Gadis Manis Milik Mafia

Gadis Manis Milik Mafia
BAB 84


__ADS_3

"Arthur.. " Menatap manik mata suaminya.


"Ya, itu benar. " Arthur merengkuh istrinya dalam dekapan hangat. Rasa haru tak dapat ia sembunyikan. Misi yang ia embankan pada Rey, sudah diselesaikan sendiri oleh takdir. Sejak Rey pertama kali bergabung dengannya saat remaja dulu, tugas pertamanya adalah mencari tahu sebuah nama yang sangat berharga bagi Arthur. Yang ia tahu hanyalah bahwa El Taylor adalah satu dari beberapa anak dari Martin Taylor, sesuai nama marganya. Dan Arthur juga tahu kedekatan hubungan Martin dengan Johan. Membuat otaknya lamban, dan tidak mengira bahwa yang ia cari telah menjadi miliknya. Sah sebagai miliknya selamanya.


"Jika dia masih ada, aku pasti akan melamarnya dan menikahinya saat aku dewasa nanti. Rey, tugas pertamamu adalah mencari tahu itu untukku!" Bayangan dirinya sendiri ketika remaja bergelayut dalam benaknya. Ketika itu dia bertekad dalam dirinya sendiri, akan menikahi anak perempuan itu ketika ia dewasa nanti. Oleh sebab itu Arthur tak menikah hingga usianya 29 tahun, mungkin dia patah hati atau apa.


***


Beberapa saat mereka melakukan pelukan dramatis. Cukup lama berbincang bincang mengenai masa lalu. Pahit dan manis kenangan yang ada.


"Apa kau marah padaku? " Tanya Aisha.


"Marah? "


"Ya, karena aku tidak bercerita padamu sejak awal. Arthur, aku tidak bercerita padamu karena ayah melarangku. Lagipula saat itu kau sangat menyebalkan! " Seru Aisha.


"Ya, aku marah! " Bersedekap dada seraya menyetel raut marahnya.


"Arthur maafkan aku.." Lirih Aisha.


"Aku marah padamu karena kau membahayakan dirimu sendiri tadi. Jika masih ada, aku pasti akan mencatat dan menghabisi seluruh pria yang berani menyakitimu. " Perkataan Arthur membuat hatinya tentram. Beginikah rasanya dicintai, kita merasa sangat disayangi dan diharapkan. Selalu tak tega jika salah satunya terluka.


Gadis itu merengkuh tubuh suaminya erat. Entah sudah berapa kali mereka berpelukan. Dahi Aisha berkerut kala suaminya bangkit dari ranjang. Ia ikut berdiri, menatap bingung pada pria yang berjongkok di depannya.


"Kenapa kau berjongkok? Bangunlah! " Pria itu tak bergeming. Ia menggenggam jemari lentik istrinya. Bersitatap pandang.


"Maukah kau menikah denganku? " Suaranya begitu lembut. Namun entah mengapa Aisha ingin tertawa menyaksikan kekonyolan sang suami.


"Apa kau masih melamun? Hey, tuan muda, kita ini sudah lama menikah! " Seru Aisha. Gelak tawanya membuat Arthur berdecak sebal namun tak melepaskan tautan tangan keduanya.


"Kau ini ya! Aku tahu hati kecilmu ingin dilamar seperti para gadis pada umumnya. Aku juga ingin merasakan bagaimana senangnya saat lamaran seorang pria diterima. " Tukas Arthur.


"Memangnya kau yakin aku akan menerimamu? Aku tidak yakin tentang itu." Goda Aisha dengan sengaja.


"Kau akan sangat menyesal karena menolak pria tampan, kaya, berkuasa, pengusaha sukses dan berkharisma sepertiku.". Dengan pedenya menjawab, Aisha memutar bola matanya jengah. Sifat sombongnya keluar lagi.

__ADS_1


"Huh, baiklah, ulangi dari awal. Aku akan menjawabnya. " Arthur menurutinya, ia kembali berjongkok dan mengulang skenario yang telah ia ciptakan.


"Will you marry me honey?"


"Yes, I want to marry you." Jawab Aisha dengan senyum bahagia. Lalu mereka tertawa bersama.


"Bagaimana kalau kita honeymoon? " Usul Arthur. Karena saat mereka bulan madu dulu, hubungan keduanya tak terlalu baik. Arthur ingin agar istrinya mendapatkan kesan berbeda pada bulan madu mereka nantinya.


"Tidak! Kita kan sudah bulan madu ke Paris waktu itu. " Seru Aisha.


"Yasudah,anggap saja ini liburan. "


"Liburan? emm.. aku mau, tapi.." Raut wajah Aisha kini berubah serius. "Setelah kehidupan kita menjadi damai tanpa adanya permusuhan. Setelah dalang dibalik semua ini terungkap. Baru kita bersenang senang. Memangnya kau mau liburan menjadi tak nyaman karena bayang bayang musuh?"


"Kau benar, jangan khawatir. Aku yang akan mengurus semuanya. " Geram Arthur menjawab.


"Arthur, biarkan aku ikut membantumu." Aisha menatap wajah suaminya sendu.


"Tidak! Aku tidak ingin mengambil resiko. Aku sudah berjanji pada keluargamu kalau aku akan menjagamu."


"Aku akan melakukan apapun kalau kau mengizinkanku." Pintanya lagi.


Arthur menarik salah satu sudut bibirnya, membentuk senyuman nakal disana. Ia menarik pinggang Aisha hingga menempel tanpa ada jarak padanya. Gadis itu mengalihkan pandangannya, ia tak menampik bahwa berada di posisi seperti ini masih menjadi sesuatu yang memicu peningkatan detak jantungnya.


"Ka-kau mau apa?" Kata Aisha gagap karena saat ini nafas Arthur berhembus lembut di telinganya.


"Tentu saja melanjutkan yang tadi, sayang" Bisiknya dengan begitu menggoda di telinga. Tangannya mulai menelusuri lekukan indah dalam dekapannya. Entah sejak kapan bibir mereka sudah saling bertautan. Tangan Arthur menyentuh sesuatu yang kenyal. Merebahkan tubuh istrinya diatas ranjang. Dia sudah sangat lihai melucuti pakaian istrinya. Ia juga menanggalkan seluruh jalinan benang yang melekat padanya. Dan malam itu kembali menjadi malam yang panjang bagi kedua insan yang telah dipersatukan Tuhan. Tidak ada kedukaan, hanya ada kebahagiaan diantara mereka. Hingga terkadang keduanya takut, jikalau suatu saat nanti akan ada saat dimana keduanya berpisah. Semoga saja itu tidak akan pernah terjadi.


...🌿🌿🌿...


Sedangkan di bagian yang lain, lebih tepatnya di dalam kamar Rey dan Myara. Sepasang pengantin yang lebih mirip dua orang asing yang tinggal seatap. Hanya bicara seperlunya, bahkan Myara sendiri sangat canggung jika harus memulai pembicaraan. Terkadang gadis itu merasa, ia hanyalah barang yang didapat namun pemiliknya tidak menyukai nya. Namun pendapat itu sedikit pudar sekarang. Gadis itu mengulas senyum tipis dalam hati kala suaminya tampak begitu cemas padanya. Ia duduk di sofa, sedangkan Rey urung - uringan mencari kotak P3K yang terselip entah kemana.


Wajahnya kembali datar ketika suaminya mendekat.


Rey duduk di sebelahnya.

__ADS_1


"Biar aku obati. " Meraih tangan sang istri lalu mulai mensterilkan lukanya dengan antiseptik. Myara mendesis merasakan perih kala obat merah membalur lukanya. Tapi kemudian ia tersenyum lagi ketika melihat Rey dengan penuh kelembutan membalutkan perban pada lukanya.


"Apakah sakit?" Tanya Rey lagi, mendongak memandang Myara yang tampak menyunggingkan bibirnya.


"Kenapa malah tersenyum!"


"Eh,ti-tidak apa - apa, aku akan istirahat. Kau juga istirahatlah. " Myara sudah beranjak dari duduknya. Hendak melangkah ke ranjang, namun tanpa sengaja ia tersandung kaki meja, membuatnya kembali terduduk namun bukan di sofa. Melainkan di pangkuan suaminya. Mereka bersitatap lama, otak Rey berkelana kala memandang bibir merah muda yang begitu menggoda. Tanpa sadar tangannya menyentuh bagian itu. Ia nyaris menabrakan bibirnya kalau Myara tidak membuka suara.


"Ma-maaf, aku tersandung tadi. Maafkan aku." Segera dia bangkit darisana. Merebahkan tubuhnya ke ranjang memunggungi Reynard. Myara menarik selimut hingga membalut sampai lehernya.


Ya Tuhan..sampai kapan pernikahanku akan seperti ini. Jujur saja, aku sangat mencintainya sekarang. Tapi bagaimana dengan wanita yang selalu mengirim pesan dan menelpon Rey itu.


Cinta bertepuk sebelah tangan itu menyakitkan. Apalagi ketika tahu bahwa orang yang dicintai dikejar - kejar orang lain. Ada rasa was - was dalam hati. Myara takut suatu saat nanti, ada Rey akan meninggalkannya dan pergi bersama perempuan lainnya.


Rey mengusap wajahnya kasar, kejadian ini sudah berulang kali terjadi. Semuanya adalah karena hasratnya yang memang susah dikendalikan. Bahkan ada satu hari dimana Rey pernah akan menyentuh istrinya. Ia bahkan sudah melucuti pakaiannya dan melakukan foreplay. Ketika itu Rey dalam pengaruh alkohol.


Beruntunglah ia masih setengah sadar, Rey seketika meninggalkan Myara dan memasuki kamar mandi.


Ia tahu, pasti perasaan wanita itu sangat sakit saat ia meninggalkannya begitu saja. Tapi apa boleh buat, Rey belum bisa menerima wanita dalam kehidupannya.


***


Keesokan harinya, ketiga orang yang memiliki pengaruh besar di dalam mansion ini tengah berkumpul di ruang diskusi. Ditambah beberapa mafia senior dan orang orang yang sudah terbukti kesetiaannya pada Regdator.


Mereka duduk melingkar pada meja bundar.


Mereka tak terkejut karena nona muda tergabung dalam diskusi ini, karena mereka telah melihat semuanya dan mendapat penjelasan dari tuan Arthur.


Ya, Arthur memberi ijin pada istrinya untuk ikut mengambil kendali, apalagi moodnya sedang baik setelah percintaan mereka semalam. Lagipula Aisha adalah El Taylor sekaligus six powers nomor enam yang tak diragukan lagi kemampuannya.


"Jadi, begitulah rencana kita. Semakin cepat semakin baik. Aku tidak ingin keluargaku hidup dalam rasa was was karena teror dari mereka." Arthur menutup penjelasannya dengan tegas. Rencana yang Aisha, Arthur dan Rey susun sangatlah fantastis. Seisi ruangan itu hanya bisa mengangguk mantap menanggapi.


"Kita mulai hari ini!" Seru Arthur. Semua orang dalam ruangan itu menyeringai. Seringai menakutkan yang siap menerkam lawan.


Permainan dimulai!

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2