
Dan disinilah ia berdiri sekarang. Aisha memandang gedung pencakar langit itu dengan seksama. Sebuah bangunan menjulang tinggi yang mewah, Aisha hanya pernah melihat bangunan ini di internet atau majalah bisnis saja. Ini adalah kali pertama ia berkunjung ke kantor suaminya. Ada sedikit rasa canggung saat ia akan masuk. Namun bagaimanapun juga berkas ini lebih penting daripada sekedar rasa canggungnya. Dengan langkah kaki yang dipercepat, Aisha memasuki lobby kantor. Ah ya satu lagi, bagaimana ia lupa, bahkan dirinya tidak tahu ruangan CEO ada di lantai berapa. Aisha menuju ke bagian resepsionis. Ia menanyakan letak ruangan suaminya pada wanita dengan dandadan tebal itu.
__ADS_1
"Maaf permisi, " Sapa Aisha ramah.
"Ada apa ya? " Tanya resepsionis itu.
"Bisa beritahu saya dimana letak ruangan CEO? " Aisha bertanya dengan nada sopannya seperti biasa.
"Maaf, ada keperluan apa ya? Tidak sembarang orang boleh masuk ruangan CEO. Lagipula bos kami sedang ada meeting penting dengan klien. " Ujar wanita itu dengan tatapan sinisnya. Ia memindai penampilan Aisha. Gadis ini tampak seperti mahasiswa yang masih mengeyam pendidikan. Hah, Aisha sampai geram melihatnya. Sepertinya adegan yang sering ia baca di novel koleksinya menjadi kenyataan sekarang.
"Maaf nona, saya ingin mengantarkan berkas penting untuk tuan Arthur. Berkas ini sangat penting, jadi mohon laksanakanlah tugas anda dengan baik. " Seru Aisha, namun kali ini wajahnya datar. Ia menunjukan berkas itu pada wanita tadi.
"Baiklah, anda bisa menunggu di lobby. Saya akan memanggil anda kalau tuan sudah selesai meeting nanti. "
"Mana bisa, kan sudah aku katakan kalau berkas ini untuk bahan meetingnya. " Aisha berusaha menetralkan nada bicaranya. Jangan sampai niatnya ingin membantu suaminya, malah akan membuat keributan dan memancing amarah Arthur. Ia tidak mau itu terjadi.
"Silahkan tunggu nona, atau anda bisa keluar sekarang! " Seru wanita itu. Ia sudah memanggil security, untuk membawa perempuan di hadapan nya ini pergi.
Aisha menarik napas dalam kala melihat dua orang security datang menghampiri.
Ya Tuhan, memangnya aku ini maling apa? Kenapa memanggil security segala.
"Baiklah, nanti akan saya antar. Asal anda tahu nona, saat tuan sedang meeting maka tidak ada yang boleh mengganggu. "
Oke, sekarang rasa kesal Aisha sudah mulai naik. Padahal dia datang kesini dengan niat yang baik. Dia juga bicara dengan sopan dan baik. Tapi entah ada apa dengan para pekerja jaman sekarang. Apakah hanya karena merasa pintar, mereka menjadi terbang ke udara?
"Nona, apakah menemui suami sendiri itu sebuah kesalahan? Apalagi istrinya ini ingin membawakan hal penting untuknya? " Sindir Aisha. Perempuan dengan name tag 'Vania' itu sontak menutup mulutnya yang tertawa. Jelas saja, mana mungkin ia percaya. Arthur tidak pernah mengumumkan pernikahannya ke kantor. Kabar pernikahan pemilik kantor ini juga masih menjadi simpang siur belaka.
"Kau jangan mengada ngada nona, kabar pernikahan bos itu hanyalah settingan untuk menaikan rating Tv. " Vania menahan tawanya.
"Kalau kau memang istrinya, maka telponlah suamimu itu. Banyak perempuan yang selalu datang pada saya dan mengaku istri tuan Arthur, tapi nyatanya yang mereka katakan adalah kebohongan. " Ucapnya.
Mustahil kau dapat menghubunginya. Kami semua saja tidak ada yang tahu nomor pribadi tuan Arthur. Apalagi bocah ingusan sepertimu. Hardik Vania dalam hati.
__ADS_1
"Ponselku mati, kalau mau pakai ponselmu saja. "
Saat Vania baru akan menyahut, suara bariton tegas dari seorang pria mengejutkan mereka. Bahkan kedua security tadi juga ikut terkesiap. "Ada apa ini! " Suara Arthur terdengar tak ramah saat melihat dua security berdiri tak jauh dari istrinya. Seperti merasa ada yang akan mengambil kepunyaannya darinya.
"Maaf tuan, nona ini mengaku sebagai istri anda. Hanya karena berita tidak benar di TV itu, jadinya banyak wanita yang mengaku ngaku. Tapi anda tenang saja, saya bisa diandalkan dengan tidak mengijinkan gadis ini membuat kekacauan. " Vania terus mengoceh sambil memandang sinis Aisha, tanpa sadar bahwa ada raut wajah murka yang sedang menatapnya.
Perdebatan mereka menyita perhatian. Ramai para karyawan berbondong bondong datang menjadi penonton. Mereka bergerombol, saking penasaran dengan apa yang terjadi.
"Cukup Vania! Asal kau tahu saja, gadis di depanmu ini adalah istriku. Dia adalah nyonya Anderson yang seharusnya kau hormati! " Teriak Arthur penuh emosi. Aisha yang sadar kedatangannya telah membawa keributan pun beringsut mendekati suaminya.
"Arthur sudah, dia hanya menjalankan tugasnya. Lagipula aku yang salah karena datang kesini. Jangan marahi nona itu. " Tutur Aisha lembut, seraya mengelus dada suaminya agar amarahnya mereda.
Ia melirik Vania yang sudah menunduk takut disana. Ia benar benar tidak menyangka, gadis manis ini benar benar istri bosnya. Karena aneh saja, Arthur yang selama ini tidak punya kekasih tiba tiba menikah. Apalagi tidak ada media yang meliputnya. Membuat rumor pernikahannya itu dianggap hoax oleh sebagian orang.
"Kau tidak salah, memang apa salahnya datang ke kantor suamimu sendiri? "Ujar Arthur yang membuat senyum di bibir Aisha mengembang. Lelaki itu beralih menatap banyaknya manusia yang bergerombol memerhatikan mereka.
"Dengar semuanya, ini adalah istriku. Nyonya Aisha Anderson. Dia adalah pendamping ku yang sah dimata hukum dan agama. Jadi mulai sekarang, tidak ada siapapun yang akan melarangnya menemuiku kapanpun itu. " Dengan lantang Arthur memperkenalkan gadisnya pada dunia. Ia sedikit menyesal, mengapa dulu pernikahan nya tidak mengundang media. Kalau beginikan jadi banyak yang salah paham akan hubungannya dengan Aisha.
"Tuan, tolong maafkan saya. Saya benar benar tidak tahu. Nona tolong saya..."Vania memohon dengan mengatupkan kedua tangannya. Jangan sampai pekerjaan yang ia gapai dengan susah payah ini hilang hanya karena kecerobohan dan kesombongan nya. Menjadi karyawan di kantor ini tidak lah mudah, ia harus menerjang begitu banyak rintangan dan saingan mengingat ini adalah salah satu perusahaan top di Amerika.
"Kau, mulai sekarang kau--" Baru saja Arthur akan memecatnya, tapi Aisha dengan cepat menarik tangannya agar menjauh darisana.
"Arthur sudahlah, aku tidak apa apa. Aku merasa tidak enak kalau kedatanganku memicu keributan disini. " Ujar Aisha dengan rasa bersalahnya. Saat mereka menjauhpun, masih ada karyawan yang memandang mereka. Akhirnya Arthur membawa Aisha menaiki lift dan masuk dalam ruangan CEO yang berada di lantai teratas.
"Kau tidak apa apa? Kenapa kau menarik ku tadi! Aku ingin sekali memecat serangga bermake up itu. " Ujar Arthur seraya memegang kedua pipi istrinya.
"Aku baik, aku yang salah karena datang tanpa memberitahumu. "
"Bicara apa kau ini! Kau tidak salah, Vania yang salah. Aku pasti akan memecatnya." Arthur membawa Aisha duduk di sofa ruangannya.
"Jangan begitu Arthur, tidak usah memecatnya. Bagaimana kalau ternyata dia sangat butuh pekerjaan ini? Sudahlah, aku hanya ingin mengantarkan ini. " Gadis itu menyerahkan barang yang menjadi alasan ia datang kemari. Arthur mengambilnya dan membacanya sekilas.
__ADS_1
"Oh, terimakasih. Ini memang penting, tapi aku membutuhkannya masih nanti siang. " Arthur tersenyum.
"Apa! jadi aku hanya membuang waktu dengan resepsionis tadi? Ternyata kau membutuhkan berkas ini masih nanti siang? " Gerutu Aisha kesal sambil mengerucutkan bibirnya. Membuat Arthur gemas dan. Cup. Ia menghadiahkan kecupan ringan yang sedikit lama pada bibir yang cemberut itu.