
"Arthur!" Wilhelmina berteriak kala melihat mantan kekasihnya keluar dari ruangan tersebut, menghambur memeluk pria itu dan menumpahkan air matanya.
"Aku takut sekali!" Wilhelmina tidak berdusta, dia saat ini sangat rapuh dan butuh dukungan seseorang. Saat bayang - bayang John memenuhi kepalanya, membuatnya gemetar luar biasa.
Tak bisa dibayangkan apa yang akan terjadi padanya selanjutnya apabila Arthur tidak datang tepat waktu.
Sementara Arthur yang dipeluk dengan tiba - tiba tak sempat mengelak. Tangannya bergerak hendak melerai tautan mereka namun perempuan itu kian mengeratkannya, melihat wanita yang pernah mengisi hatinya serapuh ini membuat hatinya iba dan mengelus punggungnya sejenak.
"Sudahlah, kita harus segera pergi darisini." Arthur melerai pelukan itu.
"Arthur, dia ingin membunuhkuu! Aku takut sekali, bagaimana kalau dia mengambil anakku?" Wilhelmina kembali tersedu sedu membuat Arthur tak kuasa menolak saat perempuan itu kembali mendekapnya.
Namun saat bayang - bayang Aisha hingga di pikirannya membuat Arthur kembali menjauh dari Wilhelmina. Dia memang iba pada perempuan tersebut, tapi juga ingin menjaga perasaan Aisha yang merupakan istri sahnya saat ini.
"Dia tidak akan melukaimu atau mengambil anakmu Wilhelmina! Aku sudah mengurus ba*ingan itu, sebaiknya sekarang kita segera pergi darisini." Seru pria itu akan berlalu darisana.
Namun Arthur memerhatikan dari sudut matanya Wilhelmina yang kesulitan berjalan karena kedua kakinya cedera, membuatnya berhenti dan memeriksa keadaan wanita itu.
"Ada apa dengan kakimu?" Tanyanya seraya memerhatikan kedua kaki jenjang.Wilhelmina sedikit menyibakan dress yang ia kenakan da terpampanglah beberapa luka yang cukup parah.
Di kaki kirinya terdapat luka dengan darah yang sudah mengering di bagian lutut.
Sementara kaki sebelahnya sepertinya terkilir akibat kekerasan yang diterimanya.
"Ini... ini semua ulah pria kejam itu." Air matanya seolah kembali memaksa ingin keluar saat mengingat pria yang dimaksud.
Nampaknya kekejaman John kali ini menciptakan trauma yang mendalam pada dirinya.
"Si brenggsek itu memang benar benar tidak punya hati! " Geram Arthur kesal. Tanpa aba - aba dia menunduk dan mengangkat wanita itu menuju mobilnya.
***
Dan kini di sebuah bangunan bernama Lenox Hill Hospital ini, Arthur tengah menunggu diluar ruangan pemeriksaan. Wilhelmina tengah ditangani dan diperiksa oleh dokter terbaik yang ada disana.
Luka - luka yang dialami wanita itu cukup parah, bahkan dua dokter sekaligus masuk dalam ruangan membuatnya sedikit cemas.
Sementara sopir dan satu pelayan lainnya dipulangkan ke kediaman Anderson karena luka mereka tak begitu seberapa.
"Ini, minumlah!" Reynard menyodorkan sebuah botol air mineral pada sahabatnya tersebut.
Langsung disambar Arthur dan meneguknya hingga setengah tandas.
"Apa lukamu sudah diobati?" Tanya Rey lagi seraya memperhatikan pelipis Arthur yang diperban, juga sudut bibirnya yang terluka.
__ADS_1
"Hmm, terimakasih sudah datang." Balas Arthur singkat.
Tak lama setelah mereka bercakap cakap sejenak, pintu ruangan itu terbuka. Seorang wanita berjas putih dengan stetoskop yang menggantung di lehernya tampak keluar dan menghampiri kedua pria kekar tersebut.
"Ada yang perlu saya bicarakan, silahkan ke ruangan saya." Ucap sang dokter.
Dan disinilah Arthur sekarang, menunggu penjelasan dokter di ruang kerjanya. Sementara Reynard tengah mengurus administrasi diluar.
Sang dokter menatap pria itu intens, seperti berusaha menelisik karakternya.
Bahkan luka - luka Arthur tak luput dari pandangannya. Hal itu membuat Arthur jengah.
"Sebenarnya apa yang ingin dokter katakan?. Tolong cepat katakan karena saya tidak punya banyak waktu." Ujarnya gusar namun berusaha mengontrol suaranya agar tidak meninggi.
"Saya hanya ingin bertanya, apakah anda yang melakukan kekerasan pada wanita itu?" Tanya perempuan tersebut yang seperti sedang mengintrogasi.
Bagaimanapun ia adalah wanita dan sangat menentang tindakan kekerasan pada perempuan dan anak - anak.
Dan melihat tampang Arthur membuatnya curiga.
"Apa maksud dokter bertanya seperti itu? Jelas - jelas saya yang membawanya ke rumah sakit. Tidak lihat wajahku babak belur karena menyelamatkannya dari penjahat?!"
"Jadi bukan anda yang melakukan ini semua?" Serunya lagi. Wajar wanita itu berasumsi sedemikian rupa sebab akhir - akhir ini banyak ditemukan pasien karena kekerasan dan kebanyakan penjahatnya lah yang justru membawanya ke rumah sakit.
"Kalau begitu maafkan saya tuan. Begini, nyonya tadi mengalami luka yang sangat parah di sekujur tubuhnya terutama di bagian punggung dan pipi. Sepertinya kekerasan fisik tersebut juga membuatnya tertekan secara psikis. Belum lagi sepertinya dia juga mengalami kekerasan *****al." Penuturan dokter itu membuat rahang Arthur menegang, betapa tidak berperikemanusiaan nya si brengseek itu sampai tega melakukan hal tersebut.
"Jadi tindakan apa yang harus dilakukan selanjutnya? Apa perlu melakukan semacam terapi? atau oprasi misalnya?" Tanya pria itu.
"Tidak perlu tuan, nyonya tadi hanya perlu dirawat beberapa hari disini untuk mengobati luka lukanya. Dokter disini juga selalu siaga 24 jam untuk mengawasi perkembangannya. Juga tidak mungkin akan ada penjahat masuk mengingat penjagaan yang ketat." Tutur sang dokter.
Arthur mengangguk, lalu keluar dari ruangan itu dengan kepala yang pening. Efek dari pukulan yang dilayangkan John pada kepalanya belum lagi ini sudah tengah hari tapi tak ada asupan makanan yang masuk dalam lambungnya.
"Makanlah dulu sayang." Saat dirinya tengah duduk seraya memijat pelipisnya, Arthur sontak berdiri ketika sebuah kantong makanan di sodorkan di depan wajahnya.
"Aisha, kau? bagaimana kau bisa tahu aku ada disini sayang?" Tanyanya heran. Apa Rey yang memberitahunya? Kalau itu benar maka Arthur pastikan akan menghukum pria itu sebab dirinya sudah berpesan jangan memberitahu Aisha dulu. Karena dia sendiri yang akan memberitahunya saat Wilhelmina sembuh, sekaligus berterus terang pada istrinya tentang siapa Wilhelmina sebenarnya.
"Aku bertanya pada Thomas, dia mengatakan kau ada disini. Aku tahu kau selalu lupa makan saat ada masalah. Dan aku tidak mau kau sakit, jadi ayo makanlah dulu." Ujarnya lembut mengelus wajah Arthur yang tegang, mirip pencuri yang tertangkap basah. Pria itu takut Aisha akan salah paham padanya.
"Aku menghangatkan makanan tadi pagi. Ayo duduklah." Aisha menarik tangan suaminya hingga terduduk di sebelahnya. Dengan begitu cekatan wanita itu menyajikan makanan untuk suaminya yang ia yakini tidak makan sejak pagi.
Namun Arthur justru terheran heran dengan tingkah istrinya yang ia rasa begitu aneh. "Sayang?
"Ya?" Sahutnya tanpa mengalihkan pandangan.
__ADS_1
"Kau tidak bertanya bagaimana aku bisa terluka?" Tanya pria itu seraya menerima suapan dari tangan Aisha.
"Kita bicara nanti saja Arthur, untuk saat ini aku tidak ingin menambah bebanmu. Lebih baik kau habiskan dulu makananmu." Ujarnya seraya menyodorkan suapan kedua.
Langsung disambar Arthur dengan lahap karena pada dasarnya ia sangat lapar.
Ditengah kegiatan menyuapi suaminya tersebut Aisha tersenyum getir, air mukanya nampak jelas memendam kekecewaan. Hanya saja Arthur belum menangkap raut wajah istrinya karena saat ini pikiran pria itu sedang terpecah belah.
Saat dirumah tadi, Aisha mengetahui segalanya dari Reynard. Bahwa ternyata Willy bernama asli Wilhelmina yang ia ketahui sebagai mantan calon istri Arthur yang telah berkhianat pada suaminya.
Dan Arthur pergi terburu buru hingga melewatkan sarapan karena pergi mencari wanita itu.
Mengetahui fakta tersebut tiba - tiba tentu membuat perempuan yang tengah berbadan dua itu terkejut. Hingga membuat perutnya sempat keram beberapa saat.
Namun setelah beberapa saat merenung, Aisha sudah mengambil keputusan. Bahwa ia tidak akan marah pada Arthur karena pria itu tak jujur padanya. Seperti yang dikatakan Reynard, Arthur sangat mencintai Aisha hanya saja saat itu suaminya sedang bingung dengan keadaan dan perasaannya.
Ia maklum. Dan Aisha akan terus menggenggam tangan Arthur selama melewati gejolak yang ada pada hatinya. Demi masa depan mereka dan demi anak yang ia kandung.
Aisha akan terus mempertahankan rumah tangganya sampai kapanpun juga.
"Sayang kenapa kau melamun?" Tanya Arthur ketika bersitatap dengan netra sang istri yang kosong.
"Tidak, aku hanya senang memperhatikanmu makan masakanku dengan lahap." Balasnya tersenyum.
Arthur mengecup pipi wanitanya singkat, "Terimakasih karena selalu mengerti apa yang aku mau dan selalu memenuhi kebutuhanku." Arthur berujar tulus. Sangat bersyukur istrinya memilih menunda untuk memberondongnya dengan pertanyaan, walau Arthur tahu ada seribu pertanyaan di kepala istrinya.
Arthur bersedia menjawabnya dan akan menjelaskan semuanya tapi saat ini ia benar benar lelah. Belum siap kalau nantinya istrinya itu akan meluapkan amarah padanya karena tidak jujur.
"Hmm, apakah masakanku enak?" Aisha mengalihkan topik.
"Masakanmu adalah masakan terenak yang pernah aku makan di dunia ini." Ujarnya jujur.
"Benarkah? Benar benar makanan terenak yang pernah masuk dalam mulutmu?" Tanyanya memastikan. Aisha teringat ketika Arthur memuji masakan Wilhelmina.
"Iya." Serunya sembari mencubit pipi istrinya yang tampak lebih berisi. "Bagaimana kabar si kecil siang ini?" Tangan laki - laki itu terulur, memberikan belaian lembut di perut istrinya yah terlihat sedikit membuncit.
"Kabarnya baik, dia sangat merindukan daddy-nya sepertinya. Dia agak rewel tadi." Balas Aisha.
"Benarkah? Kau tidak boleh rewel anak cantik. Daddy sudah ada disini." Bisik Arthur mendekatkan bibirnya kearah perut Aisha. Sementara perempuan itu tersenyum lembut, senang melihat suaminya yang begitu menyayangi janin yang ada di perutnya.
"Anak cantik? Memangnya kau yakin dia adalah perempuan?" Dahi Aisha berkerut heran. Ia tidak mempermasalahkan jenis kelamin, yang penting anaknya tumbuh sehat dan lahir ke dunia dengan suka cita itu lebih dari cukup.
"Ya, firasatku berkata begitu." Mereka berdua tertawa membayangkan anak perempuan manis yang mewarisi kecantikan ibunya.
__ADS_1