Gadis Manis Milik Mafia

Gadis Manis Milik Mafia
Extra Part 6


__ADS_3

Aisha dibawa ke rumah sakit terdekat untuk memperoleh penanganan dari dokter pribadinya yang sudah tahu kondisi Aisha semenjak awal kehamilan hingga saat ini. Perkiraan waktu melahirkan lebih cepat dari biasanya. Selama dia dibawa menuju ruangan wanita itu terus menggenggam tangan suaminya erat. Dia benar-benar pasrah akan apa yang akan ia hadapi setelah ini. Rasa sakit di perutnya mengalahkan segalanya, Aisha hanya ingin ini semua cepat terlewati dan dia bisa segera mendekap anaknya dalam pelukan.


"Arthur sakit .." Rintih wanita itu entah yang keberapa kali. Rasa cemas mendominasi Arthur, ia tak tahu harus berbuat apa selain mendorong brankar istrinya dengan cepat sambil membisikan kata-kata semangat.


"Kau bisa sayang, pasti bisa." Hanya kalimat itu yang ia lontarkan sejak tadi saking bingungnya menyusun kata.


Karena satu dua hal akhirnya dokter pribadi Aisha memutuskan bahwa proses melahirkan akan dilakukan dengan cara operasi. Ada alasan-alasan tertentu yang bila memaksakan melahirkan secara normal akan berdampak buruk bagi calon ibu.


****


Tubuh tinggi besar pria itu terduduk lemas di kursi tunggu ruang oprasi. Tangannya menopang dagu dengan kepalanya yang tertunduk kebawah. Arthur benar-benar linglung, dia lupa membawa ponsel atau apapun itu. Yang berkecamuk dalam otaknya sekarang adalah keadaan wanita yang sangat ia cintai di dalam sana. Tengah berjuang antara hidup dan mati untuk melahirkan darah dagingnya ke dunia. Bahkan terlupa menghubungi teman atau keluarganya untuk menginformasikan keadaan Aisha. Tak pernah terbayangkan dalam benak Arthur, rasanya akan setakut ini, secemas ini. Rasa takut kehilangan orang yang amat dicintai. Bayang-bayang buruk berseliweran dalam pikirannya.


Masih menanti dengan rasa was-was dalam dada, tiba-tiba kepala pria itu mendongak kala telinganya samar-samar menangkap tangisan bayi yang ia yakini adalah anaknya. Arthur tak henti mengucap syukur pada Tuhan saking gembiranya mendengar suara itu.


***


"Apa dia anakku?" Setelah menunggu beberapa jam kemudian dan Aisha sudah siuman, kini laki laki itu dalam sebuah ruangan dimana dia dengan kedua netranya menatap makhluk mungil itu. Jantungnya berdegup kencang tak beraturan, matanya berkaca kaca saat bersitatap dengan mata kecil yang masih murni dan indah. Bayi mungil itu ada dalam dekapan ibunya, pipinya putih bersih dan garis wajah yang mirip dengan Aisha. Rasa haru menyelimuti Arthur, bahkan air mata yang terakhir kali menetes ketika kepergian orang tuanya itu tanpa terasa basah membasahi pipi. Sosok Arthur Anderson yang terkenal berhati keras kini menitikan air mata bahagia memandang buah hatinya untuk pertama kali.


"Tentu saja dia anakmu, anak siapa lagi?" Sahut Aisha lemah, tubuhnya sebenarnya masih lemas. Namun mendekap putrinya seperti ini seolah menyalurkan kekuatan besar hingga membuat seluruh energinya bangkit.


"Aku benar benar jadi seorang ayah Sha?" Lirih dia bicara seraya membelai lembut pipi halus anaknya.


Aisha tak menyahut pertanyaannya, wanita yang kini resmi menjadi ibu itu juga sama terharunya. Menatap tak percaya bahwa ia telah melahirkan nyawa baru di dunia ini.


Dengan penuh keibuan Aisha mengecup dahi sang putri yang pertama kalinya. Bayi itu langsung menggeliat pelan, seolah tahu kalau itu adalah ibu yang telah berkorban antara hidup dan mati untuknya.


"Biarkan aku menciumnya juga." Protes Arthur. Langsung pria itu turut menghadiahkan kecupan untuk anak pertamanya. Dia belum berani menggendong, takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


"Selamat datang di dunia ini Kennyra Anderson. Putri pertamaku, Daddy janji akan menyayangimu dengan sepenuh hati." Penuh kebanggaan lelaki itu menyebut nama putrinya. Kennyra, nama yang telah disepakatinya bersama Aisha setelah terjadi perdebatan kecil tentang pemilihan nama untuk bayi mereka.


"Selamat datang, Kenny." Ucap Aisha lembut ditelinganya.


Proses persalinan tanpa adanya kehadiran keluarga besar tentunya sedikit menimbulkan kesedihan. Padahal impian Aisha adalah melahirkan ditemani semua orang. Semuanya serba mendadak, tidak menyangka akan terjadi secepat ini. Bahkan keluarga besarnya sudah merencanakan penerbangan di New York seminggu lagi, Rania dan Eylina juga berencana kembali dari Italia untuk melihat langsung proses persalinan Aisha.

__ADS_1


Walaupun begitu Aisha senang, dengan kecanggihan teknologi dia dapat bertatap muka dengan seluruh keluarga lewat panggilan video call. Mereka semua melontarkan selamat padanya atas kelahiran anak pertamanya. Ayah, kakak-kakaknya termasuk Jack, lalu Rania dan Eylina berjanji akan terbang ke New York secepat mungkin.


****


"Wah, lucunya dia.." Myara menoel pipi gembul bayi Aisha yang sangat lucu di matanya. Tiba tiba keinginan memiliki anak menyeruak. Ia pun ingin menjadi ibu seperti Aisha. Perempuan itu menolehkan kepalanya pada suaminya yang sedang berbincang dengan Arthur disana.


"Tentu saja dia anakku." Sahut Arthur yang mendekat.


"Kapan kalian akan menyusul?" Pertanyaan Aisha ditujukan pada Rey dan Myara. Sepasang suami istri tersebut hanya menarik sudut bibir simpul, enggan membahas topik yang masih sensitif diantara keduanya.


"Mungkin nanti," Sahut Reynard.


"Oh iya, siapa nama putri kecil ini?" Myara tampak mengalihkan pembicaraan, raut wajahnya tampak tak nyaman ketika bersitatap dengan suaminya tanpa sengaja. Tidak ada yang tahu, bahwa mereka baru saja mengalami perseteruan. Kalau bukan karena Aisha melahirkan tiba tiba, dia juga malas pergi kesini bersama pria itu.


"Kennyra." Sahut Aisha seraya membelai dengan sayang pipi anaknya yang baru ia lahirkan. Bekas sayatan di perutnya memang masing nyeri, tapi seolah semua itu lenyap ketika memandang wajah imut Kenny, bayi mungil yang mewarisi setengah gen dirinya dan Arthur.


***


Hari hari berlalu, bulan berganti menjadi tahun. Tanpa terasa waktu berjalan begitu cepat, hari demi hari dilewati Aisha dengan gembira. Gelar baru sebagai seorang ibu membuatnya bahagia melebihi apapun. Anak, adalah karunia terindah yang dilimpahkan Tuhan padanya. Dengan lemah lembut dan penuh kasih sayang keibuan perempuan jelita itu mendedikasikan siang dan malamnya untuk mengurus, mendidik dan menyiapkan para buah hatinya untuk tumbuh menjadi pribadi yang baik. Berkualitas dan siap melawan kerasnya dunia. Keluhan itu selalu datang, terkadang karena letih menangani kenakalan anak-anak nya yang mulai beranjak dewasa. Kadang karena pertengkaran diantara mereka yang sering menyulut rasa jengkel di hatinya. Ternyata menjadi ibu tidak semudah yang dipikirkan. Namun ketika semua dijalani dengan tulus, wanita itu merasa masih sanggup menangani segalanya.


Kini netra wanita itu memandang lurus ke depan dimana keempat anaknya tengah saling mengejar. Mereka ada di taman belakang mansion Anderson. Devan yang paling tinggi, sebab ia yang paling tua. Disusul Krystal yang tumbuh menjadi gadis kecil cantik. Dan tengoklah putri kecil yang manis itu, ia adalah Kennyra. Dan terakhir, si bungsu Danzel yang sangat jahil.


Aisha menerawang masa lalu, rasanya waktu berlalu begitu cepat. Sekarang mereka sudah tumbuh besar dan bermain bersama. Rasa-rasanya baru beberapa bulan lalu ia melahirkan Kennyra.


"Mami.." Lamunan Aisha buyar saat anak perempuan kecil itu berlari cepat menuju kearahnya. Wajahnya merah seolah menahan tangis dengan mata yang berair.


"Ada apa Kenny?" Tanya nya pada si bungsu, seraya mengusap lelehan air mata di pipi putihnya. Kenny adalah anak yang ceria dan sehat, ia selalu memastikan asupan gizi untuk anaknya cukup dan dapat menunjang pertumbuhan dengan baik.


"Krystal merebut mainanku.." Dia mulai menangis kencang. Krystal dan Danzel datang menghampiri ibunya.


"Tapi aku suka ini mami.." Sahut Krystal tiba tiba yang semakin membuat tangis Kenny kian terdengar kencang. Gadis itu menyembunyikan mainan nya di belakang punggung ketika Kenny ingin menyautnya.


"Kembalikan milikku!" Ujar Kenny pada saudaranya yang lebih tua darinya.

__ADS_1


Aisha menatap Krystal lalu menggeleng padanya. "Krystal sayang, tidak boleh merebut apa yang telah menjadi milik orang lain. Daddy membelikan ini untuk Kenny, dan kau juga dibelikan sendiri kan? Sekarang kembalikan ya?" Tuturnya penuh kelembutan, tak ingin menciptakan kecemburuan diantara putrinya.


"Tapi aku lebih suka miliknya Kenny."


"Tidak semua yang kau inginkan atau sukai di dunia ini bisa menjadi milikmu sayang, sekarang ayo kembalikan."


Mendengar nasehat dari ibunya membuat gadis itu merengut kecewa, namun ia akhirnya mengembalikan milik adiknya. Aisha lalu meminta keduanya berjabat tangan, sebagai tanpa perdamaian. Kedua putrinya itu menurut. Mami Aisha selalu berkata, semarah apapun jangan sampai bertengkar dengan sesama saudara. Hal itu hanya akan membawa nasib buruk saja.


****


Hari libur adalah waktu tepat yang digunakan Arthur untuk menghabiskan waktu bersama keluarga kecilnya. Istri dan putra putrinya adalah pelipur penat dari setumpuk berkas di Anderson Groub. Waktu bertahun tahun cukup membuat penampilan pria itu berubah, dia memotong rambutnya agak pendek dan mencukur habis bulu bulu halus di dagunya. Anak anak tidak menyukai janggutnya yang ditumbuhi bulu, mereka berkata Arthur seperti monster kalau berpenampilan begitu.


Mereka sekeluarga berlibur bersama, pantai menjadi destinasi wisata yang kerap dipilih untuk dikunjungi. Sekian karena anak anak suka bermain pasir dan air laut, angin sepoi-sepoi juga amat disukai suami istri itu.


Arthur menanti istrinya yang sedang izin ke toilet untuk mengenakan sunblock, agar sinar matahari tak menyakiti kulit dan menyebabkan penyakit. Dia setia menunggu di pinggir pantai dengan netra mengawasi ketiga anak yang bermain disana. Danzel tidak ikut, dia ada disampingnya dengan wajah merengut.


"Sebenarnya kau ini kenapa Danzel? Kenapa tidak ikut bermain dengan kakak kakakmu?" Pertanyaan yang sama dilontarkannya pada lelaki kecil di sampingnya.


"Aku kesal pada Devan." Jawabnya singkat


"Ada apa dengan kakakmu itu?" Sudah bukan rahasia lagi kalau Devan dan Danzel sering ribut. Lebih tepatnya Danzel yang selalu tidak suka pada kakak sulungnya itu.


"Dia selalu merebut perhatian mami."


"Memangnya kenapa? Bahkan mami kalian lebih perhatian padamu." Pria itu menyahut santai.


"Tapi tetap saja aku tidak suka.." Rengek Danzel kesal.


Ayah dari empat orang anak itu hanya mendesah pelan, menjelaskan pada Danzel pun percuma. Sudah berkali kali dia dan Aisha berupaya mendekatkan dia dan Devan, tapi tetap saja dia bersikap demikian padahal Devan sangat menyayangi semua adiknya.


"Ayo kita berfoto dulu!" Mami Aisha datang dengan sebuah kamera di tangannya, semua anak anak merapat. Salah seorang pengunjung dimintai bantuan untuk memotret keluarga bahagia itu. Dan cekrek, sebuah foto keluarga kecil tercipta. Aisha memeluk suaminya, Kenny ada di gendongan Arthur, Devan dan Krystal ada di depan sedangkan Danzel ada di samping maminya. Semua orang tersenyum di dalam foto tersebut. Sebuah potret dari keluarga yang sempurna.


#BENAR BENAR TAMAT#

__ADS_1


Jangan lupa baca pengumuman penting dibawah.


__ADS_2